Beranda » Cerita Perang Terkenal » Perang Udara Pada PD I 1914-1918

Perang Udara Pada PD I 1914-1918

Ketika Perang Dunia I berakhir, Sekutu (yang terdiri dari Inggris, Perancis, AS, Italia dan Rusia) tidak dapat secara sah menyatakan kemenangan dalam perang udara.  Meskipun Sekutu keluar dari perang itu sebagai pemenang, namun organisasi, kekuatan dan moril kekuatan udara Jerman masih utuh. Pesawat-pesawat tempurnya masih terus mengungguli pesawat tempur Sekutu dan memberikan dukungan taktis yang vital kepada angkatan darat yang mengundurkan diri.  Meskipun bala udara Sekutu berjumlah jauh lebih banyak, Sekutu tidak mampu menghalaunya dari angkasa.  Namun peran yang dimainkan kekuatan udara dalam PD I memang masih sangat kecil.  Ia belum mampu menjadi penentu kemenangan perang, namun hanya sekedar mendukung operasi kekuatan darat.   Dalam PD I, kekuatan udara telah memainkan peran pengintaian, lawan-udara, dukungan darat, dan pemboman.

 

Pengintaian.

Lama sebelum terjadi PD I, yaitu sekitar 2000 tahun yang lalu, bangsa Cina dan Jepang menggunakan layang-layang berawak untuk pengintaian. Bangsa amerika menggunakan balon udara dalam Perang Saudara, demikian juga bangsa Perancis dalam perang melawan musuh-musuhnya.   Bangsa Perancis adalah yang pertama membentuk Korps Udara dalam tahun 1793. Operasi-operasi udara dalam bulan-bulan pertama perang mengandung kendala amatirisme peserta dan keterbatasan perlengkapan. Pengalaman maupun teknologi belum cukup bagi pesawat udara untuk kerjasama dengan artileri, membuat foto instalasi musuh, membom atau secara efektif menggangu pesawat lain. Penerbang yang belum berpengalaman sering tersasar. Akibatnya penerbangan militer dalam musim semi 1914 hanya melakukan pengintaian.  Di samping itu, terdapat pula 3 faktor lainnya yang menghambat efisiensi, yaitu hampir tiap hari tentara udara pindah pangkalan, kekurangan suku cadang dan fasilitas pemeliharaan, serta awak pesawat harus menghadap sendiri kepada Panglima untuk memberi laporan.  Keadaan demikian itu dapat kita maklumi mengingat PD I pecah dalam 1914 hanya satu dasa warsa setelah “Wright” Bersaudara pertama kali menerbangkan pesawat terbang buatan mereka sebdiri dalam tahun 1903.

 

Lawan udara.

Bila suatu bala udara berhadapan dengan bala udara lawannya, maka disebut Lawan udara. Sasaran yang diserang meliputi pesawat udara, pangkalan udara dan system pertahanan udara lawan. Tujuan strategis Lawan udara adalah untuk mendapatkan dan mempertahankan penguasaan udara, yaitu kondisi dimana dan saat musuh tidak dapat menggunakan kekuatan udaranya secara efektif terhadap bala kawan, daerah-daerah belakang dan tanah air, sedangkan kawan dapat menggunakan kekuatan udaranya terhadap musuh.

Dalam pertengahan kedua 1915 terjadi kemajuan pada kombinasi senapan mesin, motor pesawat dan rangka pesawat. Inisiatif dating dari bangsa Perancis sedangkan pengembangan dan penggunaan gagasan dilakukan oleh Jerman. Dalam Juli dan agustus 1915 Jerman memperkenalkan prototype pesawat tempur modern, Fokker Eindeckker, yang diperlengkapi dengan senapan mesin, Inggris tertinggal. Sampai April 1917, 15 dari 20 Skadron pengintai Royal Flying Corps (RFC) penerbang Inggris di medan pertempuran masih diperlengkapi dengan pesawat BE-2, sebuah pesawat yang dirancang sebelum perang.

Tetapi dampak dari persenjataan yang efektif ini tidak seberapa. Jumlah pesawat yang mengudara pada suatu saat masih sangat kecil disbanding dengan luasnya medan pertempuran. Mialnya dalam Juli 1915 Wing No. 2 RFC yang bertanggung jawab atas wilayah sejauh 15-20 mil kekuatannya rata-rata kurang dari satu jam/hari. Pihak Jerman yang empertahankan wilayah 15 mil dari Front hanya data menerbangkan 7 Fokker.  Karena keunggulan persenjataannya, armada Fokker Jerman berhasil merontokkan pesawat-pesawat Inggris sebagai berikut :

  • 18 buah dalam periode Mei- Agustus 1915.
  • 26 buah dalam peripode September – Desember 1915.
  • 47 buah dalam periode Januari – April 1916.

Akibatnya keluar perintah dari Mabes RFC, ” Sebuah pesawat yang melakukan tugas pengintaian harus dikawal oleh minimum 3 pesawat tempur “.   Menjelang akhir musim semi 1916 masa gemilang Fokker berakhir. Pegalaman pertempuran dalam bulan-bulan pertama merupakan dasar bagi kebijaksanaan yang berbeda dari bala udara Inggris, Perancis dan Jerman.

  • Perancis tidak berusaha memperjuangkan penguasaan udara atas dasar hari ke hari, melainkan memilih serangan besar-besaran atas sector tertentu sesuai dengan keperluan situasi di darat atau kebijaksanan “hidup dan biarkan hdup”.
  • Jerman memperkenalkan system pertahanan kenyal dimana grup-grup pesawat tempurnya terbang bebas di belakang Front, menyerang pesawat lawan yang kiranya dapat dikalahkan dan membiarkan formasi-formasi lawan yang kuat. Cara Jerman ini didukung oleh angin yang menghembus dari barat sehingga merupakan hambatan bagi pesawat-pesawat Sekutu yang kembali ke pangkalan.
  • Kebijaksanaan Inggris adalah “Ofensif yang keras dan berlanjut”, yang mulai dilaksanakan pada pertengahan 1916 oleh Mayor Jenderal Hugh Trenchard, Panglima RFC di Perancis.

 

Dalam musim panas 1916 Sekutu menguasai udara sepenuhnya. Situasi itu berubah secara dramatis dalam September 1916 ketika Jerman memperkenalkan pesawat 1916 hampir sama dengan jumlah seluruhnya aam 3 bulan sebelumnya. Puncak kemenangannya dalam April 1917.  Dalam April 1917 Sekutu melancarkan serangan ganda, di Front Inggris dan Front Perancis. Sebagian besar bala udara Jerman dihadakan pada ancaman dari Perancis. Pesawat-pesawat yang ditinggalkan untuk menghadapi Inggris sangat kurang jumlahnya, 195 banding 465. Pesawat tempurnya hanya 50 – 60 buah. Meskipun demikian, Jerman dapat menjatuhkan 206 pesawat Inggris, sedangkan korban di pihaknya hanya 30 pesawat dalam waktu 6 minggu dari 31 Maret – 11 Mei 1917. Dampak dari kekalahan ini adalah pada tingkat latihan dan pengalaman penerbang baru yang melapor ke Skadron hanya mempunyai penglaman terbang rata-rata 17 1/2 jam, 11 jam dari jumlah itu untuk terbang solo. Perancis dapat mengejar dalam musim dingin 1916-17 dan Inggris dalam musim semi 1917, perjuangan demi keunggulan kualitas selesai. Setelah pertengahan 1917, pesawat-pesawat tempur yang berlawanan cenderung membatalkan serangan dan membiarkan skadron-skadron pengintai melaksanakan tugasnya bebas dari gangguan. Menjelang akhir perang, jumlah pesawat-pesawat Sekutu lebih banyak dari pada pesawat Jerman dengan perbandingan 3:1. Logikanya Jerman akan kalah melalui proses atrisi. Tetapi hal itu tidak terjadi, berkat strategi yang digunakan. Sistem pertahanan kenyal yang digunakan oleh Jerman menguntungkan mereka dalam perang atrisi udara.

  • a. Pertempuran hampir seluruhnya di atas wilayah yang dikuasai oleh Jerman.
  • b. Penerbangan Jerman yang mesin pesawtnya atau senapan mesinnya rusak biasanya kembali lagi ke udara hanya dalam beberapa jam, sedangkan penerbang Sekutu menjadi tawanan.
  • c. Dalam pertengahan kediua 1918, Jerman memperkenalkan paying udara untuk para awak pesawatnya.

Akibatnya, Jerman mampu mempertahankan sejumlah besar awak pesawat yang terlatih baik dan berpengalaman banyak, sedangkan Sekutu tidak.

Strategi Jerman adalah sebagai berikut :  “Tidak perlu hadir secara simultan di semua sector Front untuk mengatasi efek dari kekurangan jumlah bala”. Dengan cara mengosongkan “daerah sepi “, mereka umumnya mampu menghadapi Sekutu di udara di atas sektor-sektor yang gawat. Orang Jerman menaruh perhatian besar atas esensi dictum konsentrasi kekuatan.

Sebenarnya strategi apa pun yang digunakan tidak akan dapat menyelamatkan bala udara Jerman dari kehancuran kalau Sekutu dapat memanaatkan keunggulan jumlah balanya. Tetapi, kebijaksanaan Perancis dan Inggris memberi keuntungan kepada Jerman.

  • a. Sikap Perancis “biarkan hidup ” memungkinkan Jerman menghadapi Perancis dengan sejumlag kecil dari kekuatan mereka seluruhnya.
  • b. Strategi Inggris kurang efektif. Tahun 1917 Inggris kehilangan 1.811 pesawat, Jerman hanya 296 buah. Tahun 1918 Inggris kehilangan 2.508 pesawat, Jerman hanya 662.

Kebijakan ofensif Jenderal Trenchard dikembangkan pada tahap perang ketika pertempuran udara masih baru dimulai. Kebijakan itu memadai untuk menghadapi sejumlah kecil pesawat tempur yang beroperasi sendiri, tidak terkait dengan system taktis yang terpadu. Kebijakan itu mahal dan tidak efektif bila dihadapkan pada bala udara Jerman menjelang 1917, suatu bala udara yang diperengkapi dan diorganisasi dengan baik.

Kegagalan yang paling parah dari kebijakan ofensif adalah bahwa kebijakan itu tidak memaksa musuh menerima pertempuran bila ia tidak siap. Patroli ofensif jarak jauh oleh RFC dan penerusnya RAF tidak mengancam kepentingan Jerman yang vital. Akibatnya, Jerman memperoleh keuntungan inisiatif taktis dan pengalaman penerbang yang unggul. Mereka menunggu, kemudian terbang lebih tinggi dari pada armada penyerbu. Formasi Jerman cukup besar dengan penerbang pilihan sehingga mereka dapat menyapu bersih langit sepanjang Front Inggris dari ujung ke ujung.

 

Anti Bala Darat (Dukungan Udara).

Dalam 12 bulan terakhir terjadi inovasi pada penggunaan pesawat. Hingga waktu itu, pesawat telah membantu Ad secara tidak langsung dengan cara observasi artileri, pengintaian dan pemboman garis komunikasi. Penggunaan pesawat untuk bantuan taktis langsung dalam bentuk serangan bom dan senapan mesin atas instalasi musuh di garis depan sangat terbatas dan pada umumnya kehilangan arahan terpusat. Sejak serangan Inggris di Cambrai dalam Nopember 1917, penggunaan pesawat udara untuk membantu menerobos posisi pertahanan atau untuk mempertahankan gerak maju menjadi makin biasa. Jerman mereformasi seluruh Skadron Pelindungnya menjadi Skadron Tempur. Inggris menugasi beberapa Skadron tempurnya untuk melakukan serangan ketinggian-rendah secara permanen. Perancis mereorganisasi sebagian dari bala udaranya menjadi grup pendukung taktis. Terdapat keraguan bahwa penggunaan bala udara untuk serangan darat memainkan bagian penting dalam pertempuran akhir PD I.

 

Pemboman strategis

Pemboman strategis mencakup penggunaan kekuatan udara untuk menyerang langsung sumber kemampuan perang musuh, yaitu kekuatan politik (elit kepemimpinan), industri utama, system transportasi dan penduduk musuh. Tujuan strategisnya adalah untuk meruntuhkan kemampuan dan kemauan musuh untuk melanjutkan pertempuran. Serangan udara strategis dilaksanakan sebagai pembalasan atau eksperimen dengan menggunakan kekuatan surplus. Pemboman oleh Jerman selalu diarahkan pada jaringan komunikasi dan perbekalan. Hanya 1/2 dari bala pembom Jerman yang dilibatkan dalam serangan Gotha atas London. Dalam satu tahun, hanya 413 misi pembom Jerman atas Inggris. Ketika kerugian pesawat menjadi terlalu tinggi dan situasi di Perancis mulai buruk, Komando Tinggi Jerman menghentikan kampanye ini.

Bagi Perancis, pemboman strategis adalah masalah pembalasan. Demikian juga upaya Inggris tidak berlanjut maupun mengesankan. Royal Navy Air Service (RNAS)- Penerbal Inggris- yang pesawatnya berlebihan sebagai hasil dari persaingan pengadaan dengan RFC (Penerbad) membentuk Wing Pembom di Perancis dan memulai kampanye ( yang kurang intensif) atas pabrik-pabrik Jerman. Wing itu dibubarkan dalam musim semi 1917 karena protes AD bahwa perlengkapan itu dibutuhkan di Front.

Dalam Juni 1918, unit pembom baru, dengan nama Independent Ira Force, dibangun terutama sebagai tanggapan atas tekanan politik untuk melakukan pembalasan. Hasil dari IAF hanya sedikit selama masa hidupnya yang pendek itu. Komandan bala pembom, Jenderal Trenchard, mengalihkan lebih dari 1/3 dari upayanya pada pemboman atas lapangan terbang Jerman (operasi lawan -udara). Sebenarnya Trenchard baru menganut gagasan pemboman strategis setelah ia diangkat kembali sebagai Kepala Staf RAF dalam era pasca perang. Pada 18 Agustus 1918 ia menulisariannya :

“Saya yakin kerusakan pada bangunan dan personil sangat kecil …………… . Efek moril besar-sangat besar- ……. Efek moril utama adalah untuk memberikan salinan surat kabar untuk menyatakan alangkah hebatnya kita meskipun hal itu sebenarnya tidak banyak mempengaruhi musuh seperti halnya mempengaruhi rakyat kita sendiri”.

Pada permulaan perang, Inggris dan Perancis hanya mempunyai 184 pesawat dan Jerman 180 pesawat. Menjelang akhir Perang, RAF mempunyai 2000 skadron yang diperlengkapi dengan lebih dari 22.000 pesawat dan 300.000 personil, angkatan udara yang terbesar di dunia dan tertua. Sebagai akibat dari pemboman London oleh kapal udara Zeppelin dan pembom Gotha Jerman, RFC dan RNAS dilebur menjadi RAF sejak 1 April 1918. Untuk beberapa waktu pengelompokan masih tetap 3 : yang mendukung Ad, yang menukung AL, dan yang madiri untuk pemboman strategis.

Perang atrisi di udara makin intensif dari 1917-1918 seiring dengan makin kuatnya bala udara tempur. RAF kehilangan 1.302 pesawat anatara 21 Maret dan 29 April 1918. bahkan ketika kekuatan udara AS makin besar, Sekutu tidak mampu menghalau lawannya dari uadra. Sampai gencatan senjata, bala uadar Jerman mempertahankan keutuhan organisasi, kekuatandan morilnya. Armada pesawat tempurnya tetap unggul di atas lawan-lawannya. Armada pembom-tempur tetap memberikan dukungan taktis kepada pasukan darat yang mengundurkan diri. Diudara, Sekutu tidak dapat menyatakan kemenangan ketika Perang berakhir.

Sebagai penutup, berikut ini adalah tahap-tahap perang udara yang dapat dibagi dalam 5 tahap, 2 terakhir saling tumpang tindih :

  • a. Tahap I : Peranan pesawat terutama pengintaian strategis.
  • b. Tahap II : Dari musim dingin 1914 samapai akhir 1915 observasi arteleri dan pengintaian fotografi untuk mendukung perang parit.
  • c. Tahap III : Selama 1 1/2 tahun pengenalan pesawat tempur.
  • d. Tahap IV : Setelah musim smi 1917 mulai ber-langsung perang atrisi, dimana keunggulan jumlah pesawat Sekutu terbuang dengan sia-sia karena strategi yang salah.
  • e. Tahap V : Dalam 1918 proses atrisi meninkat ketika kedua pihak makin memusatkan upayanya pada serangan ketinggian-rendah pada posisi garis depan.

Setelah perang berakhir terjadi demobilisasi dan pengurangan kekuatan udara secara besar-besaran. Pengembangan kebijaksanaan pemboman strategis antara PD I dan PD II tidak berkaitan langsung dengan aliran utama strategi udara PD I. Karena itu, AU yang paling layak-tempur di Eropa tahun 1939 adalah Luftwaffe Jerman, suatu kekuatan yang dirancang bukan untuk pemboman strategis melainkan untuk dukungan taktis kepada AD. Sebagian besar tokoh militer dalam masa PD I berpendapat bahwa kekuatan uadara bertugas mendukung AD/AL. Karena itu, Giulio Douhet dari Italia adalah satu-satunya penganjur sejati dari pemboman strategis dan lawan-udara ofensif dalam masa itu.


1 Komentar

  1. riady Bakri mengatakan:

    awwb ma budhy, trims infonya yg sangat menarik. kalo kembali ke negara kita saat jaman PD 1 itu , bagaimana ceritanya secara negara kesatuan belum terbentuk, angkatan pertahanan udara belum ada tetapi saya yakin pemerintahan kolonial sat itu pasti punya kekuatan udara juga walaupun kecil.

    mas, hari sabtu nanti saya pengin ketemu kalo sempat hadir di halim tgl 9 april besok, sekalian saya pengin moto2 atraksi sukhoi dan F 5,F 6 nya. sekian salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: