Beranda » Syair » Nyanyian Burung

Nyanyian Burung

Seekor murai terseok di sela dahan. Tubuhnya penuh luka menganga. Airmata tak terseka kedua tangan karena begitulah langit mereka takdir untuknya. Kaki tubuhnya melemah saat diri tak kuasa lagi menggapai sejumput bijih yang terserak di sudut matanya. Ia melolong.

Seorang anak bertanya, “suara apa itu ayah?” “Nyanyian burung” kata sang ayah bijaksana.

Sepasang mata punai nampak bekerjap-kerjap dalam rerimbunan dahan. Sudah beberapa musim segalanya menjadi tidak indah lagi baginya. Tersisihkan, terhina oleh kelompoknya sendiri. Ia memang tercipta bisu, tapi hari itu ia terus bernyanyi dengan hatinya, menciptakan kebahagiaan baru dalam gurat nasib yang memenjarakannya. Bahkan ia ingin menghibur dunia. Ia ingin mengabarkan keindahan hidupnya, walau hidup tertakdir cacat seperti dirinya. Maka ia mencari beberapa ranting patah, untuk melantunkankan syair terindah yang tergubah dari jiwanya.

Seorang gadis yang sedang di mabuk asmara bertanya pada bujangnya, “suara apa itu ya abang?” “Suara burung hendak berkawin” kata bujang tertahan syahwat di titik akhir munajadnya.

Sepasang mata kenari mulai terkatup. Kaki-kakinya mulai merenggang lalu tubuh dan busung dadanya mulai ditegakkan. Kepalanya menunduk takzim. Ia mengangkat kedua tangan sayapnya lalu menyilang di dada. Mulut si hamba memuji, menebarkan salam kebaikan pada dunia.

Seorang anak bertanya kepada ibu petaninya, “Suara apa itu ibu?” “Nyanyian burung anakku. Burung yang sering mencuri padi kita” jawabnya.

Sebuah mulut mungil merpati mulai mengerang. Tubuhnya tergolek jatuh-jauh di bawah rumah yang bertahun memenjarakannya. Ia mengerang kesakitan. Seluruh urat-sarafnya mulai mengejang dari luka menganga di pangkal lehernya. Sebutir timah panas itu sebentar lagi pasti merenggut ajalnya, walau ia tak mudah menyerah. Lalu entah kenapa ia lantang memandang langit, menggumam sebuah nama.

Seorang manusia bermuka tirus melangkah kepadanya. Lamat-lamat Merpati mendengar, mulut si tirus tidak menyanyi. Merpati tahu si tirus menggumam nama yang sama dengan mejan mulutnya. Nama yang mengiringi sebuah kilatan menghunjam. Sempurnakan takdirnya.

 

Maospati, 20.57 27 September 2009


5 Komentar

  1. wisnu mengatakan:

    selamat hari jadi TNI ke 64..
    Jayalah terus!!.. wahai prajurit penjaga negeri tercinta..
    semoga Allah swt selalu melindungimu

  2. wisnu mengatakan:

    bang budhi,..
    selamat atas dilantiknya jadi komandan skadron 14
    semoga Allah swt akan selalu menjaga dan membimbing dalam melaksanakan amanah ini..
    amin

  3. Budhi Achmadi mengatakan:

    terima kasih dik wisnu… sukses selalu

  4. zahra mengatakan:

    assalamualaikum…..
    bang budhi salam silaturahmi dari aq ya……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: