Beranda » Kedirgantaraan » Tim Aerobatik TNI AU

Tim Aerobatik TNI AU

Memang cukup menakjubkan dan menyaksikan atraksi sebuah tim aerobatik yang sedang beraksi dengan berbagai maneuver yang mendebarkan.  Dengan latar belakang langit biru, dan jalur asap warna warni yang keluar dari ekor pesawat-pesawat seolah olah sedang melukis langit.  Sangat indah sekaligus mendebarkan.

Negeri ini pernah didatangi oleh tim aerobatik terkemuka  dunia, seperti The Thunderbirds dari AU AS pada tahun 1987 di Bandara Halim Perdana Kusuma. Demikian pula  kehadiran The Red Arrows dari AU Inggris serta The Roulletes dari AU Australia pada Indonesian Air Show 1996 di bandara Soekarno-Hatta.  Belum lagi penampilan Tim Aerobatik lokal The Blue Falcon atau Elang Biru serta Tim Jupiter dan Jupiter Blue dari  TNI AU.   Semuanya menyajikan keindahan yang dihasilkan dari ketrampilan menerbangkan burung-burung besi ini dalam aneka maneuver dan formasi terbang.

Para Diplomat mewakili bangsa dalam urusan hubungan luar negeri, para olahragawan mewakili bangsanya dalam event olahraga, para artis dalam urusan kebudayaan, namun yang mewakili kemampuan militer diwakili oleh apa ? pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah, karena Negara-negara maju di dunia membentuk suatu tim yang dianggap mewakili kemampuan mengelola dan mengoperasikan peralatan perang yang disebut pesawat tempur menjadi sebuah Tim Aerobatic, yang bentindak selaku Duta Bangsa di udara.

Tradisi membentuk Tim Aerobatik sebetulnya sudah dirintis oleh para pendahulu kita sejak AURI masih muda belia hingga berusia lebih dari 50 tahun kini.  Dimulai dengan pesawat P-51 Mustang, Mig-17, meningkat ke F-86 Sabre hingga Hawk Mk-53 dan F-16 Fighting Falcon.  Pesawatnya bisa beda, tapi semangat dan missinya sama.  Membuktikan bahwa kita juga mampu. Memang cukup menakjubkan dan menyaksikan atraksi sebuah tim aerobatik yang sedang beraksi dengan berbagai maneuver yang mendebarkan.  Dengan latar belakang langit biru, dan jalur asap warna warni yang keluar dari ekor pesawat-pesawat seolah olah sedang melukis langit.  Sangat indah sekaligus mendebarkan.

Negeri ini pernah didatangi oleh tim aerobatik terkemuka  dunia, seperti The Thunderbirds dari AU AS pada tahun 1987 di Bandara Halim Perdana Kusuma. Demikian pula  kehadiran The Red Arrows dari AU Inggris serta The Roulletes dari AU Australia pada Indonesian Air Show 1996 di bandara Soekarno-Hatta.  Belum lagi penampilan Tim Aerobatik lokal The Blue Falcon atau Elang Biru serta Tim Jupiter dan Jupiter Blue dari  TNI AU.   Semuanya menyajikan keindahan yang dihasilkan dari ketrampilan menerbangkan burung-burung besi ini dalam aneka maneuver dan formasi terbang.

Para Diplomat mewakili bangsa dalam urusan hubungan luar negeri, para olahragawan mewakili bangsanya dalam event olahraga, para artis dalam urusan kebudayaan, namun yang mewakili kemampuan militer diwakili oleh apa ? pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah, karena Negara-negara maju di dunia membentuk suatu tim yang dianggap mewakili kemampuan mengelola dan mengoperasikan peralatan perang yang disebut pesawat tempur menjadi sebuah Tim Aerobatic, yang bentindak selaku Duta Bangsa di udara.

Tradisi membentuk Tim Aerobatik sebetulnya sudah dirintis oleh para pendahulu kita sejak AURI masih muda belia hingga berusia lebih dari 50 tahun kini.  Dimulai dengan pesawat P-51 Mustang, Mig-17, meningkat ke F-86 Sabre hingga Hawk Mk-53 dan F-16 Fighting Falcon.  Pesawatnya bisa beda, tapi semangat dan missinya sama.  Membuktikan bahwa kita juga mampuNamun menjelang peringatan Hut ABRI  tahun 1978 Skadron 14 diperintahkan mempertunjukkan  “Advanced Formation”. Apapun namanya, ini berarti kesempatan mengasah keterampilan dan kerjasama dalam sebuah tim aerobatic.  Dipimpin oleh komandannya, Mayor Pnb. FX Suyitno maka latihan dimulai dengan melihat folder-folder Manuver  tim aerobatic Pasukan Bela Diri jepang “The Blue Impulse” . Pesawatpun diberi warna tambahan berupa selempang merah sepanjang badannya. Walhasil beranggotakan Mayor.Pnb. FX “Dragon”Suyitno, Kapten.Pnb. Lambert “Taurus” F.Silloy, Mayor.Pnb.Budihardjo “Bison”Surono, Kapten.Pnb.Suprihadi “Vampire”, Kapten.Pnb Teuku “Orca”Syahrial, Kapten.Pnb Zekky”Jackal” Ambadar, Kapten.Pnb Peter”Condor” Wattimena, Lettu.Pnb F.Djoko”Beaver” Poerwoko dan Lettu.Pnb Djoko “Beetle”Soeyanto diadakan latihan-latihan.  Mulai dari empat hingga akhirnya enam pesawat.   Penerbang yang terbvangpun bergantian, dengan asumsi pada saat hari tampil ada penerbang lain yang siap menggantikan bila ada personil yang sakit atau berhalangan.   Walhasil para penerbang yang rata-rata baru memiliki 150 – 600 jam terbang dengan F-86 Sabre ini mulai mencoba aneka maneuver, sperti Diamond Loop, Clover Leaf, Wing Over, Roll In Trail, Calypso Pass dan ditutup dengan Bomb Burst .  Semuanya dilatih hanya dalam waktu enam minggu, namun pertunjukannya berlangsung spektakuler dan untuk pertama kali disiarkan secara nasional oleh TVRI.  Tim ini dinamakan “Spirit’78” yang berarti membawa semangat untuk terus maju.

Selanjutnya team ini masih diminta memperagakan kemahirannya di daerah-daerah lain. Pada bulan desember 1978 mengadakan lawatan ke Denpasar, Baucau, Ambon, Biak, Menado, Ujung Pandang dan Balikpapan.  Selanjutnya mereka masih tampil di Hari Armada di Surabaya tanggal 15 januari 1979. dan masih ada beberapa acara lain.   Selanjutnya banyak penerbang Sabre ini yang dikirim ke luar negeri dalam rangka mengambil pesawat F-5 Dan A-4 Skyhawk.  Sehingga praktis pada HUT ABRI 5 Oktober 1979m tidak tampil.  Namun tim ini beraksi lagi pada acara HUT ABRI 1980 yang dilaksanakan  di jalan Tol Jagorawi. Saat itu Tim ini dipimpin oleh Mayor.Pnb Budiharjo.

Tim Aerobatik Mustang dan Mig-17

Pada masa awal pengawakan pesawat P-51 Mustang Skadron Udara 3, didatangkan seorang instruktur AS , Leo Noomis yang juga mengajarkan dasar-dasar formasi aerobatic. Walhasil dari ilmu tersebut dikembangkan menjadi Tim Aerobatic pertama Indonesia yang tanpa nama  namun jelas diawaki Leo “Eagle” Wattimena, Rusmin “Elang” Nuryadin, Dewanto, Hapid, Zainalan, Hashari”Bison”, Rusman”Hellcat”, Mulyono (tewas dalam kecelakaan aerobatic di Surabaya dalam rangka pertunjukan 9 April keliling Jawa ketika terbang bersama Hadi Sapandi dan Pracoyo).

Selanjutnya pada tahun 1959, setiba pesawat-pesawat MiG-17 melengkapi jajaran AURI dalam wadah Skadron Udara 11 Wing 300 Kemayoran, para penerbang mulai mencoba lagi  untuk membentuk Tim Aerobatik dengan mesin jet.   Para penerbangnya adalah Roesmin “Elang” Nurjadin, Sukardi  (gugur dalam kecelakaan MiG-17 di Lanudal Juanda), Ibnu “Scorpion”Subroto dan Manetius “Blue Angel” Musidjan.  Belakangan ditambah personil baru seperti Rusman, Sofyan Hamzah, Saputro dan Hashari Hasanudin.

Mereka kerap ditampilkan dalam upacara hari ulang tahun AURI dan hari-hari besar lain pada awal-awal 60-an. Berbagai maneuver seperti Immelman, Cuban Eight dan maneuver formasi aerobatic dasar menjadi andalan mereka untuk mengundang decak kagum masyarakat kita pada masa kejayaan AURI itu.

Tim Aerobatik Spirit’85

Era Sabre usai, giliran pesawat buatan Inggris tampil, Hawk MK-53.  Para penerbangnya adalah instruktur di skadron Udara 15.  Terdiri dari empat pesawat, dengan nama “Spirit’85”.   Menggunakan pesawat berjenis sama dengan Tim Aerobatik The Red Arrows menghasilkan maneuver-manuver yang cukup impresif.  Para penerbangnya adalah Mayor.Pnb Pieter “Condor”Wattimena, Mayor.Pnb Toto”Ibex” Riyanto, Kapten.Pnb Ida Bagus “Agipe” Sanubari dan Kapten.Pnb Basri “Locust”Sidehabi.  Mereka dalam latihan dan pertunjukan selalu ditemani Marsma Zainuddin Sikado, Komandan lanud Iswahjudi yang duduk dibelakang Pieter Wattimena sebagai Leader.

Setahun kemudian tim Hawk ini diperkuat oleh enam pesawat.  Leader diganti Agus Suwarno, sedangkan Pieter Wattimena tidak ikut dan masuk dua anggota lain yaitu Mayor.Pnb.Teuku “Orca”Syahrial serta mayor.Pnb.Suminar “Buzzard”Hadi.  Dalam hari ABRI 1986 ini mereka menampilkan suguhan atraksi melukis langit selama dua belas menit yang meliputi sepuluh macam maneuver.   Setelah itu tim ini bubar karena personilnya masing-masing mendapat penugasan baru.  Namun itu hanya beristirahat selama satu dekade, karena MK-53 akhirnya tampil lagi pada tahun 1997 dengan nama Tim Aerobatic Jupiter.

Tim Aerobatik Elang Biru

Nama Elang Biru muncul muncul sebagai nama Indonesia dari The Blue Falcon. Namun dalam perjalanan waktu nama Elang Biru lebih banyak dipakai dan menjadi ikon dari salah satu prestasi Angkatan Udara sebagai duta di angkasa.  Lahir dari perintah pimpinan TNI AU pada pertengahan tahun 1994 untuk menyiapkan suatu Tim Aerobatik menggunakan pesawat F-16 dari skadron Udara 3.  Bahkan personil F-16 kita dikirim untuk menyaksikan show The Thunderbirdsdi acara HUT Republik Singapura pada Bulan Agustus 1994. Kemudian mengadakan diskusi dengan personil tim aerobatic kondang tersebut. Komandan Skadron udara 3. kesimpulannya untuk membentuk Tim yang professional diperlukan pelatihan dari personil yang sudah pengalaman, dalam hal ini meminta bantuan dari instruktur The Thunderbirds.

Sambil menanti kedatangan instruktur yang dijanjikan, Letkol.Pnb Rodi “Cobra”Suprasodjo segera menyusun tim yang akan menjadi cikal bakal tim aerobatic.  Dengan Rodi sebagai leader dimulailah latihan yang hanya mengandalkan kemampuan formasi dan berbekalkan brosur-brosur dari The Thunderbirds, Tim Aerobatic F-16 USAF.  Terdiri dari enam personil, Rodi Suprasodjo sebagai leader, Kapten Pnb.Tatang”Python” Herlyansah dan Kapten.Pnb.Anang “Morgan” Nurhadi pada posisi wingman kanan dan kiri, Mayor.Pnb Dede “Viper”Rusamsi pada posisi slot dan Mayor.Pnb. Bambang “Puffin” Samudro serta Lettu.Pnb.Agung “Sharky” Sasongkojati pada posisi “solo” kiri dan kanan.   Meski hanya bermodalkan hasil belajar secara otodidak, namun dengan memaksimalkan kemampuan maneuver, daya belok dan gemuruh mesin-mesin perkasa F-16 mereka bisa tampil impresif pada HUT TNI AU 9 April 1995.   Penampilan yang mengundang decak para pengunjung upacara juga disaksikan oleh khalayak Jakarta sehingga memacetkan Tol Cikampek-Jagorawi.  Untuk pertama kalinya HUT sebuah angkatan diliput secara luas oleh media massa nasional karena penampilan Tim Aerobatiknya.

Namun belajar sendiri ternyata tidak cukup, pada bulan Mei 1995 itu datanglah tiga orang “suhu” aerobatic lulusan Tim Aerobatik kesohor, The Thunderbirds.   Dipimpin Col. Steve “Boss” Trent, mantan Leader The Thunderbird , May. Pete “Abner” McCaffrey, instruktur “Solo” dan Capt. Matthew “Byrdman” E Byrd, instruktur wingman kiri dan kanan. Abner melatih Bambang Samudro dan Agung Sasongkojati, sedangkan Birdman melatih Tatang Herlyansah dan Anang Nurhadi. Rodi mendapat pelatihan dari Boss. Perlu diketahui Boss adalah mantan Komandan Wing Wolfpack di Korea serta veteran perang Vietnam dengan F-4 phantom, sedangkan Abner dan Byrdman masing-masing adalah veteran operasi Badai Gurun dengan pesawat F-16C dan F-117 Night Hawk.

Selain melatih terbang, para instruktur yang dikirim PACAF ini juga menurunkan software yang berkaitan dengan maneuver, manajemen dan safety dalam mengorganisasi sebuah tim aerobatic layaknya The Thunderbirds.  Selain penerbang, tiom juga diawaki personil yang bertugas sebagai observer, juru kamera, public relation serta tugas lain yang penting seperti narrator.    Semua maneuver dilatih mulai dari dua pesawat, tiga pesawat, empat pesawat hingga formasi lengkap.  Maneuver empat pesawat dan maneuver formasi besar dilatih berulang secara bertahap.  Secara bersamaan dua penerbang solo dilatih dengan maneuver solo yang spektakuler.  Selanjutnya semua maneuver dipadukan dalam rangkaian penampilan yang indah, tepat waktu namun aman.   Aneka maneuver yang sebelumnya belum bisa ditiru oleh para penerbang kita dengan bimbingan dari instruktur dan membaca software yang tersedia akhirnya bisa dikerjakan dengan baik.  Memang sebetulnya untuk mendapatkan ilmu aerobatic team harus melalui hasil pelatihan dan pembelajaran panjang sebelum sempurna. Namun beruntung kita tidak perlu mencarai sendiri, karena langsung diberi kunci-kuncinya sehingga dalam waktu singkat bisa menyerap ilmu dan skill dari instruktur.

Menyambut HUT ABRI 5 Oktober 1995, kembali Tiga orang Instruktur USAF melatih para penerbang kita, untuk memoles ilmu dan skill yang sudah diturunkan terlebih dahulu.  Namun anggota tim Elang Biru sudah berganti.  Bambang Samudro menempati posisi slot (ekor).  Mayor Pnb.Agus “Dingo” Supriatna dan Kapten Pnb.Mohamad “Wildgeese” Syaugi yang baru pulang dari pendidikan Weapon Course di AS menempati posisi solo kiri dan kanan.  Lettu.Pnb.Agung “Sharky”Sasongkojati pada bulan Juni sudah berangkat ke Australia untuk sekolah Instruktur penerbang.  Instruktur dari USAF pun ada yang berganti, Byrdman diganti oleh  Tim inilah yangtampil spektakuler dihadapan public pada HUT ABRI 1995.  Dengan ilmu turunan dari The Thunderbirds masyarakat Jakarta mendapat kesempatan melihat betapa kita bisa menampilkan maneuver yang tidak kalah dengan Tim Aerobatic luar negeri.

Pada penampilan “professional” perdana inipun manuver berhasil dibuat dengan begitu memukau.  Seperti manuver loop, roll, clover loop, bomb burst dan juga pass in reviewyang dilakukan dalam formasi-besar dengan empat hingga enam pesawat.  Lalu, ada juga formasi diamond (terbang empat pesawat) yang membuat manuver /ow speed pass dalam formasi, dan bon ton roulle, di mana setiap pesawat berputar pada porosnya masingmasing tetapi tetap dalam posisi formasi.

Penerbang solo juga melakukan seiumlah manuver yang tidak kalah menariknya, seperti inverted atau terbang terbalik, inverted to inverted, lalu aileron rolls, fourpointroll, eightpoint roll, knife edge, opposing knife, serta calypso.

Elang Biru juga memperlihatkan kombinasi diamonddan Solo, misalnya dalam manuver high-lowpass di mana empat pesawat berkecepatan rendah dilintasi satu pesawat dengan kecepatan tinggi.  Sementara manuver yang langsung dilakukan oleh enam pesawat sekaligus, antara lain line abreast, yakni pesawat seiaiar dalam bentuk satu garis.

Elang Biru dengan personil yang sudah tetap ini akhirnya tampil lagi di HUT emas TNI AU 1996.  kali ini sudah lebih matang manuvernya, namun masih di supervise dari bawah oleh para instruktur dari USAF.  Kali ini pesawat sudah tampil dengan warna biru mengkilat dengan strip kuning seperti layaknya tim aerobatic professional.  Demikian pula baru dua pesawat solo yang memakai system smoke trail baru yang tangki olinya dipasang di ruang amunisi di punggung pesawat. Lainnya masih menggunakan “smoke winder” diujung sayap. Penampilan puncaknya dimulai saat memeriahkan acara Airshow local Gebyar Dirgantara pada tanggal 8-9 Juni 1996 di Lanud Iswahjudi.  Langit cerah dan bermanuver dikandang sendiri menghasilkan penampilan terbaik mereka, seperti yang disebutkan oleh para personilnya.   Dengan penampilan ini mereka siap tampil di ajang internasional pertama, Indonesia Air Show di bandara Soekarno Hatta, 22-30 Juni 1996.   Di arena ini setiap hari mereka tampil disaksikan puluhan ribu pasang mata dan mengundang decak kagum khalayak internasional, karena bersanding dengan tim aerobatic terkemuka seperti The Roullettes (RAAF) dan The Red Arrows RAF).

Tim Aerobatik Jupiter

Setelah absen selama satu decade, pesawat Hawk Mk-53 akhirnya menampilkan kembali tim aerobatiknya\ dengan nama Tim Jupiter.  Sebagai motor adalah Komandan Skadron Udara 15 saat itu yaitu Letkol.Pnb.Bambang” “Sulistyo.  Dengan berbekal kemampuan terbang aerobatic dari para instruktur penerbang Hawk serta brosur dari Tim Aerobatic The red Arrows saat tampil tahun 1986 mereka berlatih secara otodidak.  Tidak seperti halnya Tim Elang Biru yang pada tahun 1995 mendapat pelatihan dari luar.

Tidak kalah dengan Elang Biru, pemunculan perdana Tim Aerobatik Jupiter (Jupiteraerobatic Team) saat Hari ABRI ke-52, 5 Oktober 1997, di angkasa Lanud Halim Perdanakusuma juga sangat memukau ‘ Sebagian penonton malah sempat bertanya’ apakah ini tim baru yang dimiliki oleh TNI Angkatan Udara?

Pertanyaan semacam itu waiar saia terlontar mengingat Tim Jupiter, yang sebenarnya sudah dirintis seiak tahun 1985 itu, sebelumnya seringkali hanya muncul dalam arena yang lebih kecil, dengan jumlah penonton yang juga terbatas.  Dengan menggunakan pesawat MK-53 HS Hawk buatan lnggris, tim ini beberapakali melakukan pertuniukan dengan empat pesawat, namun lebib sering tampil dalam aerobatik tunggal.

Partisipasi Jupiter sesungguhnya cukup besar dalam berbagai peristiwa di Tanah Air, seperti saat peresmian Lanud Iskandar Muda di DI Aceh, kegiatan Pelangi Nusantara, serta Gebyar Dirgantara di Lanud Iswahyudi Madiun Bulan Juni 1995.  Saat Indonesia Air Show/ IAS ’96 di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jupiter turut tampil pula, walau hanya solo aerobatics dengan penerbang Bambang Sulistyo sendiri.

Kesempatan bisa muncul dengan enam pesawat pas Hari ABRI ke-52 tersebut tentu saia langsung dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh tim ini. la mempertuniukkan 12 dari 32 manuver “Red Arrow’, tim aerobatik kebanggaan Royal Air Force (RAF), yang telak dikuasainya dengan baik dan mantap.  Mulai dari manuver delta loop opener, head on pass, line abreast loop, mirror, caterpillar, screw roll, right cloverleaf, heart, knife edge, roll backs, four point & vertical roll, hingga vixen break di penutup atraksi.

Manuver-manuver yang ditampilkan secara mengesankan itu sama dengan sajian yang pernah digelar oleh Tim Red Arrow pada saat IAS tahun 1986 di Bandara Kemayoran, Jakar;a.  Jupiter ini memang menggunakan buku panduan tim aerobatik lnggris sebagai referensi. Belaiar sendiri dari buku, lalu mempaktekkannya di lapangan secara otodidak , dan akhirnya mampu tampil sukses.  Jupiter bahkan kemudian tampil dengan delapan           pesawat, seperti TimRed Arrow (Tim Panah Merah).

Untuk tampil dengan delapan pesawat Hawk itu, telah dituniukkannya pada pucak peringatan Hari TNI AU ke-52, 9 April 1998, di taxi way “Echo” Lanud Halim Perdanakusuma.  Disertai asap yang berwarna-warni, sekitar 20 menit Tim Jupiter ini menampilkan 20 manuver di ketinggian 300 hingga 5.000 feet.

Manuver ‘cantik’ namun terkadang juga menegangkan itu adalah diamoncl kid roll, rocket in view, rocket pheasant roll, inverted to inverted, christmast clover, four point roll, big “V loop, aileron roll, roll backs, half cuban, tanggo loop, vertical roll, screw roll, caterpillar, cross over break, barrel split, heart, arrow on delta, knife eclge, dan atraksi penutup dinamyte break, yakni delapan pesawat dari suatu titik tertentu menyebar ke segala penjuru seperti bentuk kipas.

Mengenai kisah awal terbentuknya Tim Jupiter ini , berawal dari saat Bambang Soelistyo tampil dalam aerobatik tunggal di event IAS ’96. Seorang member The Red Arrow, Kelvin Truss, mencari Soelistyo, dan mereka pun berdiskusi.  Truss tertarik karena pesawatnya juga dipakai orang lain, meski secara solo.  Soelistyo pun ditanya apa rencananya, dan dijawab bahwa ia sebenarnya ingin pula mengembangkon aerobatik formasi dengan pesawat yang sebagai konsultan Cuma cuma.  Kalau Soelistyo merasa ada yang kurang, ia bisa-langsung telepon ke Inggris.  Kelvin Truss pun lalu mengirimi brosur-brosur.

Sejak saat itu Tim Jupiter dikembangkan dengan empat pesawat seperti Tim Spirit’85.  Seperti halnya jaman Mustang dan Mig-17 yang mencoba membentuknya secara diam diam, dengan alasan untuk  latihan demo udara bukan aerobatic team. Sementara itu, kiblat Tim Jupiter ini bisa dipastikan adalah The Red Arrow.  Pertimbangannya karena memakai pesawat yang sama, meski mesin pesawat tim Inggris i.tu sudah dimodifikasi namun performance tidaki jauh berbeda.

Namun tim demo udara Hawk ini segera  meningkat menjadi Aerobatic team sesungguhnya. Kegiatannya diawali pada waktu Gebyar Dirgantara, di Lanud lswahyudi tahun 1996.  Setelah itu ‘tim’ ini dalam event Pelangi Nusantara 1996 keliling melakukan show ke Indonesia Bagian Timur dan Indonesia Bagian Barat dengan empat pesawat.

Mereka lalu latihan terus.  Pada saat serah terima jabatan Komandan Lanud lswahyudi, tim ini kembali diberi kesempatan untuk turut mengisi acara.  Namanya masih demo udara.  Tapi malah bisa lebih leluasa, karena dalam demo udara itu bisa fly pass, bisa juga aerobatik. la pun tampil lagi dengan empat pesawat, namun dengan variasi manuver berbeda. Melihat penampilan demo Hawk tadi para pimpinan TNI AUa memerintahkan Soelistyo, untuk mempersiapkan diri pada acara Hari ABRI 5 Oktober 1997.

Ketika leader menjelaskan akan tampil dengan enam pesawat, pimpinan AU  sedikit tidak percaya, dan bertanya lagi, apa dalam kurang satu setengah bulan 6isa dikembangkan jadi enam pesawat.   Tentu saja bisa, karena sesungguhnya Tim Jupiter sudah berlatih enam pesawat, hanya pada acara itu tidak ditampilkan seluruhnya.

Tim inipun terus latihan hingga akhirnya bisa tampil gemilang pada acara 5 Oktober di Lanud Halim Perdanakusuma. Sebelumnya dalam kurun  waktu satu setengah bulan itu mereka banyak diminta tampil, misalnya dala HUT Kodam V di Surabaya dan saat pergantian Kapolda Jatim.  Event  itu sekaligus dimanfaatkan untuk latihan persiapan 5 Oktober.

Selanjutnya, karena waktu itu sudah resmi mendapat perintah dari  Kasau bahwa Hawk harus tampil pada acara Hari ABRI 1997, sang leader kemudian juga berupaya mencari identitas atau nama untuk timnya itu yang akhirnya dinamakan Tim “Jupiter’.

Nama ‘Jupiter’ digunakan karena  callsign personel tim yang semuanya adalah para instruktur terbang dari Skadron Pendidikan 103. Semua instruktur di sana memang menggunakan nama Jupiter untuk panggilan sehari-hari. Tujuan lain agar semua orang yang pernah mengaiar atau meniadi instruktur penerbang dengan call sign Jupiter, turut merasa memiliki Tim ini.  Jadi bukan hanya miliknya Skadik saia

Para pilot Hawk lainnya yang memperkuat Tim Jupiter adalah Lettu Pnb. Andis “Lavy”Solikhin, Lettu Pnb. Moh.”Cougar” Dadang, Mayor Pnb.Tri”Wild Cat” Budi Satrio, Kapten Pnb. Fahru “Ferret” Zaini, Kapten Pnb. Donny“Osprey” Ermawan, Mayor Pnb. Agoes”Wild Deer” Haryadi, Lettu Pnb. Yudhianto”Grizzly” dan  Lettu Pnb. Budi “Boxer” Ramelan.

Setelah penampilannya pada Hari ABRI, Tim Jupiter kembali lagi muncul mengesankan diLanud Sulaiman, Bandung, saat HUT Kodikau, 15 Oktober 1997. Penampilannya waktu itu membuka sejarah baru bagi Tim Aerobatik TNI AU.  Karena, kabarnya belum pernah ada tim aerobatik main di Bandung.  Alasannya cukup banyak, antara lain karena faktor ketinggian yang cukup tinggi sehingga banyak berpengaruh terhadap performance, serta cuaca yang terkadang kurang mendukung.  Jupiter malah berhasil  beraksi di sana dengan lancer dan impresif. Demikian pula mereka beraklsi kembali dalam HUT TNI AU tahun 1998 di Halim.

Tradisi ini dilanjutkan dengan tim yang sama namun Leader yang berbeda saat Bambang Sulistyo diganti Letkol Pnb. Barhim “Wild Horse”sebagai Leader. Penampilannya tetap memukau dalam aneka pertunjukan pada tahun 1999 dan 2000. Dalam Tim ini juga bergabung Anang Nurhadi yang mantan personil Elang Biru.  Makin mengukuhkan sebagai Tim aerobatic yang terbina dengan baik.   Dalam aneka pertunjukannya Jumlah pesawatnya bervariasi antar 6-8 pesawat .

Tim Aerobatic Jupiter Blue

Pada awal tahun 2001, Danlanud Iswahjudi Marsma TNI Djoko “ Beaver”Poerwoko, mantan anggota tim aerobatic F-86 Sabre “Spirit’78” mempunyai ide menggabungkan keindahan gerak Hawk dan kegarangan F-16. Jadilah tim aerobatic dengan tiga jenis pesawat. Tiga buah Hawk MK-53, sebuah Hawk MK-109 dan dua buah F-16.  Hawk 109 didatangkan dari Lanud Pekanbaru sebagai pesawat slot dengan penerbang Letkol Pnb Barhim dan Kapten Pnb Moh.”Cougar” Dadang, sedangkan Leader beralih ke Mayor Pnb Fahru “Ferret” Zaini dengan dua wingman yaitu Kapten Pnb Andis “Lavy” Solikhin dan Mayor Pnb Donny “Osprey”  Ermawan.  Sedangkan sebagai penerbang solo adalah Mayor Pnb Fachry “Oryx” Adamy dan Kapten Pnb Moh.”jaguar” Hanafi yang dilatih oleh Letkol.Pnb Moh.Syaugi “Wildgeese”..  Cukup menarik, karena sebetulnya filosofi kedua team yang digabung adalah berbeda karena kiblat tim yang dianut berlainan. Namun dengan kerja keras selama latihan akhirnya berhasil diwujudkan penampilan pertama yang spektakuler di depan public pada HUT TNI AU di lanud Halim 9 April 2001.  Diawali sebagai pembuka maneuver High Speed Passing dari belakang pengunjung oleh sebuah Pesawat F-16 yang diterbangkan Agung Sasongkojati. Terbang rendah sekali lengkap dengan gelegar Afterburnernya, dilanjutkan roll sambil menanjak ke langit, mengagetkan seluruh pengunjung termasuk Presiden RI KH Abdulrahman Wahid dan Wapres Megawati Sukarnoputri yang nampak hadir sebagai undangan. Jarang terjadi hal seperti ini dalam sebuah HUT Angkatan. Para pemimpin Negara ini berkenan hadir kabarnya karena ingin  mengetahui ketrampilan para penerbang aerobatic kita. Selanjutnya Tim Jupiter Blue manampilkan sekuen maneuver yang menimbulkan decak kagum para penonton. Gabungan dari dua tim aerobatic andalan kita Jupiter dan Elang Biru.  Juga keheranan sebagaian tamu asing melihat pesawat F-16 kita masih bisa terbang, untuk aerobatic lagi, padahal seharusnya sudah tidak laik terbang karena terkena dampak embargo.

Tim Jupiter Blue dibawah pimpinan Fahru Zaini beraksi kembali dengan spektakuler pada peringatan HUT TNI di Bandara Halim Perdana Kusumah. Kali ini penampilan mereka disiarkan langsung oleh berbagai stasiun TV yang merelai kegiatan HUT TNI tersebut.  Penampilan Tim ini makin mengesankan karena suara Leader menyampaikan salam kepada presiden, waktu itu sudah beralih ke Megawati Soekarnoputri  disiarkan langsung kepada hadirin.   Hal yang sangat langka namun mengesankan.  Saat itu penampilan Tim ini merepresentasikan kemapuan TNI mengawaki peralatan tempur canggih yang dipercayakan rakyat.  Benar-benar Duta bangsa di Angkasa.

Tahun 2002 Tim Aerobatik Jupiter Blue mengalami musibah. Musibah itu terjadi pada ketinggian 2.000 kaki ketika tiga pesawat Hawk Mk-53 hampir menyelesaikan manuver aerobatik Victory Loop di atas Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur. Manuver tersebut merupakan manuver kedelapan dari sebelas manuver yang bakal mereka suguhkan dalam acara  Open day yang rencananya digelar  Sabtu, 30 Maret. Tetapi, Tuhan merencanakan lain. Dua Hawk bersenggolan pada hari latihan Kamis 28 Maret dan jatuh, menggugurkan keempat awaknya. Mereka telah berusaha menyelamatkan diri dengan eject dari pesawat, tapi Tuhan menghendaki lain. Sedangkan pesawat Leader yang diterbangkan Letkol.Pnb. Fahru Zaini dengan kehendak Tuhanbisa selamat dari musibah ini.

Telah gugur Kapten (Pnb.) Andis “Lavy” Solikhin Machmud (35) dan Kapten (Pnb.) Weko Nartomo Soewarno (33), awak Hawk nomor ekor TT 5310; Mayor (Pnb.) Syahbudin “Wivern”  Nur Hutasuhut (35) dan Kapten (Pnb.) Masrial (33), awak Hawk nomor ekor TT 5311 . Acara open day-pun dibatalkan dan bendera Merah Putih di Lanud Iswahjudi dikibarkan setengah tiang.

Presiden Megawati Soekarnoputri yang sedang berada di Cina waktu itu, begitu mendapat kabar musibah ini, melalui stafnya langsung menelepon Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama F Djoko Poerwoko untuk menyampaikan duka cita atas gugurnya keempat perwira TNI AU tersebut. Megawatijuga berpesan agar musibah tadi tidak mematahkan semangat TNI AU.

Musibah di awal tahun 2001 ini seakan awan gelap yang menutupi sejarah keemasan TNI AU dengan berbagai Tim aerobatiknya.   Memang  kemampuan melukis langit adalah suatu hal yang tidak bisa dibentuk dalam waktu singkat. Kemampuan penerbang, kematangan jiwa, kemampuan kerjasama serta pelatihan yang teratur diperlukan untuk menghasilkan penampilan terbaik  dengan tingkat safety tinggi. Keperdulian akan segala aspek ini diperlukan agar benar-benar menghasilkan tim aerobatic yang mumpuni.  Tanpa dukungan yang memadai, ada aspek yang terabaikan yang pada akhirnya akan menjadi bom waktu bagi keselamatn dan penampilan Tim.  Intinya tuntutan kemampuan yang professional memerlukan dukungan yang pantas dan memadai.  Darah, keringat dan airmata telah mewarnai sejarah berbagai Tim Aerobatik di TNI AU.  Semuanya ditujukan demi menjadi landasan bagi terbentuknya suatu tradisi di Angkatan Udara kita bahwa  Tim Aerobatik kita selalu dianggap oleh masyarakat sebagai Duta Bangsa Di Angkasa, “Ambassador In The Sky”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: