Beranda » Nasional » Operasi Udara Untuk Menumpas G 30 S / PKI

Operasi Udara Untuk Menumpas G 30 S / PKI

Operasi SABER KILAT

Berdasarkan Instruksi Operasi Panglima Angkatan Udara cq. Deputy Operasi No. Insops/01/68ps tanggal 14 Januari 1968 dibentuk tasks force “Saber Kilat” dengan Lanu Supadio sebagai kedudukan Markas Komando Operasi. Unsur pelaksana terdiri dari Komando Kopasgat dan Skadron-skadron Bantuan Udara. Yon Satpur Kopasgat merupakan pasukan cadangan Kopur Operasi Saber Kilat ditempatkan di daerah isolasi antara obyek Bess dan Bina. Sebagian lagi memperkuat pertahanan Lanu Singkawang II dan Lanu Supadio dalam radius 5 km. Di daerah isolasi dilancarkan aktivitas-aktivitas, baik operasi teritorial maupun operasi intel. Dilancarkannya berbagai operasi ini menyebabkan moral dan mental lawan sangat menurun, sehingga keadaan dapat dikuasai.

Tugas pokok dari satuan-satuan Pesawat AURI ialah memberikan bantuan operasi udara taktis bagi pasukan-pasukan operasi tempur ABRI yang bergerak di darat. Di samping tugas pengiriman dropping logistik dan pasukan, transport dll, pesawat-pesawat AURI juga melakukan pengintaian, pengeboman, penghajaran dan penembakan dari udara terhadap kedudukan lawan untuk menurunkan morilnya. Unsur-unsur pesawat operasional yang mengambil bagian dari task force ini didatangkan :

a.      Wing Ops 001 Halim Perdanakusuma, yang terdiri dari 18 buah pesawat udara dari jenis C-47 “Dakota”, IL-14 “Avia” dan C-130 B “Hercules”.

b.      Wing Ops 002 Abdulrachman Saleh yang terdiri dari 3 buah pesawat B-26 “Mitchell” dan B-26 “Invander”, 4 buah P-51 “Mustang”, 2 buah UF-1 “Grumman Albatros”.

c.       Wing Ops 004 Atang Senjaya, yang terdiri dari 4 buah Helikopter Mi-4 dan 2 buah Helikopter Bell-204B “Iroquois”.

d.      Markas Komando Wilayah Udara I/Kalimantan, yang terdiri dari 2 buah pesawat jenis Gelatik.

Selain pesawat-pesawat AURI tersebut, juga diikutsertakan mengambil bagian unsur-unsur penerbangan dari Angkatan Darat yaitu 2 buah Helikopter Mi-4. Sedangkan jumlah jam terbang selama dilakukannya Operasi SAMBER KILAT ini tercatat pesawat-pesawat AURI 1900 jam, AD 486 jam dan AL 62 jam. Kerugian kita sebuah Helikopter Bell 204 Iroquois jatuh terbakar akibat kecelakaan di daerah Bengkayang sewaktu mengadakan special flight membawa rombongan Pangdam XII/Tanjungpura sehingga mengakibtkan gugurnya pilot dan co-pilot pesawat tersebut.

Operasi TRISULA

Untuk kesekian kalinya G 30 S/PKI melakukan konsolidasi dengan membentuk pemerintahan bayangan di daerah Blitar Selatan. Di daerah ini mereka melaksanakan gerakan gerilya dengan melakukan teror baik di bidang politik, ekonomi, maupun keamanan. Betapapun rapihnya rencana mereka, akhirnya terbongkar juga berkat kekompak-an ABRI dan rakyat.

Operasi Trisula ini merupakan operasi gabungan. Dalam hal ini AURI diwakili oleh Komando Wilayah Udara IV dan langsung di bawah bimbingan Panglima Kowilu IV Komodor Udara Suwoto Sukendar. Berdasar Surat Perintah Operasi Panglima Kowilu IV No. 84/PO/1968 tertanggal 6 Juni 1968. Untuk menunjang operasi ini dibentuk suatu task force operasi ELANG dengan tugas utama memberikan bantuan baik di darat maupun dari udara.

Bantuan operasi udara berupa bantuan taktis, yakni bombing, straffing dan rocketting dari udara, dengan maksud ruang gerak gerombolan sisa-sisa G 30 S/PKI dapat dilokalisasi dan dipersempit. Di antara bantuan tersebut antara lain dilakukan oleh beberpa pesawat udara taktis yaitu 2 buah pesawat pemburu P-51 “Mustang”, sebuah Pembom B-26 “Invader” dan sebuah pesawat AT-16 “Harvard”. Pada tanggal 10 Juli 1968 dilakukan air straffing dengan senjata 12,7 terhadap kubu-kubu lawan.

Selain pesawat-pesawat taktis, oleh AURI juga dikerahkan pesawat-pesawat C-130 B Hercules dan Helikopter Mi-4 dengan tugas utama mengadakan pengangkutan udara untuk keperluan pengangkutan pasukan, logistik, survey, recce, VIP flight dll.

Akhirnya dalam waktu singkat, berkat kerjasama yang baik antara ABRI dan rakyat, daerah Blitar Selatan dapat diamankan.

Operasi SAPTA MARGA

Berdasarkan Perintah Operasi Men/Pangau Nomor 111/P-MP/67 tanggal 19 September 1967 dibentuk komando Operasi Sapta Marga (Kosama) dengan Kosamapu di tingkat Pusat, Kosamada di tingkat Kodau dan Sub Kosamada di Lanuma / Lanu.

Periode Pra Operasi Sapta Marga dilakukan dengan pengusutan oknum-oknum yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Karena hasil yang dicapai kurang memadai maka perlu ditingkatkan dengan pembentukan Operasi Saptamarga. Pada tahun 1967 – 1970 adalah periode Operasi Sapta Marga I, yang merupakan operasi hukum sebagai kelanjutan operasi-operasi fisik sebelumnya. Operasi langsung ini berada di tangan Panglima Angkatan Udara sendiri, pelaksanaannya dipusatkan pada para Panglima Komando Wilayah Udara (Kowilu) yang bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan tugasnya kepada Pangau. Inspektur Jenderal Hukum Angkatan Udara membantu pelaksanaan teknis hukum kepada Operasi Saptamarga tersebut.

Pada Operasi Saptamarga II tahun 1970 – 1972 ditekankan pentingnya operasi intelijen sebelum operasi fisik dilakukan, untuk mendapatkan data-data yang lebih lengkap. Selain penyelesaian-penyelesaian secara hukum terhadap oknum-oknum yang terlibat, juga dilancarkan penyelesaian administratif/klasifikasi berupa tindakan preventif berupa ceramah-ceramah.

Pada periode Operasi Sapta Marga III pada tahun 1972 – 1975 berhasil diungkapkan kegiatan di Lanuma Halim menjelang dan pada saat meletusnya “makar” tersebut dengan istilah: “Kabut Hitam”. Operasi ini dilancarkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara nomor: KEP/85/X/1972 tanggal 28 Oktober 1972 tentang Organisasi, Prosedur dan Personalia Operasi Sapta Marga Pusat. Perubahan-perubahan nama dan susunan Operasi Sapta Marga menjadi Komando Operasi Sapta Marga, berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor : KEP-12/III/1974 tanggal 11 Maret 1974 ditetapkan organisasi dan prosedur Komando Operasi Sapta Marga Pusat maupun Daerah.

Operasi KALONG

Suatu hasil gemilang selama dilakukan operasi penangkapan dan pengejaran terhadap tokoh-tokoh G-30-S/PKI tercatat pada tanggal 12 Januari 1967, yaitu dengan berhasil dibekuknya gembong G-30-S/PKI ex Brigjen Supardjo dan Anwar Sanusi dalam suatu operasi Gabungan Intel Pepelrada, Intel Kowilu V dan Polisi Angkatan Udara. Operasi yang dilakukan Satgas Intel ini kemudian terkenal dengan nama Operasi Kalong.

Supardjo dan Anwar Sanusi setelah lolos dari pengejaran ABRI di daerah Cilincing Tanjung Priok bersembunyi di suatu tempat di Kompleks Lanuma Halim Perdanakusuma. Atas perintah Dan Lanuma Halim dilakukan operasi pembersihan dengan mengerahkan 1 peleton Kopasgat dan 1 peleton Polisi AU, masing-masing dibekali 1 buah foto Supardjo. Operasi hampir mengalami kegagalan, tetapi setelah Satgas Intel dari Kowilu V dan Kodim 050/ Jaya bergabung, akhirnya tepat saat fajar menyingsing tanggal 12 Januari 1967 disaat Ummat Islam sedang sibuk-sibuknya menyongsong Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1386 H, Supardjo dan Anwar Sanusi dapat ditangkap.

Dalam hubungan ini Men/Pangau pada suatu upacara militer telah mengemukakan antara lain: “Bahwa dengan turut aktifnya anggota-anggota AURI dalam tugas operasi KALONG, mka AURI sebagai salah satu unsur dari ABRI telah manunjukkan itikad baiknya, yang secara positif mengambil babian dalam semua operasi-operasi pengamanan dan penertiban, yang sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada AURI sebagai alat Negara”.

Operasi SADAR

Setelah memulhkan keamanan dan ketertiban masyarakat dari pengacauan G-30-S/PKI, kita telah dihadapkan pada suatu problema baru yaitu persoalan kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi. Sungguh di luar dugaan kita semua oknum-oknum anti persatuan dan kesatuan masih tetap melancarkan dan menyebarkan racun-racun pemecah belah.

Hal ini dibuktikan dengan adanya usaha/tindakan untuk memisahkan diri dari Mayor Tituler Lodewijk Mandatjan berikut anak buahnya kembali masuk hutan dengan melakukan perlawanan terhadap pemerintah RI yang syah. Untuk mencegah makin berlarutnya situasi, ABRI segera melancarkan Operasi SADAR dengan mengerahkan 6000 orang anggota, terdiri dari anggota-anggota Angkatan Darat, Laut/KKO dan Udara/Kopasgat yang ada di Irian Barat. Operasi dimulai tanggal 4 Desember 1968 ini pertama-tama mengamankan gedung pemerintah, lapangan-lapangan terbang dan instalasi vital lainnya. Selanjutnya pada tanggal 23 Desember 1968 oleh Komandan Operasi SADAR telah dikirimkan suatu team khusus untuk menemui Mandatjan.


1 Komentar

  1. Shinyunyun mengatakan:

    Gomawo, author-nim.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: