Beranda » Leadership » Catatan Tentang Pemimpin Yang Rendah Hati – 2

Catatan Tentang Pemimpin Yang Rendah Hati – 2

Kharakter kepemimpinan adalah sebuah degenerasi dari suatu keadaan yang berulang-ulang.

Kita akan memulai catatan ini dari sebuah ketika seseorang yang nantinya kita asumsikan sebagai calon pemimpin. Anak ini terlahir dari sebuah keluarga yang tersisih dan miskin, maka para orangtua biasanya mensimplifikasi permasalahan masa depan anak cemerlangnya itu, semata pada konsepsi fisik yang manusiawi – kaya, terkenal, pejabat dan berbagai status – yang sekiranya dapat membalaskan dendam masa lalu para orang tua nan dipenuhi airmata kesedihan.

Andre Hirata, merumuskan konsepsi fisik itu – bahwa masa depan adalah “Plan A” – “Plan B” – “Plan C” dan seterusnya, dimana agar berhasil maka manusia harus menyiapkan banyak “IF” sehingga dalam setiap kegagalan selalu sudah siap untuk upaya keberhasilan yang lain. Walaupun Andrea Hirata pun menguak secuil konsepsi metafisik, bagian yang ia posisikan ternegasi, bahwa “Masa depan adalah bukan milik kita, ia adalah milik Allah SWT”, atau dalam pemahaman saya telah termemori sebagai “The future is not ours to see, it’s God’s business”.

Kalau boleh memilih, pasti setiap orang akan memilih keberhasilan yang ganda – baik fisik ataupun metafisik – sudah terkenal, pejabat dan beristri cantik atau bersuami gagah pada konsepsi fisiknya, berikutnya selalu beruntung, takwa dan selalu berada sisi baik kehidupan, pada konsepsi metafisik. Inilah keadaan anak idaman semua orang tua. Lacurnya para orangtua sering mengenalkan jalan untuk meraih keberhasilan masa depan anak-anak yang bersifat fisik dan metafisik, justru dengan dengan cara-cara fisik semata.

Saya teringat kisah masa kecil di kampung saya. Setiap anak yang tidak ranking, mendapat nilai rapor jelek, sering dihukum keras oleh para orangtua, dijewer bahkan dipukul sambil diinterogasi bermacam-macam. Anak-anak lain dikasari dengan cara lain, diperintah untuk sering tinggal di rumah rajin berdoa agar diberkahi keberhasilan yang sudah saya sepakati bernama keberhasilan fisik di atas. Berikutnya, ketika rapor bagus kembali, rangking bagus kembali, maka para orangtua kembali dapat merayakan dan merasakan lebaran ekstra yang belum tentu kembali Fitri. Anak-anak dibelikan baju baru, sepatu baru dan menyebut-nyebut anak-anaknya hebat alang-kepalang.

Para orangtua lupa bahwa dari diri merekalah kharakter seorang manusia dibentuk. Banyak anak berbakat yang lahir dari ketersisihan dan kemiskinan, ternyata menjadi pemimpin ambisius dan keji pada masa berikutnya, karena begitulah hidup mengajarkan pada dirinya sebelumnya. Segala macam kekalahan, ketersisihan dan kemiskinan harus terbayarkan dan tidak boleh secuilpun kurang. Akhirnya para pemimpin tidak pernah belajar bagaimana bisa bahagia untuk hidup dalam segala kekurangan dan kelebihannya. Akhirnya para pemimpin tidak mengerti bahwa yang terbaik dari mereka bukanlah kesempurnaan mereka, namun bagaimana membuat segala kekurangan dan kelebihan mereka tersebut menjadi bermanfaat bagi diri dan sekitarnya. Para anak-anak yang dididik untuk marah atau meratapi setiap kegagalan, kekurangan dan kemiskinan, demikianlah nantinya ia saat memimpin. Ia akan merengkuh setiap lawan kata dari kegagalan, kekurangan dan kemiskinan. Maka ia akan menjadi mudah mengeluh dan korup pada saat gagal dan miskin, dan congkak saat kuat.

Pemimpin yang sukses adalah mereka yang dimanapun berada, saat gagal maupun berhasil, saat miskin ataupun kaya, saat tersisih atau terpakai, ia selalu berguna dan memberi manfaat bagi diri dan lingkungannya.

Pemimpin yang sukses adalah mereka yang tidak memberi ukuran kesempurnaan pada dirinya, namun mampu mengoptimalkan semua aspek kekurangan dan kelebihan pada dirinya.

Anak-anak adalah degenerasi sifat para orangtua, para leluhur. Ketika kita mampu menjadi pribadi yang rendah hati, yang mau dan mampu mengenali setiap kekurangan diri-sendiri untuk kemaslahatan sekitar, demikianlah anak-anak kita nanti. Demikian pula para pemimpin negeri ini kelak.

Maospati, Bakda Subuh, 22 Juli 2010


1 Komentar

  1. Eddy mengatakan:

    Tulisan yg sangat indah Mas Budhi.
    Salam untuk rekan-rekan di Skadron 14!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: