Beranda » Tuhan Punya Rencana - Manusia, Prajurit dan Kehidupan » Tuhan Punya Rencana – Sebuah Catatan Harian

Tuhan Punya Rencana – Sebuah Catatan Harian

TUHAN PUNYA RENCANA

Sebuah Catatan Harian

Budhi Achmadi

 

Untuk putri kecilku tersayang Athiyyah Aura Achmadi dan Keisha Azradina Achmadi,

istriku tercinta Lulu Shelomenti.  Semoga Tuhan kelak memberikan

sebuah rumah mungil yang selalu menjaga cahaya penghambaan diri kita kepada-Nya.

 

Editor

Lulu Shelomenti, SE

 

Desain Cover

Haetami El Rasyid – Hitam Studio 

 

Penerbit

Fajar Pustaka – Yogyakarta 

  

Tentang Rencana Tuhan

 

“Tuhan Punya Rencana” begitulah saya me­mak­nai kehidupan ini. Air laut yang muncrat meng­hem­pas batu karang, debu-debu kering yang be­ter­bang­an, daun-daun yang berguguran, hakekatnya me­miliki nilai yang sama dengan nasib baik dan buruk. Se­muanya tak akan terjadi begitu saja tanpa rencana Tuhan.

Di antara berbagai rencana Tuhan yang telah, se­dang dan akan berlaku bagi manusia, umumnya akan diawali dan diakhiri dalam ikatan keluarga, da­lam ikatan tali perkawinan. Hingga perkawinan telah men­jadi salah satu fase terpenting dalam kehidupan manusia. Perkawinan adalah sebuah titik dimana dua hati terpautkan dalam janji setia sampai akhir nanti. 

Kehidupan prajurit tak beda dengan ke­hi­dupan­ sebuah perkawinan. Ia penuh dengan aturan, penuh­ dengan kompromi. Setiap individu di dalam­nya harus tunduk dan patuh bila ingin hidup bahagia. Ke­hidupan prajurit dan per­kawinan juga memiliki fun­damen yang sama, yaitu kesetiaan. Bila nilai ke­setiaan ini sudah dilanggar, maka kompromi ke­hi­dup­an  yang terbentuk akan tidak ada artinya.

Buku ini awalnya saya tulis hanya sebagai tali asih bagi siapapun yang menyempatkan diri hadir dalam pernikahan saya.  Walaupun sudah lama bergelut dalam dunia tulis-menulis, buku ini memang hanya saya persembahkan untuk pernikahan saya, tentang korelasi kehidupan saya, sebagai manusia dan profesinya.

Saya anggap fase-fase sedari mengenal seorang wanita yang kemudian menjadi istri saya hingga tercipta ikrar setia dalam pesta pernikahan, adalah masa terpenting dalam kehidupan saya.  Maka saya pindahkan beberapa catatan harian yang sebenarnya tidak terlalu rapi dalam buku ini.  

Bila saat ini, buku “Tuhan Punya Rencana” dicetak lebih banyak, maka saya pun tidak berharap untuk laris terjual karena toh saya ingin memaknai buku ini dalam suasana batin saya sendiri.  Dan saya pun mungkin tidak akan rugi karena tercetaknya buku ini kesekian kali adalah bantuan beberapa senior Angkatan Udara.

Memang, sekian kali membaca materi buku ini, maka saya selalu menemui hal yang sama seperti apa yang ditemui beberapa teman yang membaca buku ini setelah saya,  bahwa buku ini sangat natural dalam frame suasana batin saya pada masa tertentu (walaupun beberapa kasus terinspirasi dari pertemuan dengan orang lain ataupun tulisannya), dan ia selalu mampu membuat pembacanya otomatis senyum-senyum serta menjadi cermin yang luar biasa bagi sifat-sifat buruk kita.  Selebihnya sayapun tidak mau memaknai isi buku ini identik dengan lelucon, karena saya menulisnya dengan serius.

Pada akhirnya, apapun yang terjadi sebelum dan sesudah buku ini tersusun, maka saya ingin mengungkapkan bahwa saat ini saya terlalu bangga, karena Tuhan memberi kesempatan untuk senantiasa belajar menjadi suami yang bertanggung jawab terhadap istri dan anak saya.   Last but not least, saya bangga menjadi manusia Angkatan Udara.

 

Budhi Achmadi

 

  1

 

Aku sering bertanya apakah setiap masalah ada sebabnya? Dulu aku ya­kin ada … sebagai­­mana karena cinta maka sepasang muda mudi me­madu janji, karena benci maka seseorang di­sing­kir­kan, karena belajar maka siswa menjadi pintar, ka­rena berprestasi maka­ se­orang prajurit bisa men­jadi pemimpin, dan se­ba­gai­nya.  

Namun kemudian aku justru bimbang, karena banyak pekerja keras yang menderita, banyak orang­ baik dikucilkan, banyak orang pintar yang malah tidak punya status sosial, banyak panglima hebat yang merana di penghujung kariernya dan sebaliknya, orang malas menjadi ke­lom­pok do­minan dari kaum kaya raya dan orang­ bodoh menjadi penguasa.

Sehingga, kini aku sudah tidak begitu yakin lagi dengan rumus sebab akibat itu.   Yang akhir­nya bisa kuyakini, Tuhan ter­nyata telah punya rencana untuk kita semua.

 

2

 

Seorang komandan yang baik belum tentu bisa menjadi kepala rumah tang­ga yang baik. Se­orang direktur yang baik belum tentu bisa menjadi suami yang baik.

Kalau dibalik, seorang kepala rumah tangga yang baik belum tentu bisa menjadi komandan yang baik. Seorang suami yang baik belum tentu bisa men­jadi direktur yang baik.

Suwargo nunut, neraka katut. Demikian kata orang Jawa. Bahwa status istri banyak ter­gantung dari siapa suaminya. Namun demi­kian, istri tidak bo­leh terlalu banyak menun­tut yang enggak-enggak. Mengapa? Karena seorang suami, ayah yang baik, tidak harus dinilai dari status sosialnya?

Apakah tidak lebih baik bila istri hanya mem­beri semangat pada batas kemam­puan suami?

 

3

 

Katanya perkawinan bagi seorang tentara atau pegawai negeri lainnya di negeri ini adalah sebuah harga mati.   Tak seorang pun berani nggak kawin kalau masih mau berkarier dan menduduki posisi puncak.  Repotnya banyak perkawinan yang tidak terikat erat dalam nilai hakiki nan abadi.  Seorang teman yang bijak mengatakan, “Ikatlah perkawinanmu dengan ikatan Ketuhanan, maka akan abadi.” 

Di hari yang lain, seorang teman juga memberi nasehat bahwa perkawinan bermakna ½ tambah ½ agar jadi 1, bukan 1 tambah 1 yang jadi 2. Perkawinan ada­lah kom­promi, bukan me­mak­sakan ke­sem­­pur­naan.   Mengapa?  Seorang suami tiba-tiba menjadi marah saat tahu bahwa istrinya ketahuan tidak bisa masak, tidak bisa mulat salira alias dandan. Lalu dia suka marah-marah dan cari hiburan di luar.

Seorang istri juga sangat emosional setelah tahu bahwa suaminya ternyata bu­kan Gatutkaca, kalau tidur suka ngorok, keri­nget­nya bau, dan sebagainya. Lalu besoknya dia milih tidur sama pembantu.

“Waktu pacaran kamu ngapain aja,”  kata para sahabat menjawab ekspresi te­kan­an batin me­reka yang sudah mencelat keluar tembok ka­mar, tanda komunikasi dua arah sudah menemui jalan buntu.  “Ah kayaknya dulu nggak gini, tapi kenapa sekarang ……” demikian retorika kedua­nya setiap hari, se­tiap ketemu orang. Tidak ada yang menga­lah, juga saling menutupi keku­rangan. Kalau sudah begini pasti gawat jadinya. Ke­tidak­sempurnaan adalah ilmu Tuhan yang se­ngaja men­jadi berkah bagi manusia. Dijadikan sepasang khan berarti agar saling mengisi untuk memulai dan memahami, bukan saling meng­oreksi, menyakiti, dan menyesali.

 

 4

 

“Dia seorang ayah yang baik, penuh kasih sayang, murah hati, dan sangat mencintai anak-anak serta cucu-cucunya.   Setiap hari kami berdoa kepada Tuhan agar dia diberi kesehatan dan keselamatan.”  Demikian disampaikan dua putri mantan pemimpin Irak Saddam Hussein, Raghad dan Rana, menanggapi pertanyaan tentang ayahnya  saat masih menjadi buronan Amerika.

Orang yakin bahwa ini bukan sekedar basa-basi politik.   Dengan pakaian hitam dan kerudung putih keduanya muncul dalam wawancara langsung dengan CNN, hari Jum’at petang tanggal 2 Agustus 2003.  

Tidak sedikitpun dari kedua anak itu mengungkap sisi keburukan sang ayah.   Mereka malah menyayangkan sikap orang-orang terdekat ayahnya yang berkhianat.  “Sangat disayangkan, orang-orang yang begitu dipercaya ayah saya ternyata mengkhianatinya.   Walaupun kita tidak menyukai seseorang, tidak sepantasnya kita mengkhianatinya…….karena itu berarti mengkhianati negerinya…..ayah saya memang kini dicari-cari tentara AS.   Tetapi saya berharap agar suatu saat kami bisa bertemu kembali.”

Seorang panglima perang sekejam apapun setidaknya menyimpan sisi romantis, serta punya nilai moral dan sifat sayang.   Banyak komandan yang kejam di medan tempur ternyata sering ditemukan sebagai sosok religius, meluangkan waktu untuk memasak bagi istri dan anak-anaknya, menjadi sosok yang yang begitu alim dan suami setia, jauh lebih baik dibandingkan tipe manusia lain seumurnya.   Sebaliknya, banyak tokoh yang sekilas nampak memperjuangkan kemanusiaan, HAM, ataupun demokrasi, ternyata tak lebih sosok suami yang pecundang, punya banyak skandal dan sering tak memegang teguh kehormatan nuraninya saat mengalami kondisi kritis dalam karier dan keluarganya.

Seorang pemberontak menulis surat kepada istrinya, “Nama boleh cacat di mata umat manusia namun tidak cacat depan-Nya”.

 

5

 

Bagi prajurit kecil seperti kita, waktu adalah monster yang tidak bisa diajak kom­promi.   Saat bergerak lambat, ia akan seperti keong yang merangkak penuh tuntutan ke­sabaran.  Se­gala sesuatu menjadi tajam dan melukai. Waktu bisa juga menjadi air bah yang menenggelamkan dan mem­buat kita sekarat.

Saat bergerak cepat, waktu memang se­ring mem­buat kita bahagia. Namun demi­kian, ia sering melenakan dan meninggalkan kita. Kita tidak sem­pat membaca petunjuk hidup di setiap per­sim­pang­an yang dilalui. Hingga menjelang hayat tiba, kita tidak tahu lagi kemana waktu telah membawa kita pergi.

 

6

 

Saya lahir dan tumbuh di ling­­kungan ke­lu­ar­ga baik-baik. Untuk mendapat­kan gene­ra­si yang baik, saya menikah de­ngan gadis baik-baik dan ber­asal dari keluarga baik-baik pula. Selan­jut­nya untuk membuktikan bah­wa saya ada­lah me­nantu yang baik, calon ayah yang ba­ik­, maka saya ra­jin bekerja, me­nabung, agar mam­pu mencukupi ke­butuhan keluarga dengan baik. Saya juga berharap su­atu saat bisa membalas ke­baikan orang­ tua, mer­tua, saudara dan para sahabat yang telah banyak membantu saya. Saya ingin mem­buat mereka bangga.

Kemarin, saya belum bisa memberikan san­tunan pada anak yatim karena kebutuhan yang meng­gunung.  Saya belum bisa mem­ban­tu orang miskin, belum bisa ikut kegiatan sosial, karena seribu alasan. Saya memang be­­lum bercita-cita untuk men­jadi dermawan karena masih ingin membahagiakan ke­lu­ar­ga tercinta, istri juga anak.

 

7

 

Suatu saat saya pernah punya jam tangan bagus. Banyak teman mengatakan bahwa jam tangan saya bagus. Dan saya pun mengakui bah­wa­ jam tangan itu memang bagus.

Kemarin jam tangan itu mati dan kata tu­kang jam, jam tangan itu harus diganti seluruh mesin­nya. Karena jauh lebih murah, maka saya setuju de­ngan usul si tukang jam, toh dari luar masih nampak sama seperti aslinya.

Hari ini saya pakai jam tangan itu. Orang ma­­­­sih mengatakan kalau jam tangan saya bagus. Me­reka nggak tahu dan pasti nggak akan peduli kalau da­lamnya sudah tambal sulam, palsu.

Itulah kesan. Suatu hari kita dianggap baik oleh seseorang, biasanya ia akan mengabaikan keku­rangan kita. Suatu hari kita dianggap baik oleh sese­orang, biasanya ia akan menganggap kita sempurna selamanya.

Dan kalau sebaliknya gimana dong, pas kita dianggap jelek? Yah, kira-kira sama juga.

  

8

 

Di suatu gang tinggallah diriku. Di kedua ujungnya ada dua keadaan yang berbeda 180 derajat. Ujung kiri adalah si miskin, dan ujung kanan adalah si kaya.

Setiap hari si miskin berangkat kerja dengan sepeda butut, dan si kaya dengan mobil mengkilap.

Tak ada yang aneh. Saat bertemu, mereka ber­tegur sapa. Bila ada pertemuan RT, mereka pun ber­­­­bincang bersama. Memang, diantaranya tak per­­nah­ ada memberi atau meminta. Tak ada iri atau watak dengki.

Manusia memang sering lupa dengan kodrat dan kewajibannya.Yang kaya menganggap biasa, yang miskin semakin merana dalam bahagia.

 

9

 

Penilaian kualitas kepemimpinan masih identik dengan kata “saat”, walaupun memori manusia sebenarnya hanya mampu merespons sedi­kit dari berbagai “saat” yang terjadi.

“Saat” masih muda dia nurut tanpa reserve, “saat” bertemu dia selalu tersenyum, “saat” ber­simpang jalan dia selalu menyapa, “saat” berunding dia bijak, dan lain-lain.

Maka tidak salah bila bawahan cukup berusaha untuk diingat “saat” kebaikannya terekam pada para atas­an­nya, untuk memacu kariernya. Karena seleksi kepemimpinan dengan metode formal biasanya malah tidak berarti apa-apa dan diabaikan.

 

10

 

Suatu hari di Jakarta, saya bertemu dengan sahabat lama dan terlibat dalam sebuah diskusi intelektual yang mulia. “Wah saya senang de­ngan berbagai macam kegiatan yang sedang kamu te­kuni. Lalu bagaimana rencanamu kedepan, pasti he­bat?” itu katanya. Dengan sedikit membual, saya mu­lai mempresentasikan segala macam idaman yang ada di hati mulai A sampai Z.

“Lalu bagaimana dengan cita-cita kamu sendiri!” sergah saya ingin membandingkan. Sang sahabat melihat jauh ke ujung langit, dan menge­luarkan kata-kata indah yang masih terngiang-ngiang di telinga saya sampai saat ini, “Tuhan telah mem­beri banyak, bahkan lebih dari yang saya minta. Saya sudah takut untuk meminta. Dan sudah tidak ada lagi istilah minta-minta untuk hidup saya di dunia ini.” Saya pun manggut-manggut, sambil mencoba memaafkan diri sendiri yang begitu kufur nikmat, tak tau terima kasih.

 

11

 

Budayawan yang identik dengan ulama, pendeta, biksu, para normal, adalah lambang kedamaian dan kebijaksanaan, sehingga pernah suatu saat saya terlintas untuk hidup dengan cara ini.

Pada akhirnya saya dengan tegas membatalkan niat itu, karena ujung-ujungnya sama juga dengan manusia “biasa” lain. Mengapa? Karena budayawan mau juga pindah profesi jadi Presiden, ikut jadi artis, dan seneng-seneng saja dikasih jabatan empuk.

Ternyata, godaan ada di mana saja, semua profesi sama saja, mau jadi tentara, pilot, tukang batu dan lain-lainnya, yang penting hati dan niat.

 

12

 

Pejuang kemarin, tak mesti selalu pejuang di kemudian hari.

Kurang apa sempurnanya Napoleon saat men­­­jadi prajurit. Seorang panglima setia, loyal, disiplin, dan profil kebanggaan.

Kurang apa hebatnya Fidel Castro. Ia adalah pemimpin perjuangan yang mampu menggulingkan rezim Cuba yang diktator, hanya bermodal awal 50 orang sukarelawan.

Masih ada lagi nama-nama seperti Saddam Hussein, Idi Amin, Mussolini, Hitler, dan sebagainya.

Pada masa mudanya, mereka adalah para pe­muda briliyan, idealis, revolusioner, dan pejuang hak-hak orang banyak. Namun mengapa mereka justru hidup dalam pribadi yang mengenaskan, dan dihujat orang banyak di kemudian hari? Bukan karena jahat tentunya, karena sebelumnya toh mereka adalah orang-orang baik-baik. Mereka hanya telat mening­gal, itu saja masalahnya.

 

13

 

Suatu hari John F. Kennedy muda duduk-duduk di café bersama ayahnya. Tiba-tiba, lewat seorang gadis yang aduhai cantiknya di hadap­an mereka.John lalu berbisik kepada sang ayah, “ Dad, kenapa kamu dulu tidak cari istri yang seperti gadis itu?”

“John…” kata Kennedy tua sambil tersenyum penuh rasa damai, “Wanita cantik dan seksi seperti itu bisa kamu temui di tepi jalan. Namun ibumu adalah wanita mulia, pilihan terbaik buatku dan hanya dia yang mampu melahirkan orang hebat seperti kamu.” John lalu ngeloyor pergi menelfon ibunya, minta dicarikan jodoh.

 

14

 

Kalimat mutiara untuk anak-anak seperti  today a reader tomorrow a leader, rajin pangkal pandai, ataupun hemat pangkal kaya, se­benarnya bermaksud mengajak kita agar selalu ber­buat baik. Namun, kalimat-kalimat tersebut ter­nyata banyak menjerumuskan saat mereka menjadi dewasa.

Untuk berikutnya, kalimat itu harusnya diganti dengan yang lebih bijak seperti, membaca adalah bagian dari iman, rajin adalah bagian dari iman, dan hemat adalah bagian dari iman.

Bila kelompok pertama membicarakan masa­lah ambisi, maka yang kedua berbicara masalah ketundukan.

 

15

 

Ini adalah harga sebuah kesetiaan.

Di masa dulu ada sekelompok pemuda yang bernama Ashabul Kahfi. Mereka adalah ke­lompok pemuda taat yang dikejar-dikejar oleh raja­nya yang kejam. Syahdan, kemanapun mereka pergi selalu ditemani anjing setianya.

Suatu hari mereka berlari menuju gua. Dan Tuhan menidurkannya selama ratusan tahun untuk me­­nyelamatkannya. Dan saat terbangun, mereka me­­nemu­kan anjingnya yang setia tinggal seonggok tulang belulang, menemani sepanjang tidurnya. Ke­se­tiaan si anjing tercatat abadi dalam kitab suci.

Di dekat jalan raya yang menghubungkan Probolinggo dan Lumajang ada desa bernama Wo­no­rejo. Di sana terdapat makam Minak Koncar, Adipati di jaman Mojopahit. Makam itu sederhana, tanpa atap dan tinggal berbalut batu bata. Di kaki makam ada lukisan anjing setianya. Minak Koncar pun ternyata paling mengenang kesetiaan anjingnya, bukan manusia di sekitarnya.

 

16

 

Dalam dunia militer, penelitian merupakan pekerjaan yang maha sulit dan maha pen­ting, bahkan dibanding dengan kegiatan operasi perang sekalipun. Namun dalam sejarah tentara dari jaman Marathon sampai Perang Teluk, pekerjaan yang lahir dan besar di atas meja tersebut tidak per­nah bisa menjadikan empunya menjadi pemim­pin besar seperti para komandan lapangan. Se­hing­ga bidang ini kurang diminati oleh para perwira muda.

Meminjam falsafah tukang kayu, lebih baik berkeringat sedikit daripada mikir berhari-hari.

17

 

Memang mengenaskan, nilai luhur semacam kebijakan walaupun bisa dikenang dalam waktu yang lama namun selalu berada dalam posisi kalah dalam setiap jaman.

Nilai kebijakan yang telah identik dengan perasaan mengalah, yah paling banter berakhir de­ngan win-win solution, bahkan lebih sering tergencet dengan siasat kehidupan lain yang sudah berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Orang akhirnya lebih suka menjadi cerdik daripada bijak. Apalagi di jaman sekarang. Bila pelaksanaan strategi masih berpegang tata nilai hitam putih, yo pasti KO. Akhirnya bila sudah kepepet, maka licik pun menjadi pilihan, why not?

 

18

 

Tua…apa yang terjadi bila kita tua? Masihkah kita suka marah-marah, berulah, seperti saat kita muda? Masihkah kita melangkah tegap, berbicara lantang, bersikap tegas seperti se­belumnya? Mungkin kita tidak perlu risau dengan masalah ini. Yang menjadi dilema, akankah kita diacuhkan seperti saat kita berkuasa, saat kita masih perkasa?

 

19

 

Beberapa waktu lalu, para mahasiswa Yogya     yang tinggal di daerah Tambak Bayan Yogya, mengungkapkan kekesalannya dengan kegiatan terbang malam di Lanud Adisutjipto. Mereka bilang pesawat-pesawat yang lalu lalang membuat bising, ngganggu orang belajar, polusi telinga, dan lain-lain. Mereka menuntut agar kegiatan tersebut dihentikan, kalau perlu Lanud-nya dipindah.

Dalam hati saya bertanya, kalau mereka yang terjun ke jalan modelnya seperti ini, Indonesia mau dibawa kemana?

Seperti halnya tentara, mereka pun tentunya ada juga yang nggak sempurna. Maka sikap saling memahami dan menghormati ketidaksempurnaan itu harus ditumbuhkan.

Ojo mung waton ngomong, Mas.

 20

 

Winston Churchill muda mengajukan pensiun dini dari tentara, masuk gelanggang politik dan gagal. Dia lalu memilih menjadi war­tawan pe­rang dan membuat buku teori perang. Setelah buku­nya laris dibaca orang, dia masuk ge­langgang politik lagi dan ber­hasil. Sehingga dia menulis pendiriannya yang ter­sohor “Jalan terbaik mem­buat sejarah adalah dengan menulis.”

Jendral Charles De Gaulle juga memulai perj­alanannya menuju kursi kepresidenan Perancis dengan menulis, yaitu buku Mata Sebuah Pedang di tahun 1932 dan Tentara Masa Depan di tahun 1934.

Di Indonesia, seseorang akan menulis bila ber­cita-cita menjadi penulis. Seorang penulis profesio­nal berusaha mendapat duit besar dari kontrak tu­lisan. Bila sudah dapat duit, maka dia akan beli rumah, mobil, dan bersenang-senang.

Kalaupun ada pemimpin yang ingin menulis, mereka tinggal membayar orang untuk menulis.

Tahu khan bedanya? Kalau  tokoh sebesar Churchill dan De Gaulle bermental baik, sedangkan kita tidak.

 

21

 

Saat terbangun jam 1 pagi, rasanya pengin segera ambil air, cuci muka, lalu berdoa. Namun kantuk ternyata lebih nikmat daripada hal mulia tersebut. Yah, tidur lagi lah…..

Empat jam kemudian saat kita terjaga oleh suara kokok ayam jantan, rasanya menyesal kenapa nggak beberapa waktu lalu bangunnya. Lalu sambil bermalas-malas, berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari tempat tidur. Miring kiri, miring kanan, keruntelan dalam bantal, duduk di pinggir kasur, rebah lagi, telentang, dan saat melihat keluar, ternyata sinar matahari sudah menyala dan kita harus terburu-buru berangkat ngantor. Nggak sempat berdoa.

Yah, gimana lagi. Itulah kehidupan kita, yang penuh dengan penyesalan, malas, menunda-nunda pekerjaan, santai-santai.

Bila tak pandai-pandai mencari cermin hidup, yah hal tersebut di atas akan berlaku seterusnya.

 

22

 

Loyalitas itu sama dengan kesetiaan cinta, kalau nggak dihayati bisa rugi sendiri.

Seorang prajurit rela berdiri berpanas-panas, hormat kiri-hormat kanan, lari-lari sepanjang hari sampai lupa makan, lupa ibadah, menomor duakan istri dan anak, untuk bisa disebut loyal. Seorang pacar rela menunggu berjam-jam sampai nggak mandi, telat ngantor, nggak keluar-keluar rumah, nggak mau bergaul, agar disebut setia.

Lho apa salah bila itu dilakukan, toh tujuannya baikkhan? Baik sih baik, tapi Tuhan mau di taruh di mana? Mereka loyal untuk siapa? Hidup mereka mau diarahkan ke mana? Tentunya mereka tidak pernah siap menjawab model pertanyaan ini.

 

23

 

Jendral Sudirman mengatakan bahwa loyali­tas ada lima arah, yaitu kepada kawan, lawan, atasan, ba­­wahan, dan terakhir The supre­me loyalty kepada Tuhan. Kelima kesetiaan ini, saya ra­sa tidak hanya sebagai doktrin tentara, namun su­dah bisa dipakai sebagai filsafat hidup bangsa.

Hanya saja, kita mungkin akan sering bingung, de­ngan cara apa kita bisa loyal dalam situasi yang ser­ba tidak standar seperti sekarang ini. Pengin baikan sama orang tapi dimusuhin terus, pengin de­kat sama atasan ternyata hobby-nya lain, pengin ngasih ke anak buah tapi duit darimana, banyak ibadah malah ter­kesan ekstrimis, dan lain-lain.

Setelah lama berpikir, maka dalam hatilah kita me­ne­mukan jawabannya. Loyalitas bukan saja ada pa­da yang nampak, namun kedalamannya justru ter­gantung pada akar yang ada di hati. Seorang yang ber­hati teguh lagi jernih, akan menyatukan kelima nilai itu tanpa ada rasa bingung dan ragu.

 

24

   

Kita pasti sering terkejut, kaget setengah mati, bahwa perjalanan kita dari titik ke titik, ternyata jauh lebih banyak berisi takdir yang mengerikan, kesedihan, kemelaratan, dan rintangan. Hingga ada orang yang sampai mencoba bunuh diri karena nggak kuat untuk melewati itu semua.

Ibaratnya kehidupan ini adalah sebuah perjalan­an yang sudah pasti menganut tiga unsur pertanyaan, yaitu dari mana, lewat mana, dan menuju ke mana. Pernahkah kita ingin tahu apa sebenarnya akhir dari perjalanan yang melelahkan ini? Banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa hidup kita memiliki tujuan sendiri-sendiri. Karena ketidaktahuan itulah akibatnya pas kena cobaan yang berat, kita cepat mutung, patah semangat, dan nggak mau hidup lagi.

 

25

 

Wah, gawat deh kalau punya menantu penerbang, pacarnya dua kontainer.”

“Wah, bintang film apalagi, bisa makan hati, di setiap tempat dia bisa kena cinlok.” “Punya menantu pelaut? Enggak deh, mana ada pelaut yang baik di muka bumi ini. Dua jenis manusia di atas, sama juga sifatnya dengan para artis, pengusaha, para pejabat, ….”

Inilah retorika-retorika yang terjadi saat be­berapa ibu-ibu ngerumpi di sebuah beranda rumah.

Eh, tiba-tiba saja Si Bimo, anak tetangga yang ge­de, tinggi, dan penerbang tempur itu, melintas di d­e­­k­at mereka…dan menyapa, ”Selamat sore ibu-ibu!”

“Aduh…sudah gagah, sopan lagi ….. coba aku pu­nya anak perempuan” kata mereka.

Itulah kehidupan, kadang-kadang orang tidak me­rasa bahwa setiap kalimat yang keluar dari mu­lutnya telah menjadi anak panah yang terlepas dari busurnya, melesat cepat dan tidak pernah kembali. Dia bisa membuat menang, tapi sebaliknya bisa pula membuat orang jatuh, tersungkur, lalu mati.

Anehnya, hanya sedikit saja yang menyadari bahaya ini. Karena, walaupun akhirnya si pemanah kata bisa mencipta lagi kalimat sehalus sutra, bagi sebagian orang hal itu tentunya sudah tidak ada arti lagi.

 

26

 

Banyak orang yang memiliki kelebihan dan daya nalarnya jauh melompat ke depan, biasanya akan banyak dapat masalah dengan orang di sekitarnya. Mereka bisa dicuekin, dihina, bahkan sampai dibunuh.

Saat Einstein masih berumur 10 tahun dan gagap, orang malah menuduhnya sebagai anak terbelakang mental. Padahal saking cepatnya daya nalar yang ada di otaknya, lidahnya sangat sulit untuk mengimbangi.

Hal inipun dialami oleh orang-orang besar seperti Muhammad, Yesus Kristus, Musa, dan Daud yang banyak mendapat problem karena kelebihannya.

Sehingga bila dianalogikan dengan kehidupan kita yang jarang dapat problem, kita harusnya bertanya, “Kita ini model manusia apa, dan dimana kelebihan kita?”

 

27

    

Bisa disebut aneh bila Lyndon Johnson, Presiden Amerika itu, masih sempat mengeluh bahwa dirinya kurang terlalu kharismatik di mata rakyatnya. Sehingga dia sering mengadakan diskusi untuk memperbaiki citra dirinya.

Ini patut ditiru lho. Karena selama ini kita me­nganggap bahwa orang yang sudah bisa mencapai puncak adalah selalu sosok yang berkharisma. Belum tentu khan!

 

28

    

Dalam berbagai persoalan, kita yang tentara ini tidak bisa terlepas dari masalah ritus budaya. Mau latihan kita selametan dulu, tiap malam 1 Suro kita tanam kepala kerbau, dan sebagainya.

Lalu ada beberapa yang bilang, “Wah primitif itu, haram, aku menolak bulat-bulat.” Saat kegiatan itu tetap dilaksanakan, diikuti dengan doa bersama bagi yang mau hadir, mereka yang anti itu malah nggak ngantor, mbolos. Besoknya pas masuk, masih juga belum terima, membodoh-bodohkan yang hadir, ngajak berantem, ngelawan atasan, dan begitu terus selanjutnya.

Lho, sekarang siapa yang primitif?

 

 29

    

“Awas lho mas jangan aneh-aneh, ingat keluarga di rumah,” kata seorang istri yang ditinggal suaminya dinas luar, dalam pembicaraan per telfon. “Ah, saya nggak pernah aneh-aneh, khan kamu tahu,” kata suami. “Tapi teman-teman khan bi­sa mempengaruhi mas,” kata istri lagi. “Itu khan me­reka, sedangkan mas khan lain,” suami berusaha meyakinkan. “Lho yang lain apanya mas…” lanjut sang istri, memburu.

Baik dan buruk, tinggi dan rendah, memang perlu pembanding. Demikian juga dengan kehi­dupan ini. Seseorang akan terlihat baik bila orang lain bertingkah laku buruk. Seseorang akan terlihat tinggi bila orang lain berposisi lebih rendah.

Celakanya, kita sering salah dalam memilah kata hingga temanya menjadi, “Untuk menjadi baik maka orang lain harus diburukkan, dan untuk menjadi menjadi tinggi maka orang lain harus direndahkan!”

 

30

 

Kesejahteraan adalah hak dan semua  orang tahu itu. Namun dalam situasi seperti sekarang, tentunya sangat susah memberi jabaran yang pas tentang arti kesejahteraan. Apalagi untuk seorang atasan. Dengan gaji yang cuman beda 100.000, mereka harus mampu jadi boss. Nggak usah diumumin, mereka terpaksa harus nraktir dan ngasih duit bila ketemu anak buah, ngasih sangu bagi yang mau sekolah ataupun nikah. Nah, uang darimana? Ya kalau atasannya kaya, kalau miskin?

“Wah nggak mungkin, komandan itu pasti kaya,” kata si bawahan. Nah, susah khan jadi atasan.

 

31

 

“Ojo piya piye Oskadon pancen oye”

Kalau mendengar kalimat ini, kita pasti akan tertawa melihat gaya dalang kondang Ki Mantep Sudarsono yang sedemikian lucunya. Namun juga sakit hati, jealous. Lha, wong cuman ogal-ogel nggak ada satu menit, bayarannya kok segunung langit.

Pas pulang ke kampung kemarin, saya juga ketemu sama Pak Pendeta di depan gereja seberang jalan. Nah, dia kerja khan malah nggak dapat gaji. Juga dengan ustadz di mushola.

Mereka nggak ngiri tuh ama pekerjaan orang lain.

Jatah kita ternyata memang tidak bisa diambil semuanya di dunia, itu saja sebagai hiburan. Sebagian ada yang nampak dan sebagian yang lain tidak. Sebagian berwujud materi, yang lain berwujud kedamaian dan keselamatan.

 

32

 

Suatu pagi saya mengajak anak dan istri melihat-lihat Telaga Sarangan, yang dipenuhi banyak pengunjung setiap hari libur.   Saat duduk-duduk di halaman villa milik kantor, ada seorang ibu tua dengan gendongannya duduk “ngesot” di depan kami.  “Bu sampun niki ditumbas sangang ewu mawon.” (Udah Bu semua ini dibeli sembilan ribu saja), katanya sambil membuka isi gedongannya yang berisi tumpukan wortel dan sayur segar.

Saya sempat tercenung melihatnya.   Kemarin sore, saya dan istri beli wortel untuk buat jus kesukaan anak di supermarket kota, ternyata uang tiga ribu hanya dapat empat biji.   Ibu itu mengganti uang sembilan ribu kami dalam jumlah lima kali lipat dari apa yang didapatkan kalau beli di supermarket, bila diukur dengan nilai uang yang sama.  Katanya si ibu, yang penting ada uang untuk membeli beras sudah cukup baginya.

Serta merta saya menoleh ke istri, “Ca (Cayang), Tuhan Maha Besar ya, bahwa keikhlasan itu justru dimiliki orang-orang yang secara fisik ataupun materi begitu kekurangan.   Kita ini sudah diberi pekerjaan tetap tapi tetap saja sering merasa kurang.  Kita dan teman-teman sering mengeluh selalu kurang karena hanyalah tentara.  Tapi si ibu ini tidak mengucapkan keluhan apapun pada Tuhan walaupun tak memiliki apa-apa.”

 

33

 

Untuk merubah doktrin diperlukan waktu lama, minimum 9 tahun. Dan semuanya harus melalui proses,” kata seorang panglima perang di atas panggung.

Lalu ada seorang prajurit culun yang merang­sek ke depan dan berteriak kepada seluruh pasukan, “Saya, prajurit rendahan ini bisa merubah dan menciptakan doktrin baru yang sempurna dalam dalam waktu 24 jam dengan satu syarat,…..”

“Sebutkan syarat itu,” kata sang panglima geram. “Syarat itu tiada lain agar Bapak mundur dulu dari panggung ini.”

Keadilan, penegakan hukum dan aturan terkadang sangatlah mudah di tingkat bawah, karena ia hanya mengikat kelompok-kelompok yang lemah.  Namun pada strata tertentu, kemustahilan justru tak bisa dielakkan.

 

34

 

Karena ada Nobody’s perfect, maka ada No community’s perfect. Tak ada orang yang sempurna, demikian juga dengan sebuah kelompok manusia. Istilah “oknum” pasti ada di semua lingkungan kerja.

Dulu saya sempat mengagumi wartawan  yang dalam otak saya, semuanya adalah jenis manusia kutu buku, idealis, motor reformasi, dan cocok dijadikan penasehat masalah sosial kenegaraan.

Lha ternyata, kemarin temannya teman saya protes, minta keluar, karena masalah gaji. Ada lagi temannya teman saya yang lain melakukan demo me­nuntut perbaikan kesejahteraan. Terus ada lagi yang terlibat bikin majalah nggak bener. Oalah, ter­nyata podho wae…..hitam putih ada di mana sa­ja. Nggak peduli di biara, di pesantren, di kuil, pasti saja ada salah satunya yang bikin ulah.

Demikian juga tentara, tidak semuanya kasar dan keras. Pada dasarnya mereka baik, atau sudah berusaha untuk baik minimal. Namun demikian, mereka juga termasuk No community’s perfect khan?

 

35

 

Beberapa sejarawan tertawa membaca penggambaran kisah George Washington yang mampu berdiri tegak di atas perahu dan meng­geng­gam bendera Strips and Stars, me­nye­berang Sungai Delaware. Padahal arus sungai itu gedhe dan kenceng sekali. Mereka menganggapnya terlalu mengada-ada.

Di Indonesia, semua patung dan foto pahlawan nggak ada yang nggak tegap dan berotot. Padahal mereka dulu hanya makan nasi gaplek dan jarang mandi.

Sejarah memang selalu bersifat subjektif, kadang berlebihan. Herannya, subjektivitas sejarah itu kini menjadi bisnis yang menjanjikan bagi para penulis kita.

Siapa berani bayar mahal dan berani menang­gung malu?

 

36

 

Peristiwa berdarah di Ambon dengan cepat   menutupi peristiwa pembunuhan massal di Sambas. Peristiwa di Sambas telah menutupi pem­bantaian di Situbondo. Tragedi di Situbondo telah menutupi tragedi Priok. Tragedi Priok telah menutup tragedi di Aceh, dan seterusnya.

Hingga pada akhirnya, setiap orang mem­biarkan segala sesuatunya terjadi dan berlalu. “Sudah biasa,” katanya.

 

37

         

Sebagian orang, dengan tekun belajar berbudi bahasa lemah lembut agar tidak sam­pai menyakiti hati orang lain, sedangkan yang la­in tidak.

Sebagian orang belajar sayang menyayangi se­sama, namun ada sebagian yang tidak.

Sebagian orang dengan sabar mencoba mampu mengendalikan emosi, sedang yang lain tidak.

Itulah dunia kita, yang selalu ada dua sisi. Walau banyak perbedaan, kita harus dengan jiwa besar menikmati idealisme masing-masing. Mereka yang sudah menempati tempat yang mulia harus mampu konsisten menghadapi segala cobaan.

 

38

 

Selasa Malam, 27 Juni 2000 pukul 20.15 adalah saat yang mengesankan. Saya sedang  melintas di sekitar kota Madiun, memanjatkan doa dan tiba-tiba melihat ada bintang jatuh di atas Gunung Wilis. Lalu saya panjatkan doa lebih banyak lagi, yang sampai sekarang masih terpatri di kepala saya. Pokoknya serius banget pada saat itu. Kata orang-orang, berdoa lalu ada bintang jatuh, pasti mujarab, 100 % dikabulkan oleh Tuhan.

Lho khan takhayul? Khan menyekutukan Tuhan? Yah, walaupun ada banyak hal yang di cap takhayul, ternyata toh kita masih sering percaya, membutuhkan, dan melakukannya. Yah, setidaknya kita akan menyadari bahwa keajaiban Tuhan pasti selalu ada dan terjadi dalam hidup kita.

 

39

 

“Hari ini adalah hariku yang terindah sepanjang masa,” kata Parto setelah ber­hasil menyunting Siti sebagai istri.

Setahun yang lalu, saat Parto berhasil memikat hati Siti, dia juga mengatakan hal yang sama.

Dua tahun yang lalu, saat Parto dapat kerja, jadi prajurit, dia juga mengatakan bahwa hari itu ada­lah hari yang paling bersejarah bagi hidupnya.

Dalam suasana riang, manusia memang lebih gampang untuk menjadi lupa diri.

  

40

 

Saya takut setengah mati saat nonton film Final Destination , yang bercerita tentang usaha beberapa remaja untuk melepaskan diri dari takdir kematian. Film yang sangat pas untuk mengi­ngat­kan kita agar selalu siap menerima kematian. Karena bila sudah harus datang, nggak ada lagi tempat yang aman bagi kita.

Untuk menghindari kengerian film itu, saya cukup tutup mata dan bila tens adegan sudah turun saya nonton lagi, lalu merem lagi……melek lagi, sampai film selesai dan saya hidup normal lagi seperti sebelumnya.

Itulah kita, sering menganggap enteng petunjuk kehidupan dan tanda-tanda kekuasaan Tuhan.

Memang sih, kita sering takut dan ingat kare­nanya. Tapi biasanya hanya sebentar lalu lupa diri lagi.

 

41

 

Seorang taruna sudah pasti akan lebih bangga melihat seorang Kapten yang masih memiliki postur badan yang kekar tanpa peduli bagaimana kualitas intelektual sang Kapten. Seorang perwira tinggi pasti akan lebih senang dibantu oleh Kapten yang pintar lagi cekatan, daripada yang berfisik baik tapi bodoh. Seorang komandan lapangan pasti akan aman bila memiliki Kapten yang tidak aneh-aneh walaupun tidak jenius, daripada yang jenius tapi aneh-aneh. Seorang senior pasti akan senang bila seorang yunior selalu tahu apa yang perlu dilakukan untuknya.

Sebagai bawahan, ngikut, manut, patuh, nggak melawan arus adalah cara tepat untuk mengalahkan kebingungan dalam mencari bentuk loyalitas yang tidak memiliki standarisasi yang pasti.

 

42

 

“Kalau nggak suka, diam!”

Walaupun terkesan kasar, kalimat di atas mengandung filosofi yang sangat dalam.

Pada saat hati kita lagi emosi, lagi panas, hen­daknya diam memang menjadi pilihan yang te­pat. Emosi memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia bah­kan bisa menghancurkan seluruh isi dunia dalam satu detik. Maka dengan diamlah semua itu bisa teredam.

Diam juga berarti tunduk, belajar membuat diri kita patuh pada kendali diri sendiri.

 

44

 

Modalnya nikah, untuk laki-laki adalah tanggung jawab, untuk istri adalah kesetiaan. Hal ini yang mendasari mengapa laki-laki bisa punya istri banyak, sebaliknya istri nggak boleh. Inilah petuah seorang sahabat, saat berkonsultasi tentang rencana pernikahan saya.

Kemudian terdengarlah sebuah kalimat yang indah……” Jadilah suami yang bertanggung jawab atas istrimu, karena bila ada Tuhan kedua yang boleh disembah oleh seorang istri…..Dialah kamu suami.”

 

45

 

Keberhasilan Adalah Hasil Dari Kesabaran,  Ketekunan, Dan Kesetiaan.  Kalimat ini adalah judul buku yang dimiliki oleh seorang teman di Yogya.

Setelah meneliti buku itu, ternyata ia memiliki akar kesalahan yang dalam, sama seperti kebanyakan buku petunjuk hidup aplikatif lainnya.

Kebanyakan penulis belum sudi memikirkan bahwa bentuk dan waktu keberhasilan yang di­ingin­kan manusia, sering datang setelah kita menghilang dari dunia ini.

 

46

 

Saya dulu iri dengan Eep Syaefullah yang sudah berani berbicara masalah kenegaraan di usia muda, tampil sana sini, wah laris banget omong­annya. Sedangkan kita yang di tentara ini ma­sih menunggu sekian tahun ke depan, itu pun bila kesempatannya ada atau dikasih.

Namun setelah lama mengamati, saya akhirnya tidak pernah lagi mengagumi Eep. Dan bangga pada teman-teman saya yang tentara. Mengapa? Ka­rena untuk belajar santun dan setia, ternyata jauh le­bih sulit dibandingkan belajar bicara.

 

47

 

Di Barat, orang sering heboh dengan tulisan futurolog semacam Alvin Toffler dan John Naisbitt yang berbicara tentang masa depan umat manusia.

Di Indonesia, orang juga sering heboh dengan tulisan Jayabaya dan Ronggo Warsito yang juga ber­bi­cara tentang masa depan manusia.

 

48

 

Orang muda seperti kita, mungkin akan terharu dengan peran yang dimainkan oleh Ethan Hawke dalam Snow Falling On Cedars. Bagaimana dia yang jurnalis harus berhadapan dengan 2 pilihan, menemukan bukti ketidakbersalahan Kazuo Miya­moto dalam sebuah perkara pembunuhan, atau di­am dan Kazuo mati. Sementara Kazuo adalah ­orang yang merebut kekasih yang masih dipujanya dan berasal dari bangsa yang menyebabkan tangannya buntung satu.

Bila Ethan adalah kita, rasanya film itu tak akan berakhir happy ending buat Kazuo.

Hal bijak seperti di atas, memang sebaiknya belajar dari film, karena kita sudah nggak mungkin belajar dari kehidupan sehari-hari.

 

49

 

Banyak pasukan berangkat ke medan pertempuran atas dasar dan demi demokrasi, juga keadilan. Namun sampai di tengah medan perang, justru banyak prajurit kehilangan tuntunan moral untuk selalu mengibarkan bendera keadilan dan demokrasi.

Untuk yang satu ini, para komandan tidak bisa me­lepaskan tanggung jawab moralnya. Sehingga para prajurit harus cukup bekal, baik lahir maupun bathin sebelum mereka benar-benar turun ke medan perang.

 

50

 

Dalam masa krisis nasional, orang mengambil    kesempatan untuk menulis pengalaman-pengalamannya dengan cara yang sangat sentimentil, seakan-akan dia benar-benar ikut dalam setiap peris­tiwa penting.

Orang-orang seperti inilah yang bertanggung jawab dengan rusaknya kemurnian sejarah.

 

51

 

Lupa mengandung konotasi yang amat dalam, apalagi bagi prajurit Angkatan Udara. Apapun bisa terjadi karena lupa. Sehingga kata “lupa” harus selalu kita perhatikan.

Siapa yang tidak tahu kehebatan Gatut­kaca, ksatria sakti mandraguna kebanggaan kita. Beliau tewas karena lupa. Lupa memakai baju kotang anta­kusuma yang anti tembus senjata lawan.

Ada lagi lupa lain yang sangat gawat yaitu, lupa diri, lalu lupa ingatan, lupa mandi, lupa pakai baju, dan lain-lain.

Maka dimanapun kita, mari berperang dengan lupa.

 

52

 

“Saya akan pecahkan rahasia di dalam lautan, sambil bermain-main dengan keong kecil di pantai,” kata Isaac Newton. Kok bisa?

Banyak orang berhari-hari nggak makan karena harus lembur kerja, kejar setoran. Sebagian lagi mengisolasikan diri agar mampu menemukan ru­mus-rumus baru dalam dunia sains. Banyak ba­wahan selalu pulang larut agar bisa mendapat hasil kerja sempurna. Mereka terlalu terbebani dengan urusan dunia.

Padahal sampai mati pun, mereka tak akan mampu menguasai ilmu dan kesempurnaan Tuhan yang seluas mata memandang. Kenapa mereka nggak bisa sedikit rileks, menyeimbangkan diri dengan alam.

Yang terpenting adalah menghidupkan ke­hidupan, bukan membebani kehidupan. Kalau orang­ Barat bilang, live your life! Bukan enjoy your life.

 

53

 

Kadang-kadang sebagian dari kita banyak yang terlalu jatuh cinta, sehingga siang malam nggak ada pikiran lain. Hal ini juga terjadi pada seseorang yang terlalu jatuh cinta pada masa depan nasib.

Setiap hari kita terlalu risau kepada masa depan nasib. Hingga kita bekerja siang malam, belajar siang malam, loyal siang malam, dan lain-lain, untuk di­kor­bankan pada masa depan nasib.

Mereka lupa bahwa eksistensi masa depan na­sib­ sebenarnya tidak pernah berubah. Dicintai atau tidak, sama saja. Nasib tetaplah sebuah titik, ruang, atau bentuk yang tak tersentuh, tak terasa, dan tak terlihat.

 

54

 

Membayangkan proses penciptaan Tuhan atas alam semesta, tentunya sangat mu­dah bagi seorang penulis. Tentunya bila diambil analo­gi yang sama.

Seperti menyusun naskah, penulis sudah meng­gariskan awal, isi, dan akhir cerita yang di­rekanya. Penulis juga telah menciptakan setiap peran yang ada di dalamnya. Bila tidak suka, penulis dengan mu­dah merobek beberapa halaman yang tidak di­kehendaki dan menggantinya dengan cerita baru.

Bila kita setuju dengan analogi di atas, kita pasti me­nyadari bahwa setiap kejadian hidup telah menjadi rekaan pencipta.

Lho, terus bagaimana? Berarti kita sudah tidak per­lu ngapa-ngapain lagi, nggak usah berdoa, nggak usah kerja, karena peran kita sudah digariskan. Nah, bingung khan?

Hanya orang yang yakin 100%, yang tidak bingung.

 

55

    

Banyak orang yang hidup dengan suatu cacat, mengeluhkan kekurangan itu sepan­jang jalan hidupnya. Namun ini tidak berlaku bagi Simon yang terlahir kerdil. Justru ketidakbiasaan, cacat yang dimiliki, dia anggap sebagai keajaiban Tuhan yang harus diterimanya. Dia percaya bahwa Tuhan akan menjadikan cerita hidupnya lebih besar dari manusia biasa lain, karena kekurangan yang dia miliki.

Dan ternyata benar adanya, keajaiban tidak selamanya terbungkus keindahan dan kejayaan, namun bisa dalam bentuk cacat dan kekurangan.

Semua kejadian punya tabir yang hanya akan tersingkap dengan keyakinan. “Jagalah selalu, agar Tuhan berada di dekat keyakinanmu….” pesan Simon.

 

56

    

Dalam suasana yang penuh keterbatasan, mengapa sebagian dari kita justru lebih di­un­tungkan dan dimudahkan?

Tentunya tidak mudah menerima kenyataan ini bagi kita yang katanya sedang berperang melawan ke­­ter­belakangan, KKN, dan segala bentuk penye­le­wengan.         

Enaknya bagi bawahan, keterbatasan mem­buat atasan sedikit sungkan untuk terlalu banyak me­nuntut mereka.

Enaknya buat para pemimpin, dengan alasan keterbatasan, mereka bisa berkelit dari tuntutan anak buahnya.

Dalam tingkat kehidupan yang seperti ini di­per­lukan seorang pemimpin yang berhati jernih dan mampu memilah di mana rambu-rambu keter­batas­an itu harus ditempatkan.

Di tingkat bawah, loyalitas menjadi jamin­an suksesnya roda organisasi.

 

57

    

Karena kita banyak dosa, mari kita mati bersama-sama!” Semua orang yang sedang sujud sholat Jum’at pun terkejut mendengar teriakan yang juga berasal dari antara mereka yang ada dalam masjid Lanud El Tari Kupang itu. “Manusia celaka… manusia celaka… ” teriaknya lagi saat 2 orang anggota provost membopongnya ke luar masjid.

Orang gila memang ditemukan dimana saja.  Kita nggak perlu pusing-pusing mikiran jenis orang seperti di atas. Masalahnya sekarang, sudah yakinkah kita bahwa dia gila dan diri kita tidak gila. Karena dari banyak literatur yang pernah ada, manusia di abad kita telah masuk ke sebuah saat yang penuh kegilaan. Hal ini memiliki efek negatif bagi mereka yang tetap bertahan pada tata nilai luhur. Mereka yang lurus malah terkesan gila, karena berbeda.

Lho, jangan-jangan orang itu yang tidak gila?

 

58

    

Jendral Douglas Mac Arthur suatu hari duduk termangu di ruang kerjanya yang mewah di pusat kota Tokyo. Masih jelas dalam me­mori otak­nya bagaimana gemilang perjalanan pres­tasinya di medan pertempuran, hingga bangsa Jepang pun menyem­bahnya.

“Di dunia ini orang tak akan pernah menjadi tua bila ia memiliki idaman, cita-cita, sema­ngat­ ……,”­ begitu awal coretan kecil yang dibuat di atas kertas kerjanya.

Beberapa detik kemudian, saat tersadar dari lamunannya, buru-buru ia merobek kertas itu dan mu­lai menulis lagi, “Oh Tuhan betapa merananya bi­la hidup ini dikejar-kejar idaman.”

 

59

    

Masuk dalam dunia bisnis, dunia politik, ngurus negara, kata orang sama saja dengan masuk WC, yang hanya berbau busuk bila kita ada di luar.

Namun pada kenyataannya banyak orang-orang­ muda, yang baik dan pinter sudah meng­arahkan hidupnya ke sana. Mereka berdoa, belajar, dan patuh taat pada nilai moral masyarakat untuk mengejar kehidupan masa depan yang malah sering tidak bermoral itu.

Nah, apakah mereka tidak tahu bahwa mereka telah mengarahkan hidupnya ke tempat paling bau, WC, sebuah ruang kehidupan yang sangat buruk?

“Eh, gimana……ya tahu dong!” kata si orang muda.

Terus mengapa masih nekad masuk ya? “Yah lihat saja nanti……atau sayalah nantinya yang akan me­reformasi, bikin tatanan baru,” tambah si muda, nggak mau terima.

Setelah mereka masuk dan berhasil 10 tahun kemudian, masalah ini nggak pernah dibicarakan lagi. Mereka sudah ada di dalam WC yang diingin­kannya.

 

60

 

Di dunia ini ada hukum keseimbangan kehidupan, bisa juga disebut sebagai ketetapan putaran. Kalaupun sekarang manusia bisa bikin pesawat untuk terbang, seribu tahun lalu manusia juga bisa terbang dengan kesaktiannya. Bila manusia modern bisa mencipta senjata pembunuh hebat, maka dulu manusia juga bisa membunuh bahkan tanpa menyentuh, melukai, dan dalam jarak yang jauh.

Keseimbangan hidup ini juga sudah di beri poros untuk menjaga roda kehidupan berputar normal. Perputaran itu akan selalu menempatkan beberapa masa yang berbeda berada pada posisi yang sama, selalu berulang seperti kejadian di masa lampau.

Maka orang sering berkata, lihatlah dan bela­jarlah dari pengalaman masa lampau karena ia adalah gam­baran kehidupan kita di masa mendatang bila di putar balik.

Nggak ada yang beda, kecuali moral.

 

61

    

Bagi bawahan, falsafah hidup masuk kandang   kambing mengembik dan masuk kandang singa mengaum, tentunya bisa dipedomani. Karena bagaimanapun, seorang bawahan harus bisa menye­suaikan diri dengan para atasannya bila ingin di­anggap loyal.

Namun tidak semua kambing ataupun singa mampu mengeluarkan suara dengan tangga nada seragam. Demikian juga para bawahan.

Untuk itu, seorang atasan harus pandai-pandai melihat niat baik orang dan memupuk semangat kerja bawahannya, meninggikan moralnya, walau­pun usaha dan sikap mereka kadang-kadang belum sesuai dengan yang diharapkan.

 

62

    

Saat masih belia, kami sudah sering berkenalan dengan cerita keteraturan hidup. Rintik hujan, angin sepoi-sepoi, ombak di lautan…… adalah keteraturan gerak yang bisa diurai menjadi angka ma­tematis.

Ini juga berlaku bagi pola tingkah manusia. Kawan menjadi lawan, jahat menjadi baik, sukses men­jadi bangkrut……Inipun juga sebuah keteraturan, tersusun dari program yang sempurna.

Apa yang bisa ditolak, dan apa yang bisa dipilih da­lam keteraturan itu? Nothing, kecuali dengan ke­pasrahan doa.

 

63

    

Suatu hari nanti sepasang kekasih yang mengikat janji akan menemui apa yang sebelum­nya mereka tidak sukai, seperti kemiskinan, kesakitan, dan keruwetan hubungan sosial. Mereka mungkin juga tidak akan menemui apa yang sebelumnya mereka sukai, seperti manisnya hidup mereka di saat remaja.

Akankah mereka menyesali dengan apa yang su­dah terjadi? Atau sebaliknya, mereka akan saling me­nyombongkan diri dengan apa yang sudah terlewati?

 

64

    

Berbohong untuk kebaikan kadang dibolehkan oleh moral kita. Yang penting hasil ak­hir­nya khan?

Kita sering berbohong mengaburkan style, agar tidak dicap lain dari kelompok atau ciri ko­munitas. Kita berpura-pura merokok karena hidup di ling­kungan perokok. Kita berpura-pura nakal bi­ar kom­pak dan bisa pergi bareng-bareng sama yang lain. Kita berpura-pura jadi peminum agar nggak ke­tinggalan acara dengan si boss.

Susahnya, tidak semua orang bisa diberi pen­jelasan bahwa semuanya demi kebaikan. Dan kita pun tidak bisa memberi jaminan semuanya bisa ber­tahan dalam sebatas pura-pura.

Terus gimana dong? Yah, bergeraklah seperti air….seperti air…..

 

65

    

Memanusiakan manusia”, itulah motto hidup dari seorang kawan yang masih keturunan Tionghoa.

“Saya akan marah bila anak saya memanggil pem­bantu saya yang umurnya lebih tua tanpa awalan Mas atau Mbak,” ujarnya suatu hari.

Kalau banyak orang Tionghoa yang masih me­miliki prinsip hidup seperti dia, pasti banyak dari mereka akan jadi tokoh masyarakat Jawa. Lha wong orang Jawa-nya sendiri sudah banyak yang lupa dengan masalah ini.

 

 66

    

Reward and punishment, itulah kata-kata yang sering kita dengar sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh atasan.

Menghukum lebih mudah daripada memuji.

Bawahan mbolos, tempeleng plok! Anggota staf lupa menyerahkan naskah, push up sampai klenger, dan sebagainya. Trus, saat mereka pake baju rapi, masuk tepat waktu, rambutnya cukur cepak, kadang-kadang para atasan nggak kepikiran untuk bilang, “Wah kamu ganteng ya, kamu disiplin ya, kamu hebat ya…..” Padahal kata pujian itu khan nggak bayar.

Bagi mereka…para bawahan, kata-kata pujian ringan itu begitu berarti, apalagi kalau diucapkan di depan istri dan anaknya, sebuah ekosistem yang hanya bisa hidup dengan sedikit uang dan mem­banggakan profil seorang ayah.

 

67

    

Saat Indonesia diserbu Jepang, para petani kol di Sarangan, lereng gunung Lawu, sudah eksis di pasar-pasar rakyat.

Saat Indonesia merdeka, ribut di tahun 65, era or­de baru, sampai orde reformasi, mereka pun tetap berjualan di sana.

Siapa di antara para pemimpin berani menga­ku bahwa merekalah yang berjasa mensejahterakan para petani kol tersebut?

 

68

    

Seperti juga perkawinan,  hidup  adalah             kompromi-kompromi. Begitu banyaknya masalah yang harus dikompromikan, hingga aturan selalu lahir terlambat. Preman lahir duluan dari polisi, dan sekarang jumlahnya jauh lebih banyak dari polisi.

Sehingga orang yang bisa menerima setiap kompromi, baik yang sudah tertulis maupun tidak ter­tulis, yang akan selamat dan berhasil dalam ke­hidupannya.

 

69

    

Di jaman cyber tech seperti sekarang, berperang adalah pekerjaan paling menyedihkan. Menang atau kalah, bayarannya terlalu mahal. Sehingga sebuah negara cenderung menggunakan tekanan politik untuk mencapai sasaran keme­nang­an. Sehingga harus ada orang yang pintar poli­tik sekaligus pintar strategi hankam yang diberi tugas bernegosiasi.

Di sebuah negara ada jenis tentara punya kemampuan ganda. Karena selain latihan tempur, mereka juga ikut berunding. Lalu muncul protes karena perannya yang over dosis.

“Wah robot kok berunding, yo hasilnya pasti nggak manusiawi,” kata mereka. Lalu tentara pun nggak pernah diajak berunding lagi.

Pada perkembangan selanjutnya, para politisi memegang multi peran. Selain memimpin negara, ya memimpin partai, ya pengusaha, dan lain-lain. Mereka-lah sekarang yang berunding, dan tentara hanya menunggu instruksi kayak robot.   

Saat kemudian kekacauan terjadi, perang terjadi, maka protes pun bermunculan lagi. Katanya tindakan para prajurit justru jauh lebih ngawur, lebih tidak manusiawi.

Lho, khan mereka sekarang sudah benar-benar jadi robot, hanya tahu melaksanakan perintah! Kok masih disalahin lagi?

 

70

    

Banyak cara orang untuk hidup agar ia mampu mengenal Tuhan. Demikian juga bagi seorang prajurit.

Perang, desing peluru, yang bagi sebagian orang­ diartikan sebagai tindakan manusia tidak ber-Tu­han, justru mampu menunjukkan jalan untuk seorang anak manusia yang ingin taubat.

Tuhan sebenarnya adalah Tuhan yang kita rindukan di saat kita takut, termasuk dalam ketakutan perang. Pernahkah anda membayangkan bahwa Fir’aun yang atheis, merasa dirinya Tuhan, akhirnya ber­hasil menemukan Tuhan yang sejati dalam ke­takutan perang, walaupun sudah terlalu terlambat.

Sehingga, agar segala kehidupannya berakhir baik, seorang prajurit hendaknya sudah memiliki rasa ta­kut kepada Tuhan, jauh-jauh hari sebelum ketakutan itu datang secara terpaksa.

 

71

    

Untuk mampu hidup di Jakarta, kita harus mampu menggabungkan intelektualitas dengan keberanian. Namun di era milenium ini, nilai intelektualitas ternyata jauh lebih tidak dihargai di­banding nilai keberanian untuk kota sebesar Jakarta. Pokoknya kalau udah mentok, yang paling nekad dan berani yang menang. Sehingga budaya prema­nisme menggejala di seluruh tataran kehi­dupan.

“Udah nggak usah tinggal di Jakarta, tinggal disini saja sama abah,” kata Pak Guru Udin kepada anaknya semata wayang. “Maaf abah, Joko harus pergi ke Jakarta, agar jadi orang yang berilmu,” kata anaknya.

Pak Guru Udin tiba-tiba mengambil parang dan berteriak, “Anak durhaka, minggat kamu bila nggak mau dikasih tau!” Wah, ternyata premanisme nggak cuman milik preman yang ada di Jakarta toh.

 

72

    

Bila engkau merasa cukup kuat maka diam adalah salah cara untuk menghemat energi yang dimiliki. Namun bila engkau lemah, diam adalah bunuh diri. Dan satu-satunya cara untuk menye­lamatkan diri adalah dengan bergerak.

Walaupun ihwalnya, hanya berasal dari cerita guyonan Pak Hendro Subroto, wartawan perang terkenal itu, yang menertawai wartawan muda Associated Press yang keberatan rompi anti peluru, saya ternyata masih mengingatnya. “Apakah dengan rompi anti peluru bisa selamat dari ledakan granat,” kata Pak Hendro. “Mending nggak pakai apa-apa, sehingga kita bergerak cepat,” tambahnya lagi.

Susah lho nyari wartawan kayak Pak Hendro, dengan kecintaan yang mendalam pada Angkatan Udara. Nggak banyak yang tahu bahwa orang tua ini telah berbuat banyak. “Saya bangga Mas, men­dengar Marsekal Budiardjo mengatakan bahwa saya adalah insider out sekaligus outsider in Angkatan Udara. Insider out berarti orang Angkatan Udara yang ada di luar sedangkan outsider in berarti orang luar dan tidak berbaju biru langit namun memiliki sumbangsih dan kecintaan yang besar pada Angkatan Udara.

Pak Hendro, wartawan yang telah ikut meng­angkat nama Angkatan Udara, wartawan yang per­nah diusulkan Marsekal Siboen untuk mendapatkan Bintang Swa Bhuana Paksa kelas III namun belum per­nah keluar hingga saat ini, wartawan yang pernah menyumbang data intelijen kepada Angkatan Udara, juga wartawan perang yang selalu tampil di TVRI. Dia kini tidak semuda dulu, tidak sekuat dulu ber­keliling mencari perang. Namun Dia tetap mencintai Angkatan Udara.

Apakah kita, prajurit yang telah diberi seragam biru langit ini sudah memiliki rasa cinta sepenuhnya pada Angkatan Udara seperti outsider in semacam Pak Hendro?

 

73

    

Mampukah engkau mengingat setiap detik waktu di sepanjang hidupmu?

Detik waktu walaupun berlangsung begitu singkat, ia sering berisi hal-hal yang sangat hebat dan mengejutkan. Saat segala peristiwa berjalan dalam detik yang lambat, kita mungkin masih sem­pat mengingatnya. Namun saat rentetan peristiwa berjalan cepat, detik waktu seperti tidak ada artinya. Kita akan cepat melupakan beberapa detik waktu yang sesungguhnya sangat istimewa.

“Catatkanlah detik waktumu, engkau akan menjadi besar karena catatan detik waktumu,” kata seorang kakek tua yang hadir pada salah satu detik waktu yang mengejutkan dan tiba-tiba.

Kumpulan tiap-tiap detik waktu itu kini begitu ber­harga. Catatan detik waktu itu telah menjadi saksi sejarah yang tak tertandingi nilai ketepatannya.

 

74

    

Di lingkungan prajurit, kedewasaan seorang pria sering berhubungan erat dengan per­kawinan. Sehingga bila seorang prajurit ingin jadi komandan, salah satu syarat tak tertulisnya adalah harus punya pendamping dulu. Padahal menikah khan sering menambah problem?

“Saya belum ingin kawin, saya masih ingin mencari jati diri, mencari kepuasan batin, saya ingin kon­sentrasi pada kerja dan karier,” kata seorang prajurit suatu hari. Dan ini selalu diulang-ulangnya dalam periode waktu tertentu.

“Lho, kamu ini khan sudah jadi orang toh, ga­jimu juga sudah banyak, mau nyari apa lagi, ” menandai kejengkelan kerabat dekatnya.

Menikah dan kemudian mempunyai anak, berarti berhenti mencemaskan diri kita sendiri. Ba­nyak­ hal positif lain yang diperoleh karena menikah. Namun bagi yang belum mau, buat apa dipaksa?

 

75

    

Tidak semua orang yang jadi penggede disebabkan hebat dan lurus. Dia cenderung dikategorikan sebagai kelompok manusia yang selamat memainkan perannya dalam setiap kom­promi kehidupan, jahat maupun mulia dalam setiap perubahan masa. Ini katanya.

Apakah setiap masa punya tatanan moral, punya frame sendiri? Sudah pasti. Orang sering ce­roboh mencermati perbedaannya. Frame yang berlainan dalam setiap masa, juga perbedaan peran yang dimainkan, sering membuat seseorang lupa bah­wa ia telah berada pada tatanan moral lain. Ak­hirnya jadi buah bibir, kasak kusuk. Yang tua berulah seperti orang muda, yang muda berlagak seakan-akan paling bijaksana. Ini juga katanya.

“Bermainlah di dalam frame yang telah di­garis­kan dengan acuan nilai moral dan budaya ma­­sya­­rakat bila ingin selamat,” kata mereka. Benar­kah demikian adanya?

76

 

Suatu hari aku pernah marah saat tiba-tiba kekasihku mengungkapkan sehelai kebu­rukanku. Tanpa bertanya ba bi bu, aku langsung terdiam seribu membisu. Aku tidak terima. Aku marah. Tak sepantasnya ia mengatakan itu. Karena, itu berarti ia tak mencintaiku. Tega nian dikau ke­kasih­ku mengatakan itu.

Eh, benarkah aku? Mungkin, tak satu ilmu­pun yang berdiri di pihakku, membenarkanku, membela kediktatoranku. Pacaran adalah proses uji kehidupan demokrasi. Mungkin karena orang-orang seperti aku, Indonesia tidak pernah maju. Aku adalah sosok berjiwa kerdil tak tahu malu. Sah-sah saja bila seseorang menilai aku adalah A, B, atau C, bahkan U. Kekasihku, masih maukah engkau men­jadi penegak demokrasi disampingku? Terima kasih Tuhan. Ternyata engkau hanya tertunduk malu. Demo­krasi memang masih terlalu sulit bagiku, mung­kin juga bagi dirimu.

 

77

 

Kalau boleh, saya akan memilih pekerjaan  yang ringan tapi gajinya gedhe. Mungkin saya bisa jadi bintang film, penyanyi, direktur, atau sejenisnya yang mampu menjamin kebutuhan materi saya. Kalaupun jadi tentara, saya akan memilih lang­sung jadi panglima, agar punya banyak anak buah dan terkenal.

Kalimat pengandaian ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Bila kita diciptakan sebagai pegawai biasa, orang biasa, nggak usah kaget dengan pembodohan pola pikir seperti di atas dan nggak perlu iri. Menga­pa? Namanya juga manusia, kalau jabatan ”Tuhan” suatu saat lowong, pasti manusia nggak malu untuk mendaftarkan diri, bahkan memperebutkannya.

78

 

Saat Desi  menggugat cerai suaminya, banyak orang menghujatnya termasuk saya. Lho, pada posisi seperti itu kok masih bisa tampil sambil senyum-senyum cengingisan nggak ada beban. Khan Desi seorang wanita, public figure, ya mbok pura-pura sedih atau gimana…biar kelihatan ada pantes-pantesnya. Pasti Desi sudah punya gacoan baru yang mungkin lebih Oke.

Ini retorika yang terjadi.

Orang sebenarnya bebas-bebas saja me­ng­ekspresikan suasana hatinya, mau senyum, cem­berut, ngantuk, senang, atau mau tertawa kayak orang gila. Namun hati-hati, karena sikap moral, men­tal se­seorang sering dinilai dari kebiasaan ini. Yang ter­surat akan lebih mudah dinilai daripada yang tersirat.

Kita harus lebih bijak dalam menelaah setiap pe­ristiwa. Ya nggak usah komentar dan menilai, bila tidak tahu persis kejadiannya!

 

79

 

Mungkin anda akan heran bila tahu bahwa anaknya Pak Permadi yang ngerti sak durunge winarah itu, sempat kena PHK dan jadi pilot nganggur.

Yah, industri penerbangan memang lagi kolaps sekarang. Tapi kok bisa ya merembet ke Pak Per­madi? Padahal, orang begitu yakin dengan kekuatan supranatural beliau yang sanggup meneropong nasib negeri ini, hingga jadi gantungan nasib berjuta-juta umat. Tapi nolong anaknya sendiri kok masih nggak mampu.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau, kita tentunya harus sedikit menyadari bahwa orang bijak, paranormal, seperti Pak Permadi adalah jenis manusia yang dianugerahi kelebihan. Namun mereka juga tetap manusia, bukan malaikat atau dewa.

 

80

 

Siapa menguasai udara akan mampu memenangkan pertempuran. Siapa memiliki pasukan darat yang hebat akan me­nguasai kemenangan perang. Jaya di laut, jaya segalanya.

Semua orang, suku, organisasi, lembaga, ne­gara, memiliki kebanggaan masing-masing. Tak ada kecap yang mau jadi nomor dua. Semuanya pengin nomor satu.

Motto, kebanggaan, semboyan, l’esprit de corps, memang sangat baik untuk kita. Namun banyak orang tidak pernah mau mempelajari dan me­ma­hami bahwa itu dibuat bukan hanya untuk menang-menang­an dan untuk jadi praetorian. Ka­dang juga untuk mengurangi kesedihan di tengah keterbatasan, untuk selalu berkarya dan untuk meninggikan moral perjuangan. Sehingga tidak kebablasan…….

 

81

 

Satu regu prajurit infantry agak nggerundel melihat komandan barunya yang ternyata nggak kuat lari.

Para bintara polisi agak sewot melihat ada per­wiranya nggak pintar menembak.

Seorang perwira muda Angkatan Udara ce­ngi­ngis­an melihat seniornya yang bahasa Inggrisnya blekak blekuk.

Biasanya kalau sudah gini, para prajurit yunior berlagak nggak respek, ngganggap remeh, dan se­bagainya. Setiap berbicara, mereka selalu menyela, mem­bantah, mengambil alih kendali diskusi, karena merasa lebih pinter dan jago. Kalau sudah gini, biasa­nya akan timbul friksi.

Siapa yang salah? “Salah sendiri nggak mau belajar,” kata si yunior. “Keminter,” kata sang senior. Dan berlanjut sampai kemana-mana, sampai tua, sampai pensiun, sampai permusuhan anak istri. Wah gawat nih!

 

82

 

Seorang komandan, atasan, biasanya memang dipilih di antara yang berprestasi terbaik.

Namun, komandan yang bisa mengayomi anak buahnya dengan baik belum tentu berasal dari kriteria tersebut. Sehingga anak buah tidak boleh ber­kurang rasa loyal, hormat, santun, karena sebuah kekurangan sang atasan. Karena baik tidaknya se­orang komandan tidak hanya dilihat dari visi mereka saja.

Kondisi seperti di atas adalah ujian loyalitas, yang justru paling berat diantara semuanya.

 

83

 

“Aduh, saya nggak pernah bisa tenang  bila mendengar anak saya sedang sakit,” kata Pak Heryanto saat sama-sama dinas di luar kota beberapa waktu lalu, “Makanya saya heran, kok masih ada seorang suami yang selingkuh, lalu ingin kawin lagi, …” lanjutnya.

“Lho, jumlah wanita khan ditakdirkan lebih banyak, menikah lagi……why not?” kata yang lain.

“Lho, selingkuh itu malah mengembalikan sense of true love pada istri, bisa balik seperti pengantin baru…” dan lain-lain retorika, rame kayak pasar.

Dalam kehidupan ini, walaupun setiap orang harus punya parameter yang jelas, kadang memang tidak perlu diperdebatkan kepada orang lain. Per­bedaan wawasan, pola pikir, tataran pende­wasaan, biasanya malah menimbulkan kesenjangan, friksi, dan ketidakenakan.

Yah biar enak, masing-masing aja lah.

 

84

 

Ada sebuah saat dimana kita tidak menyukai sesuatu karena sebab yang tidak jelas. Sebaliknya, kita tiba-tiba bisa menyukai sesuatu juga tan­­pa sebab yang masuk akal. Kita tanpa sadar mem­­benci ataupun mencintai.

Akan menjadi rumit bila yang menjadi obyek adalah diri kita. Kalau pas baik sih syukur, tapi kalau jelek wah bisa hancur. “Apa ya salahku, …” keluh be­berapa orang. Lalu mereka stress, minder, putus asa, karena tekanan batin.

“Aku nggak peduli, mau jungkir balik, mau nungging, mau modhar, bukan urusanku…toh aku nggak ngganggu kamu.” Kalimat seperti ini sering di­ucapkan seorang preman sambil tertawa-tawa.

Dalam kehidupan yang serba aneh ini, kita ka­dang-kadang memang harus berpikir ala preman biar nggak jantungan.

 

84

 

Sudah menjadi acuan, dengan bertambahnya usia  seorang manusia akan menjadi tambah dewasa.

Apa itu pasti? Apa itu sudah bisa dijadikan patokan? Ada lho yang tambah tua tambah jadi, ma­lah sering marah kayak anak kecil, malah tomboy sering ke disko, malah jarang berdoa, jarang ke tem­pat ibadah, minggat berhari-hari dari rumah, libidonya tambah nggak terkendali. Terus yang tam­bah dewasa apanya?

“Ya, pokoknya mereka bertambah dewasa aja!”­ kata semua orang, bingung.

 

85

 

Segala sesuatu mungkin akan berubah, namun   normalnya sebagai manusia, kita akan me­mulai dan mengakhirinya dengan keluarga.

Rumahku istanaku. Itulah sebuah kalimat indah dan menjadi impian banyak orang, hingga me­reka rajin bekerja nyari uang, banting tulang, agar me­reka bisa disebut orang tua yang konsisten. Tiap hari libur mereka bisa rekreasi, belanja dengan cu­kup uang dan punya rumah yang layak.

Sulitnya, khan nggak semua orang rejeki dan peruntungannya lancar. Sehingga, jargon itu berubah jadi rumahku nerakaku. Trus gimana dong hidup bahagia tanpa rumah megah?

“Yah, yang jelas ya nggak mungkin,” kata sebagian istri.

“Yang penting kedamaian dan kasih sayang,” kata sebagian yang lain.

Kita memang harus pinter-pinter nyari pasang­­an hidup. Mengapa?  Karena pengertian rumah­ku istanaku bagi seorang suami tergantung pada sang istri.

 

86

 

Setiap orang pasti ingin mengambil peran penting dalam kehidupan ini. Seperti semua prajurit pasti ingin menjadi panglima, semua politikus pasti ingin menjadi Presiden, semua entertainer ingin menjadi artis terkenal, dan lain-lain. Ujung-ujungnya, orang biasanya tidak peduli lagi seberapa usaha dan kemampuannya. Pokoke keturutan karepe. Semua orang merasa memiliki hak yang sama untuk men­cicipi bagian kehidupan dunia yang sangat manis ini.

“Serakah, pelit, sombong, …” itulah komentar mereka yang tidak kebagian tiket jalan tol, nggak kebagian enaknya.

“Apa mereka kira, jadi seperti saya itu enak,” keluh si kaya, si atasan, si orang sukses.

“Lho, apa perlu gantian posisi?” tanya si mis­kin. “Ah, nggak usah repot-repot,” sela si kaya, “Soal­nya kamu juga nggak akan jauh beda bila pada posisi saya,” si kaya khawatir.

Pada posisi apapun, bersyukurlah…….

 

87

 

Inilah masalah utama di negeri ini, antri  di mana-mana. Inilah masalah utama di negeri ini, korupsi merajalela. Inilah masalah utama di negeri ini, nepotisme menjalar di semua tempat. Inilah masalah utama di negeri ini, kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin menganga.

Lho, kok semuanya masalah utama, yang benar aja dong kalau bicara, apa parameternya?

Mungkin benar Mr. Lee dari Singapura, better a dot than riot, lebih baik setitik daripada besar tapi ribut terus. Negara sebesar dan semiskin Indonesia,­ pasti dipenuhi oleh beribu macam masalah. Namun bapak-bapak yang lebih pinter, jadi peng­gede, nggak usah nakut-nakutin rakyat yang nggak tahu apa-apa dengan sesuatu yang nggak perlu dibesar-besarkan. Rakyat bisa lho sejahtera tanpa anda.

 

88

 

Saat Arjuna menikah dengan Dewi Sumbadra, Woro Srikandi yang jadi tamunya, ma­lah fall in love at first sight impression sama Arjuna yang memang ganteng dan oke. Dalam hati Srikandi, “Bagiku…dimadupun nggak apa-apa,” sambil teler ngeliat Arjuna.

Orang-orang pun bingung dengan Srikandi, lha wong sudah dilamar kiri kanan sama ksatria yang tak kalah oke-nya, kok lebih milih jadi istri madu Arjuna. Lalu wayang-wayang yang lain kasak kusuk, “Kok bisa Srikandi jatuh cinta sama laki-laki yang sudah beristri, fall in love pas cowoknya lagi nikah …wah nggak sopan, wayang edan!”

Tapi gimana ya…..namanya juga cinta sih. Siapa di antara kita bisa merencanakan bahwa kehidupan ini bisa berawal, berlangsung, dan berakhir dengan cara yang sama? No one.

Yo wis, biarin aja toh. Lha wong kita bukan sutradaranya.

 

89

 

Kamu boleh nyuri-nyuri asal nggak ketahuan.    Kamu boleh judi asal nggak pake uang besar. Yah, mungkin sekedar untuk iseng-iseng, peng­isi waktu senggang. Kamu pun boleh mabuk asal nggak meng­ganggu lingkungan.

Sebagai atasan atau komandan, memang agak susah menerapkan aturan kehidupan sosial secara otoriter kepada anak buah yang berbeda latar bela­kang. Yah, logikanya mereka akan mencoba de­mo­kratis, “Yang penting jangan mengganggu dinas ya…”

Lho, khan segala sesuatu yang besar berawal dari yang kecil. Mentalitas kejahatan terbentuk ka­rena kebiasaan, pengalaman. Pas nggak kepepet saja sudah mau, apalagi kalo kepepet.

Yah, mau nggak mau, para atasan, para ko­man­­­­dan, ya harus ikut bertanggung jawab.

 

90

 

Kita ini kumpulan orang Pancasilais atau kumpulan mafia! Gedung kejaksaan agung itu khan lambang kedaulatan hukum, lam­bang kemenangan kedaulatan rakyat, kok di­ledak­kan. Yang jelas, itu ulah orang kaya juga pinter. Dan nggak mungkin itu kriminal murni. Apa hasilnya bagi seorang perampok, pencuri, untuk mengacak-acak gedung itu dengan barang ma­hal. Uber sampe’ dapat.

Itulah tekad semua aparat, media massa.

Namun sepertinya itu nggak akan lama-lama. Karena peristiwa besar lainnya akan membuat kita begitu cepat melupakannya.

Yah, trend baru…..tapi menggunakan cara lama. Uber lagi yang satunya, kata mereka lagi.

 

91

 

Kaget setengah mati. Inilah suasana hati saya siang itu. Lha wong saya maunya menunjukkan rasa sayang, perhatian, cinta, eh si dia kok malah me­nangis.

“Kasar….jahat….sakit tahu,” itu katanya sambil nangis sesenggukan.

Saya pun nggak terima, “Lulu ……masak di­cubit gitu aja nangis sih. Itu khan ekspresi hati saya yang gemes, kangen, juga sayang. Ya deh maaf, dan aku nggak akan nyubit lagi,” kata saya ikhlas tapi sambil cemberut.

Setiap orang punya cara untuk menunjukkan perhatiannya pada seseorang. Namun kita harus pan­dai memilah, bahwa semua orang punya para­meter sendiri, punya frame sendiri, punya norma moral, dan punya perasaan sendiri. Jangan sampai maksud baik itu justru menyakiti.

 

92

 

Nggak ngerti juga, kok kita sering jadi   males pulang ke rumah. Bahkan untuk telfon pun males. Kayaknya ini karena pertemuan-pertemu­an terakhir dengan keluarga yang mem­bosankan. Yah, hanya cengangas-cengingis sa­ma anak istri, sama orang tua, sama saudara. Rutinitas yang miskin intelektualitas, dibanding per­temuan dengan beberapa teman atau rekanan bisnis yang selalu ber­arti time is money.

Seorang atasan juga sering malas, bahkan nggak kepikiran untuk silaturahmi ke rumah anak bu­­ah­nya, karena saking sibuknya mengurusi masalah kan­tor. Jangankan anak buah, anak istrinya pun juga jarang diurusin.

Sebuah pertemuan, persahabatan, sosialisasi, khususnya yang berpola top down, dari atas ke bawah, me­­mang membutuhkan korban waktu, bahkan uang. Namun itu harus dilaksanakan bila anda ingin disebut manusia dewasa.

 

93

 

Setahun yang lalu saya begitu ikhlasnya memberi keuntungan kepada mereka, namun sekarang saat saya jatuh, tak seorangpun sudi menolong saya. Saya benci mas, benci sekali sama mereka.”

Keluhan ini keluar dari seorang teman yang usahanya hancur, dan saat hari naas itu ia sedang be­r­ada di luar kota. Tak seorangpun berusaha me­nye­lamatkan walaupun mengetahui.

“Kok kebangetan, kok tega, teman karibnya mau hancur kok dibiarin. Apa mereka nggak ingat, siapa yang paling sering membantu mereka saat masih miskin,” keluhnya setiap ketemu orang.

Memberi sangat baik, meminta jangan. Apa maknanya? Bahwa di dunia ini, berbuat baik tidak boleh selalu berharap kembali baik. Berbuat baik adalah kewajiban, sehingga kalau nggak kembali baik, itu sudah ada rule of engagement-nya, jadi serahin saja sama yang di atas.

 

94

 

“Ah, nggak ada yang cocok,” kata salah seorang kawan kala masih belum punya pacar.

“Ah, cantik sih cantik, tapi orangnya sombong. Gimana aku bisa jalan sama dia,” katanya setelah putus sama pacar pertamanya.

“Sebenarnya kecantikan dan kejeniusannya telah memperdayaiku, tapi gimana ya… dia cewek ma­tere. Sebagai pegawai negeri yang bergaji pas-pasan bagaimana bisa hidup sama dia,” keluhnya saat putus sama pacarnya yang kedua.

“Ah dasar cewek hiper. Masak tiap hari kerjanya ke disco. Mau ditaruh di mana mukaku,” katanya yang putus lagi tahun ini.

“Nah, ini dia wanita sempurna impianku,” ka­ta­­nya, kemarin saat ketemu di jalan. “Ya udah, itu aja dikawinin,” kataku. “Sayangnya, dia sedang men­­cari pria sempurna, sedang aku tidak masuk kri­terianya.” keluhnya lagi lemes.

 

95

 

“Terima kasih ya Tuhan atas kemiskinan dan kesengsaraan yang selalu Kau berikan.”

Ayo berani taruhan, siapa diantara kita pernah dengan tulus, kontinyu mengucapkan kalimat ini.

Doa kita telah terbiasa berisi dengan kegemer­lapan, kejayaan, kemenangan, dan kesuksesan.

Lho, padahal Tuhan khan paling mencintai orang­ yang miskin. Kok, nggak ada yang minta miskin sama Tuhan. Apakah ini namanya nggak salah kaprah.

“Ya Tuhan, pernah suatu ketika, dulu, aku selalu berdoa untuk selalu hidup sederhana, miskin harta nggak apa-apa yang penting kaya hati. Tapi bila se­mua umatmu miskin, siapa yang akan menolong bila salah satu tertimpa musibah, kemiskinan, dan ke­kurangan? Aku berharap menjadi penolong mereka ya Tuhan.”

Inilah sifat dasar manusia, sama Tuhan kok masih berani keminter.

 

96

 

“Go to hell with ABRI”

Inilah tulisan yang bisa kita lihat dengan jelas saat lewat di bunderan UGM pada masa pra re­formasi. Sebagai orang muda yang dibesarkan di lingkungan tentara, saya sedih juga melihat kalimat itu. Di semua daerah termasuk Yogya dan Jakarta, semua yang berbau militer “No”, gerakan reformasi, demonstrasi,“Yes”, dan terus berlangsung sampai sekarang.

Ngono yo ngono neng ojo ngono. Mbok yao jangan gitu, jangan main Yes dan No, juga jangan main lempar batu.

Mahasiswa sih enak, habis demo masih bisa telfon orang tua minta di charge ATM-nya, pulang tidur nyenyak. Lihatlah PHH saat jam istirahat, pasti kamu mbrebes mili. Tidur lesehan dibawah pohon, makan nasi bungkus sama air putih, anak istrinya nyengir di rumah. Supaya ngerti aja, mereka yang berdiri jadi PHH itu nggak ngerti apa-apa…ojo kasar-kasar toh.

 

97

 

Kita sering toh bikin acara kumpul-kumpul. Entah itu kumpul lichting, kumpul keluarga, dan lain-lain.

Budaya, agama, adat-istiadat dan kebiasaan yang berbeda sering menyebabkan kesulitan dalam satu kegiatan yang akan dilaksanakan. Sehingga kita perlu menyeragam­kan perbedaan itu dengan suatu acara yang bisa di­terima oleh semua orang.

Dan sudah tidak bisa ditolak, suasana yang bisa menyatukan perbedaan itu hanya pesta, minum-minum, ke cafe, ke disco, dan tempat gemerlap lainnya.

“Wah payah deh, mau kompak atau nggak sih. Jangan sampai ngrusak acara dong. Nih mi­num,”­ celetuk si tukang pesta, sambil menyodorkan­ segelas minuman beralkohol pada karibnya yang masih alim.

Terusik semangat kekompakannya, dimi­num­lah cairan itu, dan si alim pun mabuk.

“Ah, payah. Makanya gaul, biar nggak kuper. Segitu aja udah KO,” kata karibnya yang tukang pesta, tertawa, nyerocos tanpa ada perasaan ber­dosa.

Menjadi orang baik memang memerlukan rasa percaya diri. Bahwa apa yang mereka miliki benar-benar sebuah kemuliaan, bukan keanehan, kekuper­an, ataupun keterbelakangan budaya hidup. Bila sudah pada jalan, norma kehidupan yang baik, kita mesti konsisten dan tidak malu-malu. Soalnya, kalau keblinger sedikit kita akan dianggap sebagai pe­cundang.

 

98

    

“Lho kok aku nggak ada yang mbangunin sih,” seorang prajurit marah-marah sama kawannya suatu pagi.

“Aku semalem tidur telat, ya wajar dong bila tidurku pules. Tapi kok kalian semua cuek dan nggak mem­bangunkan aku,” ia marah lagi di lain hari.

“Lihat diriku, aku sengaja pura-pura tertidur sampai terlambat, kok nggak ada juga yang bangu­nin sih,” protesnya tadi pagi.

Membuat suatu kebodohan berulang-ulang walaupun begitu kecil, tentunya memiliki suatu kon­sekuensi. Bila orang lain mendiamkan kita, maka ada 2 keadaan yang bisa terjadi. Pertama, kehidupan kita berjalan normal nggak ada keanehan. Kedua, orang sudah nggak peduli dengan kebodohan kita yang menurut mereka sudah terlalu parah.

      

99

    

Menerima tamu, mengangkat telfon, sila­turahmi ke rumah anggota, bagi saya sama pen­tingnya dengan tugas kedinasan lain­nya. Jadi kamu nggak usah takut berlama-lama diskusi, ngobrol sama saya disini, ….” itulah kalimat yang sangat bijaksana dari Pak Djoko Santoso saat berada di ruangan kerjanya.

Bagi seorang pejabat, apalagi seorang Jendral, sibuk sudah jelas, tugas kantor menumpuk sudah jelas, urusan dengan rekanan banyak sudah pasti. Tapi ketinggian karakter kepemimpinan, justru terlihat di saat penuh peluh keringat itu ia masih peduli pada urusan-urusan kecil, orang kecil, prajurit kecil, yang hanya bisa menerima, bukan memberi.

    

100

    

Jika disuruh memilih, menyelamatkan hidup dengan diam atau bergerak, maka aku akan memilih untuk selalu bergerak.

Aku mengandaikan diri ini sebagai air yang selalu mengalir. Yang selalu bergerak turun mengikuti keteraturan alam.

Air selalu melihat celah, menghantam tanpa me­nyakiti. Air tak akan meluap ke atas kecuali benar-benar terhalangi.

Sekali saja air mampu bergerak bebas ke atas, dia akan menjadi awan yang akan memberi kete­duhan alam…dan kembali menjadi air.

 

101

 

Kalau menjadi pelatih, seorang Maradona sepertinya tidak bisa sehebat Alex Fer­guson yang saat masih muda hanya pemain biasa-biasa saja.

Di angkat menjadi Presiden ternyata juga tak bisa membuat Pak Habibie sehebat sebelumnya saat masih di IPTN.

Apa maknanya? Kehebatan seseorang ternyata ada batasnya. Ia dibatasi oleh ruang dan waktu. Sehingga saat kelebihan itu masih melekat, man­faatkanlah dengan sebaik mungkin.

Mungkin benar Pak Nas yang memilih ber­henti sebelum waktunya tiba.

 

102

 

Kalau melihat orang memancing, kamu sedih nggak melihat nasib ikan? Mereka ditipu dengan menyakitkan, dimasukkan ruang konsentrasi sampe’ sesak napas. Tidak berhenti sampai di situ, masuk ke dapur mereka di sayat-sayat dan dibakar diiringi house music, hiiiii….. menyakitkan.

Ajaibnya, ikan selalu patuh mengikuti ritme kehidupan itu. Anak cucu mereka selalu siap, patuh di lautan untuk ditipu manusia.

Nasib ini juga berlaku bagi sapi, kambing, dan ayam.

Semua mahluk tak punya akal itu patuh dengan aturan main yang berlaku baginya. Anehnya, mengapa manusia tidak?

 

103

 

Jika teori tidak bisa menjelaskan secara akurat peristiwa di masa lalu, maka ia tidak juga akan mampu untuk menjawab masa depan.

Kalimat ini dicetak tebal, tulisan Dr. Robert J. Bunker dalam buku Air Power Journal.

Masa lalu memang tak selalu terdengar merdu. Hing­ga ia banyak disusun dalam suatu harmoni agar bisa dinikmati oleh anak cucu. Biarkanlah kabut me­nye­­limuti. Namun akan sampai kapan masa lalu memiliki arti bila terus berselimut kepalsuan.

Ada saatnya masa lalu harus diungkapkan se­bagaimana adanya. Mengapa? Setelah revolusi ber­akhir, banyak pahlawan tak dikenal lahir di negeri baru, tanpa malu-malu.

 

104

 

“Wah ngoloran kamu…. .ngatokan kamu …..penjilat!” kata seorang prajurit.

“Lho, aku hanya silaturahmi biasa, ngobrol biasa, diskusi, dimana salahnya?” sahut temannya.

Kita banyak tidak menyadari bahwa salah satu kunci keberhasilan dalam tugas adalah kemampuan komunikasi. Kegagalan dalam penguasaan ilmu ini akan menghasilkan ilmu ngaplok, ilmu tempeleng, generasi “pokoknya”, dan bermacam-macam brutalisme kepemimpinan.

Lha wong di luar negeri sana, ilmu komunikasi, kemampuan menjalin hubungan baik, kemampuan bicara, sudah dilaboratoriumkan dan dibukukan. Eh, disini malah masih disamakan dengan ngatok dan ngolor, kapan mau maju?

 

105

 

 Sepak bola, apakah yang menarik?

Coba lihat seorang penyerang yang berlari cepat ingin mema­suk­kan bola ke gawang lawan dan tiba-tiba diganjal dengan keras oleh defender lawan.

Nggak peduli dia itu pemain model apa, kita akan lihat reaksinya setelah dia terjatuh, terjerembab di rumput.

Ada yang langsung bangun, senyum, dan lari lagi. Ada yang guling-guling kesakitan lama sekali, saking sakitnya. Ada yang pura-pura sakit biar men­dapat keuntungan. Ada yang jatuh, berdiri, dan ngamuk. Wah, pokoknya macam-macam.

Itulah potret manusia bila mendapat cobaan. Tidak semuanya langsung bisa me-recover dengan baik, tidak semuanya dengan cepat bisa bangkit lagi dengan kesadaran tinggi dan akal sehat.

Mau pilih mana kawanku…

 

106

 

Aku teringat bertahun-tahun yang lalu,   betapa penakutnya aku dalam gelap. Gelap adalah monster, gelap adalah keberakhiran semangat hidup. Tak pernah membayangkan sam­pai kapan semua itu akan berakhir.

Aku pernah berjalan melewatimu hei ke­gelap­an. Aku ingat berliter-liter cairan menetes dari pori-pori tubuhku. Aku berbalik dan mencari per­lin­dungan dalam terang benderang. Aku takut, aku ingin lari darimu selalu.

Suatu hari, aku begitu heran kepadamu sang malam. Aku begitu teduh dalam pelukanmu. Yang mustahil kurasakan sebelum itu. Ternyata aku sedang menuju ke rumah Tuhanku. Ketakutanku yang lain telah melupakan ketakutanku padamu.

Saat ini, tidak ada yang lebih menakutkan melebihi rasa takutku sendiri.

 

107

 

Dimana sih indahnya pacaran?

Katanya ia ada pada rasa deg-degannya. Pas mau ketemu, kita deg-degan. Pas saling memandang deg-degan. Mau bicara, deg-degan. Pas berjauhan, deg-degan. Mau berniat yang aneh-aneh deg-degan, takut setengah mati.

Oh indahnya deg-degan……

 

108

 

Perpindahan posisi kadang sering membuat kita bingung. Dengan bergesernya ruang dan waktu, orang sudah tidak tahu mana timur dan barat.

“Lho, sholat kok menghadap ke utara, bukan­nya kamu harus muter 90 derajat ke kiri,” ka­ta se­orang senior mengagetkan konsentrasi saya. Kesa­lah­an arah ini terjadi sesaat setelah saya pindah kamar yang berjarak hanya sejengkal di mess Lanud El Tari Kupang.

Saya juga sangat terkejut, ternyata waktu berlalu begitu cepat saat saya tidur, yang membuat saya ter­lambat naik pesawat. Pergeseran waktu pun ter­nyata mampu meng-KO kita.

Biar nggak kagok, kita memang harus selalu penuh kecermatan, penuh persiapan, mengikuti peru­bahan detik-detik waktu dan setiap senti per­geseran agar nggak ada yang terlewat. Karena kecerobohan, juga easy going -lah, yang membuat kita selalu terkejut dan terjerembab.

 

109

 

The future is not ours to see. Siapa yang bisa melihat masa depan? Wah, kalau ada yang bisa pasti jadi orang paling hebat di dunia. Sayang­nya, masa depan memang ditakdirkan untuk tidak bisa dilihat.

Seseorang sangat yakin kalo suatu saat bisa jadi Jendral, bisa jadi komandan, atau bisa jadi pe­jabat. Salahkah? Ya tidak. Bukankah Tuhan selalu berada dalam keyakinan hati kita.

Tapi gimana ya, kok masih juga ada yang gagal. Padahal dia sudah yakin, sudah berusaha, sudah memenuhi syarat.

Percayalah…the future is not ours to see.

 

110

 

Membeli buku juga tergolong kegiatan yang  mulia. Di negara maju, banyak orang me­miliki perpustakaan pribadi saking banyaknya buku yang dimiliki. Namun bagi kita yang bergaji pas-pasan, membeli buku bisa berarti lain bila lupa diri. Karena ada seorang kawan yang terpaksa ber­antem sama istrinya, karena uang jatah belanjanya se­cara nggak sengaja ikut jadi buku.

Ya gimana, itulah kondisi lumrah kita sebagai warga negara biasa di Indonesia. Walaupun minat bacanya tinggi, anggaran terlalu mepet untuk beli buku. Mau minjem ke perpustakaan juga nggak mungkin. Eh, mana ada perpustakaan baik untuk kita yang di daerah?

“Udah nggak usah aneh-aneh, diam aja pasti selamat,” kata beberapa teman. Yah, akhirnya semua berjalan dengan modal diam.

 

111

 

Tidak semua yang berlawanan akan selalu bermusuhan dan merugikan.

Mike Tyson tidak akan seterkenal sekarang bila tidak ada petinju-petinju ayam sayur lainnya yang jadi lawan tandingnya. Liberalisme tidak akan per­nah bersinar bila komunisme Rusia tidak lahir dan melawannya. Ronaldo pun tidak akan menjadi pe­sepak­bola hebat tanpa ada 5 pemain lawan yang mencoba menghadangnya. No one wins if no one loses.

Setiap pertarungan menuju puncak memer­lu­kan lawan. Tak terkecuali kehidupan ini. Keberada­an­nya hampir sama pentingnya dengan doa kita ke­pada Tuhan Yang Maha Penolong di atas sana. Lawan tidak harus dienyahkan, tidak harus dibenci, dan tidak berarti musuh.

Namun banyak orang yang salah kaprah. Mereka menganggap bahwa perlawanan, per­beda­an pendapat, harus ditindas dan diberangus.

 

112

 

Berpikir skeptis, ngambang, nggak jelas iya dan tidaknya, memang sangat menyebalkan. Namun di era kacau penuh orang pintar seperti sekarang, kelompok orang yang menganut skeptis-isme ternyata banyak mendatangkan kedamaian. Mereka tidak pernah mengajak ataupun menyuruh untuk berbuat. Mereka hanya menggumam, mere­nung, mensosialisasikan kejernihan moral. Mereka hanya mengetuk pintu hati agar orang berbuat sesuatu.

Anda mungkin sudah mengenal gaya bicara Nurcholish Madjid, Musthofa Bisri, Gunawan Mohamad yang skeptis. Tidak ada kesombongan, nggak keminter, nggak tendensius, bikin adem. Merekalah penganut skeptisisme.

Semoga banyak orang pinter lain yang ngikut.

 

113

 

Wuih gila……benar-benar sebuah peradaban yang terluka.

Tawuran pelajar, kekerasan demonstrasi, nar­ko­tika, perang antar suku. Coba lihatlah kenyataan yang ada, semua keributan dipenuhi oleh orang-orang muda.

“Ampuni aku anakku, orang tua yang hanya menghasilkan anak-anak tidak beradab seperti kamu ….” kata Kaisar Roma, Marcus Aurelius, sebelum mati ditangan Commodus, anaknya sendiri.

Jabatan memang sangat penting bagi semua manusia yang bercita-cita tinggi. Namun bagi keluarga, resiko yang diambil tentunya sangatlah mahal. Istri dan anak bisa tidak terurus karenanya.

Kemegahan seorang ayah adalah bhaktinya pada keluarga dan pada generasi yang dititipkan padanya.

 

 114

 

Hati-hati dalam hidup bertetangga! Walaupun bermula dari masalah kecil, masalah anak kecil, namun sering berakhir dengan keruwetan.

Komunitas peradaban yang masih ber­tahan kemurniannya adalah keluarga, selain agama dan bang­sa pada tingkat dibawahnya. Sehingga sese­orang bisa berbuat apa saja karena latar belakang ke­luarga.

“Woo, dasar anake Paijo gendheng, anake wong edan…” umpat Sastro yang memang sudah sebel dengan ulah anak tetangganya itu.

“Pak …katanya Pakde Sastro, Bapak gendheng, Bapak edan…” kata si kecil.

Wah, kalo sudah gini pasti rame deh. Nggak peduli mana yang bener, bara sudah menyala. Bila angin bertiup agak kencang, pasti membakar apa saja.

Pokoknya, berhati-hatilah dalam hidup ber­tetangga.

 

115

 

Hidup bertetangga model lain yang sangat sensitif memicu terjadinya ketegangan adalah tetangga kantor.

Teman sih teman, yunior sih yunior, tapi kalo badge sudah beda, seragam sudah beda, wah bisa gawat bila nggak pinter-pinter membawa diri.

“Maaf komandan, saya kemarin dipukul sama bapak ini dari satuan ini,” kata seorang kopral.

“Ijin Pak, saya kemarin dibodoh-bodohin sama perwira dari satuan sebelah,” kata seorang sersan mengadu.

Posisi sih jelas, pangkat sih jelas, mungkin bagai bumi dibawah langit. Masalahnya juga jelas, bodonya pun juga jelas banget. Tapi ingat, ada aturan lain, ada etika, ada kehormatan, yang berlaku dalam setiap tempat dan dalam diri ses­eorang. Apalagi tentara yang punya l’esprit de corps kuat. Hati-hati lho?

 

116

 

Lihatlah yang keluar, ini darah, bukan cair­an keturunan Dewa, …” kata Alexander Yang Agung saat anak panah menancap di tubuhnya.

Kemenangan demi kemenangan, keberhasilan demi keberhasilan, perjalanan dari puncak ke puncak, sudah pasti akan menancapkan benih-benih kesombongan kepada manusia.

Sebagaimana Alexander yang mengaku se­bagai anak Dewa Zeus, saat ini juga banyak orang­ yang merasa sebagai anak emas Tuhan karena ke­jayaan beruntun yang diperoleh dalam hidupnya.

Hal itu tentunya bukan masalah yang harus diributkan. Cepat atau lambat pasti sadar sendiri kok.

 

117

 

Sekali berpikir ternyata lebih baik derajatnya dari 1000 kali ibadah. Padahal berpikir khan nggak mengeluarkan keringat. Bisa sambil tiduran, sambil nongkrong di tepi jalan, sambil nge­lamun. “Kok jadi begitu, …” tanya si Topan.

Pada dasarnya kemanapun tujuan hidup kita, harus didahului dengan berpikir. Kalau Imam Al Gha­zali bilang, “Tubuh kita hanya pesuruh, se­dangkan­ tuannya ada di akal pikiran. Sehingga, tubuh hanya mengikuti apa yang dikehendaki akal pikiran…”.

Sesekali, coba kita menjawab pertanyaan mate­matis tanpa berpikir dulu, dan lihat hasilnya! Lebih jelek daripada tidak menjawab sama sekali khan.

Mungkinkah kita menjawab semua pertanyaan tentang rahasia kehidupan tanpa berpikir?

 

118

 

Don’t make a snap decision.

Sebagai prajurit, kecepatan dalam me­ng­ambil keputusan memang sebuah perbuatan utama­. Namun bila terlalu cepat, sudah pasti tidak bi­sa men­jadi pengganti nilai perbuatan utama.

“Saya akan pikir-pikir beberapa hari, …” jawab Eisenhower saat ditanya kesiapannya menjadi pang­lima sekutu untuk memukul balik Hitler. Padahal jabatan empuk sudah jelas di depan mata.

Sikap tegas, keras, sigap, seorang prajurit tidak selamanya harus berarti cepat.

Cepat bisa berarti sembrono, sembarangan, nggak pake’ pertimbangan, dan pada puncaknya ber­ar­ti bodoh.

 

119

 

Di kampung saya ada seorang penjual kue tradisional bernama Mbah Nguk. Setiap lepas senja, dia selalu menjadikan kami sebagai pembeli terakhir, karena ibu kadang-kadang akan membeli sisa makanan yang dibawanya.

“Mbah Nguk, berapa dapatnya duit setiap hari?” tanya ibu sebelum jadi langganan Mbah Nguk. “Nggih lumayan, kulo angsal 3000 rupiah,” jawab­nya polos (Lumayan, saya dapat 3000 rupiah). “Lho, terus modalnya berapa?” tanya ibu mulai timbul rasa kasihan. “Mboten, kulo mboten tumbas, niki pados datheng kebon kok,” jawab Mbah tua yang sebenarnya sudah kena rabun ayam itu (Tidak, saya tidak beli, saya dapat dari kebun). Dan sejak saat itu, ibu kadang memborong sisa dagangannya karena kasihan.

Suatu hari Mbah Nguk datang dengan pincang kaki, tanpa sandal. Katanya dia habis terserempet mobil dan sandalnya hilang mencelat.

Mbah Nguk nangis karena sandalnya yang hilang. Sandal jepit harganya sudah di atas 3000 rupiah sekarang. Dia khawatir nggak bisa beli lagi.

“Lho, kalau ada masalah gitu mbok ya bilang sama anaknya biar dibeliin yang baru,” kata ibu.“Lho, anak kulo setunggal, putu sing kathah. Mung, sedaya putu kulo nganggur, ben dinten malah nyuwun kulo. Kadang simpenan kulo nggih dicolongi,” jawab Mbah Nguk mengejutkan (Anak saya satu, cucu yang banyak, namun semuanya nganggur, sehingga setiap hari minta saya. Tabungan saya kadang-kadang juga dicuri).

Sungguh menakjubkan dunia ini. Seseorang masih mau hidup dari penderitaan orang tua miskin, polos, seperti Mbah Nguk. Bahkan dilakukan se­orang anak cucu kepada orang tuanya sendiri.

Moga-moga kita tidak termasuk…Gusti.

 

120

 

Ciri pemimpin kharismatik adalah nggak bisa diam dan selalu memiliki visi ke depan.

Kalimat tersebut ada dalam buku The Charismatic Leader karya Jay A. Conger.

Namun kalau yang menulis buku itu saya, akan saya tambahkan kata “perhatian”.

Lihatlah hidup seorang penerbang tempur. Berangkat ngantor, briefing, duduk, ucap salam, terbang, mengetik puluhan lembar naskah latihan, terbang lagi, dimarahin, pusing, lari, berdoa, terus diulang lagi di keesokan harinya.

Apa jadinya bila pekerja keras model seperti ini hidup dalam ekosistem yang tidak ada rasa perhatian?

 

121

 

Ingin sekali menyebabkan lupa.

Bercita-cita tinggi memang sangat di­anjur­kan. Namun berhasrat terlalu tinggi bisa sangat ber­bahaya.

“Aku pokoke pengin yang ini…” kata seorang pemimpin. Akhirnya, gimana caranya, semua praju­rit harus memenuhi titah tersebut. Sehingga, semakin­ ke atas, seseorang harusnya semakin mengurangi hasrat.

Siapa yang nggak membenci praetorianisme Amerika yang telah mengangkangi dunia? Anak kecil pun tahu jawabannya.

Bercita-cita untuk selalu melawannya sudah pas­ti bagus. Berhasrat untuk mengalahkannya, eh tunggu dulu.

Ingatlah hasrat-hasrat Bung Karno yang mem­bumbung tinggi. Hingga banyak hal yang ter­lupa. Beliau lupa dengan segala kekurangannya, ke­ku­rangan bangsanya. Atau beliau sudah lupa diri karena hasrat?

 

122

 

Kamu, bisa berubah nggak sih?

Pertanyaan tersebut sering terucap dari se­orang kekasih, seorang atasan, seorang ayah, seorang yang lebih tua, atau seorang yang lebih bijak.

Ya, saya akan berubah sekarang.

Pernyataan ini keluar dari mulut seorang anak mu­da, seorang bawahan, seorang yang sembrono, ataupun seorang pelanggar norma.

Kedua pernyataan di atas, saat ini lebih sering ter­jadi karena kebiasaan budaya, kultural, sehingga hambar tak bernilai.

“Tak seorangpun dapat secara tiba-tiba men­jadi lain dari kebiasaan-kebiasaan dan pikiran-pikiran yang amat ia junjung tinggi sebelumnya…” kata Joshua L. Chamberline, Komandan Jendral Maine 20 Union Force di Perang Gottysburg.

Untuk mengetahui jati diri seseorang, cukuplah kita melihat dari kesehariannya. Dan untuk merubah karakter seseorang juga lihat kesehariannya.

Tak mudah untuk menjadi penasehat, seba­liknya juga tak mudah menjadi orang yang di­nasehati. Semuanya telah dibesarkan bertahun-tahun dengan lingkungan pendewasaan masing-masing. Semua orang bisa menyusun kotbah secara cepat, namun tak seorangpun bisa dalam sekejap merubah karakter orang.

Mereka yang lebih dewasa, si penasehat harus sabar, pelan-pelan, dalam merubah karakter orang. Ndak bisa merem langsung jadi kayak sulap.

 

123

 

Ada 2 penghalang paling berbahaya bagi perdamaian dunia, yaitu ketakutan dan kebanggaan.

Takut kalah, takut nggak kebagian jatah, takut ter­lantar, takut dipinggirkan. Takut yang berlebihan tentunya membuat orang akan berbuat apapun untuk menghindarinya.

Kebanggaan akan membuat kita meremehkan orang, mencampakkan kepentingan orang, mau menang sendiri, merasa benar, nggak mau tahu ling­kungan, main pokoknya, main tunjuk, main hakim sendiri, untuk menunjukkan bahwa dialah yang terbaik dari semuanya.

 

124

 

“Merdeka berarti aman dan damai,” kata Elio, pemimpin redaksi Mingguan Timor File, anak Timor yang terdepak dari tanah kelahirannya sendiri, saat bertemu di rumah kontrakan Eurico Guterres di Kupang tahun lalu. “Apa gunanya ji­ka kemerdekaan justru berwujud seperti ini. Saya akan bersyukur kepada Tuhan, bila ada hujan badai datang dan menenggelamkan sebuah bangsa paling bodoh di dunia bernama Ti­mor Leste, yang memilih menjadi tikus…” katanya lagi.

Dendam, oh dendam. Betapa kejamnya eng­kau. Namun apakah dendam menjadi hal paling kejam? Salahkah Elio bila berkata seperti itu? Mungkin ya mungkin juga tidak, bahkan tidak sama sekali. Kemuliaan semacam kemerdekaan pun bisa menjadi hal terkejam, bahkan melebihi dendam. Bagi rakyat Timor Leste, kemerdekaanlah yang justru menghasilkan dendam.

 

125

 

Angka 12 dan 5 adalah tanggal dan bulan dimana seremonial perkawinan saya berlangsung.

Sekian mata memandang, melewati passing in parade, saya menggandeng istri saya tercinta untuk me­masuki bahtera rumah tangga yang saya yakini sebagai hak yang wajib saya ambil di dunia ini, juga kebahagiaan di dalamnya.

Peristiwa di hari Sabtu malam itu akan menjadi momen lahirnya kehidupan baru, harapan baru, dan Insyaallah, generasi baru.

Terima kasih Tuhan atas segala kasih sayangmu.

Saya berharap, Tuhan kekasih saya sejati, selalu menegakkan langkah kami.

 

126

 

Tahukah kamu bahwa seorang panglima besar seperti Napoleon harus berakhir men­jadi penjual melon yang terlunta-lunta?

Tuhan memberikan kejayaan kepada orang yang dikehendaki, dan Dia juga yang mencabutnya.

Sang Kaisar berkata kepada anaknya, “Setelah masaku usai, Engkau tidak mungkin jadi raja, anakku. Karena engkau tidak punya sifat-sifat baik,” kata Kaisar Marcus kepada Commudus. Lalu apa jawab anaknya yang bengis itu, “Ayah, saya me­mang tidak memiliki sifat-sifat baik, namun un­tuk­ menjadi pemimpin besar tidak harus bermodal sifat baik. Yang sama nilainya saya punya ambisi…”

Sayangnya di jaman modern seperti sekarang, jauh hari setelah Roma runtuh, justru pemimpin se­perti Commudus-lah yang bermunculan.

Tapi ingat, ambisi bisa dengan cepat membawa ke puncak secepat saat menghancurkan.

 

127

 

Kalau kita bayangkan betapa beratnya resiko bagi seorang pemuda, termasuk prajurit bila sedang jatuh cinta kepada gadis yang dipujanya, pasti pusing tujuh keliling.

Dia harus mendapatkan kepingan uang untuk mem­persiapkan segalanya, untuk apel, untuk bisa ja­lan-jalan, untuk bisa beli prangko, untuk bisa telfon dan semacamnya.

Yah, sebuah saat yang mahal baginya. Dia kor­ban­kan waktu, pikiran, dan isi dompet. Runyamnya lagi, masih ditambah dengan hal-hal menyakitkan yang sering terjadi di dalamnya.

Mahal dan menyakitkan, itulah cinta. Namun, kalimat apa yang bisa menggantikan arti kedamaian cinta, keindahan cinta, keagungan cinta? Yah, no­thing compares to you deh pokoknya.

 

128

 

Eisenhower sendiri merasakan betapa sulitnya mempertahankan sebuah doktrin. Walau­pun doktrin sudah benar tapi bila pelaksana di lapangan lemah dan tidak bisa teguh membawa arah doktrin yang telah digariskan, maka doktrin dengan terpaksa harus diganti. Sehingga diperlukan seorang komandan lapangan yang mampu memegang teguh doktrin, bertindak tegas bahkan keras.

Namun anehnya kita justru tidak ada masalah dengan keduanya, mungkin malah nggak peduli lagi atau belum nyampe’ ke tahapan ini. Mau pakai doktrin atau enggak, mau keras atau enggak, me­langgar doktrin atau enggak, yang penting gimana caranya masalah kesejahteraan bisa teratasi lebih dulu.

 

129

 

“Modar ya modaro” kata Butet Kartaredjasa  cuek (Ah, mau mati ya mati saja). “Saya tidak begitu memperhatikan konsep neraka surga. Tapi saya merasa hidup ini ada yang memiliki. Berdoa saja jarang apalagi ke gereja…”

Salahkah Butet? Sepenuhnya tidak. Banyak orang terbelenggu dengan rutinitas ritual masjid, gereja, atau kuil, namun justru lupa atau tidak pernah ber­buat sesuatu untuk sesamanya. Apa arti ibadah mereka?

Butet mungkin ter­masuk kelompok orang yang telah banyak ber­buat sesuatu namun tidak pernah melakukan rutinitas ritual. Butet mungkin masuk kategori orang yang bisa membentuk karak­ter dengan instingnya yang tajam terhadap sosial kemasyarakatan.

Tapi ingat lho, rutinitas juga penting artinya walaupun kadang hambar dan membosankan.

 

130

 

Katamu…engkau adalah panglima gagah yang mampu menembus segala mara bahaya. Katamu…engkau adalah Jendral tanpa cacat dengan seribu tanda jasa.

Pernahkah suatu hari kakimu bergetar, kala Sang Maha Gagah mengetuk pintu hatimu?

Pernahkah sudut matamu sembab, mengingat segala kesalahan dan kelemahanmu?

Tuhan kemarin bilang …engkau gagah karena digagahkan, dan engkau mampu karena dimampu­kan.  Sebenarnya siapakah engkau kawanku? Bukan­­­kah Tuhan tak pernah berjanji untuk menyempurna­kanmu

 

131

 

Lembaga pendidikan yang sedianya dimaksudkan untuk membentuk sebuah per­adab­an yang lebih baik, ternyata justru lebih se­ring menuntun pada pencapaian kekuasaan daripada mencintai ilmu pengetahuan itu sendiri.

Kenapa ya? Lihatlah nasib guru. Mereka, para guru itu pasti tahu jawabannya?

 

132

 

“Saya rela anak saya mati di atas cockpit pesawat tempur, bila Tuhan memberikan kesempatan yang indah itu untuknya…… kesempatan untuk menjadi penerbang tempur,” inilah ucapan Nando, seorang sahabat yang berjumpa saat krisis Timor Timur terjadi.

Bila ingin menilai diri, kita memang harus sering berkaca pada nasib orang lain, sawang sinawang. Yang menurut kita biasa saja, ternyata orang lain menganggapnya istimewa. Yang menurut kita sangat istimewa, ternyata bagi orang lain dianggap biasa saja.

Saya jadi inget ucapan para sesepuh di keluarga saya, “Dadi opo wae ora usah nglirik kiwa tengen, sing penting uripe tentrem.” (Dimanapun posisi kita nggak usah iri sama orang, yang penting hidup kita tentram).  Nando…kamu lagi stress ya!

 

133

 

Kalau mendengar ada pasukan jihad mau berangkat ke Palestina, apa yang ada di benakmu? Bahagiakah kamu dengan sikap solidari­tas ini? Mungkin ya mungkin tidak. Yang ingin saya tanyakan, apakah perang multi konflik itu benar-benar telah bisa didentikkan dengan perang antara si baik dengan si jahat, sebagaimana dulu dilakukan oleh Musa, Yesus Kristus, dan Muhammad kepada musuh-musuh agama. Adilkah kita menempatkan sisi agama pada gerilyawan Palestina, dan mengabai­kan sembah sujud warga Yahudi kepada langit, se­bagai perwujudan makhluk lemah yang juga ber-Tuhan satu seperti kita.

Dari buku-buku yang masih ada sekarang dan sempat terbaca, kita akan bisa rasakan jeritan ke­sa­kit­an warga Yahudi yang dianiaya di kamp kon­sen­trasi Nazi. Mereka diperkosa, dikubur hidup-hidup, di­hinakan tanpa daya.

Ada memang sebagian dari mereka yang jahat dan aniaya, tapi di antara kita juga ada khan. Ada sebagian tentara mereka yang biadab bahkan mem­per­kosa, tapi ditempat lain itu juga ada.

Konflik mungkin saja terjadi, tidak kenal saat dan tempat. Namun agama selalu mengajarkan kasih sayang, juga perdamaian. Menggunakan agama se­bagai dalih sering membuat kita terpedaya.

 

134

 

Mungkinkah kita berangkat pada satu tujuan dengan sebuah pesimisme?

Mendapat tugas yang berat sudah pasti tidak me­nge­nakkan. Namun kita, para perwira yang di­bang­­gakan para anak buah ini harus menyikapinya dengan optimisme bila harus mengembannya. Opti­misme tidak harus berhasil toh?

Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dan tidak ada konflik yang tidak bisa dikomu­nikasi­kan. Inilah sebenarnya hakekat optimisme.

 

135

 

Kalau masuk di salah satu crew room di Pangkalan Halim Perdanakusuma, akan kita temukan tulisan berbunyi seperti berikut;

What money can buy

A bed but not sleep

Computer but not brain

Food but not appetite

Finery but not beauty

A house but not home

Medicine but not health

Luxuries but not culture

 

Untaian kalimat luhur di atas sudah pasti penuh makna, yang kira-kira berarti uang bukan segala-galanya dan kejayaan ada batasnya.

Tapi ngomong-ngomong siapa di antara kita berani mengatakan, “Saya nggak butuh itu semua?”

 

136

 

Saya sering bertanya dalam hati, mengapa Tuhan tidak memberi saya apa yang orang lain miliki?

Teman saya juga sering bertanya mengapa ia tidak dianugerahi sesuatu yang dimiliki temannya yang lain.

Temannya teman saya juga sering bertanya mengapa ia tidak semujur temannya yang sering di­anggapnya mujur.

Inilah saya kawan, yang sering berlagak sebagai sosok yang sempurna. Hari ini saya dapatkan diri ini tak lebih dari manusia lain yang selalu mengeluh. Hari ini saya dapatkan kenyataan yang sebenarnya bahwa saya sama buruknya seperti mereka, yang di mata saya terlihat buruk.

 

137

 

Hirarki adalah segala-galanya dalam kehidupan militer.

Pernahkah suatu hari engkau disanggah oleh temanmu, prajuritmu, yuniormu, atau bawahanmu? Sudah atau belum bukanlah hal yang penting untuk dibahas. Yang utama, sudah siapkah engkau mene­rima bila kenyataan itu terjadi padamu?

 

138

 

Karir, hubungan stabil dan keluarga.

Semua orang akan menginginkan hal  yang berbeda seiring dengan bertambahnya usia. Ini juga berlaku pada diri kita.

Wah, cantik banget. Wah, ganteng banget. Wah, pinter banget. Wah, kaya banget. Dan banyak “wah” lainnya, saat dua insan mulai mengikat rasa.

Bisakah komitmen keluarga bertahan tanpa sekian “wah” tersebut?

Gimana kalo karir suami jeblok. Gimana pula kalo waktu pasangan kita tersita untuk mengejar karier yang lagi cemerlang, hingga untuk pulang ke rumah pun males. Gimana kalo kita akhirnya banyak peluang untuk selingkuh di saat yang serba “wah” sudah tidak ada.

Tuhan ada di hati kita, dalam suka dan duka. Kepada-Nya-lah kita bergantung.

 

139

 

Dulu sekali, saat masih kecil, saya pernah tergerak untuk mengambil seekor kucing kotor di jalanan. Mungkin dia tersesat. Mungkin pula dia memang tidak punya tempat berteduh. Bagi si kucing, itu adalah peristiwa besar dalam hidupnya. Mengapa? Karena kini dia punya rumah, punya hidup yang lebih beradab.

Sampai di rumah, si kucing dimandikan, diberi makan…… lalu dikeloni

Bingung…itulah gambaran akal saya dalam mencermati kehidupan ini. Justru kepada hewan kita mau melakukannya, sedangkan kepada manusia kok kita sering nggak mau ya?

 

140

 

Sedih. Inilah suasana hati saya saat membaca berita kematian Dokter Rene Favaloro, penemu bedah jantung coronary by pass, sekaligus pelaksana 13.000 operasi sejenis.

“Inilah saat paling sulit sepanjang hidup saya. Adalah pada akhirnya saya harus jadi pengemis. Tugasku hanya mengetuk pintu rumah orang untuk mengumpulkan sejumlah uang agar bisa terus be­kerja…” pesannya sebelum dia mengakhiri hidup­nya sendiri, seperti dikutip Harian Jawa Pos.

Indah nian hidup ini. Seorang jenius, pengabdi ma­syarakat dunia, namun harus tua sebagai pe­nge­mis. Dia bunuh diri karena tidak bisa mengem­ba­li­kan hutang yang digunakan untuk dana risetnya. Sekian ribu nyawa telah diselamatkannya, tidakkah itu sudah cukup berharga? Salahkah bila semua orang pintar pada akhirnya bercita-cita menjadi penguasa yang kuat dan kaya daripada menjadi orang bijak miskin tanpa daya?

 

141

 

Mas, Panglima yang berhasil sudah ada tanda-tandanya.   Kalimat ini terucap dari seseorang yang saya panggil sebagai Mas Norma, penulis sekaligus editor Fajar Pustaka, yang telah menyadur karya-karya Kahlil Griban dan menjadi teman akrab saya saat masih menjadi “manusia buku” di Yogya.

Sun Tzu pun mengatakan, “Kenali dirimu dan kenali musuhmu.” 

Maka jangan kaget bila ada orang yang terlahir untuk bekerja keras sepanjang hidupnya, miskin sepanjang jalannya dan sengsara dimanapun berada.   Di pihak lain, ada yang ongkang-ongkang kaki pun hidupnya senantiasa bertabur  keberuntungan dan segala sesuartu yang serba enak.  Jangan kuatir kawan, semua sudah diatur oleh Tuhan dan ada tanda-tandanya, ada suratan nasibnya.  Dalam dunia militer pun hukum ini sering berlaku.   Prestasi selalu yang terbaik belum tentu bersanding dengan kesuksesan karier.  

Janganlah peduli terhadap hasil, karena Tuhan hanya menilai cara.   Ini saran yang bisa kita terima.  

 

142

 

Pak Dahlan Iskan, bossnya Jawa Pos itu, punya cerita lucu tentang Gus Dur, se­ba­gai­mana dikutip sebuah media massa;

“Saya punya ide agar Indonesia cepat maju,” ujar Gus Dur, 15 tahun sebelum menjadi Presiden, “Kalau nanti saya jadi Presiden, saya akan meng­umumkan perang dengan Amerika.”

Dan kami­pun hanya tertawa dan bertanya, “Lho kok begitu Gus, khan kita pasti kalah?” “Memang,” jawab Gus Dur enteng, “Justru kalau kita kalah pe­rang, kita akan dibangun seperti Jepang dan Jerman. Dan Indonesia malah cepat maju.”

Ketika kami ter­bengong, Gus Dur yang sudah ancang-ancang mau tertawa balik bertanya, “Yang jadi persoalan adalah bagaimana kalau kita yang menang?“

Semoga Presiden kita tetap awet memiliki sense of humor yang merdu seperti ini.

 

143

 

Kamu kaget nggak bila tahu bahwa seorang prajurit, jendral loyalis harus mati bunuh diri? Ini bukan di Jepang tapi di Rusia.

Dialah Marsekal Fyodorovich Akhromeyev yang menembak pelipisnya sendiri pada bulan Agustus 1991.

Sang Jendral memilih mati daripada melihat kenyataan runtuhnya komunis.

Banyak hal yang tidak beres di dunia ini. Politik, intelijen, atau kehidupan sosial masyarakat itu sendiri. Bagi seorang prajurit, tujuan negara-lah pengabdian ter­tinggi. Sehingga mereka rela bertempur, menang­kap, menyiksa dan disiksa.

Trus siapa yang salah, bila akhirnya prajurit harus menemui kenyataan bahwa apa yang telah di­perjuangkan sepanjang hidupnya ternyata salah? Adakah pengganti dari nilai kesetiaan itu? Atau orang hanya bisa menghujat?

 

144

 

Pendidikan prajurit saat ini lebih lembek dari sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun mendatang, kami generasi prajurit yang saat ini dicap lembek ini, pun akan berkata demikian. Kami akan berbicara tentang lari sampai mau sekarat, dipukul sampai benjol-benjol, push up ribuan kali.

Fisik bagus adalah tuntutan mutlak bagi prajurit. Namun demikian kita ada dalam komunitas dunia yang selalu bergerak maju.

Apakah yang tidak lari-lari nggendong ransel bukan bernama prajurit?

 

145

 

Whereof one cannot speak, thereof one must be silent.

Suatu tempat dimana orang tidak dapat bicara, di sanalah orang harus diam.

Tak banyak prajurit yang punya hobby banyak bicara mendapatkan penilaian yang positif dari para atasannya.

Lalu akankah ini merembet kemana-mana, ke semua lini kehidupan? Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Ini nggak bener, itu nggak bener.

Suatu tempat dimana orang merasa serba salah, di sanalah orang harus diam juga.

 

146

 

Jendral Sudirman adalah seorang luhur. Seorang panglima yang mau naik turun gunung dengan sebelah paru-parunya.

Sebenarnya ada rahasia lain mengapa beliau men­jadi semakin luhur. Akankah Pak Dirman di­kenang seperti sekarang kalau beliau hidup lebih lama? Jawabnya, belum tentu. Banyak lho orang yang ga­gal hidup sebagai manusia setelah menjadi pahlawan.

Ada dua pilihan bagi kita bila sebuah kejayaan beserta kita, mengakhiri sendiri atau Tuhan meng­hakimi.

 

147

 

Orang bisa berhasil dengan dua macam cara.  Terserah cara mana yang mau dipakai, ke­dua-duanya ada enak dan nggak enaknya.

Cara pertama adalah dengan banyak berbuat untuk orang lain. Sedangkan yang kedua adalah dengan banyak berbuat untuk diri sendiri.

Mari kita nilai apa yang telah kita lakukan. Mulai belajar dari TK sampai sarjana, yang lain ada yang jadi tentara.  Buat apa? Ya tentunya untuk diri sendiri, agar dapat hidup layak di tengah lingkungan yang penuh persaingan.

Berdedikasi tinggi, loyal, disiplin, untuk apa? Murnikah dari sebuah keinginan tulus untuk mem­beri sumbangsih kepada sesama kita? Belum pasti.

Akankah sepanjang usia, kita abdikan per­juangan ini untuk kejayaan diri sendiri? Ah, kayaknya nggak tuh, kata setiap orang nggak mau ngaku.

 

148

 

“Indonesia adalah bangsa yang besar.”

Semoga jargon penuh kebanggaan ini nggak bermaksud untuk membohongi bangsa kita sendiri.

Coba sempatkan waktu dalam sekali sebulan atau sekali setahun, untuk mengunjungi teman-teman kita yang ada di pedesaan. Lihatlah para petaninya yang masih harus hidup di rumah-rumah dari daun rumbai tanpa ada kepemilikan hak yang jelas. Mereka bernasib buruk bahkan melebihi suku Indian di abad kemarin.

Lihatlah nasib para guru, buruh, juga para pra­jurit kita yang ada di daerah-daerah. Akankah kita akan membesarkan bangsa ini dengan menindas kawan sendiri?

 

149

 

Kejam nian kehidupan, namun juga menggelikan. Ini mungkin yang dirasakan Milan Kundera hingga ia menulis The Book of Laughter and Forgetting.”

Bulan Pebruari 1948, pemimpin komunis Klement Gottwald melangkah menuju balkon sebuah istana Barok di Praha untuk berpidato di hadapan ratusan ribu rakyatnya.

Tiba-tiba salju turun, Clementis, sahabat setia yang berdiri didekatnya, yang cemas, langsung menanggalkan topi bulunya dan mengenakan di kepala Gottwald.

Di Balkon itulah Cekoslowakia komunis lahir. Foto-foto Gottwald yang bertopi bulu didampingi Clementis pun tertempel dimana-mana. Namun empat tahun kemudian, saat Clementis dihukum gantung karena tuduhan pengkhianatan, foto propaganda pun berubah. Gottwald berdiri sendiri. Disampingnya hanya ada tembok tanpa Clementis.

Bisa saja…

 

150

 

Komandan yang berhasil ada 2 macam. Yang biasa-biasa saja dan satu lagi yang istimewa. Analisis ini sempat dibuat di lingkungan Angkatan Laut AS.

Lalu apa yang membedakannya?

Komandan terbaik, yang berhasil secara istimewa ternyata bukan tipe kejam yang terus menerus meneror anak buahnya. Mereka justru orang­-orang yang ramah, hangat, dan berjiwa sosial.

 

151

 

“Tak seorangpun dari kita akan sepandai kita semua,” ini adalah pepatah Jepang.

Dalam kehidupan kerja kita, yang notabene kumpulan calon pemimpin, orang pinter semua, memang agak sulit bila salah satu harus memimpin.  Semuanya merasa layak tampil. Semuanya merasa paling “ter”, paling hebat.

Makanya, prajurit diajari kebersamaan, jiwa kor­sa, l’esprit de corps. Moga-moga saja bisa ber­manfaat.

 

 152

 

Kapan harus tegas?

Setiap saat, setiap detik, setiap peristiwa. Inilah jawaban tepat namun sangat membosankan.

Ketegasan yang berjalan konstan adalah tanda kelemahan, bukan ciri kepemimpinan yang kuat.

Ketegasan dalam mengambil keputusan-keputusan sulit memang utama, namun memberi perintah dengan bengis, kejam, tak berperasaan, adalah se­buah kegagalan kepemimpinan paling fatal.

 

153

 

Apapun kondisinya, politik tidak akan mampu memastikan sebuah tempat yang layak bagi sifat keperwiraan.

Kepatuhan berdisiplin, kebiasaan mengikuti perintah, merupakan sifat keprajuritan dan tuntutan militer. Akan tetapi, bila terjadi pergolakan politik dan kekacauan nasional, perintah-perintah yang ber­tentangan bisa menyebabkan seorang prajurit begitu mudah dipermalukan, semudah dibanggakan.

 

154

 

“Biaya yang dialokasikan untuk 2 orang akan kami gunakan untuk 3 orang,” demikian argumen 2 sahabat SMA kepada kepala sekolah, untuk menggolkan keikutsertaan saya dalam di­klat jurnalis yunior di Malang tahun 1990. “Terserah, yang penting duitnya aku nggak tang­gung, karena sekolah memang nggak punya!” kata beliau.

Setahun kemudian, saat salah satu dari mereka bermasalah dan dicurigai melarikan mesin cetak milik sekolah, saya termasuk orang yang abstain komentar, mencoba berbuat adil!  

 

155

 

Kalau diberi kesempatan, saya ingin ada disamping Sun Tzu, saat menulis Art Of War.Kalau diberi waktu, saya ingin ada di dekat Clausewitz, saat menulis On War.  Andai ada saat baik, saya juga ingin bersama-sama Napoleon kemanapun ia pergi. Walaupun hanya jadi tukang semir sepatunya sekalipun.

Saat singkat bersama orang besar adalah se­buah peristiwa besar. Lebih besar artinya di­banding­ diri kita sendiri yang sering merasa besar.

Saat singkat bersama orang besar, lebih dalam maknanya daripada harus hidup sebagai katak dalam tempurung, namun merasa besar.

 

156

 

Siapa musuh kita? Perang ternyata tidak selamanya dengan orang lain, dengan bangsa asing. 

Pernah nggak nonton wayang? Dari dua inti cerita wayang, Ramayana dan Mahabarata, kita akan percaya hipotesa di atas.

Ramayana adalah pertempuran murni antar negara yang berbeda segalanya. Sedangkan Maha­barata adalah perang saudara, sedarah dan sedaging.

Menang sih mungkin saja, tapi tidak sebanding dengan indahnya kehidupan yang dianugerahkan ke­pa­da kita.

Nah, kalau tahu begini gimana hayo? Masih mau tawuran. Masih mau perang antar kampung. Masih mau perang antar suku.

 

157

 

Ujian pertama untuk menjadi seorang pemimpin besar adalah kerendahan hati. Me­ngapa? Mudah sekali jawabannya. Karena untuk sa­at ini tidak ada lagi pekerjaan sulit, termasuk di du­nia ketentaraan. Banyak orang mampu dengan mu­dah melakukannya atau minimal mampu mela­ku­kannya dengan perlahan-lahan.

“Ah cuman gitu aja,” kata seorang perwira muda.

Kita tentunya gembira dong, bila para generasi muda kita, prajurit muda kita, ternyata tidak menga­lami kesulitan dalam mengakses setiap materi pen­didikan dan latihan. Namun bila kalimat itu ter­ucap ber­ulang-ulang, terpancar di mimik wajah, tera­pre­siasikan dalam gerak tubuh, setiap hari, setiap saat, se­panjang tahun, hasilnya malah gawat. Teman, bawahan, dan atasan mana yang tahan men­de­ngar­kan?

Akhirnya, mereka yang berhasil justru yang biasa-biasa saja.

 

158

 

Kalau melihat era sekarang, dimana setiap hari orang ribut dengan demokrasi. Hebat­kah demokrasi? Lalu dilain pihak ada musuh ber­nama pengekangan yang sering disamaartikan de­ngan militerisme. Adilkah? Apakah demokrasi selalu membawa ke suatu keadaan yang lebih mak­mur dan tindakan pengekangan selalu mem­bawa kehancuran?

Rusia dan Indonesia jelas-jelas berbeda pada banyak sisi. Namun kekacauan yang terjadi setelah datang­nya demokrasi yang kebablasan, mungkin ham­pir sama. Salah seorang teman bilang, bahwa rak­yat dan pemerintah China justru tambah dewasa justru setelah tragedi Tiananmen.

Demokrasi memang milik rakyat namun mereka tidak boleh lupa untuk menuntut ilmu, ngantor, dan menanam padi. Yakin, bahwa masalah tidak akan selesai dengan demo. Demokrasi tak ada artinya tanpa kedewasaan pola pikir, tanpa kearifan.

 

159

 

Dimana muara dari sikap respek senior yunior dalam hirarki jabatan?

Tentunya dari tingkat peran yang dimainkan oleh sekelompok orang, terkait dalam sebuah sistem.     Namun demikian, bisakah sikap respek ditum­buh­kan tanpa dilatarbelakangi peran? Apakah sikap respek melulu karena pangkat? Apakah sikap respek melulu karena jabatan? Maybe yes, maybe no.  Kita coba bayangkan suatu hari bertemu dengan senior kita di kantor dalam suasana lain, dalam ke­bebasan lain atau sebaliknya dalam keterikatan ber­beda. Masihkah sikap respek kita sama seperti saat kita seperti sekarang? Masihkah kita bertutur kata le­mah lembut dan berperilaku rendah hati?

Respek bisa berarti takut, bisa juga berarti nor­ma hidup.  Bila rasa takut sudah hilang, manusia yang tidak bernorma sudah pasti akan hilang sikap respeknya.

 

 160

 

Bila melihat beberapa tahun terakhir, kita sudah pasti merasakan bahwa upacara militer yang dilaksanakan TNI sudah tidak ber­megah-megah lagi seperti dulu. Mungkin ini tanda keturut­berdukaan.

Sekian tahun berlalu mulai dari BKR, TRI, TNI, APRI, ABRI, lalu kembali ke TNI, pernahkah sekali waktu rakyat berfikir untuk apa TNI ini ada, untuk siapa dan demi apa organisasi TNI bekerja?

Sekian masa generasi berlalu dan tumbuh. Sekian masa Indonesia berubah. Kata mereka, TNI di masa lalu kejam tak berhati, dimana parameter­nya? Betapa naifnya melihat suatu era dengan cara meng­intip dari masa yang lain, sebagaimana mem­vonis Tuhan itu kejam karena tidak memberi am­punan bagi manusia yang ada di neraka.

Tentunya kita akan marah bila generasi yang akan dewasa 20 tahun lagi mengatakan generasi kita yang dewasa di era sekarang adalah generasi penga­cau, generasi mafia, generasi penjarah.

Kaum muda saat ini sudah pasti tidak bisa merasakan betapa kejamnya PKI, hingga TNI juga harus keras dan terpaksa membunuh saat itu. Rakyat juga tidak pernah membayangkan apa jadinya bila ribuan massa masuk di rumah Presiden, gedung dewan rakyat, atau kedutaan asing. Saat mereka gontok­-gontokan lalu ada yang mati, apakah rakyat juga merasakan kepedihan prajurit, lapar dan jerit kesakitan prajurit.

Prajurit kita pun bukan prajurit bayaran yang setiap pulang dinas selalu membawa pundi-pundi di kantongnya. Mereka juga sering sedih, sujud mo­hon ampun, dan sakit.

Semua peristiwa punya rasa, setiap masa juga punya rasa. Apakah anda masih percaya dengan para penulis, para kritikus, yang sering berkeliaran di café, datang ke studio TV dengan perut kenyang dan mobil Mercy?

 

161

 

Dalam istilah jurnalistik kita mengenal name makes news. Sesuatu yang kecil, namun bila terjadi pada orang penting, maka masalahnya akan jadi lain. Apalagi jika masalahnya besar, wah pasti jadi booming.

 

162

 

Hidup di mana pun sebenarnya sama saja.  Mau hidup di lingkungan tentara ataupun hidup di hutan belantara, semuanya tetap ada aturan. Tak sejengkal pun tempat di dunia ini yang tidak memiliki aturan main.

Aku nggak kuat jadi tentara, aku nggak kuat jadi pegawai negeri, aku nggak kuat diatur-atur, dan macam-macam keluhan.

Sekarang mari kita nilai, cara hidup yang bagaimanakah yang membuat kita bahagia? Cara hidup yang penuh glamour? Pasti bukan. Cara hidup yang hura-hura? Juga bukan. Coba saja kalo nggak percaya.

Yang pasti, dengan cara hidup teratur, penuh dengan rambu-rambu, kita akan benar-benar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang se­sungguhnya bukan? Dan orang yang lari dari aturan, tidak akan pernah merasakan hidup sebagai manusia yang sesungguhnya.

 

163

 

Mendengar ternyata lebih sulit dibanding berbicara. Hingga banyak orang menjadi gagal karena sulit bersikap baik dikala berposisi sebagai pendengar.

 

164

 

Membaca, menghabiskan waktu berjam-jam dengan buku memang membuat waktu kita sangat tersita. Apalagi semakin banyak ber­gumul dengan buku, pikiran kita dibuat semakin bingung, karena banyak masalah yang kita nggak ngerti.

Mungkin manusiawi bila kita butuh kegiatan yang produktif di luar dinas, yang menghasilkan duit. Berapa sih gaji pegawai negara? Terus kalo setiap bulan beli buku, setiap hari baca buku. Rezekinya nambah dari mana, lha wong gaji setiap bulannya sama kok.

Setiap orang punya komitmen pada ilmu yang dimiliki. Andaikan ilmu adalah benih. Dari benih ini bisa tumbuh pohon yang bisa menghasilkan ber­bagai macam buah, apapun yang kita mau. Ada bu­ah yang bernama duit, ada yang bernama kekua­saan, dan ada juga yang tetap bernama ilmu. Nah, terserah masing-masing mau yang mana?

 

165

 

Kalau kita melihat taktik perorangan gerakan prajurit infantry, tentu kita tahu kenapa dia harus bergerak zig zag dan bukannya lurus ke depan kayak babi? Demikian juga dalam ke­hi­dupan, kita harus banyak berkelit bila ingin selamat.

Bedanya, kalau dalam kehidupan prajurit sudah dibukukan dan diundangkan, sedangkan dalam kehidupan diserah­kan pada kemauan kita. Dikerja­kan boleh, nggak juga nggak apa-apa. Khan resiko ditanggung sendiri toh?

 

 166

 

“Apakah kalo bapak-bapak itu sidang,    lan­tas semuanya akan jadi baik, pupuk murah dan gampang dibuat?” kata Warsito, se­o­rang petani Jawa Tengah tentang Sidang Tahunan MPR 2000, sebagaimana dikutip Kompas.

Setiap komponen bangsa ini punya job description masing-masing. Cukuplah sebagian yang melakukan ini, dan sebagian yang lain melakukan itu. Nggak usah ikut terprovokasi, demo, juga ikut bakar-bakar. Yakin saja, banyak masalah yang bisa selesai tanpa harus semuanya berbicara.

 

167

 

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Walaupun banyak orang luar sudah menyangsikan filsafat ini, saya tentunya masih merasakan desir keagungannya saat hidup di tengah-tengah para senior, komandan, dan saat ketemu beberapa pejabat Angkatan Udara.

Mungkin karena selalu diajarkan pola hidup sederhana, setiap latihan selalu berada di pedesaan, di pinggiran hutan, sehingga tentara bisa merasakan, mengerti, dan memahami bagaimana untuk ber­hadapan dengan rakyat kecil.

Mungkin banyak orang luar yang protes, setelah membaca tulisan ini. “Wah bohong, nyatanya banyak tentara yang kaya raya, jadi milyuner, jadi konglomerat…..”

Yah namanya juga kehidupan. Siapa sih yang sejak lahir mau teken kontrak sanggup menjadi orang yang miskin sampai tua? Kalau halal, tak bolehkah tentara kaya? Mereka juga diajarkan untuk berjiwa sederhana lho?

 

168

 

Empat jam sebelum upacara dimulai, semua pasukan sudah berdiri tegak tak bergeming. Mereka semua memakai pampers bayi, untuk kencing ditempat. Inilah suasana HUT kemerdekaan ke-50 China komunis, penuh kebanggaan. Disana ada sekelompok pemuda yang menggotong foto raksasa Sun Yat Sen.

Sempur­nakah manusia tersebut hingga di­perlakukan istimewa dan fotonya dipajang di mana-mana hingga sekarang? Tidak juga ternyata, karena Sun Yat Sen pun banyak dosa pada rakyat. Namun mereka telah memiliki tradisi kuat untuk tetap meng­­hormati pemimpin, pendahulu, lepas dari lebih dan kurangnya.

Mari kita bayangkan bangsa kita yang katanya sebuah koloni yang bermoral agama, di mana foto Bapak Soekarno dan Bapak Soeharto sesaat mereka lepas dari jabatannya?

 

169

 

Apakah seorang komandan harus pintar? Inilah pertanyaan bijak dalam pamflet ber­judul A Thought of Being Squadron Commander, sebuah pemikiran tentang profil komandan skadron.

Beberapa orang mengatakan, “Seorang ko­man­dan adalah orang yang keberadaannya bisa di­terima oleh banyak pihak, oleh pemimpin, oleh sejawat, dan oleh anak buah. Dan tak mesti harus pintar.”

Sebagian yang lain mengatakan, “Memang tidak harus pintar. Hanya, orang yang sukses meng­aplikasikan sikap baik tersebut biasanya orang pintar.”

Beberapa orang menyela lagi, “Orang pintar sering menyepelekan hal-hal kritis dalam setiap tindakan demokratis yang seharusnya diputuskan secara bersama-sama. Ia juga sombong.”

Trus gimana? Seorang komandan tidak saja orang yang pintar dan bisa diterima semua lini, dia juga orang yang bernasib baik.

 

170

 

Siapa yang nggak bangga jadi penerbang?  Apalagi penerbang tempur. Bisa melesat di atas awan, di atas kecepatan suara, dan berjumpalitan di udara. Tapi sayangnya, ada juga lho handy cap-nya.­ Katanya mereka sering pergi jauh, hidup dalam disi­plin tinggi yang bagi wanita amat sangat me­na­kut­kan.

Katanya mereka juga termasuk golongan orang­ egois, sombong, sok jago karena kelebihan­nya dan mau menang sendiri dalam segala hal. Dan banyak lagi “katanya”.

Tapi ngomong-ngomong di mana ada orang, tempat, atau institusi, yang sempurna di dunia ini? Yang pergi-pergi tidak hanya penerbang tempur. Yang sombong juga tidak hanya penerbang tempur, khan?

 

171

 

Tentara sejati, apakah itu?

Apakah ia adalah sosok yang sama sekali tidak pernah melanggar dan mengerjakan tugas apa saja tanpa sedikitpun kata keluhan keluar dari mulut­nya.

Apakah ia adalah sosok yang rela berkor­ban jiwa raga, material spiritual, kepada dinas tanpa memikirkan nasibnya sendiri?

Masih adakah tentara sejati? Apakah seorang istri dan anak yang ada di rumah juga tahu ar­ti tentara sejati? Apakah demonstran juga tahu arti ten­tara sejati? Apakah seorang anak buah yang se­ring dimaki-maki juga sadar arti tentara sejati?

Tentara sejati ada pada suatu tempat, lain­nya tidak.

 

172

 

Apa arti “biru” bagi kita?

Biru bisa berarti memar saat kita menga­takan, “Wajahku biru kena tonjok.”

Biru juga bisa berarti porno saat kita mengata­kan, “Anak itu nakal karena suka menonton film biru.”

Biru juga tetap berarti biru saat kita menga­ta­kan, “Langit itu biru.”

Sedangkan bagi koloni Angkatan Udara, biru memiliki makna yang dalam, kebanggaan yang besar.

Biru bisa berarti biru, bisa berarti porno, bisa pula berarti kebanggaan. Tergantung kita, mau di­apakan si biru itu.

Sebagai insan Angkatan Udara, cukupkah kita bangga dengan si biru, by doing nothing? Apa kita telah berbuat sesuatu untuk memaknai si biru?

 

173

 

Dalam beberapa tahun terakhir, kita banyak melihat kemunculan orang muda cerdik yang bersuara lantang, mencoba ikut menegakkan perdamaian dan keadilan. Namun bukan kedamaian yang didapatkan, justru kekacauan.

Mengapa begitu? Yah, mungkin orang muda itu tidak merasa, justru dialah produk tulen dari sebuah generasi yang kacau. Akan lebih baik bila mereka diam, dan lebih banyak belajar santun dan mawas diri.

 

174

 

Saya sangat hobby nonton film, mengapa? Karena film memberi gambaran kepada manusia bahwa waktu tidak selamanya mengalir lancar, lambat laun, detik demi detik. Dalam film, kita bisa melihat bagaimana sebuah masalah pelik, kehidupan yang sulit, bisa terselesaikan dalam waktu 1 sampai 2 jam, sesuai dengan durasi film.

Film bergerak cepat, kadang meloncat, juga penuh kejutan kehidupan yang sering kita anggap tidak ada dalam keseharian. Sehingga film mampu menumbuhkan harapan, optimisme.

Film jenis apapun tidak akan terlalu detail menyusuri setiap bagian kehidupan. Ia hanya me­nam­pilkan bagian yang penting untuk dirasakan. Kita pasti hanyut karenanya.

Tidak ada yang tidak terselesaikan dalam film. Sering putus asa? Nonton film saja…

 

175

 

Orang sering berkata, “Jika aku tahu, aku akan lebih mempersiapkannya.” Namun siapa diantara kita akan dengan sempurna bisa mempersiapkan diri untuk setiap perubahan ke­hi­dupan?

Berurusan dengan rahasia masa depan, kita memang lebih baik bila selalu siap menerima kalah, karena kita memang terlahir untuk melewati ke­kalahan yang justru sering kita asumsikan sebagai kemenangan.

176

 

Tudinglah dia, tudinglah mereka, tudinglah siapa saja. Rasanya masih begitu lama untuk bisa melupakannya.

Inikah arti reformasi yang kau minta?

 

177

 

Aku sering melihat langit terlalu lama, sehingga membuat orang yang ada di dekatku se­ring jengkel.

Aku sering termenung, sehingga terlalu banyak menyita waktuku. Aku merasakan, sesuatu datang dan pergi di saat diam membisu, yang orang lain tidak tahu.  Kebisuan itu penuh makna. Kekuatan itu ada. Aku terpana karenanya.  Kebisuan itu adalah jalan terang untuk menembus kebuntuan hakiki hidup. Kebisuan itu adalah ketajaman akal. Kebisuan adalah airmata kebahagiaan. Seringkali ya Tuhan, kebisuan hampir mempertemukanku kepada-Mu. Walau aku yakin itu tak akan terjadi sebelum waktuku. Kebisuan telah membuatku semakin mencintai saat gembira dan kesedihanku. Kebisuanlah yang mempercepat gerakan tanganku, untuk menuliskan guratan kasih-Mu dihatiku.

 

178

 

Aku adalah jiwa yang terbungkus dalam tubuh kerempeng buruk rupa.

Suatu hari di masa lalu aku sudah membulatkan tekad untuk membebaskan dari segala tirani hati.

Suatu hari di masa lalu aku sudah berjanji untuk hidup tidak menyakiti.

Aku mengagumi Gibran sebagaimana aku mengagumi luasnya alam semesta.

Aku mengagumi Tsun Zu dan Clausewitz se­bagaimana aku mencintai seni perang yang indah bagai tarian, bukan hanya tetesan limbah keringat dan darah.

Aku sering bertanya, mampukah akalku meng­ikuti hasratku?

Aku sekarang masihlah manusia buruk rupa, tak berharga.

 

179

    

Bisakah anda menjadi hakim yang adil di kehidupan yang sudah tersekat ini?

Mayat-mayat yang bergelimpangan di medan perang, wanita-wanita yang diperkosa dengan brutal, bahkan ada bangsa yang sengaja ditenggelam­kan. Sudah pastikah orang akan memvonis bahwa ini kejam dan yang lain tidak? Sudah, begitu jawaban yang ada di kitab suci. Belum, begitu gambaran dari semua kenyataan yang terjadi di setiap sudut ke­hidupan.

Kejam di sini mungkin mulia di sana. Adil di hari ini mungkin bengis di lain hari. Baik bagi ini mungkin tragedi bagi lainnya.

Kita tahu sekarang. Suku, bangsa, juga negara, adalah sebuah kemunduran, bukan ketinggian per­adaban. Yang adil kita bukan mereka, yang baik kita bukan mereka, yang dilindungi kita bukan mere­ka. Trus, kenapa ya kita dulu berjuang untuk merdeka?

 

180

    

Orang Yahudi perantauan menangis melihat      kenyataan hidupnya. Sekian tahun melari­kan­ diri dari Eropa karena trauma Nazi, mereka mendapatkan kenyataan yang menyedihkan. Rumah ibadat mereka sudah menjadi gedung konser, pusat hiburan.

Orang Islam juga akan meneteskan airmata bila berkunjung ke Soviet di masa komunis berjaya. Masjid-masjid dirobohkan, pusat studi Islam dibubarkan.

Ada sebuah kampung di dekat saya. Disana ada masjid, ada juga gereja. Disana tidak orang meneteskan airmata. Disana orang datang dan pergi dengan biasa-biasa saja.

Itulah kita. Ada namun tiada. Ada namun kekurangan makna. Apakah agama hanyalah sebuah kenangan sentimentil semata?

 

181

    

Mustahil tentara zonder senjata.

Tanpa senjata, mungkinkah tentara mampu menjalankan tugas dan kewajibannya? “Wah, tentara kejam khan karena senjatanya? “ kata sebagian orang.

Bukan hanya tentara, sebenarnya semua orang­ perlu senjata, sebagai implementasi sikap self defense. Tapi kalau semua orang dibolehkan punya senjata, apa ya pekerjaan tentara?

Sederhana saja. Tentara jadi galak, keras, dan bersenjata, itu karena untuk melindungi kita. Kalau­pun ada salah satu, salah dua, ataupun salah tiga dari mereka ada yang aneh-aneh, itu karena mereka juga manusia biasa.

 

182

    

Pensiun, apakah akhir dari segalanya? Inilah obrolan saya dengan seorang tua bijak di suatu hari.

Percaya nggak, bahwa sindroma datangnya “pen­­siun” telah menghentikan percepatan per­tum­buh­an seluruh sendi pembangunan bangsa ini dalam sekian babak. Penyelewengan besar-besaran justru ter­jadi di masa ini.

Kita bisa bayangkan berapa banyak jabatan penting di negeri ini diisi oleh kelompok orang pin­tar namun berstatus “menjelang pensiun”.

Adakah kalimat pengganti yang mampu meng­hibur kegundahan mereka selain tabungan yang cukup, kesejahteraan yang layak, dan seje­nisnya? Ada sebenarnya, kemuliaan jiwa, moral agama, nasionalisme, dan sejenisnya.

Namun seberapa jauh kedua sisi ini beradu dan memilih, tak seorangpun bisa memastikan ja­wa­­­bannya.

 

183

    

Tahun ini adalah tahun 2004.

2494 tahun yang lalu, 10 Jendral Athena sedang berun­ding di sebuah bukit di dekat dataran Marathon, membicarakan hadirnya 100.000 pasukan Persia. Mereka harus melawannya dengan 10.000 pasukan. Tak ada yang merisaukan mereka, ter­masuk jumlah musuh yang 10 kali lipat. Mereka hanya berpikir tentang nasib rakyat tak berdosa, di saat perang atau sesudahnya.

Perang Marathon, kemudian menjadi perang terbesar pertama yang tercatat dalam sejarah. Brutal,­ ke­jam, namun juga penuh cerita kepahlawanan.

Namun sebuah kata yang masih jadi dosa tu­runan bagi anak manusia hingga saat ini adalah dendam. “Ash to ash,” kata prajurit yang sudah nekad diamuk dendam. Oalah, ada juga to yang tidak pernah merasa menjadi manusia.

184

    

Suatu hari, saya ingin tahu karena sebab apa seseorang ingin menulis. Memang kalau meli­hat ke belakang, banyak orang menjadi mulia karena tulisan. Sekarang masalahnya, mulia dulu baru menulis atau menulis untuk menjadi mulia? Tak mudah untuk menjawabnya.

Kadang saya berpikir, apa sudah cukup bekal ilmu pengetahuan, kok berani nulis di sana sini. Namun, kalau belajar nulisnya nggak dari sekarang, trus apa bisa nanti-nanti pas sudah pensiun?

 

185

    

Di negara berkembang seperti Indonesia di mana sistem belum mampu memberi rambu-rambu aturan secara jelas, selalu baikkah bila anda adalah profil atasan yang selalu bersikap positive thinking?

Ternyata, banyak atasan celaka karena positive thinking.

“Pak, kemarin si ini anu, si itu gini, si anu gini,….” lapor seorang anak buah.“Udah nggak apa-apa…masih wajar…” kata sang atasan.

Lihatlah, positive thinking kalau dibiarkan tanpa kontrol bisa-bisa akan jadi easy going.

 

186

    

Presiden Amerika pastilah orang yang pintar dan punya banyak duit. Mereka menjadi Presiden untuk sebuah kehormatan, kejayaan Amerika.

Kalau pintar tapi butuh banyak duit, kira-kira jadi apa ya?

 

187

    

Saya sering berdiskusi masalah budaya   Jawa yang penuh tata krama, penuh ke­canggungan dan menyangkut pautkan perasaan, yang dianggap sangat mengganggu oleh para pen­datang dari pulau lain.

“Bahasa menunjukkan bangsa,” demikian pesan leluhur kita. Karena seseorang lahir sebagai orang Jawa, maka ia akan mengatakan bahwa bahasa Jawa menunjukkan bangsa Jawa yang agung dan berharap orang lain sedikit mengerti tentang masalah Jawa. Sedangkan ia mungkin juga tidak pernah mempermasalahkan bila orang lain mengata­kan bahwa bahasa Batak, Melayu, Madura, juga menunjuk­kan bangsa mereka masing-masing.

Orang sebenarnya ingin belajar budaya daerah lain yang di mata mereka terasa aneh. Namun tak semuanya bisa. Setiap tempat pasti punya beda, yang hanya bisa ditundukkan dengan rasa.

 

188

 

Pernahkah engkau menjadi salah tingkah karena tak mampu mengawali sebuah percakapan sebagaimana rang lain dengan mudah melakukannya?

Yah, kata orang memulai percakapan adalah separuh dari pertempuran.   Bagi mereka yang berbakat rendah, berpola pikir sembarangan, akan memulainya dengan penuh acak tanpa visi dan berakhir seperti bangun dari mimpi.   Namun bagi mereka yang brilian, sebuah percakapan akan digunakan untuk menunjukkan jiwa yang bersih, bakat yang terpendam dan berbagai macam ide positif yang sangat sulit dibeli.

 

189

 

Saat pulang kampung, aku masih sering berkunjung ke langgar.

Langgar adalah kenangan masa kecil yang sangat indah bagi kebanyakan orang.   Mungkin karena banyak merasakan saat-saat romantis bersamanya, orang masih senang menyebutnya dengan nama itu, bukan musholla atau masjid, sebagaimana orang kota menyebutnya.

Langgar tak punya menara, tak ada karpet, tidak punya sumur pompa.   Halamannya kumuh dan hanya berhiaskan sandal-sandal jepit murahan para pengunjung, yang pencuri pun malas mengambilnya.   Begitu berlawanan dengan suasana masjid di kota yang pebuh dengan diskusi ilmiah, dakwah dan sebagainya.

Langgar bukanlah simbol.   Ia hanyalah suatu tempat berdoa.   Di sana tidak ada rutinitas yang penuh gemerlap dan semerbak wewangian.   Namun disana banyak orang terpaut rasa dengan Sang Pencipta. 

 

190

 

Pernahkah engkau bayangkan bila kesedihan akan begitu cepat pergi, secepat ia datang?

Pernahkah engkau harapkan bahwa kebahagaiaan akan selalu cepat datang dan tak pernah pergi lagi?

 

191

 

Kita mungkin tidak pernah menyangka kisah mulia seperti perkawinan justru banyak mendatangkan problem.

Banyak orang mengidentikkan perkawinan sebagai kodrat kemuliaan.   Nyari atau enggak, pasti ketemu……pasti dikasih.   “Jodoh, rejeki, mati adalah hak Allah,” demkikian kata orang-orang tua di kampung saya.

Namun tak seorang pun bisa memastikan bahwa semua kodrat akan berakhir sesuai dengan hati kita.   Sebagian bingung, pusing, resah dan nangis sesenggukan karena takut bahwa segala sesuatunya menjadi berubah.

Saat seperti ini, sudah pasti kita baru sadar apa artinya pasrah, jujur, dan nerimo sebagai insan hamba Tuhan.   Walaupun perlu diingat, Tuhan tidak memvonis akhir dari setiap agenda manusia.   Ia hanya mempermudah jalan kita.  Mau menuju kehancuran akan dipersilahkan, dan bila ingin mencari kejayaan ya Tuhan akan membantu.  In conclusion, the final destiny is ours.  Nah bingung khan?

 

192

 

Dimanakah sebenarnya kehormatanmu?   Bila suatu saat seorang tak dikenal mencakar wajahmu, mencabik bajumu, dan memperkosamu, apakah itu berarti ia sudah mengambil kehormatanmu?

Apa yang akan engkau lakukan terhadap kehormatanmu?

Suatu hari engkau gagal, engkau jatuh terperosok dalam kehidupan gelap, apakah engkau akan mengatakan bahwa kehormatanmu sudah lenyap dan engkau tak ingin hidup lagi?

Kehormatan itu indah, walaupun kadang sakit.   Kehormatan itu ada pada jiwa bukan pada wujud.

 

193

 

Pak Sobary yang penulis jempolan dan sedehana bila tidak sopan untuk disebut miskin, sempat naik ojek ke Wisma Antara setelah dilantik untuk memimpin kantor berita milik nasional tersebut.  Namun tetap saja disambut dengan aksi cuek oleh anak buahnya yang nggak terima dengan kedatangannya.   Maklum ia sebelumnya adalah the outsider di lembaga tersebut.

Ada namanya Pak Dunidja, ayahnya teman saya yang asli Jawa, yang sembodo dan sederhana, juga sempat didemo saat dilantik menjadi caretaker Gubernur di wilayah Sumatera, dengan alasan bukan orang Minang asli.

Nasib serupa juga dialami beberapa Lurah di wilayah Maospati, tanah kelahiran saya.

Bila anda menjadi orang asing dan di luar lingkaran suatu ekosistem, walaupun yakin memiliki kualitas baik, punya maksud baik, maka harus sabar dan pandai-pandai membawa diri.  Karena awal kehadirannya sering dipandang sebelah mata dan sinis.

 

194

 

Saya sering mengikuti film tv yang mengambil tema para raja atau pemimpin besar di era sebelum kita.   Ada satu nilai yang tak pernah berubah dari masa ke masa, dan menjadi handicap sejarah, bahwa orang besar tak pernah lepas dari sindrom ketidaksempurnaan dan kemunafikan, walaupun sebagian kecil diantaranya berhasil lolos. 

Banyak panglima yang mampu menguasai sebagian isi dunia, namun jiwanya hampa.  Banyak Raja yang gagah dalam sejarah dan berhasil menaklukkan banyak negara ternyata sekedar pecundang bagi anak dan istrinya.   Banyak pemimpin yang ide briliannya  mampu merubah dunia namun ia gagal menguasai dirinya dari ketergantungan akan alkohol, obat terlarang dan wanita jalanan.

Mac Arthur pernah berpesan, “Pimpinlah dirimu sendiri sebelum berusaha memimpin orang lain.”   Namun, bila pemimpin kita toh memiliki kekurangan maka kita yang dipimpin ini harus menyadari karena takdirnya orang besar memang harus menghadapi ketidaksempurnaan seperti di atas.   Selama ia masih berusaha untuk adil dan jujur terhadap orang di sekitarnya maka kita masih harus arif untuk menerimanya sebagai pemimpin.

           

 

 

 

 

 

 

 


5 Komentar

  1. wisnu mengatakan:

    yap! sebuah tulisan yang khas..lembut tapi berbekas hikmahnya..ditunggu tulisannya yang lain bang budhi…,
    selamat idul fitri 1430H,
    semoga kita selalu dinaungi keberkahan dari Allah SWT..

  2. odusnatan mengatakan:

    Tulisan yang bagus bang……. Inspiring story…!!! Keep writing…!!!

  3. harun mengatakan:

    lagii…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: