Beranda » Kehidupan » Bapak F. Djoko Poerwoko – Mentorku Tersayang

Bapak F. Djoko Poerwoko – Mentorku Tersayang

Saya lupa hari dan tanggal peristiwa yang terjadi di akhir tahun 1999 tersebut, namun demikian saya ingat sekali bahwa hari itu merupakan sebuah tipping point buat saya.   Ketika itu saya berada di Skadron Udara 14 menjalankan tugas rutin saya.   Tiba-tiba salah satu anggota menyampaikan, “Ijin Let, tadi ada telepon dari Sispri komandan Lanud, Letnan diperintah menghadap ke kantor beliau….”   Sebagai perwira yunior sayapun segera ijin komandan skadron, untuk menyampaikan berita tersebut berikutnya meluncur ke kantor Komandan Lanud.  Skadron udara adalah salah tempat dimana hirarki adalah superlative dibandingkan di tempat lain.  Terlebih lagi, seorang Letnan dipanggil komandan Lanud adalah sesuatu yang menggentarkan.   Maka sedari membuka pintu komandan Lanud, sayapun melangkah patah-patah menuju arah depan meja kerja beliau.  “Lapor, Lettu Penerbang Budhi Achmadi siap menghadap!”

Itulah moment pertama saya bertemu Almarhum Marsda TNI Purnawirawan Faustius Djoko Poerwoko, yang masih berpangkat Kolonel Penerbang – tiga melati dikelilingi kotak merah.   Saya disalami, dipersilakan duduk dan berikutnya bapak komandan Lanud berbicara panjang lebar tentang bagaimana ia sedari bernama “Djoko cilik” hingga menjadi komandan Lanud Iswahjudi, selalu mencintai dunia tulis-menulis dan dunia penerbangan.  Saya pun mulai memahami bahwa bapak yang berbicara di depan saya tersebut tahu bahwa saya senang tulis-menulis walaupun kelas amatiran.   Sejak itu pula saya tahu bahwa selalu saja kharakter seseorang yang hobby ilmu seperti beliau adalah egaliter, elastis terhadap saran dan perbedaan pendapat, membuka kran kemunikasi terhadap siapapun dan tidak gumede karena beda pangkat di baju seragam.   Sementara saya mulai agak ngantuk karena beliau lama sekali mengungkap sejarah kedekatannya dengan tulis-menulis, lalu pak komandan berkata, “Bud, saya merencanakan membuat buku sejarah Skadron Udara 11, tolong kamu bantu saya cari data ke Makassar.   Minggu depan ada Paum jadi kamu numpang pesawat itu dan pulangnya seminggu lagi, ikut pesawat itu lagi.”  Maka rasa ngantuk saya hilang seketika karena di pipi kiri-kanan saya seakan ada suara “pak-pak-pak”.   Bagi seorang yang baru menulis amatiran seperti saya, perintah tersebut adalah sebuah kekagetan.  Mencari data untuk buku, berarti ya menulis buku itu sendiri, sedangkan saya baru kelas menulis berita pendek mengenai kedirgantaraan.  “Ijin komandan melaporkan sepertinya saya belum mampu untuk menulis buku, tapi ijin kalau bantu-bantu mencari data, ijin kami sanggup dan selanjutnya mohon bimbingan…” Lalu pak komandan pun mengeluarkan kalimat khasnya, “Alah Bud gampang…. nggak ada yang sulitlah di dunia ini…”

Sejak hari itulah saya tertantang untuk lebih giat mengeksplorasi cara menulis dengan lebih komprehensif dalam bentuk yang lebih tebal “buku”.   Dan tidak ayal lagi, saya banyak mendampingi Pak Poerwoko hari-hari berikutnya. Maklum saja bahwa setiap hari-hari libur tidak ada kegiatan lain yang mampu mengalihkan atau lebih menarik untuk seorang penulis seperti Pak Poerwoko, selain menulis itu sendiri.  Maka dengan perasaan takut-takut, saya pun mengikuti ritme kedekatan yang tidak lazim, bahwa seorang perwira pertama (kapten) sering bepergian dengan Marsekal pertama (beberapa bulan setelah dilantik menjadi Komandan Lanud, Pak Poerwoko mendapat kenaikan pangkat menjadi Marsekal Pertama dan saya menjadi Kapten pada beberapa bulan berikutnya).

Saya ingat sekali beliau sering datang ke mess pada saat saya masih bujang dan juga datang ke rumah saya dengan menaiki motor piket, yang beroda tiga dan suaranya meraung-raung.   Kedatangan yang tiba-tiba, sering membuat attire saya hanya seadanya, namun kata beliau, “Wis ora usah ganti Bud, malah kesuwen.   Ayo langsung nyambut gawe.”   Maka kami berdua pun langsung memandangi komputer kelas “AMD” karena jaman itu laptop yang bisa dibawa-bawa masih terlalu mahal untuk dibeli.  Kalau sudah seperti itu bisa berjam-jam kami duduk sejajar di depan komputer dan tidak pernah saya duga itu akan berlangsung dalam beberapa tahun kemudian, yang membuat saya menjadi sangat dekat dengan beliau sekeluarga.

Masih tentang menulis buku.   Ketika almarhum berhasil menyelesaikan buku yang berikutnya, beliau memerintahkan saya untuk mencetak buku tersebut, karena pada buku pertama, beliau kurang puas dengan proses finishing.   Maka kembali saya seperti dididik Almarhum untuk fight belajar memasuki dunia tulis-menulis yang tanpa batas.   Saya memutar otak untuk mendapatkan percetakan yang baik dan murah untuk pak komandan Lanud.    Nah, saya pun membuka-buka buku-buku di kamar dan mencatat semua alamat percetakan di Yogya yang katanya dijamin murah-murah.   Berikutnya karena saat itu biaya menelepon SLJJ juga cukup mahal buat seorang Kapten, maka suatu pagi saya pun pergi ke sentral telepon Lanud dan meminjam telepon dinas.   Satu per satu alamat dari buku pun saya telepon sambil terus berdoa agar ada suara di seberang sana yang mau berbicara begini,”Hallo Pak Budi, silakan datang ke sini untuk cetak buku dan akan saya beri harga semurah-murahnya.”   Tapi ternyata ada tiga penerbit yang menjawab dan salah satunya, bernama Pak Sahrial dari AK Group.   Sore pada hari setelah menelepon, saya langsung ke Yogya naik bus yang sering bermasalah dengan Polisi, Bus Sumber Kencono.  Saya tiba di Yogya jam 8 malam dan turun di Dekat Kota Gede dan dari sana saya naik becak ke percetakan Pak Sahrial.   Mengapa saya langsung ke Pak Sahrial, karena beliaulah satu-satunya dari tiga percetakan yang mengangkat telepon saya dan mau menunggui saya untuk buka kantor hingga malam hari sampai kedatangan saya.    Saya bingung juga ketika disebut bahwa ia adalah pemilik usaha bernama AK Group dan bukan sebagaimana yang tertulis di buku Khalil Gibran, yaitu Penerbit Fajar Pustaka.  Nantinya saya akan tahu bahwa usaha percetakan dan penerbitan berbeda, dan sampai sekarang saya terus bersahabat dengan Pak Sahrial dan anak-anaknya.  Saya pun tahu semua seluk-beluk percetakan dan penerbitan, hingga suatu hari bercita-cita ingin punya usaha percetakan dan penerbitan, karena tahu uang keuntungan lebih banyak mengalir ke penerbitan daripada ke penulisnya he he he. Semua berkat Pak Poerwoko.

Pak Poerwoko adalah mentor yang tidak pelit ilmu dan mudah menjadikan bawahan sebagai teman.   Dalam beberapa momen saya selalu dibawanya serta.   Sehingga suatu kali saya untuk pertama kali masuk ke kantor Kompas untuk menemui Almarhum Djoko Pernomo (Pak Pom) dan Pak Julius Poer (Pak Jup), dua saudara Pak Poer yang berprofesi sebagai wartawan Kompas, berikutnya kami berdua menemui Pak Ninok Leksono.  Saya pun tidak menyia-nyiakan momen itu, karena saya segera minta nomor HP orang-orang itu dan berikutnya saya pun berhubungan dengan Pak Pom dan Pak Jup secara pribadi.  Bahkan ketika Pak Poerwoko sudah bergeser ke Jakarta dan menjadi Panglima Kohanudnas, beliau masih terus membimbing saya untuk menulis dan hal paling menyenangkan untuk saya adalah ketika beliau mengajak pergi ke Rusia dan Polandia karena beliau ingin sambil jalan-jalan beliau ingin mendiskusikan buku otobiografi yang baru beliau tulis dan saya kebagian mengawasi proses edit dan cetak di tempat Pak Sahrial di Yogya.   Saat di Polandia saya ditempatkan di kamar kelas “Suit” dan itu pertama kali saya alami.   Karena kebodohan saya, tiap hari saya menelepon istri di Madiun, karena mengira serba gratis semua.   Beberapa bulan kemudian setelah di tanah air, saya baru tahu bahwa sudah menjadi aturan baku tidak tertulis bagi tamu militer non VIP seperti saya untuk seyogyanya bayar sendiri jika mengambil isi kulkas di kamar, bayar sendiri untuk laundry, juga saat memakai telepon.   Waduh, pastinya tagihan kamar si Kapten akan lebih bengkak dari Bapak Panglima pada saat itu, karena ada tambahan bayar telepon.

Dunia tulis-menulis telah mendekatkan saya dan Almarhum Pak Djoko.   Ada beberapa saat dimana saya mulai berani menanyakan masalah-masalah pribadi, dan pada usia dan pangkat yang belia saya mulai agak paham bahwa menjadi pemimpin bukanlah tugas yang mudah.   Selalu ada saja hal-hal yang sangat manusiawi terjadi dan kembali pada kodratnya, bahwa seberapapun tingginya jabatan dan pangkat maka semua orang adalah makhluk Tuhan biasa yang punya kelemahan.  Namun satu hal,  beliau adalah salah satu kakak terbaik saya.   Dari beliaulah saya bisa akrab dan tahu tentang Generalship –  pola kepemimpinan para Jenderal, karena memang beliaulah perwira tinggi yang saya kenal dekat pertama kali dan bahkan intens bertukar pikiran dalam banyak hal.  Dari dorongan beliau saya bahkan bisa mempelajari detail demi detail menulis dan membuat buku, bahkan menjualpun bisa, karena dari beberapa buku beliau saya minta untuk saya jual sendiri kepada teman-teman he he he.   Saya juga menjadi tahu gudang bukunya Gramedia karena beliau yang mengarahkan semuanya lewat Pak Pom dan Pak Jup.   Satu hal lagi, istri saya pun mempunyai kemampuan membuat brooch (bross) karena diajari oleh Ibu Nining Poewoko.

Kini Pak Pom dan Pak Poewoko telah tiada.   Alhamdulillah, saya menyempatkan hadir di rumah Pak Pom, sehari sebelum keberangkatan Pak Poerwoko ke Brazil.   Pak Poerwoko pun sempat bertandang ke kantor saya pada saat beliau pamitan ke pejabat Mabesau.   Mungkin sudah seperti firasat, beliau waktu itu menelepon saya untuk datang menemani,”Bud kalau tidak ada pekerjaan tolong kemari, ini lagi kesepian karena menunggu antrian masuk.”   Saat menerima telepon itu saya merasa berdosa kepada beliau, karena semenjak saya pindah dinas ke Mabesau sejak enam bulan lalu (April 2011), saya dan istri selalu menunda-nunda untuk bertandang ke rumah beliau hingga pertemuan di Mabesau tersebut menjadi pukulan telak bagi saya, karena justru beliau yang menelepon.   Awalnya karena saya masih membujang maka saya menunggu istri yang masih tinggal di Madiun, setelah itu justru kesibukan lain yang menunda niat saya untuk menghadap.    Maka saya segera meluncur menemui beliau di ruang tamu salah satu pejabat dan ketika mendapat gilirannya masuk, beliau bilang,” Bud, kamu jangan pergi kemana-mana, tunggu saya sampai keluar lagi.”   Maka saya pun menungguinya selama kurang lebih 30 menit.   Ketika keluar, Pak Poerwoko bilang,” Aku pingin ndelok kantormu.” Lalu saya menjawab,”Wah pasti bapak ingin bernostalgia dengan tempat duduk bapak ya…”, karena Pak Poerwoko memang pernah menduduki jabatan di ruangan saya.   “Ah enggak…. wong aku arep ngobrol karo awakmu….” jawab beliau.  Ketika sampai kantor ternyata atasan saya ada di tempat dan saya mempersilakan Pak Poewoko untuk bercengkerama dengan beliau sebentar.   Pak Poerwoko kemudian berpamitan dan saya refleks mengikuti di belakangnya, masuk lift dan turun hingga lobby di lantai satu (kantor saya di lantai lima).   Sampai disitu beliau bilang, “Bud sudah to…kamu mau ikut aku opo… sudah kamu mbalik saja, wong aku mau pergi sendiri kok….”   Beliau kemudian menyalami saya dan pun menyahut,”Siap Bapak selamat jalan dan salam untuk Ibu.”   Berikutnya saya memandangi beliau berjalan sambil bersiul-siul, gaya khasnya semenjak pertama kali mengenalnya.

Bapak, mohon Bapak tahu bahwa saya pernah berjajnji pada diri saya sendiri, bahwa sampai kapanpun saya tidak akan melupakan budi baik Bapak Djoko Poerwoko yang telah banyak mengisi banyak hal dan ilmu dalam hidup saya.  Bapak, sampai sekarang saya masih sering sempatkan lewat Jalan Kyai Sahid bila lewat Kartasuro, rumah Bapak yang beberapa kali Bapak siapkan untuk tempat singgah saya.  Saya masih sering mampir di Warung Mbah Semar, tempat Bapak mentraktir saya “pis roti”.   Saya juga masih menyukai nasi oseng jalan Mbarat Maospati, menu makan siang Bapak dan saya saat menulis sama-sama.  Semua itu saya lakukan karena saya tidak bisa melupakan kebaikan Bapak.  Satu tempat yang saya belum coba kembali, yaitu steak Gajah Wong – Yogya, yang dulu harganya membuat seorang Kapten geleng-geleng karena mengira adalah makanan paling mahal se-Indonesia dan ternyata tidak di kemudian hari.   Saya sangat sedih bahwa Bapak harus pergi lebih awal dari perkiraan saya, sehingga saya belum bisa membuktikan rasa terima kasih saya kepada Bapak.   Bapak, mohon maaf atas segala kesalahan dan semoga Bapak mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya. Amin.


5 Komentar

  1. M Riady Bakri mengatakan:

    tulisan yang bagus mas Budhy. keep on writing .
    sekalian selamat sudah bertugas di mabesau .kapan bisa ketemu ngobrol2 mas..salam hormat

  2. wasis susila mengatakan:

    Pak Budhi yang terhormat, pertama perkenalkan nama saya Wasis Susila. saya adalah mahasiswa fakultas Hukum UGM, Yogyakarta. Pak saya mau nanya untuk operasi TNI AU selain perang itu apa saja dan bagaimana rutinitas TNI AU dalam melaksanakan Operasi patroli udara? terima kasih.

  3. gatot saifullah mengatakan:

    subhanallah, alhamdulillaah, alllahuakbar

    selamat mas

    dari pembaca setia

  4. abramsp mengatakan:

    Sampai disitu beliau bilang, “Bud sudah to…kamu mau ikut aku opo… sudah kamu mbalik saja, wong aku mau pergi sendiri kok….” Beliau kemudian menyalami saya dan pun menyahut,”Siap Bapak selamat jalan dan salam untuk Ibu.” Berikutnya saya memandangi beliau berjalan sambil bersiul-siul, gaya khasnya semenjak pertama kali mengenalnya.

    sebelumnya salam kenal, gan. ane adalah penyuka dunia kedirgantaraan khususnya pesawat2 tempur dan ‘nyasar’ ke sini. ane salut sama agan nih.😀
    dari kutipan itu..kyanya beliau udh pamit yah sama agan. sy jg ikutan sedih.

    plus..sy doakan agan supaya bsa jd Panglima TNI kelak.

    salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: