Beranda » Syair » Duh Kanjeng

Duh Kanjeng

Sebuah bukit teronggok berbalut pekuburan.      Temaramnya karena sentir-sentir di sisi undakan yang tak elok rupa. Ia bagai bilah cahaya yang membelah gelap menunjuk jalan.  Tiada kemegahan yang membuatku lunglai.  Begitu jua dengan sang penjaga berabad zaman.  Ialah sang langgar yang darinya bergaung tujuh adzan penolak bencana.

Kini ku teronggok di ujung undakan.   Pepopohonan pun mendesirkan bisikan, “Menunduklah Ananda… lalu sapalah  dengan penuh ketakziman”.  Seketika gelap malam pun menjadi eksotik berhias gemintang.  Bintang-bintang di langit pun sudah bersila.  Ia menundukkan cahayanya pada penghulu nisan.

“Salam hormatku padamu ya wali”, ucapku lembut.   Dan pepohonan, bintang-bintang dan kini seekor burung malam tak kukenal nama pun, membisikkan lagi sebuah peringatan  “Tundukkan lagi dirimu Ananda…”

“Salam hormatku padamu ya wali…Salam hormatku padamu ya wali”, ucapku dan ucapku lagi, hingga berlalu beribu kalimat doa untuk penghulu nisan.  Dan jua pepohonan, bintang-bintang dan seekor burung malam tak kukenal nama itupun menangis.    Aku pun menangis.    Lalu mereka diam dan akupun diam.    Lalu pepohonan, bintang-bintang dan tetap seekor burung malam tak kukenal nama pun berucap, “Pulang…. dan datanglah lagi ke sini ya Ananda, setelah kau buat hatimu yang belum tunduk itu mau.”

Bumi pun berputar dan aku terbujur lunglai.

Bakda Maghrib, 20 November 2010, Gunung Jati – Cirebon.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: