Beranda » Teori Air Power » Teknologi Air Power – Lambang Kemajuan Bangsa

Teknologi Air Power – Lambang Kemajuan Bangsa

Sejak suksesnya penerbangan Wright bersaudara pada tanggal 17 Desember 1903, air power telah berkembang dengan cepat. Air power mulai menunjukkan perannya di PD I sebagai komponen pelengkap dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Pesawat digunakan sebagai pesawat pengintai tanpa dilengkapi senjata.   Pada pertengahan perang, pesawat-pesawat sudah mulai saling menembak dan menjatuhkan bom.   Kesuksesan ini memperluas wilayah pengabdian air power tradisional.   Namun demikian, keterbatasan teknologi masih menjadi penghalang bagi munculnya air power yang sesungguhnya. Pasca perang, konsep-konsep penggunaan air power dalam peran yang lebih besar bermunculan dari tokoh-tokoh air power, seperti H.H. Arnold, Guillio Douhet, William “Billy” Mitchel, dan Lord Hugh Trenchard. Namun tidak semua pihak mau menerima kehadiran konsep air power,  sehingga perkembangan air power menjadi tertatih-tatih.

Air power mampu membuktikan jati diri adidayanya sejalan dengan perkembangan teknologi.  Pada abad ini,  teknologi air power telah menjadi ujung tombak perkembangan teknologi, khususnya militer.  Bahkan beberapa pakar menyatakan bahwa tolak ukur kemampuan teknologi suatu negara telah mengacu pada seberapa baik penguasaan teknologi air power (kedirgantaraan) yang dimiliki.  Bila teknologi  air power – nya baik, maka baik pula kemampuan teknologi suatu negara. Mengapa demikian?  Hal ini dipicu oleh pengalaman perang modern dalam beberapa dekade terakhir yang menunjukkan superioritas teknologi air power di dalamnya.  Juga kemajuan teknologi air power dalam proyek antariksa dan penerbangan sipil. Menyimak hal tersebut, tak satupun negara akan memiliki resistensi yang baik dengan meninggalkan perkembangan air power.

Seberapa pentingkah air power bagi bangsa Indonesia?  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara kepulauan terbesar yang memiliki garis katulistiwa terpanjang, terletak diantara dua benua dan dua samudera, membuat NKRI mempunyai posisi yang sangat strategis.    Selain arus lalu lintas laut dan udara yang padat, juga letak Geo Stationary  Orbit  (GSO)  di garis  katulistiwa  menyebabkan banyaknya  satelit di ruang angkasa kita.   NKRI memiliki sepuluh area perbatasan dengan negara tetangga, kesemuanya punya perbatasan laut dan tiga diantaranya yaitu Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste merupakan perbatasan darat. Wilayah yang luasnya melebihi benua Eropa ini harus memiliki sistem ketahanan dan keamanan (Sishankamnas) yang mampu membawa peri kehidupan rakyat menuju suasana kehidupan yang adil, makmur, dan sejahtera. 

Lahirnya Air Power

Sejak awal, istilah air power sudah digunakan sehubungan dengan kelahiran pesawat udara atau mesin terbang, yaitu saat Wright bersaudara (Orville Wright dan Wilbur Wright) berhasil menerbangkan sebuah pesawat terbang bermesin (powered air machine) pada tahun 1903 di Kitty Hawk, North Carolina, Amerika Serikat (AS).  Kemudian penggunaan istilah air power disosialisasikan pertama kali oleh H. G. Wells untuk memproyeksikan visinya dan mengasosiasikan kegunaan pesawat terbang untuk kepentingan tempur dan terbang. Pada saat itu, baik Wright bersaudara sendiri maupun pihak militer di AS, belum berpikir sampai sejauh mana mempersenjatai suatu mesin terbang.

Pesawat sebagai simbol lahirnya embrio air power dibuat secara massal untuk kepentingan perang pada PD I.  Pesawat-pesawat mulai memasuki arena pertempuran.  Namun penggunaannya tentunya masih sangat terbatas, karena kemampuannya yang masih sangat rendah.  Dalam setiap perpindahan dari suatu garis pertempuran, pesawat harus diangkut dalam gerbong kereta atau dinaikkan truk. Sehingga kadang-kadang hal ini dianggap sebagai beban bagi pasukan darat.  Apalagi pada saat akan melakukan penerbangan, suara pesawat yang keras sering mengganggu kuda-kuda pasukan kavaleri.  Pesawat terbang masih belum sepenuhnya diterima oleh para prajurit di garis depan.

Banyaknya kebutuhan pesawat terbang untuk pertempuran, industri pesawat terbang yang terlahir dari home industry (uji coba perseorangan), berkembang menjadi industri besar.  Ini karena pesawat terbang banyak dibutuhkan di arena pertempuran untuk menjalankan misi-misi operasi.  Pada PD I (1914-1918), Inggris menggunakan kekuatan 200 pesawat di awal perang, namun membengkak menjadi 2000 s/d 3000 pesawat di akhir perang.   Industri penerbangan nasionalnya dengan beberapa ribu karyawan, hanya memproduksi seratus pesawat setiap bulan di tahun 1914.  Namun saat perang berakhir tahun 1918, dengan ratusan ribu karyawan, mereka memproduksi ribuan pesawat dan mesin setiap bulannya.

Penempatan pesawat terbang dalam setiap posisi di garis depan, membutuhkan organisasi yang teratur.  Negara-negara yang terlibat dalam PD I (Inggris, Perancis, Jerman), banyak membentuk satuan-satuan udara untuk mengelola pesawat-pesawat tersebut.  Kekuatan udara Amerika belum muncul saat itu, termasuk pembentukan satuan-satuan udara.  Perancis membentuk satuan-satuan udara yang masing-masing terdiri dari empat pesawat.  Satuan udara ini dinamakan dengan Escadrille.  Sedangkan Inggris membentuk satuan udara yang terdiri dari tiga flight.  Setiap flight terdiri dari empat pesawat.  Setiap satuan udara dilengkapi dengan personel penerbang, staf, teknisi, dan personel pembantu lainnya.  Inggris menyebut satuan udaranya dengan nama Squadron.  Satuan udara Inggris “Squadron”, nantinya menjadi dasar pembentukan seluruh satuan udara di dunia.  TNI Angkatan Udara mengadopsi nama tersebut dengan istilah  “Skadron”.

Satuan-satuan udara Inggris  di awal PD I dibawahi oleh Air Batalyon, di bawah komando War Office.  Sejalan dengan perkembangan kekuatan udara, Air Batalyon diubah menjadi Royal Flying Corps (RFC).  Dengan semakin banyaknya Squadron yang dimiliki oleh Inggris, maka mulai terbentuklah Wing, sebagai satuan yang mengendalikan beberapa kelompok Squadron.  Namun sayangnya, semua organisasi tersebut masih mengabdi kepada Angkatan Darat. Sehingga Inggris memulai sebuah usaha untuk memisahkan  RFC dari Royal Army Forces.   Berkat usaha kerasnya, Angkatan Udara Inggris nantinya berdiri pada tanggal 1 April 1918, sebagai Angkatan Udara independen pertama di dunia. 

Masa jeda antar PD I dan PD II, melahirkan berbagai macam visi baru, khususnya di bidang militer. Pengalaman PD I telah mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran tentang air power sebagai kekuatan baru yang menghasilkan efek dahsyat dalam perang modern. Tokoh-tokoh air power yang berpengaruh adalah Jenderal Lord Hugh Montague Trenchard (Inggris), Jenderal Giullio Douhet (Italia), Kolonel William Billy Mitchell (USA),  dan Jenderal Henry Hap Arnold (USA). Namun pemikiran-pemikiran tentang air power masih dianggap sebagai sesuatu yang omong kosong.  Sebagaimana ditunjukkan nasib Billy Mitchell yang dipecat karena kampanye air power yang dilakukannya.  Para penganjur air power itu yakin bahwa kemajuan teknologi penerbangan akan memberikan sumbangan penting dalam perang modern dan transportasi modern.

Air power mulai menampakkan momentum adidayanya saat berlangsung PD II. Bahkan dengan air power juga PD II berakhir dengan kemenangan cepat di pihak Sekutu.   Tidak bisa disangkal bahwa air power telah berada sejajar dengan kekuatan lainnya dalam menentukan tujuan perang. Untuk kemudian, air power merupakan ujung tombak dari semua kegiatan pertempuran modern hingga saat ini.

Tahap Perkembangan Air Power

NO. ERA KETERANGAN
1.

 

2.

 

 

 

3.

 

 

 

PDI (1914-1918)

 

Masa Antar Perang

a. Teori Klasik

b. Air Power Independen

 

PD II (1939-1945)

a. Penguasaan Udara

b. Tactical Air Power

c. Offensive Air Power

d. Kesatuan Komando

 

Pesawat masuk arena pertempuran.

 

Taktik mulai disusun dan penggunaan pesawat untuk kepentingan sipil di mulai..

 

Pembuktian air power.

 

 

 

 

 

 4.

 

 

 

5.

Paska PD II

a. Doktrin Air Power

b. Aplikasi Pertempuran

 

Era Modern

a. Perang Elektronik

b. Teknologi Baru

c. Teknologi Mahal

d. Perang Teluk 1991

Pembangunan air power.

 

 

 

Air power mendominasi.

 Sumber   :   The Air Power Manual, RAAF 2nd Edition.

 Lahir dan Berkembangnya Air Power Indonesia

Kapan bangsa kita mulai mengenal air power?  Yang pasti, rakyat kita mulai mengenal dunia kedirgantaran saat penjajahan Belanda.   Embrio Angkatan Udara Belanda bernama Proefvliegavdeling (PVA) berdiri pada tanggal 21 Juli 1918.   Namun demikian, PVA sudah mendirikan sebuah escadrille (skadron) di Soekamiskin, Jawa Barat, pada bulan Agustus 1921 dengan kekuatan  enam pesawat.   Ini adalah skadron pesawat pertama yang pernah ada di Indonesia.   Jenis pesawat yang digunakan adalah De Havilland dan Fokker D-VII.   Karena masih dalam keadaan terjajah, para pejuang bangsa sama sekali belum memiliki ataupun memanfaatkan air power sebagai sarana pertahanan.

PD  II yang dimulai tanggal 1 September 1939 ternyata memberikan dampak pada perkembangan air power di tanah air.   Pemerintah kolonial Belanda mulai membangun banyak landasan di Indonesia, untuk mengantisipasi ekspansi Jepang yang menebar ancaman kepada negara Barat di Asia. Karena minimnya kekuatan penerbang Belanda, maka beberapa pemuda Indonesia dididik untuk menjadi sukarelawan penerbang AU Belanda, Militaire Luchtvaart (ML).  Ini merupakan awal perkenalan langsung bangsa Indonesia dengan air power.

Tonggak sejarah kemandirian air power  nasional telah berdiri sejak lahirnya TNI Angkatan Udara tanggal 9 April 1946.  Walaupun istilah air power sendiri mungkin belum cuku populer di kalangan para  sesepuh Angkatan Udara saat itu.  Entah menyadari atau kebetulan, ini adalah wujud kesadaran para pemimpin negara bahwa air power memang pantas disejajarkan dengan kekuatan lainnya.  Karena sesaat setelah merdeka, keabsahan air power sebagai kekuatan yang sejajar dengan sea power dan land power telah diakui.  Kita langsung memiliki Angkatan Udara yang independen.   Sedangkan Angkatan Udara Amerika Serikat pada saat yang sama masih di bawah kendali Angkatan Darat.

Walaupun semua orang memahfumi bahwa lahirnya TNI Angkatan Udara bermodalkan pesawat-pesawat peninggalan penjajah dan bukan dari basis industri teknologi dalam negeri, namun TNI Angkatan Udara tetap berusaha mengembangkan riset teknologi.   Kesadaran akan pentingnya riset teknologi pesawat dirintis oleh OMU II Nurtanio Pringgoadisuryo dan OU III Wiweko Supono. Mereka berdua telah menciptakan pesawat beregistrasi Indonesia  pertama bernama RI – X.   Nurtanio juga mendirikan Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (Lapip) yang sekarang telah berkembang menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI). Apa yang mereka lakukan adalah momentum kesadaran akan pentingnya penguasaan teknologi dalam negeri untuk menyokong sistem pertahanan negara.

Pada era tahun 60-an, air power kita menggelembung dengan datangnya kekuatan pesawat tempur dari negara blok komunis.   Negara kita disebut-sebut sebagai negara terkuat air powernya di Asia Tenggara.   Namun saat itu kita lupa bahwa air power yang tangguh sebenarnya harus memiliki basis teknologi di dalam negeri, bukan sekedar operator teknologi.   Resiko berat akhirnya harus diterima TNI Angkatan Udara pada era 1965 s/d 1973.  TNI Angkatan Udara kolaps karena adanya embargo militer dari negara-negara pemasok.

Di awal era 70-an, Departemen Pertahanan Keamanan berubah kiblat dalam pembelian persenjataan ke negara Barat. Pemerintah pun secara emosinal menyerukan era industrialisasi sebagai jargon pembangunan.  Peralatan militer termasuk pesawat diimpor dari negara Barat, sedangkan industrialisi yang dikumandangkan hanyalah upaya pengolahan sumber daya alam dengan menggunakan modal dan teknologi asing.   Tidak ada upaya kemandirian dalam sekian tahun dekade hingga saat ini, baik untuk pengadaan persenjataan maupun industrialisasi.   Apa hasilnya?  Pada tahun 1999, embargo menghantui kembali.   Pemerintah tidak bisa berbuat banyak karena semua industri strategis tergantung pada bangsa asing, termasuk semua persenjataan yang dimiliki oleh Angkatan Udara. 

Saat ini  kita telah memiliki skadron-skadron tempur dengan kekuatan pesawat canggih.   Namun bukan berarti daya tangkal air power kita di bidang hankam menjadi lebih baik dari masa sebelumnya.   Kita bisa saja semakin jauh tertinggal dengan pembanding negara-negara tetangga kita yang semakin matang membangun fundamen kekuatannya.   Dari tahun ke tahun kita masih menggunakan istilah “sekedar tranfer tehnologi” saat mencukupi skadron-skadron tempur kita dengan pesawat baru.    Ini tidak bisa kita hindari, dengan daya beli pemerintah yang hanya mampu membelikan pesawat-pesawat pengganti dalam setiap dekade.  Pesawat memang mengalami regenerasi, namun jumlahnya bisa jadi bertambah susut.

Dengan pola pengembangan taktik pertempuran udara yang banyak tergantung dari kualitas dan kuantitas pesawat, rasanya apa yang dilakukan oleh para penerbang tempur kita di masa 60-an sampai sekarang mengalami stagnasi bila kuantitas dan kualitas pesawat dan sistem senjata Angkatan Udara tidak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.   Untuk menyelenggarakan latihan tempur udara besar, skadron-skadron akan begitu kesulitan untuk menyediakan jumlah pesawat yang memadai.   Dengan kekuatan 12 –16 pesawat, awalnya skadron memang cukup mampu berlatih secara profesional.   Namun setelah satu dekade, kesiapan skadron biasanya akan menurun menjadi setengah bahkan seperempat dari pesawat yang ada di skadron.  

 Demikian juga dengan dukungan logistik.    Bila menyimak trend yang ada, maka dalam satu dekade setelah kontrak pembelian pesawat, dukungan logistik untuk sebuah skadron tempur berjalan lancar.   Setelah itu, tumpukan masalah akan menghimpit kehidupan skadron.    Pintarnya negara barat, mereka menguras kocek Angkatan Udara dari anggaran pemeliharaan pesawat.   Setiap tahunnya,  skadron-skadron tempur menyedot  dana besar untuk merawat pesawat-pesawatnya.  Skadron harus membeli suku cadang,  buku-buku pemeliharaan, disamping berbagai macam aturan tak tertulis lain yang mengikat.  Dengan fundamen industri kedirgantaraan yang lemah, tak ada cara lain lagi untuk mendapatkan dan merawat suku cadang pesawat-pesawat tempur kita, yaitu dengan pergi ke luar negeri dan mengimpor.

Wilayah negara kita melebihi luasnya Eropa.   Beban lain bagi skadron-skadron tempur yang hanya sedikit jumlahnya tersebut, adalah banyaknya misi operasi.  Skadron tempur yang memiliki kekuatan pesawat terbatas harus dibebani berbagai macam operasi yang menyita waktu.   Sehingga skadron harus bergeser ke daerah lain dari waktu ke waktu untuk mendekati touble spot.  Sehingga ada istilah skadron move.  Mau tidak mau, kehadiran skadron tempur memang diperlukan sebagai salah satu daya tangkal sistem hankam kita.   Namun dengan kondisi sampai saat ini, pergerakan kekuatan skadron ke daerah operasi membawa dampak yang mengganggu skadron.   Para penerbang yunior harus menunda program latihan, atau bahkan berhenti berlatih karena ketiadaan pesawat.   Ini terjadi karena jumlah pesawat tempur yang masih aktif sangat terbatas.

Keberadaan skadron tempur juga sudah sekian tahun seakan dikesampingkan.  Ini terjadi karena, gangguan hankam kita dalam 40 tahun terakhir justru tidak pernah melibatkan peran pesawat-pesawat tempur kita dalam peran besar.   Pemberontakan, kerusuhan massa, pertentangan antar etnis, rasanya kurang begitu menarik untuk pelibatan pesawat semacam F-16 atau Hawk 109/209.   Justru yang paling banyak dirasakan perannya adalah pesawat-pesawat angkut.   Nah, ini harus dipikirkan oleh Angkatan Udara.   Masihkah kita mencari pesawat-pesawat tempur berkecepatan supersonik, bertehnologi tinggi namun justru sering menyulitkan kita dalam perawatan dan penggunaannya kurang optimum  ?   Rasanya untuk skadron-skadron tempur, kita akan lebih baik memperbanyak diri dengan pesawat-pesawat Counter Insurgency ( Coin ), pesawat tempur ringan namun dilengkapi sistem senjata yang baik, yang bisa diajak kompromi dengan operasi tempur darat.   Perang dengan negara lain untuk saat ini dan dimasa datang sudah pasti menjadi semacam kemustahilan bagi bangsa-bangsa berbasis ekonomi lemah seperti kita.   Sehingga kekuatan skadron tempur sementara harus dikonsentrasikan untuk membantu menanggulangi ancaman hankam dari dalam negeri.   Ancaman sudah pasti datang setiap waktu, dan Angkatan Udara-lah yang harus menyesuaikan diri, juga mencari bentuk dan kekuatan apa yang harus dimiliki agar tidak selalu ketinggalan peran.

Skadron tempur kita pada saat ini memang tidak bisa menghindar dari sindroma ketergantungan, yang ujungnya adalah embargo.   Tidak bisa tidak, untuk membentuk skadron tempur yang  mampu bersaing dengan ancaman wilayah sekitar, Angkatan Udara harus memiliki pesawat-pesawat tempur yang hanya bisa diperoleh dengan impor.   Untuk membuat sendiri, rasanya tidak mungkin dan tidak begitu menguntungkan untuk negara sedang berkembang seperti kita.   Sehingga dari tahun ke tahun kita memperkuat diri dengan persenjataan hasil impor yang serba instan tanpa ada tranfer tehnologi yang baik.   Setelah itu habis manis sepah dibuang. Tidak bisa tidak,  bahwa fundamen industri kedirgantaraan kita yang lemah memang harus kita perbaiki. Berbicara masalah sumber daya manusia, yaitu kualitas penerbang tempur, rasanya tidak ada yang sulit bagi mereka untuk mengawaki pesawat tempur secanggih apapun.   Namun justru kemandirian air power yang masih di angan-angan itulah masalah besar yang harus terpecahkan.  

Menurut Alan Stephens, dalam mengembangkan Angkatan Udara, ada dua jenis pola pengembangan yang harus kita perhatikan, yaitu threat-specific planning dan threat ambigious planning.   Keduanya mendasarkan pengembangannya berdasarkan pengenalan yang amat baik pada  pola ancaman.   Pola threat-specific planning  seperti yang digunakan oleh Israeli Air Force (IAF), menggariskan rencananya berdasarkan pada spesifikasi ancaman yang jelas.   Dengan pola ini, Israel selalu menemukan skadron-skadron tempurnya sebagai salah satu daya tangkal terbaik untuk menahan serangan dari tetangganya.   Mengapa  ?  Karena IAF memiliki tujuan jelas dan menggariskan jenis ancaman yang jelas dan terpilih, hingga dengan tepat mencari pesawat dan sistem senjata yang sesuai.    Sedangkan tipe kedua, lebih sulit dari tipe pertama karena pola ini menekankan pada air superiority atau air dominance.   Angkatan Udara kita tentunya memilih pola pertama untuk mengembangkan kekuatannya.   Kita cukup mengenali ancaman yang terlokalisir baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di wilayah sekitar. Kita yakin bahwa bangsa ini cukup mampu untuk membentuk organisasi Angkatan Udara, kemandirian air power dengan cara apapun.   Namun sudah siapkah bangsa kita berkorbang banyak untuk kemajuan bersama ?   Pada akhirnya, Angkatan Udara memang harus mencari konsep pengabdian terbaik bagi skadron-skadron tempurnya bagi negeri ini sebelum menuntut bentuk kekuatan yang lebih besar.   Sehingga kekuatan itu tidak akan menggelembung besar namun tanpa makna.


1 Komentar

  1. Irfan mengatakan:

    Briliant…….. god idea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: