Beranda » Dog Fight - Pertempuran Udara » Operasi Udara dan Rudal Hingga Era Milenium

Operasi Udara dan Rudal Hingga Era Milenium

Latihan rutin yang dilaksanakan oleh skadron tempur didasarkan pada tugas pokok masing-masing.   Karena setiap skadron tempur memiliki spesifikasi tugas yang berbeda, maka siklus latihan yang dilaksanakan pun berbeda.   Perbedaan tugas selain dikarenakan perbedaan kemampuan pesawat, juga mengacu pada kebijakan dari Mabes Angkatan Udara.   Latihan dilaksanakan dengan suatu siklus yang tersusun dalam silabus latihan.   Dalam satu tahun, tiap-tiap penerbang harus menyelesaikan dua sampai tiga siklus latihan yang meliputi semua taktik yang akan dilaksanakan skadron dalam pertempuran.   Para penerbang yang dianggap sudah mampu melaksanakan semua materi latihan, akan diijinkan untuk mengikuti tugas-tugas operasi tempur.

Operasi tempur dalam medan yang sesungguhnya adalah sesuatu yang paling ditunggu oleh para penerbang muda.   Biasanya mereka hanya berurusan dengan para instruktur dengan teriakannya yang nyaring, sekarang mereka akan berurusan dengan musuh Angkatan Udara, juga bangsa dan negara.  Namun demikian, hal ini juga tidak mudah bagi para penerbang yunior.  Walaupun mereka telah terbang sendiri dalam latihan, dalam operasi tempur lain lagi ceritanya.   Instruktur akan duduk di cockpit belakang, sampai si penerbang dianggap aman untuk bertempur sendiri.  

Dalam sejarahnya, banyak operasi yang telah diikuti oleh penerbang tempur.   Mulai dari Operasi Trikora sampai Operasi Elang Sakti di perbatasan Timor Leste.   Dan ada perkembangan yang signifikan dari masa ke masa baik dari segi taktik maupun teknologi yang dipakai.   Pada awal tahun 60-an, sistuasinya berbeda dibanding sekarang dimana penerbang belum mengenal radar ataupun rudal.   Saat ini, selain dibantu radar permukaan, pesawat sudah memiliki radar dan rudal yang canggih.   Kemampuan dan jumlah pesawat juga semakin meningkat dibanding sebelumnya.  

Operasi udara yang dilaksanakan oleh pesawat-pesawat tempur kita memang terkesan sunyi senyap,jauh dari publikasi.  Mungkin yang bisa menikmati gemuruhnya operasi udara adalah mereka yang tinggal di dekat pangkalan yang menjadi pusat operasi.     Sejak dihuni oleh armada MiG-21F, penerbang sudah mengenal peluru kendali dari udara ke udara, yang saat itu menggunakan K-13 (AA-2 istilah NATO).   Dalam Operasi Trikora maupun Trikora, rudal ini telah menjadi ancaman bagi pesawat-pesawat musuh.   Apalagi rudal ini dibawa oleh pesawat tempur jet yang mampu melesat di atas dua kali kecepatan suara.            Operasi tempur standar yang dilaksanakan oleh pesawat tempur kita saat ini, selalu dilengkapi dengan rudal.   Dengan jarak jangkau yang lebih jauh, adanya panduan radar, dan daya ledak yang lebih besar, akan meningkatkan kemampuan operasi tempur Angkatan Udara.  Walaupun demikian, para penerbang pun tetap memiliki kemampuan yang baik untuk menggunakan senjata lain, seperti gun, bom, ataupun roket.  

Rudal Dari Masa Ke Masa

Sejak akhir tahun 1950-an, semua pesawat tempur sudah dipersenjatai dengan 2 buah senapan mesin dan Air to Air Missile (AAM) untuk melaksanakan perang udara.   Senapan mesin sebenarnya sangat efektif  karena kemampuan ledakannya sudah mampu menjatuhkan pesawat lawan, hanya jarak jangkaunya kurang dari 2 km.   AAM mempunyai jarak tembak yang lebih jauh, antara   0.5  sampai 100 km.  

AAM mempunyai kemampuan yang sangat fleksibel dan tingkat ledakan yang jauh lebih tinggi karena adanya war head (hulu ledak)  yang dipasang di ujung rudal.  AAM telah berkembang dari generasi pertama yang mempunyai kemampuan terbatas sampai ke generasi keempat pada saat sekarang,  dengan kemampuan yang jauh lebih unggul.

Pada umumnya, rudal dari udara ke udara (AAM) dibagi menjadi 3 bagian besar, yaitu rudal jarak pendek yang digunakan untuk pertempuran jarak dekat dengan pesawat yang bermanuver, rudal jarak sedang yang digunakan untuk segala cuaca dan jarak lebih jauh, dan rudal jarak jauh yang digunakan untuk menembak pesawat bomber lawan.  

Pada saat ini, pembagian dalam ketiga kategori rudal tersebut menjadi rancu karena kemampuan rudal yang semakin baik dalam menjalankan misi-misi bervariasi.   Rudal jarak sedang generasi keempat seperti AIM-120 AMRAAM dan MICA dapat diaktifkan pada pertempuran jarak dekat yang seharusnya menggunakan rudal jarak dekat seperti ASRAAM dan AIM-9X.   Rudal jarak sedang seperti AIM-120 Amerika dan R-77 yang telah ditingkatkan kemampuannya, sehingga mampu menembak sasaran jarak jauh yang seharusnya menggunakan rudal jarak jauh AIM-54 Phoenix.

Sebagian besar kemenangan yang didapatkan dalam perang udara dalam 4 dekade terakhir telah melibatkan pertempuran jarak dekat antar pesawat tempur yang menggunakan rudal AIM-9 Amerika,   Atoll Rusia,  Shafrir Israel, dan rudal jarak dekat lainnya.   Rudal jarak sedang dan senapan mesin telah ikut bertanggung jawab dalam keseimbangan perang udara sejak dimulainya perang Vietnam.   Sejalan dengan kemajuan tehnologi, faktor politik, dan usaha keunggulan dalam perang, sebagian besar kemenangan yang didapatkan dalam perang teluk dan konflik Kosovo, menggunakan rudal jarak sedang.  

Sejak perang teluk 1990-1991, 60% (24 kemenangan) dari kemenangan armada pesawat NATO terhadap Irak didapatkan dengan rudal udara ke udara jarak sedang generasi ketiga dengan sistem radar homing, AIM-7 Sparrow.    Banyak dari rudal tersebut diluncurkan dari jarak yang cukup jauh.   Pesawat Irak lainnya jatuh dengan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder (12 kemenangan),   senapan mesin (2 kemenangan), 1 pesawat rusak dengan bom 907 kg dan 2 pesawat lagi jatuh pada saat bermanuver.  

Pada tanggal 24 Maret 1999,  pada malam pertama serangan udara di Kosovo, 3 Mig-29 AU Yugoslavia dari Resimen Pesawat Tempur ke-127, Brigade Udara ke-204 yang berlokasi di Pangkalan Udara Batajnica ikut menghadang serangan NATO.   Pesawat Mig tersebut segera bisa terdeteksi oleh AWACS E-3D milik RAF (AU Inggris), yang segera mengarahkan 1 flight F-16A milik AU Belanda yang dipersenjatai AIM-120 Advance Medium-Range Air to Air Missiles (AMRAAM) dan AIM-9 Sidewinder.   Flight F-16 itu diarahkan untuk menyergap Mig-29 Yugoslavia.   Pada sebuah jarak yang jauh dan tidak saling melihat, Beyond Visual Range (BVR) dan posisi Head On (berhadap-hadapan), salah seorang penerbang F-16 melepaskan rudal AMRAAM dan menjatuhkan sebuah Mig-19.   Ini adalah kemenangan pertempuran udara Belanda sejak Perang Dunia II.   Beberapa saat kemudian, F-15C Amerika menjatuhkan Mig-29 yang tersisa dengan AIM-120 AMRAAM juga.   Berikutnya F-16C dan F-15C USAF juga menjatuhkan 2 Mig lagi dengan AIM-120.

Dengan menggunakan rudal udara ke udara (AAM) generasi ke-4, F-16 USAF mendapatkan kemenangan pertamanya pada tanggal 27 Desember 1992 ketika menjatuhkan Mig-25 Irak menggunakan AIM-120 AMRAAM.   Armada F-16 mencatatkan rekornya kembali pada tanggal 17 Januari 1993 melawan Mig-23 Irak, yang djatuhkan dengan AIM-120.   Rudal ini memang mempunyai kemampuan yang tangguh.   Pesawat tua yang masih dipakai jerman, F-4 pun menjadi tangguh saat AIM-120 dipasang disayapnya.   Dengan taktik yang tepat, pesawat tersebut mampu menjatuhkan Mig-29 yang sedang bermanuver, dilengkapi rudal (AA-11) R-73, dan helmet-mounted sight.   Dengan AIM-120 dipasang pada pesawat F-15, F-16, F/A-18, Gripen dan Tornado F.3, dari tes yang telah dijalankan, maka kemampuan pesawat-pesawat tempur tersebut naik sampai ratusan persen.  

Sebenarnya AIM-120 AMRAAM mempunyai jarak yang hanya sedikit saja lebih jauh dari AIM-7 Sparrow, namun AMRAAM  memiliki kecepatan lebih tinggi, dapat menemukan target dengan otomatis, dan memiliki radar seeker yang lebih canggih.  Saat ditembakkan, AMRAAM terbang ke arah target menggunakan inertial guidance dan menerima data perubahan posisi target  melewati data link pada radar pesawat.   Setelah mendekati target, pesawat akan mengaktifkan radar seeker dan mengarahkan rudal ke target.  Rudal ini memiliki war head (hulu ledak) dengan berat 20 kg dan jarak jangkaunya lebih dari 48 km.

Rudal lain sejenis AIM-120 Amerika adalah R-27 dan R-77 Rusia dan MICA Perancis.   Rudal-rudal tersebut adalah jenis rudal jarak sedang yang bisa diluncurkan dari jarak jauh tanpa melihat target dengan mata telanjang, cukup dengan visualisasi pada layar radar.    R-27 adalah rudal radar homing semi aktif yang mempunyai kemampuan hampir sama dengan AIM-7 Sparrow model terbaru.   R-27 juga dibuat dalam jenis infra red missile.   Rudal R-27 bisa dipasang pada pesawat Mig-29 and Su-27.   Sedangkan versi R-27RE memiliki motor rocket lebih besar sehingga kecepatan dan jarak jangkau yang dimiliki menjadi lebih tinggi dibandingkan AIM-7 Sparrow milik NATO.   Rudal R-77 adalah rudal Rusia yang memiliki sistem dengan kemampuan “fire and forget” setara dengan AIM-120 A/B.  Namun jarak jangkau dan kecepatannya lebih tinggi dibandingkan rudal Amerika tersebut.   Sehingga Amerika berusaha dengan keras untuk meningkatkan kemampuan rudal-rudal jenis AIM-120 untuk mengimbangi musuhnya.   Rudal udara ke udara milik Perancis, MICA, memiliki jarak jangkau lebih pendek dibanding AIM-120 dan R-27/77, yaitu 30 mil.   Rudal ini mempunyai versi radar aktif ataupun infra red.   Rudal ini dipasang pada pesawat Mirage 2000-5, rencananya akan dipasang untuk pesawat Rafale.   Amerika, Eropa, dan Rusia sebagai negara desainer senjata paling ampuh, pada saat ini sedang berlomba untuk mengembangkan rudal dengan kemampuan terbaik untuk jenis medium range, yang rencananya akan digunakan untuk abad ke-21.   Rusia sudah menyiapkan beberapa jenis desain rudal seperti Zvezhda Kh-37 dan Novator Ks-172, yang memiliki kecepatan tinggi, jarak 62 mil, dan sistem seeker radar homing.  Para petinggi departemen hankam Inggris telah memesan sebuah rudal baru jenis Beyond Visual Range Air To Air Missile (BVRAAM), yang akan dipasang pada Eurofighter dengan jarak jangkau lebih besar dan memiliki ketahanan manuver untuk membuat “no escape zone” bagi pesawat musuh yang memiliki manuver tangguh. 

Seperti kita ketahui bahwa serangan udara di Kosovo dan sebelumnya di atas Irak, bahwa perang udara pada saat ini dimulai dengan pendeteksian pesawat musuh dengan radar atau sensor lain, dan dilanjutkan dengan mengarahkan pesawat kita untuk menyergap musuh tersebut.   Setelah diarahkan oleh radar controller, pesawat harus berusaha mengidentifikasi pesawat yang mengancam tersebut, setelah teridentifikasi bahwa pesawat tersebut memang pesawat musuh maka rudal pun ditembakkan dari jarak sedang (AIM-7/ AIM-120/ MICA), setelah itu pesawat akan pergi dengan cepat untuk menghindari serangan balasan.   Ketika tipe-tipe penyergapan ini menghasilkan kemenangan pertempuran udara Beyond Visual Range (BVR), simulasi yang diujicobakan oleh pihak NATO memberikan kesimpulan bahwa pertempuran udara seperti ini sering masuk pada pertempuran jarak dekat yang berbahaya.   Karena Rusia sendiri sudah mengembangkan rudal jarak dekatnya yang memungkinkan penerbang mampu menembak musuh yang letaknya 60° dari hidung pesawat, menggunakan rudal jarak pendeknya R-73.  Dengan helmet mounted sight, sasaran yang terletak pada 90° dari arah depan hidung pesawat pun bisa dijatuhkan dengan rudal yang sama.   Sehingga kunci kemenangan dan keamanan perang udara adalah dengan mempersenjatai pesawat-pesawat tempur dengan radar dan rudal jarak sedang terbaik, sehingga tanpa harus berhadap-hadapan penerbang sudah bisa menghancurkan pesawat lawan dan pulang dengan selamat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: