Beranda » Teori Air Power » Pengembangan Sistem Senjata Udara dan Pangkalan Udara

Pengembangan Sistem Senjata Udara dan Pangkalan Udara

Sistem senjata merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam pembangunan kekuatan militer, bahkan kuat tidaknya suatu negara sangat ditentukan oleh sistem persenjataan apa yang dimiliki oleh angkatan perangnya.   “One of the elements what makes a state strong or weak is the military; what armed forces do they posses, what are the relations between the size of the military-age group and the size of the armed forces and how well-trained, armed and equipped are those forces?”[1]

Sejak Perang Dunia II sampai saat ini, perkembangan sistem senjata sudah bergeser dari sistem senjata darat menuju sistem senjata udara. Dengan beberapa daya kemampuannya, seperti ketinggian, kecepatan, jangkauan, fleksibilitas, mobilitas, daya tanggap, daya konsentrasi, daya penetrasi dan daya hancur, sistem senjata udara terbukti sangat efektif dalam tugas-tugas operasi militer maupun non-militer.  Hal ini dapat dilihat dari berbagai pengalaman operasi militer dalam beberapa perang seperti Perang Dunia II, Perang Malvinas, Perang Teluk I dan II serta berbagai operasi militer selain perang atau MOOTW (military operation other than war) seperti operasi bantuan kemanusian dan SAR.  Dengan demikian peranan angkatan udara sebagai pengguna dari sistem senjata udara mempunyai peran yang signifikan pada masa kini dan masa mendatang, bahkan abad XXI ini dapat dikatakan sebagai era “aerospace power”.

Pengembangan dan Pemilihan Sistem Senjata Udara

Dalam rangka melaksanakan tugas pokoknya, kekuatan TNI AU yang merupakan suatu sistem senjata terpadu mengoperasikan berbagai alutsista yaitu: pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, pesawat latih, radar, peluru kendali jarak dekat dan jarak sedang, serta senjata pertahanan udara kelompok.    Alutsista sebagai bagian dari sistem terpadu perlu didukung oleh personel yang profesional; pangkalan udara beserta fasilitas dan perlengkapannya; sistem dan metode serta piranti lunak yang mencakup doktrin, peraturan dan kebijakan; serta sistem logistik yang baik.   Sistem senjata udara ini harus pula dapat diaplikasikan untuk kepentingan pertahanan dan kesejahteraan sesuai dengan orientasi doktrin yang dikembangkan dan tugas yang diprioritaskan baik pada masa damai, masa krisis maupun masa perang.

Pengembangan dan pemilihan sistem senjata udara di jajaran TNI AU disamping secara umum didasarkan pada faktor ancaman, kondisi geografi dan demografi, tuntutan tugas, serta tuntutan teknologi, juga harus mendasarkan pendekatan aspek fungsi, kemampuan ekonomi, harga dan teknologi, politik, serta kemampuan dan persyaratan pengoperasian.

Pengembangan dan pemilihan sistem senjata udara yang tepat sangat  dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perkiraan potensi dan bentuk ancaman, tuntutan tugas, kondisi geografi dan demografi, serta tuntutan teknologi.

Potensi dan Bentuk Ancaman   

Jika melihat perkembangan lingkungan strategis, baik dalam lingkup nasional, regional maupun internasional, potensi dan bentuk ancaman terhadap kedaulatan wilayah RI, kemungkinan besar tetap akan datang dengan menggunakan media laut dan udara.  Ancaman terdiri dari dua jenis, yakni pertama, ancaman faktual, seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Nangroe Aceh Darussalam, Gerakan Separatis  Bersenjata (GSB) Papua atau Organisasi Papua Merdeka (OPM), Kelompok Kepentingan Radikal Kanan atau Radikal Kiri, Aksi Teror terhadap obyek vital nasional dan VIP/VVIP, pelanggaran wilayah laut dan udara nasional, serta eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam.   Kedua, ancaman potensial yang terdiri dari dua jenis yakni ancaman potensial konvensional dan inkonvensional. Ancaman potensial konvensional meliputi konflik perbatasan dengan negara tetangga, invasi, bombardemen dan blokade terhadap wilayah udara nasional.    Sedangkan ancaman potensial inkonvensional  meliputi rusuh massa yang ditunggangi kepentingan politik dengan isu ekonomi, krisis kepercayaan terhadap pemerintah dan SARA.

Kemampuan sistem senjata udara sebagai salah satu komponen kekuatan TNI Angkatan Udara perlu dikembangkan semaksimal mungkin, baik melalui pengembangan industri strategis dalam negeri atau pengadaan dari luar negeri, sehingga mampu mengatasi ancaman faktual (konflik intensitas rendah/Low Intencity Conflict), ancaman potensial-konvensional (konflik intensitas sedang atau tinggi/Medium-High Intencity Conflict) dan ancaman potensial-inkonvensional/ Low Intencity Conflict).   Dengan demikian, pengembangan dan pemilihan sistem senjata udara yang tepat untuk digunakan sebagai penangkal potensi dan bentuk ancaman tersebut akan menjadi faktor yang signifikan dalam pelaksanaan operasi udara di masa mendatang.

Tuntutan Tugas      

Dengan mempertimbangkan adanya potensi dan bentuk ancaman, tugas TNI AU ke depan dituntut harus lebih profesional dan porposional.  Tugas tersebut tidak hanya mempertahankan kedaulatan negara di udara, namun mengamankan kedaulatan melalui dan dari udara atau wahana udara, sehingga tidak terjadi adanya dikhotomi penanganan keamanan nasional.   Setiap bentuk ancaman yang datang dari dimensi manapun (darat, laut dan udara) jika  mengganggu kedaulatan wilayah Republik Indonesia, maka TNI AU ikut bertanggung jawab mengamankannya melalui media udara.  Dengan demikian pengembangan dan pemilihan sistem senjata udara yang tepat untuk kepentingan tugas-tugas TNI AU merupakan suatu kebutuhan.

Geografi dan Demografi

Kondisi geografi Indonesia yang letaknya di persimpangan antarbenua dan antarsamudra, terdiri dari kurang lebih 17.508  pulau serta berada di bawah jalur khatulistiwa dimana Geo Stationer Orbit berada di atas wilayah nasional Indonesia, sehingga menciptakan adanya peluang dan tantangan. Peluang yang ada harus dimanfaatkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat dan tantangan yang ada harus dihadapi dengan segala daya kemampuan dan kekuatan. Dengan demikian pemilihan sistem senjata udara yang tepat dalam rangka pengembangan sistem senjata udara yang mampu mempertahankan adanya peluang tersebut merupakan konsekuensi logis, mengingat strategisnya posisi dan luasnya wilayah yang memerlukan penanganan secara cepat, efektif dan efisien. Sedangkan faktor demografi dimana jumlah penduduk Indonesia lebih kurang 210 juta jiwa, merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi unsur kekuatan nasional dan sekaligus perlu dilindungi keamanannya. Oleh karena itu Indonesia membutuhkan peralatan serta penggelaran alutsista udara yang relatif cukup besar.

Tuntutan Teknologi

Perkembangan teknologi sistem senjata udara tidak akan pernah berhenti pada suatu titik.   Setiap negara terus berlomba-lomba mengembangkan sistem senjata udara, disamping untuk kepentingan ekonomi juga untuk kepentingan kekuatan militernya, yang pada gilirannya sistem senjata yang bernilai teknologi tinggi akan membawa suatu negara tersebut dihargai eksistensinya dan memiliki high-bargaining power di mata dunia lain. Oleh karena itu, pengembangan sistem senjata udara di Indonesia, baik melalui pengadaan dari produk industri dalam negeri maupun melalui kerja sama dengan luar negeri, atau pembelian langsung produk dari luar negeri, menjadi suatu keharusan jika Indonesia ingin disegani dalam kancah pergaulan dunia. Indonesia ke depan diharapkan mempunyai kemampuan teknologi yang mandiri sehingga pengembangan sistem senjata tidak selalu tergantung dari produk luar negeri yang kadang kala dimuati unsur politik.

Pengembangan dan pemilihan sistem senjata udara sangat berpengaruh pada kemampuan dan kekuatan TNI Angkatan Udara.   Oleh karena itu, pemi-lihan sistem senjata udara secara tepat perlu mendasarkan faktor-faktor tersebut di atas sehingga dapat diaplikasikan secara fungsional berdasarkan sifat atau kharakter dari sistem senjata udara tersebut untuk keperluan tugas-tugas operasi militer baik berskala konflik intensitas rendah (low intensity conflit) maupun tugas-tugas penangkalan ancaman dari luar.

Dengan melihat kemajuan teknologi persenjataan, sistem senjata udara di masa depan akan sangat mempengaruhi bentuk perang masa depan termasuk strategi dan taktik militer.   Ada empat bidang kemajuan teknologi yang akan memberikan perubahan signifikan bagi sistem senjata udara dan peran angkatan udara di masa depan, yakni:

1.         High Power Microwave dan High Power LASER Directed Energy Weapon, yaitu persenjataan yang mempunyai kecepatan cahaya dengan spektrum kemampuan luas dan penuh untuk meniadakan, menghancurkan dan merusak setiap sasaran. Senjata ini merupakan pengganti dari senjata eksposif tradisional.

2.         Stealth-The Next Plateau, yaitu kemampuan penyamaran dengan teknologi radio frekuensi aktif dan generasi baru stealth dengan pasif infra merah yang merupakan lompatan teknologi bagi survivability wahana udara.

3.         Hypersonic Air Breathing Vehicles, yaitu kemampuan penerbangan hipersonik yang menggunakan teknologi material ringan tahan temperatur sangat tinggi, dan teknologi mesin advances cycles, dual mode scramjet/ramjet yang akan menambah kemampuan jarak jangkau, ketinggian dan endurance secara luar biasa.

4.         Uninhabited Aerial Combat Vehicles (UCAV), yaitu kendaraan tempur udara dengan menggunakan mesin supersonik canggih, dengan struktur yang sangat maju, intelligent signal dan data processing, dan menggabungkan kemampuan optimal dari cruise missile dan human/machine interface untuk pengendalian.

Kemampuan Ekonomi.  

Kemampuan perekonomian Indonesia merupakan salah satu yang menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan dan pemilihan pengadaa sistem senjata udara, namun yang lebih penting lagi adalah kemampuan pertahanan-keamanan, karena krisis ekonomi yang sedang dialami Indonesa saat ini adalah salah satunya diakibatkan juga karena kelemahan kekuatan pertahanan kita yang tidak mampu menjaga dan mengamankan sumber daya alam yang sangat kaya ini.   Meskipun perekonomian Indonesia saat ini dan kemungkinan ke depan masih dilanda krisis yang membawa konsekuensi anggaran belanja pertahanan militer dapat saja dipotong sewaktu-waktu, namun pengadaan sistem senjata udara tidak boleh dipotong.   Pengadaan sistem senjata udara harus tetap diperlukan dengan melihat peluang yang ada dan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi kita.

Harga dan Teknologi.   

Pengembangan dan pemilihan sistem senjata udara tidak lepas dari masalah pertimbangan harga.   Hal ini penting mengingat kondisi ekonomi kita yang belum bangkit sehingga prioritas tuntutan sistem senjata udara yang berteknologi tinggi tidak dapat terpenuhi dengan kendala mahalnya harga dari nilai teknologi tersebut.   Untuk itu perlu adanya pensiasatan dari masalah ini, yakni tetap melakukan pengadaan sistem senjata udara dengan prioritas harga yang murah namun secara fungsional dapat memenuhi tuntutan tugas dan potensi ancaman yang akan datang.    Aspek teknologi tinggi, meskipun penting, dalam kondisi seperti harus menjadi pertimbangan berikutnya setelah harga. Yang terpenting adalah aspek fungsional dari sistem senjata dihadapkan dengan tuntutan tugas dan potensi ancaman.     Namun demikian, jika kondisi perekonomian Indonesia ke depan membaik, maka sistem senjata udara dengan kandungan teknologi tinggi, meskipun harganya mahal, tetap diperlukan.

Aspek Politik

Pengalaman pengadaan sistem senjata udara di masa lalu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Indonesia.    Model pengadaan sistem senjata yang bertumpu hanya dari pemasok tunggal (satu negara saja) ternyata membawa dampak yang merugikan bagi perkembangan kekuatan angkatan udara Indonesia.   Di masa lalu Indonesia pernah terkena embargo suku cadang dari Rusia akibat dari dinamika perpolitikan Indonesia yang dijalankan saat itu, dan saat ini hal yang sama juga terjadi, yakni terkena embargo suku cadang sistem persenjataan dari Amerika Serikat. Kedua pengalaman ini tidak lepas dari kepentingan aspek politik dari negara pemasok. Oleh karena itu aspek politik sangat penting dalam pengembangan dan pemilihan pengadaan sistem senjata udara.  Pengadaan sistem senjata udara ke depan tidak harus memperlihatkan kecenderungan aliran politik tertentu saja, namun memang berdasarkan perencanaan kebutuhan yang sudah ditetapkan sesuai dengan doktrin air power, bukan doktrin ideologi, sehingga pengadaan sistem senjata udara dapat diperoleh dari negara manapun juga, baik dari produsen Barat maupun dari Timur (perpaduan kombinasi Barat dan Timur), seperti halnya Malaysia dan Pakistan.

Kemampuan Sistem Senjata Udara

Aspek kemampuan merupakan aspek yang sangat penting karena berhubungan dengan pengoperasian sistem senjata udara itu sendiri sehingga dalam aplikasinya dapat diterapkan menurut fungsinya.

Kemampuan TNI Angkatan Udara  

Postur TNI AU merupakan kemampuan dan kekuatan TNI AU yang disiapkan agar mampu melaksanakan tugas pokoknya.   Kemampuan TNI AU diwujudkan melalui kegiatan untuk mengelola semua komponen kekuatan udara yang menjadi tanggung jawabnya agar mampu melaksanakan tugas dan fungsinya.   Kemampuan kekuatan TNI AU yang dikembangkan meliputi kemampuan inti dan kemampuan pengganda.

Kemampuan inti merupakan kemampuan yang mutlak harus dimiliki oleh TNI AU, yakni kemampuan pengendalian udara, kemampuan penyerangan udara dan kemampuan angkutan udara. Sedangkan kemampuan pengganda adalah merupakan kemampuan yang dapat dapat meningkatkan kemampuan penyelenggaraan operasi udara yang meliputi kemampuan pengintaian udara, kemampuan perang elektronika, kemampuan pengisian bahan bakar dan kemampuan peringatan dini dan pengendalian operasi dari udara.

Kekuatan TNI Angkatan Udara  

Kekuatan TNI AU ditentukan oleh kemampuan dukungan sumber daya nasional untuk membangun dan mengembangkan kekuatan TNI AU yang dimiliki sehingga dapat menanggulangi setiap bentuk ancaman dari luar negeri dan membantu mengatasi permasalahan keamanan dalam negeri serta berguna bagi kepentingan kesejahteraan rakyat.   Kekuatan TNI AU terdiri dari :

1.         Komponen Kekuatan TNI AU.   Kekuatan TNI AU merupakan suatu sistem senjata terpadu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu personel; alat utama sistem senjata yang terdiri dari pesawat udara, peluru kendali dan meriam anti pesawat udara; pangkalan udara beserta fasilitas, alat peralatan dan perlengkapan pendukungnya; serta sistem dan metode yang diterapkan.

2.         Struktur Kekuatan TNI AU.   Kekuatan TNI AU disusun sebagai kekuatan siap dan kekuatan cadangan.   Kekuatan siap merupakan kekuatan riil yang dibina secara terus menerus dalam dinas aktif TNI dan disiapkan berdasarkan fungsinya, terdiri dari personel, alat utama sistem senjata udara, dan sarana prasarana.   Sedangkan kekuatan cadangan merupakan kekuatan yang dalam waktu singkat dapat diaktifkan apabila dibutuhkan, terdiri dari personel anggota non-organik yang mempunyai kemampuan matra udara; alat utama sistem senjata udara; dan sarana dan prasarana.

Pengembangan Sistem Senjata Udara Berdasarkan Fungsi

Pada umumnya sistem senjata udara sebagai salah satu komponen kekuatan TNI Angkatan Udara dapat dikelompokkan sesuai dengan fungsi, yaitu fungsi sebagai kekuatan penyerang, pertahanan dan pendukung dirgantara.

Sistem Senjata Udara Sebagai Kekuatan Penyerang

Sistem senjata udara sebagai kekuatan penyerang merupakan kumpulan kekuatan dirgantara baik kekuatan udara maupun antariksa yang digunakan untuk menghancurkan sasaran-sasaran yang berada di permukaan darat, dibawah permukaan laut  maupun di dirgantara.    Meskipun kemajuan teknologi telah menghasilkan produk kekuatan dirgantara yang memiliki bermacam-macam kemampuan yang canggih, namun fokus utama TNI Angkatan Udara di masa depan adalah tetap bertumpu pada kemampuan menjalankan peran sesuai dengan kemampuan yang dapat dilaksanakan secara riil.    Bentuk struktur sistem senjata TNI AU sebagai kekuatan penyerang tetap bertumpu pada jenis-jenis pesawat udara seperti dikelompokkan sesuai fungsinya, sebagai berikut:

a.         Pesawat tempur land strike, yaitu pesawat tempur yang disiapkan untuk memukul atau menghancurkan semua jenis sasaran yang berada di daratan.    Dikarenakan medan daratan memiliki karakteristik yang sangat bervariasi, demikian pula jenis sasaran di darat memiliki karakteristik yang bervariasi pula, maka kemampuan pesawat tempur harus memiliki tingkat manuver yang tinggi dan jenis persenjataan yang sesuai dengan karakter medan dan jenis sasaran daratan.  Kemampuan pesawat tempur ini harus memiliki kecepatan tinggi, manuver yang dapat bergerak leluasa di medan pegunungan, memiliki jarak capai yang jauh, dilengkapi dengan persenjataan yang berdaya hancur dan berketepatan tinggi, mampu mencari dan menemukan sasaran secara cepat dan teliti, dan mampu menerobos pertahanan lawan dalam segala cuaca, baik siang maupun malam.

b.         Pesawat tempur ship strike, yaitu pesawat tempur yang disiapkan untuk memukul atau menghancurkan semua jenis sasaran di laut, baik di permukaan maupun di bawah permukaan.     Dikarenakan medan dan jenis sasaran di laut berbeda dengan sasaran darat, dimana medan lautan relatif rata dan jenis sasaran dapat dilihat dan diidentifikasi secara jelas, namun pesawat lebih mudah terlihat oleh lawan, sehingga memerlukan karakteristik dan jenis pesawat tempur yang sesuai dengan medan dan sasaran tersebut. Kemampuan pesawat tempur ini memiliki karakteristik seperti kecepatan tinggi, tingkat manuver tinggi, jarak jangkau yang jauh, mampu terbang rendah, dilengkapi persenjataan yang mampu untuk memukul sasaran permukaan maupun bawah permukaan laut, tingkat ketelitian dan daya hancur yang tinggi, dan mampu menerobos pertahanan lawan, baik siang maupun malam hari dalam segala cuaca.

c.         Pesawat tempur air strike, yaitu pesawat tempur yang disiapkan untuk memukul atau menghancurkan semua jenis sasaran yang ada di udara dan di antariksa.    Dikarenakan medan udara memiliki ciri tersendiri, dimana arah dan jenis sasaran pada umumnya lebih banyak bergerak leluasa dengan cepat dalam ruang udara yang bebas, maka kemampuan pesawat tempur ini harus memiliki daya gerak dan kecepatan yang tinggi, teliti dalam mencari-menemukan-membidik sasaran, tingkat manuver tinggi, dan dapat beroperasi baik siang maupun malam dalam segala cuaca.

Kemampuan Sistem Senjata Pertahanan Dirgantara

Sistem senjata sebagai kekuatan pertahanan dirgantara merupakan sistem terpadu yang terdiri dari beberapa unsur udara dan antariksa yang memiliki fungsi masing-masing sesuai dengan sistem pertahanan dirgantara.     Berdasarkan  sistem senjata dirgantara yang memerlukan adanya kekuatan untuk mempertahankan diri dalam konsep Defensive Air Counter  dengan Reactive Capability, maka struktur pertahanan dirgantara tersebut harus dapat digelar di seluruh wilayah Indonesia dalam upaya mempertahankan kedaulatan wilayah NKRI, khususnya dalam menindak setiap pelanggaran wilayah kedaulatan udara dan melindungi dan mempertahankan potensi nasional yang ada di dalamnya.  Bentuk struktur sistem senjata pertahanan dirgantara yang digunakan TNI Angkatan Udara di masa depan meliputi:

a.         Pesawat Buru Sergap.     Pesawat Buru Sergap ini dirancang untuk mampu menemukan sasaran di udara baik melalui penuntunan (guidance) maupun peralatannya sendiri dan mampu melaksanakan penindakan dalam bentuk pemaksaan pendaratan (force down) maupun penghancuran sasaran serta mampu melaksanakan patroli udara di wilayah yang dipertahankan.   Pesawat buru sergap ini juga diharapkan memiliki kemampuan merekam sasaran dalam bentuk foto udara (Recee) yang dapat menyajikan data identitas sasaran, tanggal dan waktu kejadian pada posisi saat itu, khususnya untuk barang bukti dalam mengatasi pelanggaran hukum di wilayah dirgantara.

b.         Pesawat Airborne Early Warning (AEW).          Secara umum peran utama pesawat AEW adalah mempertinggi kemampuan sistem pertahanan di udara  terhadap serangan udara lawan yang menggunakan profil terbang rendah dengan kecepatan tinggi dengan cara memberikan peringatan dini sehingga seluruh unsur sistem pertahanan udara dapat memanfaatkan “response time” yang dapat dicapai dengan baik dan tepat.    Pesawat AEW mempunyai sifat mobilitas tinggi karena platform-nya adalah sebuah pesawat terbang.   Dengan memanfaatkan teknologi yang canggih, pesawat AEW mampu berperan sebagai sensor yang efektif dalam suatu otomatisasi sistem pertahanan udara dengan tugas-tugas seperti Airborne Early Warning, Intercept Control baik manual maupun otomatis, Strike control terhadap pesawat-pesawat tempur yang melakukan serangan udara dengan memberikan tuntunan navigasi di segala ketinggian sehingga terhindar dari ancaman senjata pertahanan udara lawan, Ship Surveillance, Rescue Control, Air Traffic Control, dan Tanker Control. 

Sebagai bagian dari sistem pertahanan, kemampuan pesawat AEW dalam memproses data harus didukung oleh sistem komunikasi yang handal, sehingga  pesawat AEW mampu bertindak sebagai sumber data taktis yang dapat dipercaya bagi kesatuan-kesatuan sendiri dalam menghadapi ancaman.    Kemampuan tersebut harus dapat diaplikasikan dalam tugas-tugas:

1)         Mencari dan mendeteksi serta mengikuti lawan baik yang bergerak di udara atau permukaan laut dengan ketepatan posisi dan ketinggian serta mampu membedakan sasaran asli dari sasaran palsu.

2)         Menjejaki pergerakan sasaran dengan kecepatan pemrosesan sasaran yang tinggi dan mengkorelasikannya  dengan beberapa sensor yang lain, sehingga menghasilkan jejak (track) untuk setiap sasaran.

3)         Menilai situasi taktis yang berkembang dan memberikan informasi, baik untuk pengenalan bahaya potensial dengan cepat maupun dalam rangka peringatan dini.

 4)         Secara otomatis mengirim laporan kepada komando atasan dalam  rangka pengambilan keputusan.

5)         Secara otomatis menghitung lintasan, kecepatan, ketinggian dan ketepatan memperoleh posisi yang menguntungkan bagi penyerangan/penyergapan.

6)         Membantu unsur-unsur darat dan laut dalam upaya meng”counter”atau mentralisir ancaman lawan yang datang dari udara atau permukaan.

 Pengembangan dan pengadaan pesawat AEW sangat diperlukan mengingat luasnya wilayah Indonesia yang harus mendapatkan  pengawasan secara terus menerus.   Dalam aspek efektif operasional, sistem peswat AEW harus mampu memberikan nilai efektifitas yang lebih tinggi dibandingkan dari pada radar darat.   Oleh karena itu kemampuan AEW harus dapat diintegrasikan dengan unsur radar darat yang telah ada dan tidak mengubah pola pertahanan udara nasional yang telah berjalan.    Pesawat AEW, harus mempunyai sifat mobilitas tinggi dan fleksibel, sehingga dapat beroperasi pada daerah sangat luas dan mampu berpindah tempat dengan cepat sesuai kebutuhan situasional.

c.         Radar.   Unsur Radar harus mampu mengamati dan mengidentifikasi semua jenis benda yang bergerak di udara baik itu merupakan benda yang berbentuk maupun tidak berbentuk, mampu menentukan sasaran-sasaran yang melanggar wilayah atau yang akan melaksanakan penyerangan udara serta mampu menuntun dan mengendalikan pesawat buru sergap yang akan menindak  atau melakukan diterrent terhadap sasaran tersebut.  Dalam pelaksanan tugasnya, dapat juga bekerjasama dengan radar sipil yang saling membantu, sehingga optimalisasi tugas operasi udara akan berjalan lebih baik.

Dengan melihat  luasnya wilayah negara Indonesia yang perlu di-kaver untuk kepentingan keamanan dan kesejahteraan rakyat, pengadaan radar baru perlu dipertimbangkan di masa depan.  Pengadaan radar diprioritaskan untuk mengkover wilayah perairan Indonesia yang amat luas, dimana wilayah ini sering menjadi ajang pencurian kekayaan alam, penyelundupan dan pelanggaran batas wilayah.     Oleh karena itu, radar yang akan menjadi alutsista TNI Angkatan Udara di masa depan harus memiliki kriteria:

1)         Mampu mendeteksi atau melacak sasaran sampai lebih dari 400 kilo meter dan melampaui  Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) (seperti misalnya High Frequency Surface Wave Radar ).  

2)         Dapat dibangun di pantai sehingga dapat memancarkan gelombang radio frekuensi tinggi jarak jauh yang mengikuti lekukan permukaan (kontur) bumi dan air laut melampaui kaki langit (over the horizon).

 3)         Mampu mendeteksi dan melacak sasaran di permukaan laut dan sasaran di udara  yang terbang rendah (low level airborne target) seperti pesawat terbang, kapal laut dan gunung, sampai jarak 500 km dari garis pantai dengan cakupan lebar sampai 120 derajat.

4)         Dengan melengkapi kapal-kapal atau pesawat-pesawat udara yang legal dengan tanda-tanda tertentu, mampu membedakan antara kapal atau pesawat yang legal dan illegal.

5)         Harganya terjangkau dan mudah dan murah dalam pengoperasian serta  pemeliharaannya.

 6)         Tidak tergantung pada faktor cuaca dan dapat dioperasikan secara terus menerus dalam kondisi cuaca apapun selama 24 jam sehari, 365 hari setahun.

 d.         Rudal.    Kemampuan rudal yang dimilki TNI AU hingga saat ini boleh dikatakan nihil.  TNI Angkatan Udara tidak memiliki rudal untuk melakukan penangkalan serta diterrent pada wilayah-wilayah strategis termasuk di Pangkalan udara yang dioperasikan pesawat-pesawat tempur canggih.    Sehingga perlu adanya suatu instrumen yang nantinya dapat digunakan sebagai senjata untuk melindungi wilayah tersebut. Adapun kemampuan sistem senjata peluru kendali di masa depan harus mengutamakan kriteria sebagai berikut  :

 1)         Mampu melindungi pasukan darat dari ancaman serangan udara lawan.

 2)         Dapat digunakan dalam gelar pertahanan udara untuk melindungi obyek vital dan pangkalan udara.

 3)         Mampu menghadapi pesawat tempur dengan kecepatan tinggi, terbang rendah maupun pesawat helikopter.

 4)         Memiliki efisiensi tinggi dan mobilitas tinggi dan dapat dilayani oleh seorang awak penembak dengan posisi yang fleksibel.

 5)         Memiliki manuver tinggi dalam mengikuti manuver sasaran, sampai peluru tersebut menghancurkan sasaran dan memiliki kemampuan anti jamming.

 6)         Mudah dalam operasionalnya dan pemeliharaannya.

 7)         Dapat digunakan dalam gelar pertahanan udara komposit dengan sistem senjata udara pertahanan udara lainnya.

 8)         Dapat digelar pada posisi kemungkinan jalan pendekat pesawat tempur lawan yang melaksanakan penetrasi.

 9)         Dapat dibawa dan ditembakkan dari kendaraan, pesawat helikopter, kapal laut dan integrasi dengan peluru kendali pertahanan udara lainnya dalam gelar artileri pertahanan udara.

e.         Penangkis Serangan Udara.     Sistem senjata PSU merupakan unsur penting dalam hal pertahanan udara untuk melindungi dan mempertahankan obyek-obyek vital dari serangan udara lawan.  Sistem senjata udara hingga saat ini masih diawaki oleh Paskhas TNI AU.  Jenis senjata semacam PSU yang dimiliki TNI AU sampai saat ini relatif tidak lagi efektif dapat diaplikasikan untuk tugas-tugas operasi militer apalagi jika dihadapkan kepada semakin majunya perkembangan teknlologi persenjataan udara.    Oleh karena itu, dalam pembangunan sistem senjata TNI AU mendatang, terutama jenis senjata PSU, perlu diadakan (pengadaan baru) dengan kriteria sebagai berikut :

1)         Mempunyai daya tembak yang cepat, tepat, dan efisien.

2)         Mampu menangani multi target dan target selektif.

3)         Memiliki teknologi maju yang memiliki kemampuan untuk mengantisipasi kemajuan teknologi pesawat terbang.

 4)         Pengoperasian mudah dapat dilakukan secara elektrik maupun manual.

 5)         Perawatannya mudah dan murah terutama dalam kemudahan perolehan suku cadang.

 6)         Dapat dioperasikan di segala cuaca.

 7)         Mempunyai daya tahan terhadap pernika lawan/ECCM.

 8)         Dapat diintegrasikan dengan sistem pertahanan udara lainnya.

 9)         Memiliki mobilitas tinggi terutama untuk memenuhi kebutuhan taktis operasional penggelaran di lapangan.

Sistem Senjata Pendukung Dirgantara

Sistem senjata pendukung dirgantara terdiri dari kekuatan pendukung  udara dan dirgantara yang disiapkan untuk mendukung kegiatan operasi dirgantara sendiri maupun kekuatan lainnya dalam rangka  menyelesaikan tugas pokok yang dibebankan, yang meliputi jenis-jenis sistem senjata udara sebagai berikut:

a.         Pesawat Angkut.    Pesawat angkut yang diaplikasikan sebagai kekuatan pendukung operasi harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas dukungan angkutan udara dalam operasi serangan udara maupun pertahanan udara, seperti pemindahan personel/pasukan, peralatan perang, supplay logistik dari garis belakang ke daerah “trouble spot” ancaman secara cepat dan efisien.  Kemampuan pesawat angkut dalam masa perang memerlukan mobilitas tinggi yang memungkinkan seorang komandan dapat menggunakan prinsip manuver untuk memanfaatkan kelemahan lawan dalam suatu perang. Sedangkan pada masa damai, pesawat angkut juga dapat memberikan dukungan militer, baik dalam lingkup internasional maupun dalam negeri untuk mendukung tujuan nasional.    Dikarenakan pesawat angkut terkait dengan pengerahan sumber daya militer secara cepat, dihadapkan pula dengan luasnya jangkauan, maka pesawat angkut merupakan pesawat yang paling banyak berperan pada setiap operasi kekuatan udara.    Kemampuan pesawat angkut tersebut seyogyanya harus memiliki kriteria sebagai berikut:

1)         Airframe yang kuat dan kokoh, sehingga mampu menahan muatan yang berat dan keras seperti peralatan perang militer.

2)         Volume cargo compartment yang besar yang mampu mengangkut muatan yang lebih banyak.

3)         Kecepatannya cukup tinggi, namun “stalling speed”nya rendah sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas-tugas operasi taktis maupun long range logistic supply.

4)         Mampu beroperasi pada landasan-landasan non aspal dan tak dipersiapkan.

b.         Pesawat Surveillance.    Pesawat surveillance sebagai salah satu sistem senjata udara digunakan untuk mendukung tugas operasi udara guna mengumpulkan data-data melalui pengintaian, pengamatan udara dan maritim guna mendapatkan informasi yang diperlukan, untuk selanjutnya diubah menjadi data-data yang akurat sebagai bahan dalam penyusunan strategi operasi udara dan pengambilan keputusan pimpinan.  Pengamatan udara  dan maritim (Air Maritime  Surveillance) adalah suatu pengamatan secara sistematik yang dilaksanakan baik terhadap ruang udara, permukaan daratan maupun perairan, lokasi atau tempat, sekelompok manusia atau obyek-obyek lain, baik dengan cara visual, aural, fotografi, elektronika ataupun dengan cara lain.  Oleh karena itu, karakteristik yang harus dimiliki oleh pesawat surveillence adalah yang memiliki tingkat endurance lama, dengan dilengkapi peralatan teknologi canggih seperti radar, sistem komunikasi, sistem navigasi serta alat pendeteksi lainnya yang terintegrasi dalam suatu sistem intelijen udara, sehingga akan menghasilkan out put data yang detail dan akurat.

 c.         Pesawat Helikopter.    Unsur pesawat helikopter memegang peranan yang penting di dalam mendukung kemampuan operasi udara, terutama dalam hal penanganan low intensity conflict dan military operation other than war.    Pemenuhan kebutuhan pesawat helikopter pada kurun waktu 2010 tentunya disesuaikan pula dengan perkembangan lingkungan strategik yang ada, terutama dalam skala nasional.  Pemilihan pesawat helikopter yang tepat diharapkan akan mampu mendukung tugas-tugas operasi di atas.  Oleh karena itu pesawat helikopter yang dibutuhkan untuk mendukung tugas-tugas tersebut di atas harus memiliki kriteria seperti fleksibilitas tinggi, manuver tinggi, dapat beroperasi dalam segala medan dan cuaca, mudah dalam operasional dan pemeliharaan, memiliki mobilitas tinggi terutama untuk memenuhi kebutuhan taktis operasional penggelaran di lapangan.      

Hal lainnya yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan sistem senjata  udara terutama pesawat helikopter adalah bahwa kemampuannya dapat diharapkan untuk mendukung tugas-tugas operasi militer selain perang, terutama tugas-tugas yang bersifat emergensi dan memerlukan reaksi atau respon yang sangat cepat.   Untuk itu keberadaan pesawat helikopter sangat diperlukan dalam tugas ini dan diorganisasikan dalam bentuk sebuah emergency response unit (ERU) dengan dukungan pengawakan dari para personel paskhas TNI AU.

d.         Pesawat Air Refuelling.    Kemampuan pesawat air refuelling sebagai dukungan di dalam melaksanakan suatu operasi udara memegang peranan yang penting mengingat luasnya wilayah Indonesia yang luas dengan jarak jangkau kekuatan pesawat tempur yang terbatas.  Kemampuan pesawat air refuelling merupakan kemampuan pesawat dalam melaksanakan pengisian bahan bakar ulang di udara bagi pesawat-pesawat tempur yang melaksanakan operasi, guna meningkatkan daya tempurnya.  Peningkatan daya tempur yang dimaksud adalah untuk peningkatan jarak jangkau, daya angkut amunisi, fleksibilitas dan manuver serta mempersingkat waktu pencapaian misi terhadap pesawat tempur.

e.         Pesawat Latih.    Pengembangan dan pemilihan pesawat latih sebagai sarana pendidikan untuk mendukung pelaksanaan tugas-tugas operasi, sangat berpengaruh pada pembentukan struktur kekuatan sistem senjata udara dan profesionalisme prajurit.  Semakin maju kualitas teknologi dari pesawat latih yang menjadi alternatif pilihannya, maka konsekuensinya pembentukan struktur sistem senjata udara akan semakin meningkat pula.           Oleh karena itu perlu pengembangan dan pemilihan pesawat latih yang memiliki tingkat teknologi yang relatif tinggi untuk mendukung struktur sistem senjata udara, baik yang berupa pesawat terbang maupun helikopter.

f.          Unmanned Aerial Vehicle (UAV).   UAV dapat didefinisikan sebagai mesin yang diterbangkan melalui daya angkat aerodinamika di hampir semua lintasan dan dipandu tanpa kehadiran crew di dalamnya.   Pemilihan peralatan senjata udara UAV bagi TNI Angkatan Udara di masa depan perlu menjadi fokus utama dalam rencana perkuatan kekuatan TNI AU.     Meskipun menghadapi kendala biaya mahal dalam pengadaan UAV, namun jika dibandingkan dengan nilai strategis yang didapat dari peralatan ini, relatif lebih bermanfaatnya bagi kepentingan TNI AU di masa depan.  Nyawa air crew memiliki nilai strategis yang sangat tinggi dalam sebuah operasi dibandingkan dengan peralatan militernya, sedangkan pertahanan hidup mereka juga memiliki resiko sangat tinggi dalam mengoperasikan peralatan militer, terutama pesawat udara. Oleh karena itu pemilihan pengadaan UAV sangat diperlukan untuk meminimalisasi kerugian nilai strategis dan juga dapat dimanfaatkan untuk tugas-tugas operasi yang memerlukan daya akurasi tinggi.  Di dalam melaksanakan suatu operasi udara ke depan perlu dipertimbangkan pula penggunaan pesawat tak berawak sebagai kemampuan tambahan untuk memberikan data intelijen bagi pelaksanaan operasi.

Pengembangan dan pemilihan sistem senjata UAV mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut: sangat efektif dalam operasionalnya dan tidak memerlukan personel yang relatif banyak sehingga biayanya operasionalnya lebih murah dari pada pesawat tempur; sehubungan dengan ukurannya yang kecil, relatif sulit dideteksi; tidak ada kekhawatiran akan kehilangan tenaga manusia yang bernilai strategis; mengurangi kebutuhan pendidikan dan pemeliharaan.  Namun demikian,  UAV juga memiliki kelemahan seperti; survivabilitasnya rendah; daya muat terbatas; tergantung pada stasiun darat untuk memulai data link;  rentan terhadap gangguan dan bentuk gangguan transmisi lain.

Penggunaan sistem senjata pada masa damai lebih diprioritaskan pada usaha-usaha membantu pemerintah dalam memajukan pembangunan di segala bidang (aspek kesejahteraan), sedangkan pada masa perang penggunaan sistem senjata udara disesuaikan dengan fungsi sebagai kekuatan penyerang, pertahanan dan dukungan operasi (aspek pertahanan).

Pangkalan Udara

Pangkalan udara merupakan bagian dari potensi nasional bangsa dan sebagai sarana utama bagi pesawat tempur di dalam mendukung suatu operasi udara.  Pengembangan suatu pangkalan udara sangat dipengaruhi oleh pengembangan doktrin strategis dan kemampuan sumber daya anggaran yang dimiliki.  Doktrin yang memuat asas-asas dasar yang menjadi pedoman bagi tindakan-tindakan TNI AU dalam mendukung tujuan nasional. Pada masa mendatang pengembangan suatu pangkalan udara tidak dapat terlepas dari unsur  fungsi dan kemampuan  TNI AU dalam mendukung perannya sebagai penegak kedaulatan negara di dirgantara.

  TNI AU sebagai komponen utama dalam penyelenggaraan pertahanan   negara  di dirgantara  mempunyai peranan sangat penting di dalam ikut mewujudkan terciptanya satu kesatuan pertahanan negara guna mencapai tujuan nasional yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.  Salah satu faktor pendukung utama di dalam penyelenggaraan pertahanan negara di dirgantara tersebut adalah adanya potensi sumber daya alam dan buatan yang dimilki berupa senjata dan peralatan yang digunakan serta fasilitas pangkalan udara (air base) dan landasan pacunya.

Tersedianya fasilitas pangkalan udara dapat didayagunakan dan dikembangkan menjadi kemampuan nyata bagi kepentingan kesejahteraan bangsa dan pertahanan keamanan negara.    Sesuai yang termuat dalam undang-undang No 3 Tahun 2002 tentang pertahanan negara bahwa sumber daya buatan, sarana dan prasarana nasional dapat digunakan sebagai alat penunjang untuk kepentingan pertahanan negara dalam rangka mendukung kepentingan nasional.  Oleh karena itu dengan melihat kondisi nyata yang ada saat ini, perlunya suatu pembangunan pangkalan udara yang mempunyai nilai kualitatif, daya tahan dan daya tangkal, baik secara defensif maupun ofensif.    Agar dapat terpenuhi daya tersebut, aspek pembangunan yang berskala nasional harus dirancang secara terarah, bertahap dan berkelanjutan, serta dilaksanakan secara dinamis dalam suatu kerangka pemikiran untuk  menciptakan kesejahteraan yang terpadu, serasi, selaras dan seimbang dengan pembangunan pertahanan nasional.

Pengembangan Pangkalan Udara           

Bertolak dari hakikat bahwa bala udara memerlukan tempat berpijak di atas permukaan daratan dan lautan, serta kenyataan bahwa ancaman udara dapat datang dari setiap arah, maka untuk penerapan strategi pertahanan negara di dirgantara pada masa mendatang, memerlukan penyiapan lahan yang disiapkan untuk pangkalan udara dan pengembangan sarana dan prasarana seperti landasan/bandar udara yang disesuaikan dengan kebutuhan pendaratan pesawat terbang militer yang dapat mendukung tugas pokok TNI AU.     Dengan demikian, dalam upaya penyelenggaraan pertahanan dirgantara tersebut diperlukan penataan ruang di darat/laut untuk penempatan/penggelaran kekuatan udara dan kegiatan lain yang menunjang pertahanan dirgantara.

Menurut beberapa pakar dan pengamat militer dikatakan bahwa pengembangan suatu pangkalan udara dalam mendukung suatu operasi udara kedepan harus mencakup 3 unsur.    Pertama, adanya political Commitment dari segenap unsur Pemerintah, Pimpinan TNI maupun elemen masyarakat.     Artinya bahwa ada suatu kesepakatan politik dari segenap unsur-unsur terkait untuk dapat menciptakan atau mewujudkan suatu bentuk konsep pertahanan yang dapat menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selaras dan sesuai dengan kepentingan nasional.  Komitmen untuk membangun kesepakan tersebut akan berpengaruh terhadap pembangunan TNI secara keseluruhan termasuk di dalamnya adalah pembangunan pangkalan udara sebagai fasilitas utama bagi pesawat-pesawat tempur TNI AU dalam melakukan tugas operasi udara.   Kemudian yang kedua, pengembangan pangkalan udara didasarkan kepada berapa besar pangkalan udara tersebut dapat memfasilitasi suatu kekuatan udara untuk dapat menjaga nilai resources yang ada di wilayah atau tempat yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan hidup bangsa terhadap persepsi ancaman yang akan timbul di wilayah tersebut.   Ketiga, pembangunan pangkalan udara dapat dapat menunjang roda pembangunan daerah sebagai dukungan sarana dan fasilitas dalam kegitan transfortasi udara atau kegiatan-kegiatan kemanusiaan lainnya selain perang.  Kemudian pembangunan pangkalan udara juga dapat mendukung terciptanya pembinaan potensi dirgantara di wilayah tersebut.

Dasar pengembangan Pangkalan Udara

Dasar pengembangan suatu pangkalan udara tidak dapat terlepas dari penggelaran kekuatan udara yang diselenggarakan atas dasar efisiensi dan efektifitas penggunaan kekuatan dihadapkan kepada ancaman  yang akan terjadi.  Oleh karena itu lokasi penggelaran kekuatan udara dan fasilitas pendukungnya  memegang peranan penting di dalam mengantisipasi kemungkinan ancaman yang akan terjadi.  Kecepatan bereaksi untuk menjaga sedini mungkin ancaman dapat menggagalkan musuh jauh sebelum masuk ke wilayah kedaulatan Indonesia, sehingga perlindungan terhadap obyek-obyek vital dan industri-industri strategis yang memiliki nilai resources tinggi bagi negara dapat optimal.

Menurut John C. Copper dalam teori kekuatan udara dikatakan bahwa kekuatan udara memerlukan dukungan yaitu tersedianya alat peralatan serta fasilitas antara lain : lapangan udara, pesawat terbang, mekanik pesawat, operator, perancang pesawat terbang dan pabrik pesawat terbang serta suku cadang pesawat terbang yang dibutuhkan. Dalam teori tersebut, segala pendukung harus mampu menyumbangkan sumberdayanya untuk keberhasilan suatu operasi udara militer pada waktu keadaan darurat termasuk dalam sistem pertahanan udara.    Di dalam penggelaran kekuatan udara khususnya terhadap pengembangan pangkalan udara, pada prinsipnya diselenggarakan berdasarkan strategi pola pertahanan mendalam (defense-in-depth).  Oleh karena itu dalam penggelaran tersebut perlu memperhatikan karakteristik geeografis wilayah, penyebaran obyek vital nasional dan obyek vital lainnya yang bernilai strategis, daerah rawan serta kekuatan udara yang dimiliki dihadapkan kepada potensi ancaman yang dihadapi, demikian pula penetapan unsur-unsur operasionalnya. Itu semua mendasari pengembangan suatu pangkalan udara yang dapat menunjang kemampuan untuk :

a.         Menyelenggarakan Penegakan kedaulatan negara dan hukum di ruang  udara serta mempertahankan keutuhan wilayah dirgantara nasional.

b.         Menyelenggarakan strategi pertahanan berlapis-lapis (depen in dept)

c.         Menyelenggarakan aktivitas proyeksi kekuatan udara di daerah rawan dan kawasan jalur pendekat kekuatan laut lawan.

d.        Menyelenggarakan dukungan terhadap gerakan, aktivitas operasional dan bantuan logistik di wilayah perlawanan yang meliputi tata ruang wilayah daratan dan laut/maritim.

e.         Menyelenggarakan pertahanan dan perlindungan obyek-obyek vital dan daerah latihan satuan TNI.

f.          Menyelenggarakan perang berlanjut berdasarkan konsepsi sistem pertahanan yang kita miliki yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pertahanan dirgantara.

Dalam pengembangan pangkalan udara terdapat dua aspek penting yang perlu dipertimbangkan, yaitu aspek kesejahteraan dan aspek pertahanan.

1.         Aspek Kesejahteraan.         Upaya pengembangan pangkalan udara perlu pula untuk memperhatikan aspek kesejahteraan bagai segenap rakyat Indonesia. Artinya bahwa pengembangan suatu pangkalan udara disuatu wilayah, diharapkan juga mampu untuk menciptakan ruang dalam mendukung kelancaran pembangunan nasional. Selain fungsi utama sebagai dukungan kekuatan tempur dalam melakukan diterrent dapat pula sebagai dukungan dalam kerangka MOOTW (military operation other than war), selain itu dapat difungsikan sebagai sarana transportasi udara yang dapat menggerakkan roda perekonomian di wilayah tersebut.  Kemudian berkaitan dengan belakunya undang-undang otonomi daerah, tentunya dapat bersinergi dan bekerjasama di dalam menciptakan pembangunan nasional aspek dirgantara di wilayah tersebut.

 2.         Aspek Pertahanan.     Pembangunan pangkalan udara adalah esensial untuk melengkapi kekuatan udara di Indonesia.  Pembangunan tersebut baik yang utama maupun dalam lingkup bare base concept memberikan kemampuan untuk menggunakan aset-aset udara di wilayah strategis Indonesia.  Pembangunan tersebut perlu dikembangkan berdasarkan doktrin yang dimiliki oleh Angkatan Udara Indonesia, sehingga diharapkan dapat memberikan kemampuan bagi Indonesia untuk menyebarkan pesawat-pesawat garis depan ke-wilayah-wilayah strategis di Indonesia.

Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 hingga saat ini, telah mempengaruhi pembangunan fasilitas pangkalan udara sebagai sarana pendukung kekuatan udara.   Oleh karenanya pengelolaan dilakukan secara efektif dan efisien. Kemampuan anggaran tersebut utamanya diprioritaskan untuk mempertahankan kemampuan yang sudah ada dan membangun yang belum ada, sehingga perlu dilakukan sklala prioritas dalam pelaksanaannya.   Diperlukan suatu konsistensi yang berkesinambungan di dalam pembangunan tersebut, hingga terwujud postur TNI AU yang dicita-citakan pada tahun 2010. Lokasi penggelaran diupayakan untuk dapat mengoptimalkan penggunaan dan pemanfaatan seluruh aset milik TNI AU yang tersebar di seluruh pelosok  Indonesia.     Selain itu, faktor yang menentukan pada lokasi pangkalan-pangkalan ini adalah lokasi relatifnya terhadap aset-aset strategis penting dan juga radius aksi efektif dari pesawat tempur yang dimiliki.

Berdasarkan fungsinya, status pangkalan TNI AU dibagi menjadi pangkalan Induk dan pangkalan Operasi. Pangkalan-pangkalan tersebut diklasifikasikan menjadi Lanud A, Lanud B, Lanud C, Detasemen TNI AU serta Pos TNI AU. sebagai berikut :

 a.         Pangkalan Induk.  Pangkalan induk terdiri dari:  Lanud  Pekanbaru,  Lanud   Halim  Perdanakusuma,  Lanud Atang Sanjaya, Lanud Adi Sutjipto, Lanud Iswahyudi, Lanud  Abdul  Rahman Saleh, Lanud  Hasanuddin,  Lanud Supadio, Lanud Surya Darma.

b.         Pangkalan Operasi.    Pangkalan operasi terdiri dari:  Lanud Maimun Saleh, Lanud Medan, Lanud Padang, Lanud Tanjung Pinang, Lanud Ranai, Lanud Palembang, Lanud Astra kestra, Lanud Tanjung pandan, Lanud Wira Dinata, Lanud Sukani, Lanud Sulaeman, Lanud Wirasaba, Lanud Singkawang II, Lanud Iskandar, Lanud Syamsuddin Noor, Lanud Balikpapan, Lanud Sam Ratulangi, Lanud Wolter Monginsidi, Lanud Ngurah Rai, Lanud Rembiga, Lanud Surabaya, Lanud Eltari, Lanud Patimura, Lanud Morotai, Lanud Manuhua, Lanud Jayapura, Lanud Dumatubun, Lanud Merauke, Lanud Adi Sumarmo, Lanud Husein Sastranegara, Lanud Tarakan,  Lanud Iskandar Muda

Dengan melihat kemampuan nyata kekuatan udara yang dimiliki oleh TNI AU, maka prioritas utama pembangunan suatu pangkalan udara harus direncanakan secara selektif, dengan melihat lingkungan strategik yang berkembang serta hakekat ancaman yang sewaktu-waktu dapat terjadi.   Diharapkan proses pengembangan pangkalan secara berkelanjutan tetap direncanakan mengingat luas wilayah dirgantara yang harus dijaga serta kemampuan kekuatan TNI AU yang belum optimal. 

 

 

 

 

 


[1] Frederick H. Hartmann, The Relationsof Nations, 1966, hlm 46-47


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: