Beranda » Leadership » Catatan Tentang Pemimpin Yang Rendah Hati-6 “Brand Equity”

Catatan Tentang Pemimpin Yang Rendah Hati-6 “Brand Equity”

Ini adalah tentang empat alinea yang merajut pemikiran Kris Moerwanto di sebuah media nasional 29 Oktober 2010, yang berjudul “Brand Equity Ala Mbah Maridjan”. Pemikiran yang saya juga pernah mengingatnya dari sebaris kalimat milik Jenderal Fogleman (salah satu Kasau paling populer dalam sejarah AU AS), berbunyi “Don’t think you must be wearing four stars on your shoulders to be called a leader, every one who raises his hand can be a leader any time.” Yang menurut tulisan Kris, kualitas kepemimpinan yang kuat bukanlah proses mencari popularitas lewat polling sms, mengarang-ngarang cerita hebat (memelintir history menjadi his story), politik pencitraan di media publik ataupun strategi branding dengan teknologi modern. Brand Equity – sebagai resultance dari keteladanan, integritas, tabiat, pengakuan obyektif, serta persepsi positif publik terhadap stakeholder (menurut Kris Moerwanto), atau oleh Douglas Mac Arthur disebut sebagai “duty, honour, country” – nyatanya seringkali ditemukan dalam diri yang tidak terkenal, tidak bisa baca-tulis semacam para nabi, serta orang lereng gunung yang tidak tampan dan berstatus abdi dalem (pembantu) bernama Mbah Maridjan. Mbah Maridjan tahu, bahwa sampai titik darah penghabisan bertempur di medan laga pun, ia tak bakal naik pangkat atau mendapatkan remunerasi penghasilan. Mbah Maridjan hanya sosok bersahaja yang memahami bahwa setiap diri manusia adalah pemimpin, dan seorang pemimpin harus mempertanggung-jawabkan kepemimpinannya di hadapan Illahi Robbi. Mbah Maridjan adalah sosok yang tidak perlu bantuan lembaga survey untuk menjual brand dirinya, karena ia tak mengaitkan langkah perbuatannya dengan hal-hal yang bersifat prestise ataupun keinginan populis.

Orang umumnya termasuk saya, memang pantas malu kepada Mbah Maridjan yang telah memiliki brand equity karena mau dan mampu berkorban tanpa pamrih kepada lingkungannya. Ketika orang berpikir tentang ketakutan-ketakutan akan hilangnya masa depan pangkat dan jabatan, bahkan almarhum Mbah Maridjan terus ikhlas menjalankan tugasnya di lereng gunung teraktif di dunia, selama 28 tahun, dengan gaji 5 ribu rupiah per bulan. Padahal para tentara alumnus akademi sudah pasti telah berpangkat kolonel hingga Jenderal dengan masa kerja sepanjang itu.

Kembali pada rumusan Jenderal Fogleman, kualitas kepemimpinan, brand equity, bukanlah masalah apa pangkat dan jabatan seseorang, karena politik juga takdir Tuhan, memang fitrahnya bisa menjadikan siapapun yang buruk di puncak ataupun yang baik jatuh di kubangan lumpur kehidupan. Yang Pasti, “gold is always and always gold”. Maka betul pula yang dikatakan oleh tokoh ibu dalam film “My name is Khan”, manusia hanya dibedakan menjadi dua tipe saja- tak peduli agama, tak peduli ras, tak peduli kepandaian, tak peduli kegagahan, tak peduli suku, tak juga peduli pangkat dan jabatan, tak peduli popularitas – yaitu orang baik dan orang jahat. Orang baik adalah orang yang berbuat baik dan orang jahat adalah orang yang berbuat jahat.

Para pembaca sekalian, ternyata sederhana saja untuk memiliki brand image yang luar biasa, yaitu mencukupkan diri kita selalu berbuat baik dan memberi kemashlahatan bagi sesama.


3 Komentar

  1. Kapten Sar mengatakan:

    Cerita Mbah Maridjan dengan ‘personal branding’ adalah bentuk leadership dan ‘character building’ yang layak ditiru oleh siapapun yang hendak menjadi pemimpin (Setiap dari kalian adalah pemimpin / Hadits).

    Saya teringat seorang rekan saya yang sangat bersahaja, rendah hati dan memiliki karakter luar biasa dalam leadership. Sewaktu sama-sama di bangku SMP maupun SMA karakter itu terus bertumbuh dan semakin mengakar. Kadangkala ucapannya bak ‘petir’ dan ‘sambaran api panas’ untuk siapapun yang belum mengenal jati dirinya. Tidak perduli orang itu kawan atau saudara, bahkan ayah kandungnya. Tentu untuk wilayah keluarga ia memiliki cara untuk meluruskan dan mengingatkannya.

    Puisi2 nya sejak SMP sudah mewakili jiwa Chairil Anwar dan Chalil Gibran – cinta, kemanusiaan, heroik, menyentuh hati sekaligus memekakkan telinga. Soal ibadah terutama sholat 5 waktu saya sangat iri kepadanya. Tak pernah ia lepas sajadah dan ingat kepadaNya. Prestasinya di akademik sungguh sangat gemilang – cerminan IQ dan EQ yang bertumbuh beriringan. (sekedar catatan: mereka yang prestasi akademiknya luar biasa rata-rata pengembangan dirinya cenderung kiri /monoton, analisa, deduktif, angka2). Namun ia mewakili kiri dan kanan yang seimbang.

    Bahkan ketika ia tumbuh dan telah menjadi bintang di bidangnya, sikap itu tidak sedikitpun tergoyahkan. Karirnya yang melejit dan ‘melampaui seharusnya, tidak membuatnya arogan dan lupa diri.

    Saya teringat ketika lebaran 2 tahun lalu, ketika kehidupan saya dan keluarga ada di titik terendah – Sang Pencerah (begitulah saya memberinya apresiasi layaknya KH Ahmad Dahlan) yang kala itu masih berpangkat Kapten memanggil saya ke rumahnya. Saya kaget bukan kepalang ketika sebuah mobil sedan berplat militer AU dipinjamkan kepada saya. Katanya ‘kamu dan keluarga lebih memerlukan ini, pakai saja’. Subhanallah…hampir tak percaya! Saya menangis menahan haru. Dalam setiap kehidupan jika Anda sedang di puncak, orang atau sahabat manapun akan mendekat dan merapat. Sebaliknya jika Anda terjatuh dan tidak berdaya, bersiaplah untuk tidak dikenal mereka, bahkan saudara dan keluarga Anda. SUNGGUH SAHABAT SAYA YANG SATU INI telah memiliki KARAKTER DIRI BERSAHABAT!!!

    Dan ketika ia banyak menerima cinderamata, mampu menulis buku dan biografi para Jendral atau pimpinannya, ia kembali memanggil saya. Katanya “fren, aku bisa seperti ini karena jasamu dan adik kelas kita di SMA’. Saya tertegun dan kali ini bingung, sebab selama ini saya merasa tidak pernah membantunya, yang ada malah sering merepotinya. Setelah tertegun lama ia melanjutkan ‘sewaktu ada diklat jurnalistik SMA se-Jawa Timur, seharusnya uang itu hanya cukup untuk kalian berdua, tapi kamu mengusulkan guru kelas agar saya bisa ikut. Saya akhirnya ikut, namun kita bertiga sempat kehabisan uang dan ‘mbambung’ di Malang!!”. SUBHANALLAH, ia adalah pemimpin yang tidak lupa diri dan sangat rendah hati. Semakin di puncak semakin merendah, mirip ilmu padi.

    Masih banyak cerita bagaimana sahabat saya melebihi sosok dan karakter almarhum Mbah Maridjan! Sebab (almrhm) Mbah Maridjan kental nuansa agama dan spiritual, bahasa kebatinan. Teman saya ini berada pada alam yang jauh berbeda, bahkan sangat dekat dan rawan dengan godaan, kekuasaan dan politik. Benar kata guru saya bahwa SUFI saat ini bukan berada di mesjid atau surau, melainkan di diskotik, jalan raya bahkan tempat maksiat. Adalah mereka yang tetap BERKARAKTER meski berada di manapun dan kapanpun.

    Terakhir, ketika ia tengah di dunia lain, ia menyempatkan telepon saya. ‘ Sobat, aku sedang dalam perjalanan dari Bangkok, Paris dll (saya tak ingat kota2 yang disinggahi satu persatu). dan sekarang ada di Las Vegas, persis di sasana tempat Mike Tyson berlatih tinju. Di sini kota ‘syetan’ yang penuh hiburan, uang dan maksiat, termasuk wanita2 penghibur yang bisa membinasakan kelelakian kita kapan saja. Di saat begini justru aku tidak bisa tidur memicingkan mata, sebab yang kulihat bukan keindahan dan kegemerlapan Las Vegas, simbol syurga dunia. Aku teringat istri dan anak-anakku Bro….dan aku ingin segera pulang!”

    Dan rekanku itu mengakhiri percakapan teleponnya sebab harus bersiap-siap transit ke Balik Papan dan kembali ke habitanya, sebagai Komandan Berkarakter di Skuadron 14 Lanud Iswahjudi!!

    *) Mbah Maridjan dan Sang Panthom adalah 2 sosok manusia berKARAKTER dan memiliki INTEGRITAS pribadi. Persis sebuah pesan dahsyat berikut ini:
    – Pikiran akan membuahkan Perkataan
    – Perkataan akan melahirkan tindakan2
    – Tindakan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan
    – Kebiasaan yg dipertahankan akan membentuk karakter
    – dan karakter inilah yang akan menentukan NASIB!!

    semua terbentuk dari lingkungan tempat ia berada, buku yang dibaca, kepercayaan dan keyakinan yang dipelajari, tokoh atau panutan yang ia kagumi — dan bukan lahir tiba-tiba.

    Trio Hotel Kota Malang, 31 Oktober 2010
    Kapten Sar
    081253401212

  2. budhiachmadi mengatakan:

    bisa saja………….. ini nggak ada hubungannya dengan penulis kapten……. cuman thinking outside the box…

  3. puspita rini PPI JATIM'90 mengatakan:

    entah knp air mata ini jatuh dg sendirinya ketika membaca koment dr Kapten sar…. saya merasa bangga dan tersanjung sbg teman lama yg pernah mengenal njenengan,bukan karena jabatan njenengan saat ini….tp krn sosok kepribadian njenengan……sukses selalu pak!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: