Beranda » Leadership » Silaturahmi dan Salah Satu Keajaiban Jabat Tangan

Silaturahmi dan Salah Satu Keajaiban Jabat Tangan

Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah presentasi tentang penyembuhan denganp dasar-dasar mengubah energi cinta dari perasaan dan pikiran manusia, kepada Tuhan, kepada sesama, lalu dialirkan dalam tangan, berubah menjadi kekuatan penyembuhan yang luar biasa ajaib.  Dalam salah satu sesi, salah satu pembawa presentasi bernama Bapak Niam Moeis, yang menurut buku tamu adalah Vice President of Quantum Touch of South East Asia. membuat suatu adegan dan rekayasa transfer energi cinta yang sebenarnya telah menjadi rasa penasaran saya dalam beberapa tahun sebelumnya. Beliau menghampiri seorang anak kecil usia 10an tahun, lalu menjabat tangannya. “Apakah kamu datang ke sini dengan niat yang tulus nak. Ingin mendengarkan celotehan cerita orang tua yang sudah uzur ini?” Lalu si anak mengangguk. “Nah bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,” kata Pak Niam, “maka ketika posisi seperti inilah saya merasakan ada sebuah hati yang dengan kerendahan hati, ketakziman, iman, sedang terus merenggut energi kebaikan yang mungkin ada dari dalam diri saya untuk melipatgandakan energinya sendiri, sehingga bahkan nantinya insyallah anak ini akan lebih hebat dari saya, karena hati dari tangan yang menggenggam tangan saya sekarang ini, nantinya akan menggenggam tangan-tangan yang lebih terhormat dari saya dan orang-orang besar yang akan ia temui sepanjang hidupnya.”

Bapak dan ibu sekalian, lalu kita pasti akan kembali mengenang peristiwa masa lalu ketika kecil, kita ikut berlarian untuk dapat berdiri berjejer di tepi jalan hanya agar bisa disalami oleh seseorang yang sangat terhormat. Ternyata inilah naluri seseorang untuk menyerap energi dari sang tokoh terhormat itu. Namun sesuatu yang saya fikirkan adalah, ternyata kita tidak perlu menunggu momen-momen seperti itu untuk menyerap energi kebaikan seseorang, untuk menjiplak nasib baik dari seseorang yang kita idolakan. Ketika kita berusaha mengulurkan tangan kepada siapapun dengan hati yang rendah hati, penuh ketakziman dan iman, dengan genggam kehangatan dan sorot mata yang penuh maaf, maka energi kebaikan siapapun akan menjadi milik bapak dan ibu sekalian. Anak-anak pun tidak perlu bermimpi dan bercita-cita menjadi ini dan itu, bila hati sudah terisi oleh mukjizat sifat tersebut, dengan segala sesuatu usaha hidup yang normal layaknya usaha orang lain, maka anak-anak itu akan menemukan jalan cepat untuk menjadi lebih hebat dari siapapun kelak.

Mohon maaf lahir dan batin.


1 Komentar

  1. SUHAYYATMAN,A.Ma mengatakan:

    terimakasih atas tulisannya,sebagai penambah wawasan ilmu saya,semoga bermanfaat bagi orang banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: