Beranda » Tokoh » Obituari Marsda TNI Purnawirawan Faustinus Djoko Poerwoko

Obituari Marsda TNI Purnawirawan Faustinus Djoko Poerwoko

Dalam sejarah TNI Angkatan Udara, tidak banyak catatan tentang sosok prajurit yang mau dan sudi mendedikasikan pada dunia yang sering terlalu beresiko terhadap karir dirinya.  Namun Almarhum Marsda TNI (Pur) Faustinus Djoko Poerwoko, mantan Komandan Lanud Iswahjudi dan Panglima Kohanudnas, yang akrab dipanggil “Om Poer” adalah sosok yang betul-betul mencintai dunia menulis, melebihi dari pemikiran tentang resiko karier yang akan diterimanya.   Saya masih ingat ketika pertengahan tahun 1999, untuk pertama kalinya mengenal sosok Kolonel Penerbang Faustius Djoko Poerwoko yang baru saja dilantik menjadi Komandan Lanud Iswahjudi.   Saya memang tidak terlalu mengenal Om Poer sebelumnya.  Saya pernah mendengar nama dan melihat foto beliau sebagai penerbang termuda erobatik Spirit 78 yang menggunakan pesawat F-86 Sabre, namun secara umum nama-nama lain dalam angkatannya yang boleh dibilang sebagai generasi emas yang pernah dimiliki TNI, yaitu Alumnus Akabri 1973 yang begitu berjubel nama-nama besar seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Djoko Suyanto, Agus Wirahadikusumah dan sebagainya, mebuat saya lebih familiar kepada sosok-sosok tersebut.   Pertama kali saya mengenal dengan baik secara pribadi tentang Om Poer adalah ketika suatu hari beliau memanggil ke kantor dan menyampaikan banyak hal tentang tulis-menulis.   Saya baru tahu bahwa Om Poer sudah banyak memonitor adik-adiknya di Angkatan Udara yang menekuni dunia tulis-menulis.   Dan dari obrolan awal ini akhirnya sebagai yunior, saya banyak terlibat dalam cita-cita Om Poer untuk mengembangkan dunia tulis-menulis di dalam tubuh Angkatan Udara.  Tidak hanya tentang tulisan artikel lepas, namun bagaimana menyusun “Mahkota” seorang penulis, “Buku”.   Dalam banyak setiap kesempatan, Om Poer membuang jauh kehormatan “pangkat dan jabatannya” lalu melebur dalam pemikiran para yunior bila sudah berdiskusi tentang karya jurnalistik para prajurit yunior.   Ketika ada prajurit yunior yang dianggap salah karena salah menulis di media, saya selalu ingat komentar Om Poer, “Wah mbok ya biarin, wong sudah mau mencoba berkarya kok dimarahin.  Yang harusnya dimarahin ya yang tidak berkarya.”   Dalam banyak kesempatan saya cukup bersukur karena berikutnya, oleh “Om Poer” saya dikenalkan keluarga besarnya yang ternyata ada nama-nama jurnalis besar seperti Julius Poer (kakak kandung Om Poer) dan Djoko Poernomo (Pak Pom), yang beberapa kali akhirnya menjadi mentor saya dan beberapa perwira yunior yang tulisannya dimuat di Kompas. Paling tidak selalu ada bunyi sms “tit tit – tit tit” lalu keluar message “tulisanmu besok dimuat”.  Om Poer juga sering mengajak saya untuk menyambangi para penulis/jurnalis militer yang lain seperti Almarhum Hendro Soebroto, Marsekal Saleh Basarah, Marsekal Chappy Hakim, dan beberapa pendekar di Kompas yang ternyata ruang dan meja kerjanya sebesar para Jenderal di Cilangkap.   Om Poer melawan arus dengan menceritakan beberapa hal-hal rahasia dalam kariernya, tidak peduli saat ditegur para atasan saat tulisan dan komentarnya dianggap sedikit keluar pakem militer murni, namun gagasan Om Poer tentang budaya tulis-menulis di lingkungan militer, sikap egaliternya, kecintaannya kepada dunia kedirgantaraan sehingga setelah pensiun justru menjadi wartawan Majalah Angkasa, adalah sebuah  pemikiran emas yang harus dilestarikan.   Om Poer pun wafat tak jauh dari dunia yang dicintainya.   Saat ia dan Pak Ninok Leksono “jenggot” menjadi tamu kehormatan dari Pabrik pesawat AWACS Embraer Brazilia, ia terkena serangan jantung dan wafat menyusul adiknya Pak Pom yang meninggal sepuluh hari sebelumnya.   Saya dan Agus Suwarto (fotografer kedirgantaraan) masih terngiang saat layatan Pak Pom dua minggu lalu, ketika itu Om Poer datang dengan Pak Julius Pour yang baru saja menyelesaikan buku “Macan Tutul”, mereka berdua berkata  “jangan pernah berhenti menulis karena itulah yang akan menyalakan jiwa-jiwa penulis tua seperti kita.”

Selamat jalan Om Poer.

Letkol Pnb Budhi Achmadi, Ghost Writer, pernah diasuh menulis oleh Three Musketter “Julius Pour (Pak Jup), Djoko Poernomo (Pak Pom – Plompong), Djoko Poerwoko (Om Poer)”.


2 Komentar

  1. Wisik Restu mengatakan:

    Turut berduka cita atas meninggalnya Pak Djoko Poerwoko. Beliau memang sosok militer yang luar biasa. Memang tidak banyak militer yang menulis. Sekarang kita tidak bisa lagi membaca tulisan beliau. Semoga mas Budhi dapat melanjutkan dan terus menulis untuk media.

  2. Nofaldi mengatakan:

    Saya pasti merindukan tulisan-tulisan beliau, terutama di Majalah Angkasa…:-(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: