Beranda » Tokoh » Suryadarma dan Hari Awal AURI

Suryadarma dan Hari Awal AURI

Angkatan Udara Republik Indonesia, lahir dari ketidakadaan, namun pernah menjadi angkatan udara paling canggih di belahan bumi selatan. Armadanya paling ditakuti di Asia Tenggara. Demikianlah perkembangan 17 tahun pertama keberadaan AURI (TNI AU sekarang) sesuai masa jabatan Kepala Staf Angkatan Udara pertama Laksamana Udara Suryadi Suryadarama, Bapak AURI.

Ketika diserahi tugas membentuk angkatan udara pada tanggal 1 September 1945, Suryadarma seperti dihadapkan kepada “mission imposible”. Bagaimana tidak, AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) menghadapi kendala besar depan minimnya sumber daya manusia (SDM) yang tersedia sebagai akibat fatal penjajahan Belanda dan Jepang.           

Kala pecah Perang Pasifik, bangsa Indonesia yang menjadi penerbang dengan kualifikasi GMB (Groot Militair Brevet-brevet militer besar yang memenuhi multi engine rating) hanya vaandrig kort verband vlieger (letnan muda penerbang ikatan dinas pendek) Adisutjipto dan Sambudjo Hurip. Itupun, sambudjo, akhirnya gugur ketika pesawat B-10 Glenn Martin-nya ditembak jatuh Hayabusha (Oscar) di lepas pantai Malaka saat menghadang invasi Jepang. Adisutjipto yang semula  juga awak pembom ditugaskan pada kesatuan pengintai Curtiss Falcon dan Lockheed L-12.           

“Pengalihan tugas itu telah menyelamatkan jiwa Pak Cip (panggilan akrab Adisutjipto), karena hampir semua pembom jadi mangsa Zero dan Oscar,” ungkap Suryadarma. Di era Jepang lebih buruk lagi. Tidak seorangpun putra Indonesia dididik menjadi penerbang. Bandingkan dengan AU India yang konon, pada awal kemerdekaannya 15 Agustus 1947, memiliki 1.000 penerbang. Satu diantaranya malah menjadi komandan skadron.           

Diantara pesawat-pesawat peninggalan Jepang, banyak terdapat pesawat latih Yokosuka K5Y Cureng bersayap ganda yang sebenarnya tidak terlalu ketinggalan jaman. Ingat, Koolhoven FK-51 dan DH-82 Tiger Moth milik Belanda merupakan pesawat latih biplane. Malah, Kadet AURI di Taloa, Kalifornia, dididik dengan Boeing Stearman PT-17 Kaydet yang lebih ketinggalan jaman dari Cureng.

Orang bijak bilang; cara menyelesaikan masalah, “hadapilah”.

Suryadarma menyadari keterbatasan republik yang belum seumur jagung itu. Jangankan untuk membeli suku cadang ke luar negeri, seluruh anggaran AURI pun waktu itu tidak cukup untuk membeli kain linen sebuah pesawat Cureng. Namun KSAU Suryadarma dan perwira-perwira lain dengan gigih mengkonsolidasi angkatan perang yang baru terbentuk itu. Berbagai upaya dilakukan, seumpama, kerap pesawat Cureng atau Cukiu terbang mengunjungi pelosok pulau Jawa untuk menumbuhkan minat kedirgantaraan. Pameran kedirgantaraan juga digelar di Yogyakarta tanggal 17-18 Agustus 1946.

Ketika Muso bikin “ulah” di Madiun, ada cerita lucu perihal Cureng. Seorang perwira AD harus segera ke Kediri, sementara jalur darat terputus. Tidak ada pilihan, perwira itu harus diberi instruksi kilat penggunaan payung udara. Akhirnya dengan pesawat  Cureng, dia terjun dan mendarat dengan selamat. Warga yang menyambut, menyuguhinya dengan sebutir telur setengah matang.

 Awal Kebangkitan           

Hingga pada tanggal 23 Agustus 1949 diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Ridderzaal (bangsa satria), Den Haag. Satu poin yang diambil: persetujuan KMB memuat ketentuan pementukan APRIS dengan TNI sebagai intinya; pembubaran KNIL dan pemasukan bekas anggota KNIL ke dalam APRIS.  Konsekuensinya, AURI harus menerima beberapa perwira KNIL dan mengambil alih seluruh asset Militaire Luchtvaart (ML) dalam waktu singkat. Mulai dari pesawat, hangar, depo logistik hingga depo pemeliharaan.           

Mohamad Saleh Basarah, Marsekal purnawirawan mantan KSAU periode 1973-1978, dengan lancar menyebutkan daftar pesawat Belanda yang diambil alih. Pesawat C-47 Dakota sebanyak 36 unit, 22 B-25 Mitchell, 22 P-51 Mustang, 18 Auster A.O.P.9, 40 North American AT-6 Texan Harvard, 5 PBY-5 Catalina, 26 Vultee BT-13 Valiant, dan 4 Lockheed L-12. Bisa dikatakan, sekonyong-konyong lengkap sudah AURI sebagai angkatan udara.           

Namun begitu, pihak Belanda merasa sangsi akan kemampuan AURI melaksanakan persetujuan KMB. Karena laporan intel ML menyebutkan, Komodor Suryadarma harus membuat sesuatu dari “ketidakadaan”. Tapi kemudian sejarah bergulir. AURI berhasil mengambil alih ML secara tepat waktu. Keberhasilan ini sekaligus membuktikan kemampuan organisatoris dan kerjasama KSAU beserta jajarannya.           

Kegigihan Suryadarma membangun hard ware dan soft ware AURI, tak urung memancing komentar Jenderal Djatikusumo. Sang jenderal pernah berujar, “Susahnya Suryadarma, dia memegang bidang yang dalam pengertian militer advanced technology: kita masih bicara bamboo runcing, ransum, dia malah bicara radar.” Tapi AURI terus maju. Hingga dalam kurun hampir bersamaan, AURI mendapat tawaran menggiurkan satu skadron pemburu-pembom P-47D Thunderbolt II. Sayangnya, tawaran yang harus dibayar dengan semua persediaan karet ini ditolak pemerintah, karena dikhawatirkan akan mengganggu persediaan karet di dalam negeri.         

Perhatian Suryadarma terus tercurah kepada percepatan ketertinggalan SDM. Salah satu gebrakan KSAU kelahiran Banyuwangi, 6 Desember 1912 yang gaungnya masih mengiang sampai hari ini, ketika 60 perwira muda dikirim belajar terbang di trans Ocean Airlines Oakland Airport (Taloa), Kalifornia, November 1950. Tidak lama setelah mereka kembali ke tanah air, santer beredar pameo saat itu bahwa AURI memiliki penerbang produk dua “Kali”. Yaitu Kalijati dan Kalifornia. Sayangnya, lelucon itu tidak diteruskan karena sekarang TNI AU keluaran Kali Code (AAU Yogjakarta).         

Dengan diambilalihnya asset Belanda di Andir, posisi AURI semakin mantap. Kenapa? Karena asset di Andir sudah dikenal dari sebelum Perang Dunia II sebagai pusat pemeliharaan piston engine terlengkap di Asia Tenggara. Kekondangan bengkel pemeliharaan Bandung ini tak urung mengundang Maharaja Yodhpur dari India untuk perawatan pesawat Lockheed Model 10-A Electra-nya tahun 1939. Selebriti lain yang sempat memeriksakan pesawatnya di Andir adalah Amelia Earhart, yang dalam penerbangan keliling dunianya terakhir (1937) juga singgah di Andir.         

Pembangunan AURI seperti berpacu dengan waktu. Pembelian pesawat dan persenjataan, terus diupayakan di tengah keadan politik dan ekonomi yang kurang menguntungkan dan diperparah belum padunya ABRI. Tidak mungkin membangun air power tanpa kepastian anggaran. Sekali waktu Deputi Logistik Wiweko Soepono akan membeli 10 B-26 Invader untuk mengganti B-25.  Diceritakan Marsda (Pur) RJ Salatun, Wiweko bertolak ke Amerika Serikat tahun 1952 setelah yakin ketersediaan dana di Kementerian Pertahanan. Tapi Tidak  lama kemudian, Wiweko pulang sambil marah-marah. Apa gerangan yang terjadi? Ternyata LC-nya (letter of credit) kosong alias tidak ada dana. Kemana rahib itu uang? Dialihkan guna pembelian kapal angkut angkatan darat, RI Tasikmalaya, yang ternyata tidak laik laut.

 “I have never seen”         

Perwira-perwira bekas ML yang bergabung ke dalam AURI, ternyata sangat berguna dalam membuktikan kehadiran AURI saat penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS). Karena pada saat bersamaan, para penerbang AURI eks Yogyakarta sedang memasuki masa retraining dan transisi. Seperti Noordraven dan RJ Ismail. “Mereka disebut two man air force,” papar Erlangga, putra Suryadarma.         

Kedua penerbang ini berjasa besar ketika pemberontakan RMS meletus. Dikisahkan kembali oleh Salatun dan Erlangga, masing-masing single pilot menerbangkan C-47 Dakota mendrop logistik dan senjata ke Ambon. Sekian sortie mereka habiskan antara Jawa-Ambon. Ketika resimen Slamet Riyadi menyerbu RMS, mereka kembali hadir. Bukan dengan C-47, tapi B-25 untuk memberikan bantuan tembakan udara dan pengintaian. Satu episode yang masih misteri.         

Dalam membangun angkatan udara, konsep Suryadarma ringkas sekali. AURI harus teknis militer dan non politik. Filosofinya: If I can do, you can do! Suryadarma juga menerapkan pola “inspeksi mendadak” (sidak) untuk mengetahui kondisi riil di lapangan. Semua asset didata. Dengan sidak-nya, Suryadarma siap menanggung untuk tidak dilayani. Makanya, “Kemana pergi dia tidak lupa bawa veld bed, termos, dan senapan untuk menembak tekukur,” kenang Erlangga.         

AURI mulai tumbuh besar. Buktinya, ketika Perdana Menteri U Nu dari Burma menginjakkan kakinya di Lanud Husein Sastranegara guna menghadiri konferensi Asia Afrika. Tokoh kelas dunia ini terpana ketika melihat jejeran B-25 begitu banyak di pelataran parkir. Kepada Wiweko yang menjemput, dia berujar singkat, I have never seen so many aircrafts together.” Majalah berbahasa Belanda Vliegwereld (dunia penerbangan) tanpa ragu juga menulis: AURI angkatan udara paling ditakuti di Asia Tenggara. Air Pictorial, majalah penerbangan Inggris turut mengutip: Ditilik dari sudut materil, AU Australia ketinggalan total dari AURI.


2 Komentar

  1. Alif mengatakan:

    Pak Budi,salam hangat dari saya pencinta dunia penerbangan.saya ingin sekali mendapatkan artikel atau buku mengenai pertempuran di laut Aru 38 tahun silam.Dimana AURI pada waktu itu itu “dipaksa” menjadi pihak yang disalahkan hanya karena operasi yang sudah bocor ke pihak belanda.Sebagai ekses dari itu semua pak Suryadarma di paksa mundur dari jabatannnya sebagai Menpangau.

    terima kasih

    Alif Shafari

  2. Sanggra mengatakan:

    Terima kasih atas artikelnya. Saya salah satu cucu dr Bapak Suryadi Suryadarma.. dan ingin men share artikel ini di situs saya. Terima kasih.

    -Sanggra Suryadarma-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: