Beranda » Nasional » Operasi Jembatan Udara 1980

Operasi Jembatan Udara 1980

Operasi Jembatan Udara pada awal tahun 1980 telah meningkatkan citra TNI AU dimata masyarakat, karena dengan suksesnya penyelenggaraan operasi telah menambah kepercayaan masyarakat terhadap TNI AU sebagai cadangan nasional di bidang angkutan udara, serta fungsi TNI AU sebagai pembina utama kekuatan dirgantara nasional.

Karya bakti TNI Angkatan Udara yang tergabung dalam Operasi Jembatan Udara dalam menanggulangi krisis angkutan udara nasional, telah memberikan hikmah dalam mendukung kelancaran kepentingan masyarakat dibidang transportasi udara. Dengan dilancarkanya Operasi Jembatan Udara, dalam waktu relatif singkat dapat diatasi krisis angkutan udara nasional dengan memenuhi jalur penerbangan dalam negeri, dari Jakarta keseluruh ibukota propinsi.

Krisis Garuda yang terjadi pada 29 dan 30 Januari 1980, dimana 120 orang personel “Garuda” mengadakan tindakan sepihak, telah sengaja meninggalkan tugasnya, dengan tidak bersedia terbang, mengakibatkan terganggunya sistem angkutan udara nasional.  Hal itu dilakukan sebagai pernyataan “solidaritas” mereka terhadap empat rekan penerbang yang telah diberhentikan hubungan kerjanya dari Garuda.

Dalam usaha membantu mengatasi masalah yang terjadi dalam tubuh Garuda Indonesian Airways, Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal Ashadi Tjahjadi, berdasarkan kebijaksanaan pemerintah mengeluarkan Surat Perintah nomor Sprin/19/I/1980/Kasau tertanggal 31 Januari 1980 kepada Panglima Kopatdara, Marsekal Muda TNI Aried Riyadi untuk mengerahkan pesawat-pesawat TNI AU, untuk mengisi (sementara) penerbangan-penerbangan Garuda yang pada waktu itu terhenti dan memberikan pelayanan angkutan udara yang sebaik-baikya bagi masyarakat.  

Untuk mengatasi krisis angkutan udara nasional tersebut, khususnya jalur penerbangan dalam negeri, TNI AU menyiapkan 4 (empat) buah C-130 Hercules dan 4 (empat) buah pesawat F-27 Fokker lengkap dengan awak pesawatnya,   Pesawat C-130 Hercules diterbangkan ke Ujung Pandang, Pekanbaru, dan Surabaya, sedangkan pesawat F-27 Fokker diterbangkan ke Bangka, Pontianak, Teluk Betung dan Semarang.   Guna memenuhi ketentuan penerbangan sipil, terhadap pesawat Hercules dan Fokker TNI AU diberikan kode PK-VFJ, PK-VHE, PK-VHH, PK-VHJ dan PK-VFK. Jumlah Penerbangan

Kamis, 31 Januari 1980, tercatat sebanyak 11 kali penerbangan, yaitu : 4 penerbangan dengan Hercules masing-masing satu kali ke Ujung Pandang dan Pekanbaru dan 2 penerbangan ke Surabaya.   Sedangkan dengan pesawat  F-27 Fokker sebanyak 7 kali, masing-masing satu kali ke Bangka, Teluk Betung dan Talang Betutu serta masing-masing 2 penerbangan ke Semarang dan Pontianak.           

Jum’at, 1 Pebruari 1980, tercatat sebanyak 5 kali penerbangan, yaitu : 2 penerbangan  C-130 Hercules ke Ujung Pandang dan 3 penerbangan F-27 Fokker, masing-masing ke Branti, Pontianak dan Semarang.           

Sabtu. 2 Pebruari 1980, tercatat sebanyak 12 kali penerbangan, yaitu : 7 penerbangan F-27 Foker, masing-masing satu kali ke Bangka dan Semarang, 2 kali ke Pontianak dan 3 kali ke Tanjungkarang   Sedangkan C-130 Hercules tercatat sebanyak 5 kali penerbangan, masing-masing satu kali penerbangan ke Pekanbaru, Ujung Pandang diteruskan ke Ambon serta 3 penerbangan ke Surabaya.           

Minggu, 3 Pebruari 1980, tercatat sebanyak 7 kali penerbangan, yaitu : masing-masing satu kali penerbangan C-130 Hercules ke Ujung Pandang, Ambon, Pekanbaru dan 2 penerbangan ke Surabaya.   Sedangkan pesawat F-27 Fokker masing-masing satu kali penerbangan ke Pontianak dan Semarang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: