Beranda » Kedirgantaraan » Mozaik Dua Marsekal, Penerbang F-16 Pertama

Mozaik Dua Marsekal, Penerbang F-16 Pertama

Ferry (penerbang) pesawat F-16 TNI AU dari Forthworth Air Force Based, Texas, AS hingga ke Lanud Iswahjudi merupakan bagian dari Proyek Bima Sena, yaitu pengadaan 12 buah pesawat F-16 untuk Indonesia.   Saat ferry pesawat tersebut berbendera Amerika dan ditempel stiker USAF (United State Air Force) di badannya, sehingga penanggungjawab dari ferry  itu berada pada USAF dan organisasi pelaksananya, 2nd delivery. Second Delivery bertugas mengkoordinir pergerakan, mencari serta menunjuk penerbang USAF yang akan menerbangkan pesawat tanker guna mendukung serta menentukan jadwal pergerakan.            Dari 12 buah pesawat yang dibeli, direncanakan di-ferry 3 kali, yaitu Desember 1989, 4 buah pesawat; April 1990, 4 buah pesawat dan Juni 1990, 4 pesawat. Tetapi kenyataannya bulan Desember 1989 hanya 2 pesawat. Dua pesawat mengalami trouble dan baru dikirim bulan Januari 1990. Pelaksanaan ferry bulan April 1990 juga mengalami trouble, dua buah pesawat harus di tinggal di Hawai dan baru di- ferry pada minggu berikutnya. 

Ferry pertama, Desember 1989 dilaksanakan oleh Mayor Pnb. Basri Sidehabi (Marsdya pur, terakhir Irjen TNI) dan Mayor Pnb. Rodi Suprasodjo (sek. Marsda, Dan Seskoau).     Ferry kedua, April 1990 oleh Letkol Pnb. Wartoyo (Marsdya pur, terakhir Kasum TNI) dan Mayor Pnb. Eris Herryanto (Marsda TNI, menjabat Dirjen Ranahan Dephan). Keempat penerbang sebelumnya sudah melaksanakan pelatihan di Amerika selama kurang lebih 9 bulan dan rata-rata memperoleh 80 jam terbang. Berikut ini kisah perjalanan  Marsda TNI Wartoyo dan Marsma TNI Eris Herryanto menerbangkan pesawat buatan McDonnel Douglas ini dari Amerika ke Indonesia.

Pre Flight Check           

Sehari menjelang ferry,  semua penerbang lapor dan mendapat briefing  dari seorang perwira 2 nd delivery mengenai route penerbangan beserta frequency-nya, weather  (cuaca), pesawat tanker pendukung dll. Letkol Pnb. Wartoyo dan Mayor Pnb. Eris Herryanto menerbangkan pesawat F-16 B. Dua pesawat F-16A diterbangkan oleh penerbang USAF.   Pada hari yang telah ditentukan, penerbang berkumpul di pabrik pesawat untuk melaksanakan pre flight check briefing dan persiapan penerbangan yang a.l pemberian snack selama terbang berupa apel, coklat dan wafer.

Ferry pesawat F-16 TNI AU dari Forthworth Air Force Based, Texas, AS hingga ke Lanud Iswahjudi merupakan bagian dari proyek Bima Sena, yaitu pengadaan 12 buah pesawat F-16 untuk Indonesia. Saat ferry pesawat tersebut berbendera Amerika dan ditempel stiker USAF (United State Air Force) di badannya, sehingga penanggungjawab dari ferry  itu berada pada USAF dan organisasi pelaksananya, 2nd delivery. Second Delivery bertugas mengkoordinir pergerakan, mencari serta menunjuk penerbang USAF yang akan menerbangkan pesawat tanker guna mendukung serta menentukan jadwal pergerakan.

Dari 12 buah pesawat yang dibeli, direncanakan di-ferry 3 kali, yaitu Desember 1989, 4 buah pesawat; April 1990, 4 buah pesawat dan Juni 1990, 4 pesawat. Tetapi kenyataannya bulan Desember 1989 hanya 2 pesawat. Dua pesawat mengalami trouble dan baru dikirim bulan Januari 1990. Pelaksanaan ferry bulan April 1990 juga mengalami trouble, dua buah pesawat harus di tinggal di Hawai dan baru di- ferry pada minggu berikutnya. 

Ferry pertama, Desem-ber 1989 dilaksanakan oleh Mayor Pnb. Basri Sidehabi dan Mayor Pnb. Rodi Suprasodjo.      Ferry kedua, April 1990 oleh Letkol Pnb. Wartoyo dan Mayor Pnb. Eris Herryanto. Keempat penerbang sebelumnya sudah melaksanakan pelatihan di Amerika selama kurang lebih 9 bulan dan rata-rata memperoleh 80 jam terbang.     Berikut ini kisah perjalanan  Marsda TNI Wartoyo dan Marsma TNI Eris Herryanto menerbangkan pesawat buatan McDonnel Douglas ini dari Amerika ke Indonesia.

Pre Flight Check           

Sehari menjelang ferry,  semua penerbang lapor dan mendapat briefing  dari seorang perwira 2 nd Delivery mengenai route penerbangan beserta frequency-nya, weather  (cuaca), pesawat tanker pendukung dll. Letkol Pnb. Wartoyo dan Mayor Pnb. Eris Herryanto menerbangkan pesawat F-16 B. Dua pesawat F-16A diterbangkan oleh penerbang USAF.           

Pada hari yang telah ditentukan, penerbang berkumpul di pabrik pesawat untuk melaksanakan pre flight check briefing dan persiapan penerbangan yang a.l pemberian snack selama terbang berupa apel, coklat dan wafer.           

Usai persiapan para penerbang menuju ke flight line milik pabrik, di mana pesawat-pesawat tersebut di parkir. Dari empat pesawat yang akan diterbangkan masing-masing membawa external tank di wing dan dua pesawat di antaranya ditambah travel pod untuk membawa perlengkapan penerbang.

 Penerbangan Ferry           

Penerbangan ferry dilaksanakan dalam tiga tahap, tahap I dari Dallas – Forthworth ke Honolulu; tahap II dari Honolulu ke Guam; dan tahap III dari Guam ke Lanud Iswahjudi.           

ahap I, setelah airborne dari Dallas-Fortworth melaksanakan joint up antar flight kemudian join dengan pesawat tanker. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah air refuelling system check bagi semua pesawat. Ternyata semua sistem dalam pesawat  berfungsi dengan baik. Kemudian 4 pesawat F-16 yang berada masing-masing 2 buah di wing kanan dan 2 buah di wing kiri, terbang pada ketinggian 27.000 kaki.           

Air refuelling pertama dilakukan setelah lepas pantai barat Amerika secara bergantian. Air refuelling dilaksanakan setiap jumlah fuel on board berkurang di bawah bingo fuel menuju alternate base. Air refuelling dalam perjalanan dari Dallas-Fortworth ke Honolulu dilaksanakan 8 kali (selama 8 jam terbang).                 Selama perjalanan cuaca sangat baik dan semua berjalan dengan normal, tanpa ada hambatan. Sore hari baru mendarat di Honolulu dan dilanjutkan dengan de briefing. Dalam de briefing disampaikan bahwa para penerbang mendapat kompensasi istirahat satu hari berikutnya. Waktu istirahat digunakan oleh penerbang untuk bereaksi, memancing di laut Pasifik yang jaraknya kurang lebih 25 NM dari pantai Honolulu dengan menyewa kapal. Kegiatan ini mulai pada pagi hari dan kembali sore hari. Hasil yang diperoleh 7 ekor ikan yang masing-masing seberat kurang lebih 25 lbs (sekitar 12,5 kg).           

Tahap II, penerbangan dari Honolulu-Guam dengan dukungan pesawat tanker yang sama dan ketinggian terbang yang sama pula. Penerbangan memakan waktu 8 jam terbang dengan melaksanakan 8 kali  air refuelling. Penerbangan berjalan lancar.           

Tahap III, Penerbangan dari Guam ke Lanud Iswahjudi yang dilaksanakan pada hari berikutnya dengan pesawat tanker pendukung yang sama pula. Penerbangan makan waktu 5 1/2 jam dengan 5 kali  air refuelling. Air refuelling terakhir di atas Banjarmasin. Pesawat Tanker langsung terbang ke Diego Garcia,  sedangkan 4 pesawat F-16 menuju Lanud Iswahjudi. Pesawat F-16 akhirnya mendarat di Lanud Iswahjudi dengan selamat dan aman pada siang hari. Di Lanud Iswahjudi penerbangan di terima oleh Kasau.            

Sejak April 1990 pesawat tersebut resmi masuk jajaran Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi dan sebagai Komandan Skadron yang pertama adalah Letkol Pnb. Wartoyo.

Tak perlu menjadi yang paling jago            

“Mendapat kesempatan untuk dapat menerbangkan pesawat canggih tentu merupakan hal yang sangat menyenangkan dan membanggakan, sehingga hal-hal yang kurang menyenangkan  jadi terabaikan,” kenang Pak Wartoyo.

Ada pesan yang kiranya perlu dicamkan buat kita semua dari  seorang penerbang fighter, juga pekerja keras, tetapi sangat low profile ini.    

“Di atas langit masih ada langit.   Salah satu ungkapan yang wajib kita pedomani dalam setiap langkah melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab kita, agar tidak merasa menjadi yang paling baik dan paling jago. Seberapa besar dan ringan tugas itu harus kita laksanakan dengan sungguh-sungguh disertai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena mita masih diberikan kepercayaan untuk melaksanakan pekerjaan dan kegiatan yang kita harapakan dapat berguna bagi sesama, negara dan bangsa.     Untuk menjadi seorang penerbang, apalagi seorang penerbang tempur memang tidak bisa langsung jadi. Tetapi melewati seleksi yang terus-menerus setiap saat dan setiap melaksanakan tugas yang dibebankan.    Dari sekian ribu lulusan SMU diseleksi menjadi taruna, kemudian diseleksi lagi menjadi penerbang (helikopter, transport dan tempur). Hebatkah mereka yang lulus seleksi tersebut? Ditinjau dari hasil psikotest, kesehatan dan ketrampilan, mereka dianggap cocok untuk menjadi penerbang, sehingga dengan demikian seorang penerbang tidak perlu merasa lebih baik dari penerbang lainnya atau lebih menonjol dari yang lain. Yang membedakan hanyalah beban tugas kita, dalam situasi dan kondisi yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Yang terpenting adalah kita laksanakan setiap tugas dengan penuh semangat dan dedikasi yang tinggi serta dengan sepenuh hati”.


1 Komentar

  1. Sutoyo mengatakan:

    Saya sangat Bangga dengan beliau-beliau :
    Bp. Wartoyo
    Bp. Basri Sidehabi
    Bp. Eris Herryanto
    Bp. Rodi Suprasodjo
    saya sempat berkenalan selama di Iswahyudi bersama beliau ketika saya ikut merenovasi Pangakalan Utama Iswahyudi selama kurun waktu 4 sampai 5 tahun.
    Beliau-beliau telah sukses (bagi yang telah purna) dan semakin sukses untuk yang masih aktif dalam mengabdi kepada Bangsa dan Negara.
    Semoga Tuhan YME selalu melindungi beliau-beliau.
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: