Beranda » Teori Air Power » Perkembangan Angkatan Udara Dalam Berbagai Bidang

Perkembangan Angkatan Udara Dalam Berbagai Bidang

Saat Perang Dunia (PD) I berakhir pada tahun 1918, semua negara yang terlibat perang (Perancis, Inggris, dan Jerman) mendapatkan kerugian yang sangat besar.  Perjanjian perdamaian menuntut Jerman untuk menyerahkan semua peralatan militernya, termasuk pesawat tempur beserta segala suku cadangnya.  Kegiatan Angkatan Udara Jerman dibekukan.  Sedangkan Angkatan Udara Perancis dan Inggris mengurangi jumlah kekuatannya, sebagai upaya efisiensi anggaran.   Namun masa damai pasca PD I telah mendorong berdirinya organisasi Angkatan Udara pertama di dunia, Royal Air Force (RAF) milik Inggris, pada tanggal 1 April 1918.   

Angkatan Udara modern terlahir dari satuan udara kecil bernama flight.  Sebelum RAF berdiri, di Inggris terbentuk satuan udara kecil bernama flight, yang masing-masing memiliki kemampuan tempur empat pesawat. Pada perkembangannya, setiap tiga flight akan membentuk satu skadron.   Skadron disadur dari istilah yang dikembangkan RAF, squadron.   Kata squadron sendiri berasal dari kata squad, yang berarti a small group organized to perform a spesific job.   Dan dalam terminologi penerbangan, skadron memiliki arti “Organisasi secara administratif atau organisasi taktis yang terdiri dari sejumlah pesawat udara, perlengkapan dan pengawakannya atau dua divisi kapal atau lebih”.  Sehingga satu squadron memiliki kemampuan tempur dua belas pesawat, yang biasanya sejenis.   Sistem inilah yang sekarang digunakan oleh seluruh skadron di seluruh dunia termasuk TNI AU.   Istilah squadron mulai muncul pada PD I dan digunakan pertama kali oleh Royal Air Force (RAF) Inggris.  Dan RAF adalah sebuah postur yang membentuk kekuatannya secara bottom-up, dengan basis teknologi dalam negeri.

Banyak kalangan menyamakan kedudukan skadron setingkat dengan satu batalyon Angkatan Darat.  Hal ini mengacu pada asal muasal squadron yang di Inggris bergabung dengan korps kavaleri Angkatan Darat, dengan nama air batalyon.  Namun demikian, sejalan dengan perkembangan zaman, perbedaan-perbedaan yang signifikan menjadi pembeda terhadap dua istilah penyebutan di atas.   Bagi prajurit darat, pembentukan sebuah satuan tempur didasarkan pada jumlah personel, namun bagi Angkatan Udara tergantung pada jumlah alutsista yang digunakan.   Sehingga komposisi personel dalam tiap-tiap skadron akan berbeda sesuai dengan alutsista yang diawaki.

Belanda adalah negara pertama yang mengenalkan kekuatan udara kepada bangsa kita. Walaupun tidak terlalu menonjol kekuatannya sebagaimana negara Eropa Barat lainnya, embrio Angkatan Udara Belanda bernama Proefvliegavdeling (PVA) berdiri pada tanggal 21 Juli 1918.   PVA mendirikan sebuah escadrille (penyebutan skadron ala Perancis) di Soekamiskin pada bulan Agustus 1921 dengan kekuatan  enam pesawat.   Ini adalah skadron pesawat pertama yang pernah ada di Indonesia.   Jenis pesawat yang digunakan adalah De Havilland dan Fokker D-VII.   Pada tanggal 31 Maret 1939, Angkatan Udara Belanda berdiri, bernama Militaire Luchvaart (ML).  

Dalam rangka mempertahankan Hindia Belanda (Indonesia), Belanda membangun sebuah kekuatan  udara  untuk menghadapi invasi Jepang.    Pada akhir tahun 1930-an, Belanda mulai membangun pangkalan-pangkalan baru di Indonesia.   Belanda juga mendidik pemuda pribumi untuk menjadi penerbang ataupun prajurit ML.  Merekalah nantinya menjadi pelopor lahirnya Angkatan Udara kita.

Proses Kelahiran

Bersamaan dengan terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada tanggal 22 Agustus 1945, maka BKR Bagian Oedara mengawali perjuangannya.   Tanggal 5 Oktober 1945, adanya perubahan nama BKR menjadi TKR (Tentara Kemanan Rakyat), maka berubah pula BKR Bagian Oedara menjadi TKR Djawatan Penerbangan.  Sebagai Markas Besar Umum TKR Djawatan Penerbangan ditetapkan di  Maguwo, Yogyakarta. 

Di bawah pimpinan R. Suryadi Suryadarma, TKR Djawatan Penerbangan mengkonsolidasi kekuatan yang dimiliki dan menginvetarisasi semua personel dan materiil yang menjadi tanggung jawabnya.   Sejalan dengan perubahan nama TKR menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tanggal 25 Januari 1946, maka melalui Penetapan Pemerintah No. 6 / SD 1946, TKR Djawatan Penerbangan pun mengalami perubahan nama menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Oedara (TRIO) pada tanggal 9 April 1946.  Peristiwa inilah yang ditetapkan sebagai Hari Jadi Angkatan Udara kita sampai saat ini.

Dalam proses pembentukannya, tidak ada persiapan lain kecuali menerima apa yang ditinggalkan oleh bangsa kolonialis yang pernah menduduki Indonesia.   Banyaknya pangkalan udara beserta pesawat dan fasilitas di dalamnya, yang tersebar di wilayah NKRI, menggugah semangat the founding fathers untuk menyatukannya dalam satu organisasi Angkatan Udara yang mandiri.

Membandingkan awal pembentukan Angkatan Udara kita dengan  proses lahirnya Angkatan Udara modern, maka menunjukkan adanya pola yang sangat berbeda.  Awal pembentukan kekuatan udara modern dimulai dari gelombang industrialisasi, yang melahirkan pabrik-pabrik pesawat terbang.  Sedangkan kita tidak memiliki industri apapun saat TNI AU terbentuk. 

Awal Pembentukan Skadron Udara 

Skadron adalah center of gravity dari organisasi Angkatan Udara.    Skadron adalah showroom-nya Angkatan Udara.  Bila skadron-skadron memiliki kualitas baik maka baik pula sebuah Angkatan Udara.    Namun bila kualitas mereka buruk, maka buruk pula wajah Angkatan Udara.

Ikhwal skadron udara kita adalah pasca-penandatanganan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) tanggal 27 Desember 1949.     Selain pengakuan kemerdekaan RI secara defacto dan de jure, maka seluruh wewenang pengelolaan fasilitas militer yang ditinggalkan Belanda di Indonesia, diserahkan kepada pemerintah RI.   Angkatan Udara sendiri menerima hibah semua pangkalan udara dan kekuatan pesawat ML. Menjadi bagian di dalamnya adalah serah terima Hoofd Kwartier Militaire Luchvaart (Markas Besar  ML) pada tanggal 27 Juni 1950 di Jakarta.   Peresmian Markas Besar Angkatan Udara di Jakarta diikuti dengan penyerahan seluruh pesawat dan fasilitas penerbangan.  

Dalam rangka pelaksanaan tugas maka dibentuklah skadron-skadron udara.    Pada awalnya pembentukan skadron udara masih menggunakan konsep sederhana, yaitu berdasarkan letak pesawat-pesawat peninggalan Belanda tersebut.  Skadron-skadron yang dibentuk adalah :

Skadron  1,  terdiri dari pesawat-pesawat yang berada di Pangkalan Cililitan (sekarang bernama Halim Perdanakusuma), Jakarta.

Skadron 2,  terdiri dari pesawat-pesawat yang berada di Pangkalan Andir (sekarang bernama Husein Satranegara), Bandung.

Inilah salah satu bukti perbedaan proses kelahiran AU kita dibandingkan dengan negara-negara maju.  Kita tidak pernah melewati proses research and development, dan terlahir sebagai operator pesawat. 

Namun demikian, kesadaran untuk membentuk organisasi yang baik mulai timbul dan berdasarkan Surat Penetapan Kasau No. 28/11/KS/51 tanggal 21 Maret 1951 dan No.28A/11/51 tanggal 23 April 1951, menyatakan tentang organisasi skadron berdasarkan jenis pesawat yang ada.  Skadron-skadron baru tersebut terdiri dari  :

 1.         Skadron 1, berkedudukan di Cililitan sebagai Skadron Bomber dengan pesawat-pesawat jenis B-25 Mitchell.

 2.         Skadron 2, berkedudukan di Cililitan sebagai Skadron Angkut dengan pesawat-pesawat jenis C-47 B Skytrain.

 3.         Skadron 3, berkedudukan di Cililitan sebagai Skadron Pemburu P-51 Mustang.

 4.         Skadron 4, berkedudukan di Semplak sebagai Skadron Angkut Ringan (Intai Darat) dengan pesawat-pesawat Auster, Piper Cup, Cessna-180, lalu menyusul AT-6G Harvard.

 5.         Skadron 5, berkedudukan di Bugis sebagai Skadron Intai Laut dengan pesawat PBY-5A Catalina dan AT-6G Harvard.

 6.         Dinas Angkutan Udara Militer (DAUM), berkedudukan di Andir dengan pesawat-pesawat C-47B Dakota.

Pada masa berikutnya penamaaan skadron mengacu pada konsep pengelompokan.  Skadron Udara 1 sampai 5, tetap digunakan sampai sekarang.  Skadron Udara 6 sampai 9 untuk skadron helikopter.   Skadron Udara 11 sampai 19 disiapkan untuk skadron jet tempur.  Skadron Udara 11 menjadi skadron jet tempur pertama Angkatan Udara, yang berdiri pada tahun 1957.   Skadron Udara 21 dan 22 untuk skadron pembom jarak pendek. Skadron Udara 31 dan 32 untuk skadron angkut berat.    Sedangkan Skadron Udara 41 dan 42 untuk skadron pembom jarak jauh.

Research and Development (RD)

Sadar akan pentingnya basis teknologi dalam negeri yang kuat dalam menyangga Angkatan Udara, maka sejak awal sudah mengadakan program research and development (RD) yang dipimpin oleh Nurtanio Pringgoadisuryo.   Pada tanggal 16 Agustus 1976 didirikan Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP), sebagai cikal bakal industri penerbangan nasional.   Pada masa berikutnya LAPIP berubah nama menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR).

Hasil riset para personel Angkatan Udara saat itu setidaknya sangat membanggakan kita, mengingat basis teknologi bangsa yang masih lemah.  Beberapa karya mereka diantaranya sebagai berikut :

1.         Pembuatan pesawat luncur (glider), tahun 1947.

2.         Pembuatan pesawat motor ringan RI-10, tahun 1947.

 3.         Pembuatan helikopter, tahun 1948.

 4.         Pesawat Si Kumbang, tahun 1954.           

Pembuatan pesawat-pesawat tersebut walaupun dengan teknologi yang sangat sederhana, merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk membuat pesawat terbang.

Pada masa berikutnya LIPNUR dinasionalisasi, dan sekarang bernama PT Dirgantara Indonesia (DI).   Sekali lagi, PT DI ikut membuktikan dengan hasil pesawat modern rancangannya bahwa kita memiliki potensi yang besar dan memiliki kemampuan dalam menguasai teknologi udara.     

 Kekuatan Udara

Kekuatan pesawat yang digunakan pertama kali oleh  AURI adalah pesawat peninggalan Jepang.     Beberapa pesawat yang dimiliki pada saat itu diantaranya pesawat pembom (Rocojunana, Guntai, Suky, Bristol Blemheim), pesawat pemburu (Hayabusha, Sansykisin), pesawat pengintai (Nagashima), dan pesawat latih (Churen, Cukiu, Nishikoren).  

Pesawat Churen ikut membuat momentum besar dalam sejarah perkembangan TNI AU.   Pesawat buatan dari salah satu pabrik Jepang (1933) tersebut merupakan pesawat bertanda merah putih pertama, yang berhasil mengudara di wilayah udara nasional.  Diterbangkan oleh Adisutjipto di atas Maguwo pada tanggal 27 Oktober 1945.  

Pesawat DH-115 Vampire

Satuan ini diberi nama Kesatuan Pancar gas (KPG).  Berdasarkan surat keputusan KSAU No. 56 tanggal 20 Maret 1957, KPG ditingkatkan kemampuannya menjadi Skadron, dengan nama Skadron 11 (sekarang Skadron Udara 11), yang diresmikan pada tanggal 1 Juli 1957 dengan Komandan Skadron Letnan Udara I Leo Wattimena.   Kekuatan pesawat di Skadron 11 adalah 16 buah pesawat Vampire DH-115.   Skadron 11 menjadi Skadron pesawat jet pertama yang dimiliki oleh AURI. 

Pada akhir 1955 beberapa personel AURI dikirimkan ke Inggris untuk belajar dan mengambil pesawat pemburu baru yang bernama DH-115 Vampire.  Ini adalah awal perkenalan penerbang tempur kita dengan pesawat jet.  AURI mulai membentuk skadron tempur jet.  Vampire yang didatangkan dari Inggris ditempatkan di Pangkalan Udara Andir (Husein Sastranegara) dan dimasukkan dalam wadah khusus bernama Kesatuan Pancar Gas (KPG).  KPG diresmikan berdirinya oleh KSAU pada tanggal 20 Pebruari 1956.   KPG ini merupakan embrio skadron tempur jet kita, dengan kekuatan 16 pesawat.   Jumlah yang sudah memenuhi standar baku sebuah squadron.  KPG diubah menjadi Skadron 11 berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor 56 tanggal 20 Maret 1957, dan mulai beroperasi sejak tanggal 1 Juni 1957 di Pangkalan Udara Andir.  Pesawat Vampire secara resmi menjadi pesawat pertama yang digunakan oleh Skadron 11. Saat konfrontasi dengan Belanda di Irian Barat mulai memuncak pada akhir dekade 50-an, Angkatan Udara memperkuat dirinya dengan alutsista impor.   Dari kontrak pembelian pesawat yang dilaksanakan, maka berdatangan 30 pesawat jet MiG-15 UTI, yang tiba di Pangkalan Udara Kemayoran sejak tanggal 14 Agustus 1958. Kemudian 22 pesawat bomber IL-28  pada tanggal 4 Oktober 1958, dan 49 pesawat MiG-17 datang pada awal tahun 1959.   Terakhir kita membeli jenis MiG-19, MiG-21F dan Tu-16, yang datang pada tahun 1962.   Peralatan militer lain yang dibeli dari negara Blok Timur setelah itu, termasuk pesawat transport, helikopter, dan rudal pertahanan udara SA-75.  Dari jenis pesawat transport, kita membeli 21 buah IL-14 Avia untuk Skadron 17, dan 6 buah Antonov-12B untuk Skadron 32.  Kontrak pembelian helikopter meliputi, 41 helikopter Mi-4 Untuk Skadron 6 dan 9 Mi-6 angkut berat di Skadron 8.

Pada tahun tahun 1972, kekuatan TNI AU mencapai titik terendah dalam sejarah karena embargo.   Namun dalam waktu yang singkat, kekuatan pesawat bisa mendapatkan pengganti dengan datangnya pesawat F-86 Avon Sabre, T-33 Thunderbird, dan OV-10 Bronco.  Pesawat F-86 dan T-33 merupakan pesawat bekas, namun keberadaannya di TNI AU sangat membantu dalam pembinaan kemampuan para penerbang.

Sejak era 80-an, TNI AU mampu membeli pesawat-pesawat canggih seperti A-4 Skyhawk, F-5 Tiger II, dan MK-53 HS Hawk.  Lalu pada era selanjutnya dilanjutkan membeli F-16 Fighting Falcon (1989) dan Hawk 100/200 (1998).   Sampai saat ini, TNI AU belum membeli kekuatan pengganti kekuatan tersebut.

Latar Belakang Doktrin TNI Angkatan Udara

Doktrin sebuah organisasi merupakan kombinasi dari sejarah, teori dan teknologi dari organisasi tersebut.   Doktrin bagi organisasi adalah fundamen dasar bagi pelaksanaan strategi pencapaian tujuan.  At the art of warfare lies doctrine.  It represents the central beliefs for waging war in order to achieve victory.   Doctrine is of the mind, a network of faith and knowledge reinforced by experience which lays the pattern for the utilization of men, equipment and tactics.  It is not the building material for strategy.   It is fundamental of sound judgment.[1]   Sehingga strategi apapun yang akan dilaksanakan di masa mendatang, harus tetap mengacu pada doktrin.

Para prajurit TNI Angkatan Udara sendiri masih sering belum memiliki persepsi pendalaman yang utuh pada doktrin.  Bila ini terjadi maka fungsi-fungsi yang ada dalam organisasi akan tumpang tindih.  “Ask a sailor about sea power, and he’ll give you a speech on the maritime strategy.   Ask a soldier about ground power, and he’ll tell you about land battle.   But ask airman about air power, and he’ll tell you what time happy hour starts at the club.”   (Jendral Michael Dugan, USAF).

Dalam sejarah perkembangannya, TNI Angkatan Udara mulai merumuskan doktrin dasar dalam Seminar AURI bulan Januari 1963 di Tjibulan – Bogor, berupa doktrin perjuangan Angkatan Udara.  Setelah doktrin tersebut mengalami pengujian lebih dari dua tahun, Doktrin Swa Bhuana Paksa dinyatakan berlaku pada Rapat Staf dan Komando di Tjibogo pada bulan Juni 1965.

Hingga saat ini, perkembangan Doktrin TNI Angkatan Udara sebagai berikut  :

            a.         Doktrin AURI 1946 – 1950.

             b.         Doktrin AURI 1950 – 1960.

             c.         Doktrin Dasar AURI Swa Bhuwana Paksa 1965.

             d.         Doktrin AURI Swa Bhuwana Paksa 1968.

             e.         Buku Induk TNI Angkatan Udara 1980.

             f.          Pedoman Dasar TNI AU 1985.

             g.         Buku Petunjuk Dasar TNI AU 1992.

             h.         Konsepsi Kekuatan Dirgantara Indonesia 1998.

             j.          Doktrin  Swa Bhuwana Paksa 2000 (Disertai dengan Buku Petunjuk Dasar TNI AU 2000)

 

Melihat sejarah perkembangan Doktrin TNI Angkatan Udara ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian bagi kita pada masa selanjutnya, sebagai  berikut  :

a)         Adanya lompatan sejarah yang tidak beraturan dari revisi sebuah doktrin lama ke doktrin yang lebih baru.  Hal ini  jelas salah satu indikator adanya kelemahan mekanisme dalam penyusunan doktrin.   Seharusnya doktrin dikaji dan diperbaharui dalam kurun waktu periodik.  

b)         Adanya lembaga yang secara resmi bertanggung jawab dalam mengkaji dan mengawasi pelaksanaan doktrin secara terus-menerus, berlanjut dan berkesinambungan.

c)         Adanya aplikasi doktrin dalam struktur organisasi TNI Angkatan Udara secara bulat dan utuh. 

 


[1]  Dr James A. Mowbray, Air Force Doctrine Problems 1926-Present.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: