Beranda » Syair » Tiga Lakon

Tiga Lakon

Melintas tentangku dulu.   Adalah sebuah tangis memekak larva kehidupan yang beranak pinak.   Segumpal lava lahir dari rahim ibu, diam.

Seorang malaikat menelusup saat.   Ia hanya dingin memandang, menoreh dua titik lalu terbang menuju mula.

Dua pasang mata berkedip-kedip, sepasang memilu sembab menangkap makna.

Sejurus aku mulai mengenal gerak dan kata.   Kehidupan terus beranak pinak.   Lava ingkari persahabatan.

Kata orang ia lari di perut bumi, bersedepa.  Kata orang, ia bersahabat iblis karna iri akan takdirnya.

Hingga kehidupan membaca selarik kalimat tergores di bebatuan.

“Aku pergi dan terbanglah pula engkau kawanku.   Di suatu tempat aku hanya bisa berdoa dan bersujud pada-Nya. Saling menyayangilah engkau kawanku.  Karena takdirku mengkhatam sunyi hingga akhirmu.  Kawanku, biarlah ketakutan dan tangis menemaniku.   Engkau pasti ingat saat itu.   Kala mata malaikat itu memandang, maka membukalah hijab takdirku.”

Untuk pengungsi Merapi – semoga tetap sabar dan tawadu’.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: