Beranda » Kedirgantaraan » Membentuk Attitude Penerbang

Membentuk Attitude Penerbang

Di dalam sebuah cockpit yang sempit, seorang penerbang tempur harus selalu berbuat yang baik dan benar. Sehingga, bila mereka sudah memiliki kebiasaan yang buruk di bawah maka akan sangat berbahaya bila mereka juga pada saat melaksanakan penerbangan.   Resiko bagi seorang penerbang tempur juga berat.  Bila tindak dan perilaku penerbang ternyata sangat membahayakan, mereka bisa dihadapkan Dewan Keselamatan Penerbangan.   Untuk itu para oenerbang harus didik dengan metode dan konsep yang benar, baik cara mereka terbang ataupun kebiasaan-kebiasaan mereka selama di bawah.

Pada tahun 1975, DR John Lauber seorang Psikolog NASA mengembangkan konsep yang di dunia penerbangan sekarang disebut CRM (Cockpit/Crew Resource Management).  Pada tahun yang sama , DR Alan Diehl dari USAF mulai mengaplikasikan apa yang disebut TQM (Total Quality Management) dalam rangka meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja personil TQM dan CRM, DR Alan Diehl menyimpulkan bahwa CRM sangat bermanfaat sekali sebagai metode untuk meningkatkan Safety, sedangkan TQM untuk meningkatkan produktifitas kerja.

            Pada tahun 1979, DR Alan Diehl mengajukan kepada pemerintah suatu konsep tentang perlunya pelatihan CRM.  Konsep ini diterima dan merupakan yang pertama yang direkomendasi/disetujui pemerintah USA.  Kemudian 1983 FAA menugaskan DR Alan Diehl untuk mengkaji metoda guna mengaplikasikan pelatihan CRM bagi para Aircrew, personil ATC, Mekanik Pesawat, dan personil dukungan penerbangan lainnya.  Inti dari metoda ini, disebut sebagai New Management Training Concepts atua konsep-konsep baru manajemen latihan. Di dalam New Management Training Concepts ini, terkandung 5 aspek manajemen yang terpadu satu dengan lainnya, yaitu :

 

  1. Attention Management (Manajemen perhatian/kepedulian berguna untuk memelihara Situasi Awareness-SA, yaitu waspada dan peduli pada setiap saat fase tugas, terutama tugas terbang).

 

  1. Crew Management (Manajemen awak pesawat, untuk menciptakan harmonisasi dan keseimbangan antara kewenangan, kekuasaan dan keikut sertaan yang tulus dalam organisasi tugas).

 

  1. Sress Management (Manajemen stress/rasa tertekan bathin, untuk mengendalikan stress, meningkatkan kinerja ethos kerja).

 

  1. Attitudes Management (Manajemen sikap perilaku, untuk mengubah/memodifikasi gaya dan perilaku yang dapat memicu terjadinya kecelakaan).

 

  1. Risk Management (Management resiko, untuk mengevaluasi data informasi mengenai semua sumber bahaya operasi/penugasan).

            Pada tahun 1993, USAF meneliti 1700 kasus kecelakaan pesawat di darat maupun di udara.  Dari evaluasi ini didapat kesimpulan bahwa didalam kecelakaan-kecelakaan tersebut terlibat hazardous attitudes, yaitu sikap, perilaku personil yang dapat memicu celaka.  Hazardous attitudes ini merupakan bagian dari materi bahasan dari program Attitudes Management.

         Hazardous attitudes ini perlu diwaspadai dan diobati didalam masyarakat penerbangan karena bisa tumbuh sebagai potensi kecelakaan.  Peran komandan satuan, senior, rekan kerja, sahabat, keluarga, lingkungan kerja, suasana sosial dan kondisi rumah tangga sangat berperan dalam menumbuhkan maupun menghilangkan hazardous attitudes ini.  Para psikolog dan juga psikiater serta sistem penerimaan personil baru biasanya dijadikan ujung tombak untuk mengatasi hal ini.

         Hazardous Attitudes yang perlu dihindari oleh seorang penerbang tempur adalah perilaku sebagai berikut :

 

  1. Anti-Authority : “Don’t tell me” – Seorang penerbang tempur yang keras kepala dan tidak mau diberitahu orang lain.  Yang seharusnya dilakukan :

“Follow the rules, they are usually right”, yaitu seorang penerbang tempur yang bisa dipimpin/dibimbing dan mengikuti aturan yang ada.

 

2.            Impulsivity :   “Do something quickly” –  Seorang penerbang tempur yang sembrono karena ingin serba cepat tapi salah.  Yang seharusnya dilakukan :

   “Think first, think safety, not so fast, not so hurry”, yaitu seorang penerbang tempur yang berpikir jernih dan mengerjakan setiap tugas dengan cermat.

 

  1. Invulnerability :  “It won’t happen to me”  –  Seoran penerbang tempur yang menganggap ringan setiap masalah.  Yang seharusnya dilakukan :

“It could happen to me”, yaitu seorang penerbang tempur yang selalu waspada terhadap segala kemungkinan.

 

4.            Macho :   “I can do it”  –  Seorang penerbang tempur yang sok tahu dan sok jago namun tidak pernah belajar.  Yang seharusnya dilakukan :

   “Taking chances is foolish”,  yaitu seorang penerbang tempur yang selalu belajar dari orang lain dan belajar dengan baik terhadap sesuatu yang baru.

 

5.            Resignation :  “What’s the use” –  Seorang penerbang tempur yang malas berinovasi dan pesimis terhadap hal-hal baru.  Yang seharusnya dilakukan :

   “I’m not helpless. I can make a difference”,  yaitu seorang penerbang tempur yang selalu optimis  dan ingin membuat terobosan baru.

 

  1. Missionitis :  “I want to press on”  –  Seorang penerbang tempur yang selalu memaksakan diri terhadap segala hal yang seharusnya dilakukan  :

“I don’t have to do this now”, yaitu seorang penerbang tempur yang tahu kemampuan dirinya dan belajar dengan sabar untuk mencapai yang terbaik.


2 Komentar

  1. PILOT SHARE mengatakan:

    GREAT PILOT who has GREAT ATTITUDE and AIRMANSHIP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: