Beranda » Tokoh » Zeky Ambadar – Swallow Your Pride or You’ll Swallow Dirt

Zeky Ambadar – Swallow Your Pride or You’ll Swallow Dirt

zaky“Telanlah kebanggaanmu, atau kamu akan berakhir dengan menelan lumpur,” demikian petuah dari Marsda TNI Zeky Ambadar, salah satu penerbang tempur senior dan juga mantan Panglima Kohanudnas.  Menurutnya, kehebatan apapun yang kita miliki tidak boleh membuat kita menjadi tidak rasional dalam bertindak dan sembrono. 

Penerbang yang sempat mendapatkan penghargaan Top Gun dan Academy Award saat mengikuti konversi F-5 E/F di USA ini, juga pernah mendapatkan pelajaran yang berharga saat terbang di kokpit F-5.   Itu terjadi saat dilaksanakan Latihan Gabungan ABRI 1980/1981.  Skadron Udara 14 mendapat perintah untuk menggeser kekuatan pesawatnya yang terdiri dari satu flight F-5 E/F ke Lanud Baucau, Timor Timur.  

Rute yang akan dilalui sangat jauh, sehingga dibutuhkan berbagai macam persiapan.  Para penerbang mulai menghitung-hitung rute penerbangan yang akan dilalui.   Seperti biasa, mereka menggunakan parameter yang ada di buku petunjuk pengoperasian pesawat.  Mulai dari bahan bakar, kecepatan, jarak jangkau, ketinggian, waktu tempuh, formasi, dan pangkalan alternatif, dibahas dalam masa persiapan.  Dan akhirnya didapatkanlah sebuah kesimpulan tentang misi penerbangan yang akan dilaksanakan.

Jika pesawat F-5 E/F harus menempuh rute penerbangan langsung dari Madiun menuju Baucau tanpa tanki cadangan, semua pesawat akan tercebur di laut sebelum bisa melihat Pulau Timor.    Andaikan pada pesawat dipasang satu tanki cadangan jenis center tank, yang dicantolkan di badan pesawat, maka F-5 E/F bisa mencapai Lanud Baucau.  Namun, bila pesawat gagal mendarat di Lanud Baucau dan harus terbang ke pangkalan alternatif terdekat, Lanud Ngurah Rai, Denpasar, maka sisa bahan bakar sudah tidak mencukupi. 

 Melihat kondisi tersebut, maka semua penerbang bersepakat untuk tidak melaksanakan penerbangan langsung ke Lanud Baucau, namun melaksanakan short stop di Lanud Ngurah Rai untuk mengisi bahan bakar. Dengan rute Madiun – Ngurah Rai, short stop dan mengisi bahan bakar, dilanjutkan Ngurah Rai – Baucau, seandainya tidak bisa mendarat di Lanud Baucau maka F-5 masih cukup bahan bakar untuk kembali ke Ngurah Rai, Denpasar.   F-5 membutuhkan panjang landasan minimum 1800 meter.  Landasan terdekat yang memenuhi syarat di sekitar Lanud Baucau tidak ada lagi selain Lanud Ngurah Rai.  Jadi tidak ada alternatif lain bila gagal mendarat di Baucau, maka pesawat harus balik kanan menuju Denpasar.

Setelah menyelesaikan semua perencanaan, maka skadron mengajukan permintaan kekuatan pendukung ke Mabes Angkatan Udara.   Dukungan yang diperlukan untuk menggeser satu flight F-5 adalah dua pesawat angkut C-130 Hercules, untuk membawa peralatan dan para teknisi ke Denpasar dan Baucau.   Permintaan dari skadron disetujui  dan seluruh anggota siap dengan misi yang akan dijalankan, yaitu terbang menuju ke Baucau dengan sekali short stop di Ngurah Rai.

Dalam dunia pertempuran, tidak selamanya tuntutan lapangan sesuai dengan perencanaan.  Inipun terjadi dengan apa yang akan dilakukan oleh para prajurit Skadron Udara 14. Seminggu sebelum rencana keberangkatan, Mabes Angkatan Udara mengeluarkan perintah baru agar skadron menghitung kembali kemungkinan dilaksanakannya penerbangan langsung ke Lanud Baucau.   Kebijakan ini diambil oleh Mabes agar misi dapat didukung dengan satu pesawat C-130.

Zeky saat itu menjadi penerbang F-5 paling senior sekaligus pejabat Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Skadron Udara 14.  Dalam struktur jabatan, Kadisops adalah orang nomor dua di skadron setelah Komandan.  Saat itu Komandan, Mayor Pnb Holki, sedang Sesko di USA.   Sehingga Zeky harus memimpin diskusi untuk membahas “perintah” Mabes itu.   Zeky mendiskusikan segala sesuatunya dengan semua penerbang. 

Setelah mempelajari data yang ada, disimpulkan bahwa penerbangan langsung dapat dilakukan, namun dengan konfigurasi dua tanki cadangan yang dipasang di sayap.  Dengan  dua tanki, F-5 bisa terbang dari Iswahjudi menuju Baucau, dan kembali ke Denpasar bila gagal mendarat di Baucau.   Sebenarnya konfigurasi ini jarang digunakan, namun para penerbang layak mencoba untuk kepentingan operasi.

Segera berita gembira ini diteruskan ke Mabes Angkatan Udara.   Karena belum pernah dicoba sebelumnya, Kapten Zeky bersama dengan Kapten Toto Riyanto melakukan penerbangan uji dengan konfigurasi membawa dua tanki cadangan di sayap.  Penerbangan ini dilakukan untuk meyakinkan ketepatan perhitungan bahan bakar dan penyesuaian diri dengan kontrol kemudi pesawat.   Perbedaan jumlah bahan bakar memang mempengaruhi kontrol kemudi pesawat, sehingga wajar bila para penerbang F-5 melaksanakan terbang uji untuk konfigurasi yang baru.

Apa yang ditakutkan akhirnya benar-benar terbukti.  Sesaat sebelum mendarat, kontrol kemudi pesawat menjadi aneh.   Sebelum mendarat, kecepatan pesawat dikurangi.  Efeknya pesawat akan mendongak.  Demi amannya, penerbang harus menahan kontrol kemudi agar  pesawat tidak mendongak terlalu tinggi dan bisa mendarat dengan selamat.  Pada konfigurasi tanpa tanki cadangan atau dengan satu tanki cadangan, kontrol kemudi tidak ada keanehan.  Namun saat dipasang dua tanki cadangan, maka datanglah keganjilan itu.

Turun terbang, para penerbang berdiskusi dengan para perwira di skadron.  Dan kesimpulan yang ada menyatakan bahwa   masalah kontrol kemudi itu terjadi karena dengan konfigurasi dua tanki cadangan di sayap, jarak antara titik gravitasi (center of gravity) dan titik tekanan (center of pressure) menjadi pendek sehingga keseimbangan pesawat berkurang. Pada saat kecepatan rendah dan posisi hidung mendongak, kondisi ini akan bertambah parah dan berbahaya.  

Walaupun para penerbang menganggap kondisi kontrol kemudi masih dapat diatasi, namun mereka tidak mau berspekulasi.  Para penerbang mengadakan diskusi dengan para teknisi dari USA yang ada di skadron untuk mendapat jawaban pasti.  Ada juga ide untuk memasang ballast nose, pemberat yang dipasang di hidung pesawat, untuk mengatasi tendensi pesawat yang terus mendongak ke belakang.   Namun jawaban yang diterima keesokan harinya dari para “bule” ternyata tidak sesuai yang diharapkan.  F-5 malah dilarang terbang dengan membawa tanki cadangan di sayap, kecuali di kedua ujung sayap dipasang rudal AIM-9.  Ini dilakukan karena F-5 bisa mendapatkan masalah keseimbangan yang bermula dari wing flutter.   Padahal saran ini tentunya benar-benar tidak diharapkan, karena selain bertambah beban dua rudal   pesawat, saat itu jumlah rudal yang siap pakai hanya tiga pasang.   Padahal skadron membutuhkan empat pasang untuk empat pesawat.

Namun para penerbang harus bersikap realistis.  Penerbangan ke Baucau tidak mungkin menggunakan konfigurasi dua tanki di sayap karena jumlah AIM-9 yang ada tidak cukup untuk empat pesawat.   Terjadi dilema dibenak para penerbang, antara menarik kembali kesanggupan terbang “direct” ke Baucau “dengan rasa malu” dan mengakui adanya kekeliruan, atau meneruskan rencana penerbangan direct dengan hanya satu tanki cadangan di badan pesawat.  

Ternyata filosofi kalimat “Maju terus pantang mundur” yang begitu ditakuti bangsa asing kerena tersirat unsur nekat dan ekspansif, masih kental pada jiwa-jiwa prajurit skadron.  Sebenarnya muncul masalah tambahan karena Kepala Dinas Pemeliharaan (Kadishar), yang saat itu menjabat sebagai Pjs. komandan skadron, menolak untuk melepas cantolan tanki (wing pylon) di kedua sayap yang tidak jadi dipakai. Ini menyebabkan konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.  Ternyata “rasa malu” mengalahkan sound judgment, dan para prajurit memutuskan untuk tetap dengan rencana terbang direct Iswahjudi – Baucau, dengan satu tanki cadangan.  

Keputusan itu memang real melanggar ketentuan yang ada bahwa pesawat harus bisa ke landasan alternatif bila gagal mendarat di pangkalan tujuan utama.   Namun para penerbang sudah tahu bahwa apa yang dilakukannya memang salah dan mengambil resiko daripadanya.   Para penerbang sendiri tetap punya rencana cadangan, karena andaikan sampai di point of no return (PNR) atau 12 menit sebelum Baucau ternyata cuaca di Baucau jelek, mereka masih bisa kembali dan mendarat di Denpasar.  Lewat dari PNR, mau tidak mau keempat pesawat harus mendarat di Baucau atau mendarat di tengah tandusnya padang rumput Timor Timur.

Point of no return (PNR) adalah sebuah titik terjauh dari rute penerbangan dimana pesawat masih bisa terbang kembali ke pangkalan keberangkatan dengan jumlah bahan bakar yang ada.

Pada hari “H”, empat Eagles (sebutan untuk penerbang F-5 E/F) mengudara dengan gagah di Lanud Iswahjudi untuk memulai sebuah perjudian.  Flight leader adalah Eagle 03, Kapten Pnb Zeky Ambadar.   Sebagai wingman nomor dua adalah Eagle 07, Kapten Pnb Toto Riyanto.  Wingman nomor tiga adalah Eagle 04, Kapten Pnb Lambert Silooy, dan wingman nomor empat adalah Eagle 05, Kapten Pnb Suprihadi. Sebelumnya pesawat Jet Star yang terbang mendahului sebagai pesawat penginformasi cuaca.  Sepanjang  perjalanan, pesawat Jet Star melaporkan kondisi pada rute yang akan dilalui F-5.  Penerbang Jet Star yang terbang di depan F-5 pada ketinggian  23.000 kaki menginfokan   bahwa  awan tebal menyelimuti selama rute.   Tetapi the Eagles terbang di ketinggian 35.000 kaki cuaca bersih dan lapisan awan ada di bawahnya. Sehingga penerbangan F-5 dalam posisi loose formation, formasi jauh,  sangat menyenangkan.

Menjelang PNR, titik terjauh dimana pesawat masih kembali ke pangkalan keberangkatan, pesawat Jet Star merelay informasi dari Lanud Baucau, ”Cuaca di atas landasan bersih, namun gunung di selatan landasan telah tertutup awan mendung yang bertendensi bergerak mendekat, dan diperkirakan 15 menit lagi akan turun hujan di Baucau”.   Mengetahui kondisi ini, flight leader, Kapten Zeky,  segera bertanya kepada wingman nomor tiga, Kapten Lambert (penerbang paling senior dalam flight), untuk minta saran apakah meneruskan penerbangan atau berbalik arah ke pangkalan alternatif, Ngurah Rai.   Namun Kapten Lambert yang dengan cepat menjawab: ”Follow the leader.”   Walaupun sesaat muncul dilema apakah akan terus menuju Lanud Baucau atau berbalik arah “dengan rasa malu”, Zeky langsung cepat mengambil keputusan.   Dan keputusannya adalah sebuah instruksi nekat dari mulutnya, ”Eagle flight, open power, open power, go!”   Keempat F-5 pun bertambah daya dorongnya dan turun dengan kecepatan tinggi.  Mereka melaksanakan pendaratan dengan rasa was-was, mengingat cuaca di sekitar landasan memang sudah diselimuti awan tebal. 

Keempat Eagles mendarat dengan selamat.    Namun saat bergerak menuju tempat parkir, butiran air mulai berjatuhan yang kemudian berubah menjadi hujan lebat.   Sepuluh menit setelah Eagles mendarat, di udara terdengar raungan dari flight Skyhawk yang berusaha melakukan pendaratan.  Namun karena lebatnya hujan mereka terbang kembali ke Lanud Hasanuddin, Makassar.  Dalam hati Zeky, Tuhan masih sayang kepadanya, juga para penerbang F-5 lainnya.   Andaikan hujan turun dan menutup landasan lima menit saja sebelum mereka mendarat,  maka keempat F-5 sudah pasti hanya bisa meraung-raung di atas landasan, lalu jatuh hancur karena kehabisan bahan bakar dan ditinggal eject para penerbang.

Mengenang kembali penerbangan tersebut, Zeky terbayang betapa besar peran faktor keberuntungan dalam penerbangan langsung Iswahjudi ke Baucau saat itu.  Untungnya poor judgment, kesalahan perhitungan dan pelanggaran prosedur, yang telah dilakukan para penerbang tidak mengakibatkan terjadinya petaka.   Ini adalah akibat pengaruh kebanggaan dan rasa malu yang tidak berdasar.   Bisa dibayangkan bagaimana bila hujan turun lebih cepat dari perkiraan?   Bagaimana bila salah satu Eagles mengalami kondisi darurat setelah melewati PNR?   Bagaimana bila sewaktu mendarat salah satu Eagles  rusak di landasan sehingga landasan tertutup?   Menurut Zeky, beruntung bahwa “Murphy’s Law” tidak berlaku pada penerbangan tersebut. If anything going to be wrong, it will be wrong at the wrong time, artinya jika sesuatu sudah ditakdirkan untuk salah, maka kesalahan itu pasti terjadi pada saat yang salah.   It was a very close call. 


5 Komentar

  1. Day Hidayat Miradz mengatakan:

    Bravo bung Zakky Ambadar anda seorang pembrani terlihat sejak kita di Sekolah Rakyat Karet Tengsin sering tawuran terutama dengan Awang (Alm), Kipit dll. Kita satu sekolah di SR dan di SMA 3 Teladan kita juga satu sekolah . Ingat lawan anda si Jhoni Wong bertarung di tangga sekolah dan kemudian anda ternyata jadi tentara yang berani. Pada saat pengabdian kita bersama satu kesatuan departemen anda jadi Panglima Kohanudnas dan saya pegawai rendahan makanya kita tak pernah tegur sapa. Terakhir ketemu saat acara Golf di Cilangkap itu pun tak bertegur sapa takut tak diakui Ok bravo lanjutkan setelah mengabdi di tentara

  2. Lala mengatakan:

    Seneng sekali baca artikel ini. Congrats Mas Budhi, tulisannya menarik dan enak sekali dibaca. Saya jadi bisa ikut membayangkan seru dan mendebarkannya saat itu, terutama pada saat2 pengambilan keputusan di tengah situasi kritis. Wow!. Bravo buat Zeky Ambadar. Seorang pemimpin yang berani, tegas, tapi juga penug perhitungan. Pesan yang disampaikan pun sangat bijaksana dan bisa berlaku dimanapun dan kapanpun. Thanks!

  3. Lala mengatakan:

    Senang sekali membaca artikel di atas. Congrats, Mas Budhi! Tulisannya menarik dan enak sekali dibaca. Saya jadi bisa ikut membayangkan serunya dan mendebarkannya saat itu. Terutama saat2 pengambilan keputusan dalam situasi kritis. Bravo untuk Zeky Ambadar! Seorang pemimpin yang tegas, berani dan penuh perhitungan dalam menjalankan tugas. Pesan yang disampaikan pun sangat bijaksana dan bisa berlaku dimana saja dan kapan saja. Thanks!

  4. tontje latupeirissa mengatakan:

    Kami bangga dengan perwira “gatotkaca” TNI AU,salam khusus utk putra Maluku “Om Lambert Silooy” kapan lagi ada” Lambert Silooy2″ muda di TNI AU,saya dari kecil cita2 ingin jadi perwira TNI AU,sayang kondisi fisik,dan otak tda mampu,jadi ida lolos test.saya skr umur 48 thn,tapi dari keciL sdh dengar cerita tentang Om Lambert Silooy dari Papi dan Mami.GBU Om !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: