Beranda » Leadership » Catatan Tentang Pemimpin yang Rendah Hati-7 “Achievement Vs Acceptance”

Catatan Tentang Pemimpin yang Rendah Hati-7 “Achievement Vs Acceptance”

Baru-baru kami baru saja bertemu para pemimpin dari negara antah berantah.   Ini adalah sebuah pencapaian (achievement) yang tidak bisa dicapai dalam waktu singkat (long term) menurut, sebagaimana impian negara madani yang sering dijargonkan oleh para penghulu bangsa.  Kita belum masuk pada ranah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, namun pada satu dua titik yang bisa menjadi bahan perenungan.   Ketika kami bertemu dengan beberapa pejabat militer dari negara maju, yang kami lihat adalah pribadi-pribadi yang teduh, tenang, runut bicaranya dan tidak ada tendesi untuk melakukan one man show dalam sikap santunnya.   Padahal mereka berasal dari negara-negara yang frekuensi operasi militernya tinggi atau dibawah ancaman perang seperti Korea Selatan, Taiwan, ataupun AS, gaya bicaranya melebihi kesederhanaan cara pandang orang jawa.   Kharakter umum yang dimiliki oleh pribadi-pribadi tersebut itulah salah satu achievement yang sebenarnya dari proses pembangunan kharakter kepemimpinan yang sebenarnya, jua para pemimpin sebelumnya pasti diliputi dengan penuhnya keadaan sikap acceptance (penerimaan) dalam banyak keadaan, baik karena kesadaran pribadi dan banyak yang dipaksakan oleh aturan negara.  Sehingga dalam waktu yang lama menghasilkan generasi pemimpin yang lebih baik.

Jauh-jauh hari dulu Jenderal bintang lima Douglas mac Arthur menuliskan “duty, honour, country” sebagai ungkapan kebanggaan dalam satu sisi, bahwa menjadi pemimpin negara harus menegasikan keinginan-keinginan pribadi untuk menjadi kaya, untuk menjadi tokoh terkenal, atau untuk memenangi  setiap persaingan sosial.  Sisi lain dari petuah itu adalah mengusir potensi perasaan frustasi di kemudian hari yang sering dikeluhkan oleh generasi setelahnya.   Bahwa ketika seseorang sudah berikrar untuk menjadi pemimpin maka terdapat komitmen nilai kehormatan tertentu yang harus disadari telah dipilih.   Kehormatan seorang pemimpin akan dicapai bukan karena jabatan yang hebat dari titik ke titik.   Kehormatan pemimpin akan dicapai bukan karena terus bertambah kaya dari jabatan satu ke jabatan berikutnya.   Kehormatan pemimpin akan dicapai bukan karena bertambah tenar dari waktu ke waktu.  Namun ketika seorang pemimpin terus menekan rasa haus akan pencapaian, bersamaan terus menderakan dirinya untuk menerima semua aturan sebagai kehormatan, maka muncullah sosok yang selalu berguna dalam setiap keberadaannya.  Seseorang boleh saja menjadi pemimpin untuk kaya, tapi ia akan sadar bahwa itu tidak akan membuatnya bahagia, karena seyogyanya itu bukan tujuannya.  Ia akan gundah, ia akan merana, ia akan tersiksa, karena ketidak-sesuaian antara ucapan dan perbuatannya (anti integritas).  Alarm kharakter dalam relung jiwanya bercuit-cuit sehari dua hari… berikutnya mati karena sudah kehilangan energi.  Dalam kegelapan hadir di banyak hati itulah, setitik kebaikan akan menjadi pelita. Mungkin saya atau kita pun bukan orang yang baik atau bukan pemimpin yang baik pastinya.  Tetapi menerima nilai kebaikan secara terus-menerus tetaplah harus menjadi sikap ikhlas kita.  Namun kita pasti masih bisa memaksakan hadirnya beberapa titik cahaya kecil dalam hati kita.   Pemantiknya adalah rasa penerimaan dari resiko mempertahankan kehormatan dirinya, walaupun pencapaiannya sering tidak seperti yang apa sesuatu yang menurut kita.

Queen’s Park Hotel, Bangkok


2 Komentar

  1. ratih mengatakan:

    Alhamdulilah, gak percuma khan ngikutkan Mas Budhi dalam TOW CG12. Not only collecting information for the next exercise but also you have got deep impression of how big is the heart of that great military leader(s). Insya Allah YOU will be one of them one day Mas Bud. Finger Cross . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: