Beranda » Dog Fight - Pertempuran Udara » Proses Membentuk Penerbang Mahir Bertempur

Proses Membentuk Penerbang Mahir Bertempur

            Perkembangan pola taktik pertempuran di Iswahjudi sangat dipengaruhi oleh kemampuan daya beli pemerintah terhadap tehnologi pesawat dari luar.   Sehingga perkembangannya sering dipengaruhi faktor-faktor eksternal, seperti masalah politik ataupun pendanaan.  Seperti pada era MiG, kita dapat mempelajarai dan melaksanakan berbagai macam taktik pertempuran udara besar karena kualitas dan kuantitas pesawat mencukupi, namun di era 70-an kita mustahil melaksanakannya karena jumlah pesawat yang terbatas.  Bahkan, para penerbang pernah mengalami suatu masa ”asal bisa terbang” karena kesiapan kekuatan pesawat yang turun drastis.

            Kekuatan udara menempati perang strategis di masa mendatang.   Tidak bisa tidak, bahwa bangsa kita harus mampu menghasilkan pesawat tempur di dalam negeri bila mau memiliki sebuah kekuatan yang mandiri.   Pada awal tahun 70-an, skadron-skadron tempur kita pernah terancam gulung tikar bila terobosan-terobosan alternatif gagal dilaksanakan oleh para pemimpin Angkatan Udara.   Semua kekuatan tempur, termasuk yang ada di Iswahjudi terkena embargo. 

            Masih beruntung, Iswahjudi berhasil menyusun kembali kekuatannya dengan kedatangan pesawat T-33 Thunderbird menggantikan MiG-15/17 Skadron Udara 11 dan F-86 Sabre menggantikan armada MiG-21F Skadron Udara 14.   Dengan jumlah yang lebih sedikit, memang cukup berpengaruh pada program pelatihan yang dilaksanakan.  Bahkan pesawat F-86 Sabre datang tanpa pesawat double seat yang digunakan untuk melatih penerbang-penerbang baru.  Sehingga para penerbang baru harus langsung terbang sendiri, setelah hanya mendapatkan pembekalan di darat. 

            Kemajuan pesat para penerbang mulai diraih setelah tahun 1980.   Seiring dengan semakin tuanya armada F-86 Sabre dan T-33, Iswahjudi diperkuat oleh pesawat F-5 Tiger II, A-4E Skyhawk, dan MK-53 HS Hawk.   Dengan ketiga kekuatan skadron yang diisi pesawat-pesawat baru dan dalam jumlah besar, taktik pertempuran udara mulai dijalankan dengan efektif.  Apalagi semua kekuatan itu didukung dengan teknologi pemeliharaan yang baik.

            Para penerbang  tempur mempunyai program latihan perorangan terencana dalam rangka meningkatkan profesionalisme.  Dimulai dari latihan yang mudah, meningkat ke latihan yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.  Program latihan perorangan dibagi menjadi 2, yaitu program pendidikan dan siklus profisiensi. Program pendidikan terdiri dari :

1.         Transition Course.       Kursus ini diwajibkan bagi para penerbang lulusan sekolah penerbang TNI AU.

2.         Conversion Course.   Pendidikan bagi calon penerbang  yang berasal dari skadron tempur lain dan sudah cukup bekal jam terbang di pesawat jet. Tentunya jam terbang pendidikan untuk siswa konversi akan lebih sedikit dibandingkan dengan siswa transisi.

3.         Instructor Course.   Pendidikan yang diberikan kepada para penerbang senior yang akan menjadi instruktur pada pesawat tempur.

4.         FCF Course.   Functional Check Flight Course adalah pendidikan para penerbang senior yang disiapkan untuk menjadi test pilot.

             Disamping program pendidikan bagi penerbang baru, skadron-skadron mengadakan Program siklus profisiensi.  Program ini berlaku bagi semua penerbang operasional skadron yang sudah lulus transisi/konversi tanpa terkecuali. Program ini pada dasarnya bertujuan agar para penerbang yang ada di Skadron dapat memenuhi kualifikasi kemampuan yang dipersyaratkan, dan menyiapkan penerbang skadron sebagai combat fighter yang dapat menjalankan misi operasi yang menjadi tanggung jawab skadron.

            Rata-rata dalam setiap tahun program profisiensi bisa diulang dalam 2-3 siklus.  Dalam setiap siklus, perwira operasi skadron bertanggung jawab akan terlaksananya semua materi latihan perorangan tersebut.   Dalam satu siklus tersebut, penerbang sudah mendapatkan semua materi latihan yang dibuthkan untuk menjadi penerbang yang siap menjalankan semua misi tempur sesuai dengan kualifikasi tugas dan fungsi skadron masing-masing.

            Untuk meningkatkan kemampuan terbangnya, maka setiap penerbang harus selalu memiliki program latihan yang baik dan dilaksanakan secara terus-menerus.  Materi latihan yang dilaksanakan oleh setiap penerbang dalam setiap siklus profisiensi secara garis besar adalah  :

 1.         Latihan Pertempuran Udara.    Ini adalah latihan utama yang dilaksanakan oleh penerbang di Iswahjudi.  Latihan ini dibagi dalam berbagai tahap,  yaitu :

a.          Basic Fighter Maneuver (BFM).     BFM merupakan latihan dasar pertempuran 1 lawan 1. Pada latihan ini penerbang diajarkan tehnik pertempuran udara, yaitu menyerang, bertahan, menghindar, bersembunyi, melarikan diri, dan sebagainya. Penerbang dikenalkan bagaimana cara meluncurkan rudal dan membidikkan canon dengan benar.

b.          Air Combat Maneuver (ACM). ACM adalah latihan mengaplikasikan setiap tehnik dasar yang sudah didapatkan dalam BFM.  Dalam ACM, latihan tetap dilaksanakan 1 lawan 1, hanya variasi posisi sudah lebih berkembang dari BFM, agar siswa mendapatkan tingkat kesulitan yang lebih besar.

 c.         Air Combat Tactic (ACT).           Dalam ACT, penerbang sudah mahir menggunakan tehnik dan taktik individu.  Mereka hanya belajar berkoordinasi dalam jumlah kawan dan lawan yang lebih besar. Latihan ini adalah latihan pertempuran dalam jumlah besar.  

d.          Air To Air TAXAN.   Latihan penembakan dengan peluru tajam ini dilakukan diatas Pantai Pacitan.  Pada awalnya, target yang digunakan adalah DART. Target ini tidak punya scoring system, sehingga setiap selesai penerbangan, penerbang harus mengecek sendiri apakah DART-nya ada bekas tembakan.  Sedangkan TAXAN, telah dilengkapi dengan sensor dan antenna transmitter. Peluru yang melintas di dalam sensor target akan bisa langsung dipancarkan ke scoring system receiver di bawah dan diberitahukan kepada penerbang lewat radio.  Penerbang bisa mengetahui hasil penembakan dan bisa menganalisanya untuk tembakan yang berikutnya.

e.          Air Combat Maneuvering Range (ACMR).    Latihan ini sebenarnya sama dengan latihan ACT, namun menggunakan peralatan bantu sistem satelit, sehingga pesawat yang sedang berlatih di atas bisa divisualisasikan ke bawah.  Latihan ini dilaksanakan di Lanud Pekanbaru.

2.         Latihan Pertempuran Udara Taktis (Air to Ground Tactics).    Latihan ini dimaksudkan untuk menyiapkan diri untuk misi-misi serangan darat/laut atau untuk mendukung misi-misi pasukan darat.  Latihan-latihan ini terdiri dari    :

a.          Surface Attack Tactical (SAT).    SAT merupakan latihan navigasi pada ketinggian rendah, yang merupakan sebuah fase penting dalam memulai serangan udara ke darat. Dilaksanakan dengan formasi 2 pesawat.  Pada titik terakhir latihan ini diakhiri dengan latihan pop up attack tactical, sebuah tehnik formasi serangan udara ke darat.

b.         Surface Attack (SA).   SA adalah sebuah penyelesaian akhir dari misi SAT diatas, yaitu menembak dari udara ke darat, baik dengan canon, bom, atau roket.  Penerbang Iswahjudi melakukan latihan ini di Pulung Air Weapon Range (AWR), Ponorogo.  Latihan pengeboman biasanya menggunakan AGM-65 Maverick, BDU-33, MK-105, dan MK-82. Latihan peroketan, menggunakan roket FFAR 2.75.  Untuk penerbang baru menggunakan academic pattern/box pattern, penerbang senior memakai pop up pattern.  Semuanya dilakukan dengan cara serangan satu pesawat (single attack) dan serangan formasi (formation attack).

3.         Latihan Penunjang.   Untuk menjadi penerbang tempur yang baik, ada beberapa kemampuan dasar penerbang yang harus selalu dikuasai secara terus-menerus, sebagai prasarana untuk menjalankan segala misi.  Latihan-latihan tersebut adalah  :          

a.          Terbang Formasi

b.          Terbang Aerobatik

c.          Terbang Instrumen

d.          Terbang Malam

e.          Terbang Navigasi

f.          Simulator

            Setiap tahun juga diadakan latihan Disimilar Basic Fighter Maneuver (DBFM).   Latihan ini sebenarnya, sebagai aplikasi latihan rutin yang dilaksanakan masing-masing pesawat pada kondisi pertempuran yang sebenarnya.  Karena dalam medan tempur yang sebenarnya, penerbang sudah pasti akan bertemu dengan jenis pesawat yang berbeda-beda.  Sehingga penerbang harus selalu siap menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Latihan DBFM akan ditingkatkan menjadi Disimilar Air Combat Training (DACT).

            Pangkalan udara Iswahjudi juga mengadakan latihan puncak tahunan dengan nama Elang Gesit, yang melibatkan semua satuan bawah.  Selain latihan ini, Lanud Iswahjudi masih dilibatkan dalam latihan puncak Koopsau II  “Sikatan Daya”, beraneka latihan Kohanudnas, latihan puncak TNI AU “Angkasa Yudha” dan latihan gabungan TNI.  Untuk latihan antar negara, Lanud Iswahjudi telah sering melaksanakan latihan Elang Ausindo dengan AU Australia, latihan Elang Thainesia dengan AU Thailand dan lain-lain.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: