Beranda » Tokoh » Oswald Boelcke, Maha Guru Taktik Pertempuran Udara

Oswald Boelcke, Maha Guru Taktik Pertempuran Udara

Untuk mengenang Kapten Boelcke, musuh kami yang berani dan kesatria

                                                                                           Korps Penerbangan Inggris  

 

Pada saat PD I dimulai tahun 1914, Oswald Boelcke masih berusia 23 tahun.  Pada tahun tersebut, dia mendapatkan sertifikat sebagai seorang penerbang dan ditempatkan di satuan udara Jerman di Perancis.  Nama satuan tersebut masih cukup aneh buat Boelcke, yaitu Seksi ke-13.  Namun demikian, dia cukup beruntung karena saudara laki-lakinya yang bernama Wilhelm Boelcke sudah berdinas di sana sebagai observer.       Pada saat itu, pertempuran udara belum dimulai.  Tugas penerbang hanya sebatas membawa observer, yang bertugas mengintai posisi musuh.  Sehingga satuan tersebut banyak memiliki pesawat kursi ganda, namun belum dilengkapi senapan mesin.  Pesawat-pesawat Jerman pun menjalankan tugasnya sebagai pengintai, mencari posisi pasukan sekutu dan menuntun pasukan Jerman ke arah sasaran tersebut.  Bila sudah menemukan sasaran, pesawat akan mengeluarkan tanda yang menimbulkan warna tertentu di udara. 

Pada akhir tahun 1914, Boelcke sudah melakukan 43 kali penerbangan operasional.  Boelcke sebenarnya sudah banyak mendengar tentang adanya pertempuran udara.  Dia dan observernya juga sudah dilengkapi dengan senapan panjang dan pistol.  Namun sejauh itu, dia belum terlibat dalam pertempuran udara.  Pesawat-pesawat Jerman sebagian besar hanya bertugas sebagai pengawal pasukan darat, Scout Aircraft, dan belum dilengkapi senapan mesin.           

Setelah tertangkapnya Rolland garros dan keberhasilan Anthony Fokker untuk mendesain senjata baru bagi Jerman, Boelcke yang sudah pindah di seksi ke-62, mendapat kesempatan untuk terbang di pesawat Fokker yang bertempat duduk ganda dan sudah dilengkapi senapan mesin baru.  Sebagai juru tembaknya adalah Letnan Von Wuhlisch.  Pada tanggal 6 Juli 1915, mereka berhasil menembak jatuh pesawat Morane, Perancis. Keberhasilannya yang pertama ini juga menjadi penerbangan terakhir Boelcke di pesawat kursi ganda.           

Di satuan yang baru, Boelcke mendapat kawan yang nantinya menjadi pasangan terhebat selama karirnya, yaitu Oberleutnan Max Franz Immelman.  Perpindahan dari pesawat berkursi ganda, ke kursi tunggal memang menimbulkan masalah baru bagi penerbang.  Pada saat penerbang berkonsentrasi untuk mengadakan penyerangan, perhatian penerbang sangat tersita.  Sehingga tidak sempat memperhatikan datangnya ancaman dari arah yang lain.  Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka pesawat-pesawat Jerman mulai terbang berpasangan.   Penerbang yang sering menjadi pasangan Boelcke adalah Immelman.           

Kedua orang ini menjadi senjata paling mematikan bagi Jerman.  Pada saat mereka masing-masing berhasil menjatuhkan korban ke-8, pemerintah Jerman menganugerahkan Pour le Merite.  Dua hari kemudian, Boelcke menembak lagi 1 pesawat sekutu.  Pada usia 25 tahun, Boelcke dipromosikan pangkatnya menjadi Kapten dan dipindahkan ke Sivry untuk menghadapi Perancis, sedangkan Immelman dipindahkan ke Douai untuk bertempur melawan Inggris.  Petualangan Immelman berhenti setelah menjatuhkan korban ke-15.  Dia ditembak pesawat Inggris dan tewas.  Sebagai penerbang tempur, Immelman akan selalu dikenang sebagai penemu taktik pertempuran udara vertikal.  Immelman adalah penerbang yang pertama kali menggunakan manuver vertikal.  Keberhasilan Immelman ini didukung oleh pesawat Fokker yang digunakannya.  Pesawat itu memiliki power besar dan kecepatan tinggi.  Sebagai sahabat, Boelcke pun menyempatkan terbang ke Douai dan melepas kepergian sahabatnya tersebut.            

Pada saat Boelcke sudah mengemas 18 korban, Kaisar Jerman mengirim surat kepada Boelcke agar kembali ke garis belakang dan menjadi staf.  Kaisar mengatakan bahwa pengabdian Boelcke sudah lebih dari cukup, dan dia telah menjadi prajurit besar.  Namun Boelcke menolak permintaan kaisar tersebut, dan terus bertempur.  Bahkan sesaat setelah kematian Immelman, Boelcke yang sangat emosional, berusaha mencari dimanapun pesawat sekutu berada, untuk diajaknya berduel.  Boelcke sudah tidak peduli bahwa dia telah melanggar aturan satuannya, yang melarang penerbang bertempur di luar wilayah pertempurannya sendiri dan di luar ijin satuannya.  Saat bertemu pesawat Perancis, Boelcke pun menghajarnya sampai jatuh berantakan. Dia benar-benar ingin melampiaskan rasa kehilangannya atas sahabat terbaiknya.  Saat masalah ini terungkap, Boelcke mengelak dari tuduhan, dan menyampaikan bahwa pesawat Perancis itu jatuh karena ditembak dari bawah oleh artileri Jerman.  Namun alasan tersebut tidak bisa diterima, karena tidak ada pasukan ataupun artileri disana. Dan Boelcke pun mendapat larangan terbang.           

Ketika posisi Jerman terdesak oleh Inggris di Somme, Boelcke pun ditarik kembali ke garis depan.  Di satuan yang baru ini, Boelcke mendapatkan penerbang-penerbang muda yang tangguh dan nantinya menjadi murid-murid terbaiknya, termasuk Manfred Von Richthofen (Red Baron). Pada bulan September 1916, Boelcke telah menambah jumlah pesawat korban menjadi 26 buah.  Pada tanggal 17 September, Boelcke membuat sebuah keputusan bersejarah saat memerintahkan anak buahnya untuk bertempur bersama-sama dalam formasi tertentu. Unit terlatih bernama Jagdstaffel. Ini adalah pertama kali dilakukan oleh penerbang, karena sebelumnya mereka selalu terbang dan bertempur sendiri.  Boelcke yang diwaktu senggangnya selalu menganalisa manuver pertempuran yang pernah dilakukan, kemudian mengajarkan teamwork kepada para penerbangnya.  Konsep yang telah ditemukan oleh Oswald Boelcke ini nantinya menjadi dasar bagi pengembangan taktik pertempuran udara modern, dan menjadikannya sebagai Bapak Taktik Pertempuran Udara. Jagdstaffel sendiri kemudian ditempatkan di Cambrai.  Sedangkan pangkalan lawan terdekat adalah Skadron 24 Pangkalan Bertangles, Royal Flying Corps, dengan pesawat DH-2.            

Pada akhir bulan Oktober 1916, Boelcke telah berhasil menjatuhkan 40 pesawat sekutu.  20 pesawat berhasil ditembaknya dalam 2 bulan terakhir.  Pada suatu malam, Boelcke harus tidur awal karena didera keletihan.  Esok paginya Boelcke ternyata mendapat jatah terbang 4 kali.  Namun sepanjang hari itu, tidak terjadi pertempuran di udara.  Sore harinya, Boelcke mendapat telfon dari garis pertahanan Jerman yang meminta bantuan pesawat.  Boelcke langsung melompat ke atas Albatross diikuti Red baron, Bohme, dan 4 penerbang lainnya.  Di atas awan kelabu di dekat garis pertahanan, mereka menemukan pesawat De Havilland Inggris.  Pesawat Perancis yang mengetahui kedatangan 6 pesawat Jerman tersebut langsung melakukan manuver pertahanan.  Beberapa saat kemudian, datang 1 unit pesawat Jerman berjumlah 6 pesawat datang membantu sebagai escort.  Kekuatan jelas tidak seimbang saat itu. Jerman berada di atas angin tentunya. Entah kesalahan apa yang telah di buat oleh formasi pesawat Jerman tersebut, sehingga posisi pesawat menjadi tidak menentu dalam pertempuran tersebut.  Mungkin karena jumlah musuh yang lebih sedikit membuat mereka terlalu bernafsu dan tidak memperhatikan posisi pesawat kawan.  Boelcke dan Bohme tidak memperhatikan bahwa posisi mereka sudah sangat dekat, mereka sama-sama ingin menghabisi Letnan Knight yang berada di pesawat DH-2 Inggris.  Badan pesawat Bohme menyentuh mesin dan sayap pesawat Boelcke.  Pesawat Boelcke yang sudah tidak bisa dikendalikan menghunjam ke bawah.  Boelcke sendiri terlihat masih berusaha untuk mengendalikan pesawatnya.  Pesawat-pesawat Inggris tersebut bisa meloloskan diri, karena para wing man Jerman lebih terkonsentrasi perhatiannya kepada pemimpin, pejuang besar, dan idola mereka yang kini berada dalam pesawat yang tak bertenaga dan tak terkendali, meluncur ke bawah, dan masuk menerobos lapisan awan.  Mereka mengejar turun.  Dalam hati, mengapa bukan salah satu dari mereka yang berada dalam pesawat yang sedang naas tersebut.  Saat keluar di bawah awan, sayap pesawat Boelcke sudah terlempar.  Pesawat Albatross itu jatuh di tanah dan Boelcke tewas seketika.            

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa sabuk pengaman Boelcke ditemukan dalam kondisi kendor.  Kita bisa memaklumi bagaimana payahnya kondisi Boelcke hari itu yang sudah terbang seharian dan didera keletihan yang luar biasa.  Mungkin karena harus cepat-cepat menuju sasaran, Boelcke lupa untuk mengencangkan sabuk pengamannya (His soul is on God’s Hand).  Bangsa Jerman pun berduka cita hari itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: