Beranda » Kedirgantaraan » Top Gun Indonesia-Singapura

Top Gun Indonesia-Singapura

Semangat Bertempur Hanya Lahir dari Hati yang Berani. Dialah Kunci Sukses Seorang Penerbang Tempur, Tak Peduli Seberapa Canggih Pesawatnya.”

Begitulah kira-kira terjemahan bebas dari kalimat yang dipampang besar-besar di tangga menuju fasilitas pendidikan penerbang tempur di Skadron Top Gun di Miramar Naval Air Station, California. Kalimat pembakar semangat bagi para penerbang tempur AL AS itu diambil dari ucapan Adolf Galland –Komandan Tempur AU Jerman Luftwaffe dalam masa PD II.

Dalam buku The Complete Book of Top Gun America’s Flying Aces (1990) disebutkan, pendidikan “Top Gun” didesain untuk menyiapkan pilot-pilot tempur Amerika yang handal dalam menghadapi segala perkembangan yang terjadi di dunia. Adanya keprihatinan rasio bunuh (kill ratio) para penerbang AL dan AU AS dalam masa-masa awal Perang Vietnam yang hanya 2:1 (membunuh dua, terbunuh Satu) menimbulkan pemikiran untuk didirikannya sekolah yang bisa memberikan pengajaran secara khusus teori dan taktik perang udara.

Maka AL AS pun menugaskan Komando Sistem Udara AL (Navy Air Sistems Command) dan menunjuk Kapten Frank W Ault untuk mengkaji dan melatih para penerbang AL agar lebih handal lagi. Diketahuilah bahwa kelemahan itu menyangkut dua hal. Satu mengenai salahnya persenjataan udara yang digunakan, yang kedua adalah kemampuan dogfight (bertempur di udara) pilot-pilot AS sangat lemah. Hal ini disebabkan antara lain, karena mereka yang dikirim bertempur baru mengantongi paling banyak 50-60 jam terbang saja dengan pesawat tempur. Sangat jauh bila dibandingkan dengan para penerbang Vietnam Utara yang rata-rata sudah mengantongi beberapa ratus jam terbang dengan pesawat tempurnya.

Namun disamping itu juga ada satu hal yang terlupakan. Medan Vietnam yang berhutan rimba tidak cocok bagi pertempuran jarak jauh. Penggunaan rudal-rudal jelajah dari jarak yang tidak terlihat menjadi sering tidak berguna. Lain dengan pilot-pilot AS, para penerbang Vietnam Utara lebih mengandalkan senjata udara jarak dekat seperti senapan mesin kaliber 0,5 atau kanon 20 mm dalam pesawatnya. Digabungkannya antara senjata yang tepat dengan kemampuan dogfight itulah semua ini terbukti berhasil dengan sukses.

Dari kajian Ault maka pesawat tempur Amerika pun diretrofit persenjataannya dengan kanon 20 mm. Mulai saat itu, tahun 1969, AL AS mendirikan pendidikan Post-Graduate Course in Fighter Weapons, Tactics, and Doctrine (PCFWTD). Di sini US Navy mengajarkan bagaimana taktik dogfight. Kelas pertama dimulai pada 3 Maret 1969, di Skadron VF-31 Navy. Para lulusan program ini kemudian dijuluki Top Gun. Tahun 1972, sekolah ini berganti nama menjadi US Navy Fighter Weapon School (NFWS) dan menjadi komando tersendiri.

Hasil dari pendidikan Top Gun ternyata luar biasa. Rasio bunuh penerbang AS melonjak menjadi 13:1. Tidak salah, dari keberhasilan inilah pendidikan Top Gun hingga kini sangat terkenal sekaligus menjadi salah satu lambang supremasi pendidikan pilot tempur di AS khususnya Angkatan Laut.

CFWIC           

Bila di AS ada pendidikan Top Gun atau USAF Fighter Weapon School, maka angkatan udara Indonesia pun menyelenggarakan pendidikan sejenis, yakni CFWIC (Combine Fighter Weapon Instructure Course). Pendidikan guna menghasilkan instruktur penerbang tempur ini diselenggarakan bersama antara TNI AU dengan RSAF, dilangsungkan dua tahunan sejak tahun 1999.           

CFWIC merupakan yang pertama di Asia Tenggara. Selain atas dasar hubungan yang erat, juga dilaksanakan atas banyaknya kesamaan alutsista yang dimiliki oleh TNI AU dan RSAF. Sebut saja misalnya, kepemilikian pesawat tempur F-5 Tiger, A-4 Skyhawk, dan F-16 Fighting Falcon. Atau kepemilikan pesawat angkut militer C-130 Hercules yang telah saling membantu dalam pendidikan keahlian penerbangnya. Faktor penting lain, sebagai negara tetangga, kiranya hubungan erat sangat bernilai tinggi dalam saling menjaga wilayah dua negara ke depannya.

Diungkapkan Chief of Air Force RSAF Brigadir Jenderal Lim Kim Choon dalam penutupan pelaksanaan CFWIC ke-2, 1 Desember 2002, pelaksanaan sekolah bersama ini adalah wujud terciptanya saling pengertian dan membutuhkan satu sama lain antardua negara, lebih spesifiknya lagi antardua angkatan udaranya. “Anda lihat sendiri, ini menunjukkan hubungan baik yang sangat erat antara TNI AU dan RSAF,” ujarnya. Ditambahkan Lim, program kerjasama antara TNI AU dan RSAF tidak hanya sebatas pelaksanaan CFWIC. Program Good Will Visit menjadi agenda tetap lain yang senantiasa dilaksanakan.           

Senada dengan pernyataan Lim, KSAU Marsekal Hanafie Asnan, selaku penggagas diselenggarakannya program CFWIC, turut mengekspresikan kebanggaannya. Bahwa melalui CFWIC, kecakapan tingkat instruktur penerbang tempur dapat terus ditingkatkan.

 Penggalan dari buku yang disusun di Ciater bersama Sharky, Sonaji, Arsyad Kapitan, awal tahun 2003, pada sebuah malam dimana beberapa perwira non stop menyusun buku Bhakti TNI AU.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: