Beranda » Syair » Palung

Palung

Kunamakan istanaku itu palung terdalam dan tersunyi ketika kudapatkan dunia tak berpihak.

Kuandaikan palung serupa kubah surga yang kuselalu rasa indahnya walau kasat gelapnya tak terjamah.

Palungku adalah palung yang kurenda bertahun dari lipatan sejarah diri dan nenek moyang.

Palung itu,

adalah gelap dan kesunyian yang akhirnya bukan keramat, namun kekuatan sebuah diam.

Di sanalah kudapatkan kemahabesaran dalam diri samudera tapi bukan gelombang.

Di dirinyalah kutemukan kemahacintaan dalam diri air yang berbulat menenggelamkan kehidupan, bukan lenggok sungai indah yang berubah garang bila tersisihkan.

Palungku sayang.

Ia adalah istana hati yang selalu menjauhi pantai yang dipenuhi kecipak puji-pujian.

Ia adalah pemberi pengharapan jentik tak bernama, juga ringan menggamit pinta larva yang tersisihkan.

Palungku selalu.

Rindu padamu mencengkeram karena rasa,

keramaian dan hiruk-pikuk ini adalah sebuah kesunyian yang sejatinya.

Cahaya matahari ini adalah kegelapan yang sesungguhnya.

Padamu palung kukanselalu ingin berpulang diam.

Padamu palung lalu kuingin terlelap selamanya.

Dalam pelukan sunyi dan gelap terjamah, tertukar benderang yang kurasakan.

Maospati, jam 10.50 wib, malam maulid nabiyullah SAW, Kamis malam, 25/2/10


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: