Beranda » Teori Air Power » Prinsip-Prinsip Perang Udara

Prinsip-Prinsip Perang Udara

Sebelum kita mempelajari prinsip-prinsip perang udara, pertama-tama yang kita harus fahami bersama bahwa Angkatan Udara dimana saja memiliki sifat dasar sebagai angkatan penyerang (an offensive force) karena memiliki kemampuan menyerang dengan kecepatan dan daya hancur yang sangat spektakuler, menghancurkan sasaran yang ada di daratan maupun di lautan.   Kelebihan air power dalam melaksanakan suatu serangan adalah dapat dilakukan dimana saja, baik di depan maupun di garis belakang, dan dilakukan dari berbagai arah penyerangan.   Oleh karenanya, tidak ada alas an lain bahwa Angkatan Udara memang harus mandiri,[1] dalam arti pembinaan kemampuan harus berada sepenuhnya di tangan Angkatan Udara sendiri (tidak dikendalikan oleh bukan Angkatan Udara).   Mengapa ?.   Karena Angkatan Udara yang memang harus memahami kekhasan air power dan sifat dasar operasi udara (the nature of air operations).   Pada prinsipnya Angkatan Udara bersifat mandiri dan dalam melaksanakan operasinya selalu dilakukan secara besar-besaran (An Independent Air Force should always operate in mass).   Hal ini difahami sepenuhnya oleh Inggris, sehingga Angkatan Udara Inggris memisahkan diri dari Angkatan Darat pada tahun 1918 dan membentuk Angkatan Udara yang mandiri yang disebut RAF (Royal Air Force).[2]

Bagaimana dengan TNI AU ?.

Walaupun TNI AU terpisah dari Angkatan lain, namun belum bisa dikatakan sebagai organisasi yang terpisah (a separate organization), karena pada Doktrin TNI masih terdapat satu klosul yang mengatakan bahwa ‘Panglima TNI mempunyai hak dan wewenang didalam pembinaan kemampuan dan penggunaan kekuatan, sedangkan sebagian wewenang pembinaan diberikan kepada Kepala Staf Angkatan’.

Artinya apa ?.

Dari klosul ini bermakna bahwa TNI AU masih belum merupakan organisasi yang terpisah sebagai layaknya organisasi Angkatan Udara di negara-negara maju.   Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama para perwira TNI yang memiliki inovasi pemikiran kedepan dalam rangka meningkatkan peran TNI yang profesional dan proporsional.

Selanjutnya untuk lebih memahami ‘Prinsip – Prinsip Perang Udara’, dibawah ini akan diuraikan secara garis besar pembahasan tentang :

                 Pengertian dan Hakikat Perang Udara

                 Prinsip-Prinsip Perang Udara

                 Strategi Perang Udara

Pengertian dan Hakikat Perang Udara

 Air power is the most difficult of all forms of military to measure,

or even to express in precise terms.

Winston Spencer Churchill

 

Ketika pesawat terbang pertamakali ditemukan oleh Wright Brothers pada tahun 1903 dan digunakan sebagai pesawat militer pada tahun 1909,[3] mereka masih mengganggap sebagai kepanjangan tangan dari tentara darat dan laut (pelaut) dan kondisi ini berjalan sampai beberapa puluh tahun kemudian.   Berdasarkan kemajuan teknologi kedirgantaraan telah terjadi perkembangan kemampuan air power yang sangat dramatis.   Khususnya kemampuan dalam melaksanakan pengeboman strategis, sehingga akhirnya membawa ke peperangan bentuk baru.   Hal inilah yang kemudian membedakan antara air power dengan dari kekuatan darat (land power) dan kekuatan laut (sea power).   Bahkan perkembangan air power selanjutnya terjadi secara cepat melebihi dari pada sekedar perkembangan bidang pengeboman strategis.   Perkembangan air power berlajut pula pada perkembangan di semua elemen penerbangan militer.   Satu pelajaran yang jelas kita peroleh dari sejarah perkembang tersebut bahwa keefektifan dasar air power adalah adanya kesatuan didalam penggunaan.   Ditekankan pula bahwa kesatuan doktrin air power tidak berarti kesatuan kepemilikan (unity of ownership), misalnya hanya milik Angkatan Udara saja.   Namun demikian, batasan dan definisi tentang air power telah diterima oleh sebagian besar negara maju termasuk USAF, RAF, dan RAAF bahwa :

Air power is the ability to use platforms[4] operating in or passing through the air

for military purposes.[5]

Kekuatan Udara

Yang paling jelas membedakan antara angkatan udara dengan angkatan lain (angkatan darat dan angkatan laut) adalah kemampuan menggunakan dimensi ketiga diatas permukaan tanah.   Pada abad yang lalu, apabila pasukan darat ingin menang dalam perang, mereka akan menguasai suatu ketinggian terlebih dahulu, kemudian membangun menara untuk kepentingan pengamatan, dan selanjutnya mereka menyusun strategi perang.   Dengan munculnya air power, kemampuan pasukan darat untuk mencapai suatu ketinggian menjadi semakin cepat.   Tidak lama kemudian adanya relevansi pencapaian ketinggian bagi kekuatan darat digunakan untuk menyusun strategi dan mengalahkan musuh.   Dan sampai saat ini faktor ketinggian tersebut selain untuk kepentingan pengamatan udara, juga digunakan untuk menyerang musuh, selain itu ketinggian juga digunakan untuk kepentingan ber-manuver.

Hari ini bisa saksikan sendiri bahwa kecepatan pesawat terbang sudah mencapai sekitar 500 kts, dan bahkan bisa mencapai 2000 kts [6].   Pesawat helikopter bahkan sudah mencapai kecepatan lebih dari 200 knots.   Sebaliknya dengan kecepatan kapal atas permukaan dan kendaraan militer darat, masih berkisar antara 30 sampai dengan 40 knots.   Dengan kecepatan yang tinggi tersebut menyebabkan kekuatan militer dapat diproyensikan dengan cepat melalui udara, sehingga misi yang dilaksanakan bisa lebih singkat dan jumlah tugas yang dilaksanakan bisa lebih banyak pada satu periode waktu tertentu.   Ketinggian dan kecepatan, apabila dilaksanakan bersama-sama akan menghasilkan jarak terbang yang sangat jauh.

Dengan demikian, air power memiliki karakteristik tiga kekuatan utama (primary strengths) yaitu:  (1) Ketinggian, (2) kecepatan, dan (3) jarak capai.   Sedangkan kekuatan kedua (secondary strengths) adalah: (1) fleksibelitas, (2) daya respons, dan (3) konsentrasi.   Untuk kekuatan-kekuatan tambahan yang lain adalah hasil dari penggabungan antara ketiga kekuatan utama dan kekuatan kedua air power tersebut.

  

Sifat Dasar Perang Udara (The Nature of Air Warfare).[7] 

Karakteristik yang unik dari air power tersebut membuat sifat dasar perang udara (the nature of air warfare) sangat berbeda dengan sifat dasar perang darat (the nature of land warfare) dan sifat dasar perang laut (the nature of sea warfare).    Bagi angkatan darat, sasaran yang dominan dalam perang yang sedang dihadapi harus dapat dikalahkan.   Bagi angkatan laut, kapal perang lawan yang sedang dihadapi menjadi sasaran utama yang harus dihancurkan, terutama apabila pertempuran tersebut berlangsung di laut.   Bagi angkatan udara situasinya sangat berlainan.   Mobilitas kekuatan udara jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kekuatan darat maupun laut, karena kekuatan udara melalui dimensi vertikal diatas permukaan tanah.

Mobilitasnya air power memang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kekuatan laut dan kekuatan darat.   Hasilnya, banyaknya tugas yang dilaksanakan oleh angkatan udara juga lebih besar, karena tidak hanya mengalahkan musuh di udara saja, namun juga di daratan dan diatas permukaan laut.   Apabila diperlukan air power mampu mengacaukan semua kemampuan perang lawan bahkan kemauan nasional (national will) musuh untuk melanjutkan perang.   Oleh karena itulah, arena peran udara sangat luas, meliputi daerah mandala perang sampai dengan masuk jauh kedalam wilayah daratan, perairan, dan udara musuh.   Untuk penerbangan militer, semua wilayah ini merupakan satu daerah pertempuran (this is all one battlefield).   Tidak ada batasan wilayah geografi pada pelaksanaan operasi udara, karena kejadian pada satu tempat dari daerah pertempuran udara akan dapat mempengaruhi yang lain.   Bahasan diatas secara garis besar menjelaskan tentang sifat dasar air power dan sifat dasar operasi udara yang sangat berbeda dengan sifat dasar operasi darat dan operasi laut.          

Prinsip Prinsip Perang Udara

Prinsip-Pinsip Perang Udara diibaratkan sebagai sebuah jalan peta menuju ke berhasilnya pelaksanaan perang.   Semua prinsip-prinsip tersebut saling berhubungan dan saling berinteraksi antara elemen yang satu dengan yang lain.   Mereka tidak bisa dipisahkan sehingga dapat dijadikan pedoman bagi komandan untuk memilih mana yang didahulukan dalam penggunaan kekuatan udara.   Prinsip-prinsip perang tersebut mampu membantu melengkapi pengetahuan yang lebih baik tentang perang.   Selain prinsip-prinsip perang udara tersebut, penting sekali bagi kita mengetahui tentang pengetahuan perang itu sendiri, sedangkan pengalaman perang digunakan untuk mendalami pengetahuan tentang perang tersebut.

Sembilan Prinsip Perang.

Meskipun seorang ahli perang Sun Tzu menyatakan ada sekitar 500 prinsip perang, dan banyak penulis pada abad 19 mengatakan ada 18 prinsip perang, Colonel J.F.C Fuller pada tahun 1916 menyatakan ada delapan prinsip perang.   Pada tahun 1920 Angkatan Darat Inggris (British Army) mengadopsi kesembilan prinsip perang tersebut dan US Army kemudian menambahkan satu prinsip perang yaitu kesederhanaan (simplicity) sehingga menjadi 9 prinsip perang.[8]   Kesembilan Prinsip Perang tersebut sbb:

1.      Tujuan (Objective).   Arah operasi militer ditentukan untuk mendapatkan tujuan strategik, operasional, dan taktis.   Tujuan strategik, operasional, dan taktis tersebut dapat ditentukan dan dikembangkan apabila tujuan politik sudah ditetapkan oleh otoritas negara.   Pilihan tujuan operasi di mandala perang didasarkan pada misi operasi secara keseluruhan, keputusan komandan perang, karakteristik musuh yang dihadapi, dan karakteristik militer di daerah operasi.   Semua komandan militer harus memahami tentang hirarki dari tujuan tersebut, semua misi dari komando yang lebih tinggi, dan tugas-tugas yang telah ditentukan.   Mereka harus berkomunikasi dengan jelas dengan para komandan di bawahannya. 

2.      Serangan (Offensive).   Tindakan aksi dengan tujuan untuk mendikte waktu, tempat, maksud, lingkup, intensitas, dan langkah-langkah  operasi.   Inisiatif harus dapat diukur, diperoleh, dan secara penuh diberdayakan.   Prinsip dari ofensif adalah tindakan penyerangan untuk tetap mempertahankan inisiatif dan merupakan tindakan paling efektif untuk memperoleh tujuan yang jelas.   Hal ini merupakan prinsip dasar baik pada tingkatan perang strategik, operasional, maupun taktis.   Semangat dari ofensif sendiri harus tetap melekat pada pelaksanaan operasi udara.   Operasi bagi air power harus aktif, bukan pasif.   Tindakan ofensif, apapun bentuknya berarti akan mampu memegang inisiatif, mempertahankan kebebasan bertindak, dan yang paling penting akan memperoleh hasil.

3.      Besar-Besaran (Mass).   Dilaksanakan pada waktu dan tempat yang sangat menentukan.   Pada tingkatan strategik, prinsip ini harus dilakukan, atau paling tidak disiapkan untuk dilakukan.   Kekuatan yang besar ditujukan ke wilayah atau daerah dimana ancaman terhadap kepentingan keamanan nasional paling besar.   Ketepatan dan penentuan waktu dimana ancaman terhadap kepentingan vital nasional adalah yang paling sulit.   Pada situasi dunia yang tidak menentu seperti saat ini, sifat dasar dan sumber ancaman sering berubah dengan cepat.   Karena setiap kemungkinan kontijensi atau trouble spot tidak dapat diantisipasi sebelumnya, maka perencana strategi harus fleksibel dalam melaksanaan tindakannya.   Pada tingkat operasional, prinsip besar-besaran ini harus dipusatkan pada waktu dan waktu yang tepat, dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang otimum.

4.      Kekuatan yang Ekonomis (Economy of Force) – Mampu menciptakan upaya besar-besaran walaupun hanya memiliki kekuatan tempur yang kecil.   Oleh karena itu kekuatan ekonomis sangat diperlukan, dalam arti penggunaan kekuatan air power yang ada.[9]   Walaupun bertolak belakang dari prinsip mass, kekuatan ekonomis pada tingkat strategic ini, bukan diartikan tidak ada sumber daya.   Kekuatan ekonomis adalah suatu resiko yang harus dilaksanakan, manakala perencanaan strategik berdasarkan perkiraan pemimpin politik dan militer sudah diputuskan.   Oleh karenanya dibutuhkan fleksibelitas dari para pemikir strategi.  Pada tingkat operasional, prinsip kekuatan ekonomis ini sangat dibutuhkan dengan menggunakan kekuatan minimum manakala upaya utama tidak dilaksanakan.   Operasi ini membutuhkan pemikiran strategis yang tepat, karena berkaitan dengan mencapaian keunggulan di suatu wilayah.   Kekuatan ekonomis yang dimaksud disini tetap membutuhkan kekuatan pada daerah tertentu untuk kepentingan penyerangan, pertahanan, atau bahkan penghambatan pelaksanaan operasi lawan, tergantung pada pentingnya mandala tersebut.

5.      Manuver (Maneuver) – Daya gerak sehingga membuat musuh tidak menguntungkan dengan cara penggunaan fleksibelitas kekuatan tempur.   Prinsip manuver ini diperoleh karena adanya penggabungan daya fleksibelitas, mobilitas, dan daya gerak.   Keberhasilan prinsip manuver ini tidak hanya memiliki daya hancur dan daya pergerakan saja, namun juga membutuhkan pemikiran, perencanaan, dan pelaksanaan operasi yang fleksibel juga.

6.      Kesatuan Komando (Unity of Command) – Kesatuan upaya hanya bisa dilaksanakan melalui satu komando.   Prinsip ini menekankan bahwa semua upaya harus dikerahkan, diarahkan, dan dikoordinasikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.   Pada tingkat strategis, tujuan ini sama dengan tujuan politik nasional yang merupakan tujuan strategis yang luas.   Untuk mengembangkan kekuatan tempur, kekuatan-kekuatan yang ada harus dikoordinasikan melalui kesatuan upaya.   Koordinasi ini harus dilaksanakan dan bagaimanapun juga pencapaian tujuan yang terbaik kalau dikoordinasikan oleh satu komandan yang memiliki otoritas terhadap semua kekuatan yang ada, maka kemungkinan besar akan berhasil.   Dalam hal ini komandan dari semua angkatan pada tingkat strategik adalah Presiden sendiri.                   

7.     Keamanan (Security) – Melindungi kawan dan kemampuan operasinya dari tindakan musuh.   Upaya ini dilaksanakan untuk mendapatkan kebebasan bertindak dengan cara mengurangi kerawanan kawan terhadap tindakan musuh, pengaruh dari musuh, atau pendadakan oleh musuh.   Keamanan yang dimaksud disini adalah upaya sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu fleksibelitas pemikiran dan tindakan kita.   Dalam hal ini dibutuhkan perencanaan staf yang lengkap, selain penguasaan terhadap strategi, taktik, dan doktrin musuh sehingga mampu meningkatkan keamanan terhadap kemungkinan tindakan pendadakan oleh musuh.

8.    Pendadakan – Serangan pada waktu, tempat, cara tertentu manakala musuh belum siap.   Pendadakan dilaksanakan dengan menyerang musuh ketika dia belum sadar atau tidak siap.   Walaupun demikian yang namanya pendadakan strategik sulit dicapai.   Sedangkan kecepatan dalam penggelaran kekuatan tempur ke daerah krisis akan mengundang perhatian dan dapat merusakkan rencana dan kesiapan kita.  Pendadakan sangat penting bagi pelaksanaan operasi gabungan untuk menghasilkan kemenangan dalam pertempuran.   Dengan pendadakan, kemungkinan berhasil akan lebih dapat dapat dicapai.   Pendadakan akan sangat bermanfaat apabila dilaksanakan pada waktu dan tempat tertentu karena musuh dinilai tidak siap.   Sebenarnya bukan karena musuh tidak siap, akan tetapi kesiapan musuh terlambat bereaksi dengan cepat.   Faktor-faktor pendadakan air power disebabkan karena : (1) kecepatan, (2) kelincahan, (3) penggunaan faktor – faktor yang tidak diperkirakan sebelumnya, (4) intelijen yang efektif, dan (5) pengelabuan, misalnya menggunakan variasi taktik dan metoda operasi tertentu.

9.    Kesederhanaan – digunakan untuk menghindari persiapan, perencanaa, dan pelaksanaan operasi militer yang rumit.   Petunjuk, perencanaan, dan perintah operasi harus dibuat sederhana dan langsung mencapai tujuan operasi.   Pada tingkat nasional, kepentingan strategik terhadap prinsip-prinsip kesederhanaan merupakan penggunaan tradisi kekuatan militer.   Karena pada hakekatnya tujuan politik dan militer harus disampaikan secara jelas, padat, dan mudah dimengerti.   Didalam penggunaan kekuatan militer, prisip-prinsip kesederhanaan ini menunjukkan fleksibelitas strategik dari pada menggunakan instruksi yang detail.   Pada tingkat operasi gabungan, perencaan harus bersifat sederhana dan jelas, memberikan perintah yang pendek, padat, dan jelas untuk  mengurangi kebingungan dan ketidak mengertian.   Perencaaan yang sederhana akan menghasilkan ketepatan dan kesegeraan yang lebih diminati dari pada perencanaan yang rumit dan komplek.

Strategi Perang Udara

 Air Capability x Air Strategi = Air Power

Strategi Udara pada dasarnya terdiri dari kegiatan pengembangan, penggelaran, dan penggunaan kekuatan udara (air power).   Beberapa pakar strategi diantaranya Andre Beaufre dan Liddell Hart mengatakan bahwa strategi  merupakan seni menggunakan kekuatan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan berdasarkan kebijakan politik.   Guillio Douhet dalam bukunya The Command of the Air lebih spesifik lagi mengatakan bahwa strategi udara adalah pemilihan sasaran yang akan dihancurkan melalui penentuan skala prioritas.   Yang jelas bahwa tanpa strategi udara maka kemampuan udara tidak menjadi kekuatan yang bisa diharapkan.

Strategi Militer

Strategi militer pada dasarnya terdiri dari empat elemen dasar strategi yang saling mengkait, yaitu: (1) strategi pengembangan kekuatan (force development), (2) strategi penggelaran kekuatan (force deployment), (3) strategi penggunaan kekuatan (force employment), dan (4) mengkoordinasikan ketiga elemen dasar strategi tersebut untuk mendukung tercapainya tujuan nasional.[10]   Strategi pengembangan kekuatan, termasuk kekuatan apa yang diinginkan, untuk tujuan apa dilaksanakan, dan bagaimana melaksanakannya.   Strategi Penggelaran, kita harus mengetahui siapa dan dimana perkiraan musuh berada dan dari mana datangnya ancaman.   Sedangkan strategi penggunaan kekuatan, meliputi perencanaan penggunaan kekuatan sampai dengan memperoleh hasil yang optimal. 

Strategi Udara

Strategi Udara atau Strategi Perang Udara adalah komponen dari strategi militer yang menguraikan cara pengembangan, penggelaran, dan penggunaan air power untuk mencapai tujuan militer.   Strategi Udara pada dasarnya suatu konsep operasi untuk memenangkan perang udara.   Menurut tokoh air power yaitu Guilio Douhet mengatakan dengan lebih jelas bahwa strategi udara adalah pemilihan sasaran yang harus dihancurkan oleh kekuatan udara melalui penentuan prioritas dengan tujuan memenangkan perang.

Prinsip – Prinsip Perang Udara

Prinsip perang udara seperti yang disampaikan oleh ‘the Air Corps Tactical School’ yang dididirikan di Langley Field, Virginia USA pada tahun 1920 dan masih berlaku sampai sekarang ada lima hal, yaitu:[11]

Tujuan.     Menentukan dengan jelas apa yang diinginkan dalam menetapkan dan menyelesaikan perang.

Serangan.  Menyerang musuh untuk memperoleh kemenangan.

Besar-Besaran.    Upaya maksimum untuk memperoleh tujuan pe-rang.   Upaya tersebut dilaksanakan untuk tidak membiarkan berbelok dari tujuan prinsip.

Ekonomis.   Kebalikan dengan prinsip besar-besaran, pada operasi udara dengan menggunakan kekuatan yang kecil namun mampu menghasilkan serangan

yang besar, dapat dilaksanakan dengan prinsip ekonomis dengan cara memusatkan serangan udara.

Keamanan.           Kecuali air power yang didasarkan pada prinsip keamanan, sangat sulit mempertahankan strategi penyerangan secara terus menerus.   Oleh karena itu prinsip keamanan ini tidak boleh diabaikan.

Pada dasarnya strategi perang udara yang paling penting adalah memilh sasaran yang tepat kemudian melakukan serangan.   Yang perlu diingat bahwa akan sangat berbahaya apabila mencoba melaksanakan tugas diluar kemampuannya.  

Penutup

Menurut para ahli strategi, kekuatan laut menjelang Perang Dunia I merupakan teori yang paling penting dan harus dikuasai.   Kemudian kepentingan menjadi bergeser sehingga menjadikan perang udara merupakan inovasi serangan militer yang paling diminati pada abad ke 20.   Perkembangan tersebut sebenarnya diawali dari seorang perwira artileri Italia yang bernama Giulio Douhet, dengan bukunya Command of the Air (1921).   Sampai saat ini penggunaan air power menjadi sangat dominan, baik yang dapat kita ambil dari pelajaran perang Teluk tahun 1991 sampai dengan penggunaan peran air power pada saat ini.   Keberhasilan kampanye udara melawan Irak pada saat perang Teluk misalnya, telah membuktikan bahwa peran air power akan menentukan kemenangan perang.   Oleh karenanya penggunaan air power akan masih sangat dominan pada abad ke 21 ini.   Selain itu peran air power juga dimanfaatkan untuk kepentingan kemanusiaan, antara lain: angkutan udara (air lift) di masa damai dan digunakan untuk sarana angkutan pasukan reaksi cepat (rapid response forces).[12]        

 

Riwayat Hidup Penulis.  Penulis adalah Marsda pur Koesnadi Kardi.   Dia mantan Penerbang Fighter yang memiliki lebih dari 3000 jam terbang dan terakhir sebagai Instruktur pada pesawat Hawk MK 53 di Skadron 15 Madiun.   Pengalaman pendidikan antara lain SESKO AL tahun 1992, SESKO ABRI tahun 1997, dan pada tahun yang sama dikirim ke Inggris untuk mengikuti pendidikan S-2 bidang International Studies di Royal College Defence Studies di London dan lulus tahun 1998 dimana dia juga berkesempatan menerbangkan pesawat Jaguar di Skadron Jaguar 41 (F) RAF Coltishall dengan Flight Leutenant Paul Fletcher.   Pendidikan lain di luar negeri adalah: Flight Safety Officer Course di University of Southern California, CA – USA (1985), S-2 bidang manajemen dari Naval Postgraduate School, Monterey, CA – USA (1991) dan mengikuti program Visiting Fellow di RAAF Aerospace Centre, Canberra – Australia (1995) dengan menulis buku ‘Joint Surveillance Australia – Indonesia’.   Dia sebagai salah satu pendiri Air Power Club of Indonesia (APCI) dan sekaligus merangkap sebagai Ketua Harian APCI, dia pernah ditunjuk sebagai Ketua bagian Perubahan Doktrin dan Organisasi TNI dalam penyusunan Defence Review oleh DEPHAN, dan Ketua Pembentukan National Surveillance Coordinating Centre (NSCC) di Indonesia.    Jabatan Terakhir adalah Kabadiklat Departemen Pertahanan.

 


 

[1] .   Guilio Douhet, The Command of the Air, Edited by Richard H. Kohn and Joseph P. Haradan in USAF Warrior Studies, Reprinted in 1983 by the Office of Air Forced History, Aerial Warfare, hal.49-50.

 

[2] .   John Baylis, James Wirtz, Eliot Cohen, Colin S. Gray, ‘Strategy in the Contemporary World’, Air force need a separate organization, New York – 2002, hal 141 – 142.

[3] .   The term aircraft encompasses all types of craft that operate in the environment including fixed wing and rotary wing aeroplanes, airship and unmanned vehicles.

 

[4] .   The term ‘platform’ implies a vehicle (not necessarily manned) with its own propulation and navigation systems, capable of carrying a military payload.

 

[5] .   AP 3000, (RAF) Air Power Doctrine, p. 11 and USAF Air Power Manual AFM 1-1, March 1992, Vol. II, p. 71.   Note that the USAF definition refers to ‘aerospace power’ rather than just ‘air power’.

[6] .   The internationally recognized measurement of airspeed is the ‘knots’, that is, nautical mile per hour.

[7] .   Andrew G.B. Vallance, The Air Weapon – Doctrines of Air Power Strategy and Operational Art, ‘The Nature of Air Warfare’, hal. 30 – 31.

[8] .   Air Force Manual 1-1 (Volume II), ‘Basic Aerospace Doctrine of the USAF’, Principles of War, March 1992, hal. 9-14.

[9] .   Bernard Brodie, Strategy in the Missile Age (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1959). 26.

The term “economy of force,” ……. Derives from interpretation governed by the nineteenth century connotation of the word “economy,” meaning judicious management but not necessarily limited use.   Thus, the violation of the indicated principle is suggested most flagrantly by a failure to use to good military purpose forces that are available……. Of late, however, the term has often been interpreted as though it demanded “economizing” of forces, that is, a withholding of use.

[10] .   Koesnadi Kardi, AIR POWER – Strategi Udara, Air Power Club of Indonesia (APCI), Jakarta – 2002, hal. 34-37.

[11] .   Haywood S. Hansel, Jr. Major General, USAH, Retired, THE STRATEGIC AIR WAR AGAINST GERMANY AND JAPAN: A MEMOIR, Office of Air Force History, USAF, Washington DC., 1986 – hal. 13.

[12] .   John Baylis, James Wirtz, Eliot Cohen, Colin S. Gray, Strategy in the Contemporary World – An Introduction to Strategic Studies, The Air Power Decade 1990 – 2000, New York – 2002, hal. 152-15.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: