Beranda » Sejarah Lanud Iswahjudi » 1. Hari-Hari Awal Di Maospati

1. Hari-Hari Awal Di Maospati

Maospati,  1 Januari 2011

Kepada Yth, Bapak Iswahjudi

Salam hormat saya, semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan rahmat kepadamu selalu.

Bapak, dengan surat ini saya ingin menceritakan kisah hidup saya kepadamu.   Semoga Bapak sudi meluangkan waktu.

Saya ingat sekali saat itu Maospati sedang berada di musim panas.  Semua pohon tampak kering, dan angin bertiup cukup kencang.  Saya adalah si anak kecil bercelana pendek dan bersandal jepit, yang tangannya sedang digandeng oleh ibunda terkasih.  Kami suatu hari terlihat orang sedang berjalan cepat di bawah terik siang hari.  Bermaksud mengimbangi langkah kaki ibunda, saya pun melangkah lebar-lebar dengan terpaksa. Saya, si kecil dekil yang hari itu belum genap berusia 10 tahun, harus absen dari sekolah dan pergi ke rumah sakit.

Sejak pagi saya sudah menyiapkan baju batik, dan satu-satunya celana panjang yang saya miliki.  Ibunda berkata semalam, pagi itu beliau akan mengantar saya berobat ke kota Maospati, 6 km dari rumah.  Bapak Iswahjudi, mungkin banyak orang menyebut Maospati dengan awalan kata desa.   Tapi saya sendiri lebih suka menyebutnya dengan kata kota, karena kondisi tempat tinggal saya sendiri jauh lebih terbelakang dari Maospati.

 Saat berangkat dari rumah tadi, ada sebuah bayangan yang seakan-akan bakal hadir dihadapan saya.  Bayangan akan kehidupan masa depan saya.   Saya memang sering seperti itu Bapak.  Saya sering bermimpi tengah berada dalam kehidupan masa depan yang penuh dengan kebahagiaan perjuangan.  Saya pernah bermimpi berada ditengah badai dan menari diatasnya.  Saya sering bermimpi dipeluk dan digendong para pahlawan,  Saya sering bermimpi dipeluk dan digendong olehmu.   Mimpi-mimpi itu Bapak, adalah sebuah cahaya bagi kehidupan saya yang sehari-harinya penuh derai tetesan keringat dan air mata.

Saat ibunda menarik tangan saya untuk masuk angkutan pedesaan, pandangan saya langsung berkeliaran kemana-mana.  Bapak Iswahjudi terhormat, bepergian adalah sebuah saat yang paling jarang saya lakukan pada masa itu, apalagi merasakan sesuatu yang enak lainnya.  Saya tumbuh dalam kemiskinan.  Hingga saya punya doa yang selalu menjadi teman setia sujud tangis saya, ” Ya Tuhan bersandinglah selalu  dengan harapan-harapan dan keyakinan saya, bawalah keyakinan saya dalam kasih kuasa-Mu, dan jernihkanlah keraguan-raguan saya dengan kepastian-Mu.  Karena apapun yang terjadi, saya adalah milik-Mu……Bila saya melangkah, jadikan itu sebagai langkah-Mu”  Sebuah doa yang selalu membentengi diri saya dari semua kesedihan dalam suasana hidup yang serba kekurangan dan cobaan.

 Bapak Iswahjudi terkasih, yang siang malam selalu terbayang,  saat saya berada dalam angkutan pedesaan, tiba-tiba ada sebuah benda kecil sedang melayang rendah dari kejauhan, tertangkap sudut mata saya.   Dengan mata berbinar-binar saya pun dengan serta merta menepuk-nepuk badan ibunda,   “ibunda…ibunda…ada pesawat……ada pesawat tempur datang !”  Kalimat yang meluncur dari mulut saya begitu menarik perhatian semua penumpang.   Namun saya tidak peduli Bapak.  Saya yakin, semua anak kecil pasti akan berteriak-teriak seperti saya saat melihat pesawat tempur lewat di atas langit.  Bapak, sejak saya mengenal baca tulis saya begitu terpesona dengan pesawat tempur. Suatu saat nanti saya ingin duduk di cockpit pesawat tempur dan memberi salam kepada ibunda yang setiap hari mengirim kekuatan doa untuk saya.      Hingga saat pesawat itu menderu di atas kepala saya, air mata saya menetes tanpa kuasa membendungnya.

Bapak Iswahjudi,  lima belas tahun setelah peristiwa itu saya ternyata sudah mewujudkan bayangan-bayangan itu.  Saya sudah duduk di cocpit pesawat tempur saat ini. Saya bisa melayang-layang dan menukik di sudut cakrawala setiap hari.  Ini tak luput dari jasa-jasamu.  Saya begitu berterima kasih atas rengkuhan kasihmu.   Saya tidak pernah ragu apapun yang akan terjadi di masa depan saya.   Yang terpenting, kini saya sudah ada dalam gendonganmu. 

Bapak Iswahjudi, kata orang kini saya sudah menjadi pemuda gagah.  Bukan lagi anak kecil kerempeng yang setiap pulang sekolah sering berlari-lari di pematang sawah sambil berteriak-berteriak, “Saya ingin mencari keseimbangan…..mencari keseimbangan alam……mencari keseimbangan hukum Tuhan !”

Bapak Iswahjudi terkasih, walaupun kini engkau sudah ada di alam baka, saya akan selalu terkenang kebaikanmu. Engkaulah pengisi impian masa kecilku.   Semoga, saya tetap menjadi penerbang tempur yang baik, setia pada Angkatan Udara, berbhakti pada ibunda, dan mampu memelihara rasa takut pada Tuhan Yang Maha Pengampun.  Bapak, berikan restumu selalu.

 Dari Si Kecil penerusmu

Iswahjudi, Siapa Dia  ?

Iswahjudi lahir pada tanggal 15 Juli 1918 di Surabaya.  Sangat beruntung bila dia termasuk pemuda pribumi yang dapat mengenyam pendidikan di sekolah Belanda.  Iswahjudi menyelesaikan pendidikan HIS dan MULO di Surabaya, sebelum melanjutkan ke AMS Malang. Di AMS Malang,  Iswahjudi hanya bertahan sampai tingkat II (setahun) sebelum berubah pikiran untuk pindah ke NIS (sekolah dokter Belanda) di Surabaya.

Saat di NIS, Iswahjudi mendengar ada pembukaan sekolah penerbang Belanda untuk pemuda pribumi.  Dan cita-citanya pun berubah setelah itu.  Rupanya profesi penerbang lebih menarik minatnya.  Hal ini bisa dimaklumi, karena belum satupun pemuda pribumi yang berkesempatan mengenal apalagi menjadi penerbang.   Dan setelah melalui berbagai macam tes, Iswahjudi termasuk dalam calon siswa penerbang yang akan dididik di sekolah penerbang sukarela Vrijwillig Vliegers Corps (VVC) di Kalijati, Jawa Barat.

Lalu mengapa Belanda tertarik untuk merekrut pemuda pribumi untuk menjadikannya penerbang ?   Semua itu ternyata bersumber pada kekacauan dunia saat itu.  Pada tahun 1940, di Eropa telah berkobar perang besar yang dicetuskan oleh Adolf Hitler.  Sedang di Asia, Jepang sedang gencar-gencarnya mengobarkan Perang Pasifik. Angkatan Udara Belanda, Militaire Luchtvaart (ML), tentunya menjadi sangat khawatir dengan posisinya, baik di Eropa maupun di tanah jajahannya.  Belanda sudah tidak bisa lagi mengirim bantuan tenaga penerbang ke Indonesia, karena di Eropa sendiri mereka sangat kekurangan personel.  Pemerintah kolonial Belanda akhirnya mengumumkan pemberian kesempatan kepada pemuda-pemuda pribumi untuk bergabung dalam korps penerbang sukarela VVC.

Dalam tahun 1941, situasi politik di Asia semakin memanas.  Dalam bulan Oktober, para siswa VVC yang sebenarnya masih dalam proses pendidikan sekolah penerbang direkrut dalam wajib militer.  Kegiatan sekolah penerbang VVC dihentikan dan semua siswa harus mengangkat senjata bergabung dengan pasukan Belanda.  Saat Jepang memulai PD II, dengan melaksanakan serangan udara atas Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941, ternyata kedudukan Belanda menjadi semakin terancam.  Pada bulan Pebruari 1942, Para siswa VVC dengan tergesa-gesa dikumpulkan di Jakarta dan dibawa menuju Tanjung Priok.  Dari Tanjung Priok, mereka diangkut oleh kapal KPM Boissevain, yang kemudian berlayar menuju Australia.

Dengan dikawal kapal penyapu ranjau Angkatan Laut Belanda, berangkatlah Boissevain dengan kurang lebih 30 siswa VVC pada tanggal 18 Pebruari 1948.  Mereka mengambil rute pelayaran Selat Sunda – Samudera Indonesia – Australia.  Di sebelah selatan Jawa, kedua kapal berpisah, karena kapal penyapu ranjau harus kembali ke pangkalannya di Selat Sunda.  Beberapa jam kemudian, radio operator kapal Boissevain mendapat kabar bahwa kapal penyapu ranjau tersebut sudah ditenggelamkan di Selat Sunda oleh kapal perang Jepang.  Ternyata Angkatan Laut Jepang sudah mengepung Jawa pada hari itu dan mengahncurkan setiap kapal Belanda yang mencoba melarikan diri.  Dan Boisevan telah mengambil waktu yang tepat. Setelah menempuh waktu 15 hari, kapal Boisevan akhirnya berhasil berlabuh di Adelaide, Australia.

Pada tanggal 6 Maret 1942, armada Jepang berhasil menguasai seluruh Jawa dan melaksanakan operasi pembersihan terhadap kulit putih.   Dengan kekuatan yang dahsyat, mereka menyapu bersih kekuatan Belanda di Indonesia.  Sebagian pasukan Belanda mundur ke Australia untuk bergabung dengan pasukan sekutu.  Di Maospati, pesawat-pesawat tempur Jepang melakukan pengeboman terhadap skadron-skadron ML, membuat pangkalan lumpuh total.  Jepang bahkan sudah menguasai sebagian Papua, Timor dan melakukan pengeboman di pantai utara Darwin.  Pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintah kolonial Belanda di Indonesia menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

Lalu bagaimana dengan nasib para sukarelawan di Australia  ?  Mereka disebut sebagai kontingen Indonesia, dan akan diikutkan dalam pasukan Sekutu berperang melawan Jepang.  Pada suatu hari dikeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada para sukarelawan Indonesia tentang misi pendaratan rahasia di Jawa dengan kapal selam.  Bagi yang berminat diperintahkan mendaftarkan diri segera.  Misi pendaratan rahasia itu adalah untuk mengadakan kontak dengan komandan intelijen sekutu di Jawa.  Rupanya Sekutu sedang mempersiapkan data-data kekuatan Jepang di Jawa yang akan digunakan untuk persiapan serangan balasan.  Pasukan Sekutu di Australia pun sudah begitu khawatir, karena pesawat-pesawat jepang sudah berhasil memborbardir daerah-daerah pantai utara Australia.  Diantara sekian pendaftar misi klandeistein tersebut, ternyata hanya ada satu orang saja yang lolos seleksi.  Ia adalah arek Suroboyo bernama Iswahjudi.

Setelah menyelesaikan latihan khusus, Iswahjudi diberangkatkan dengan kapal selam melewati Samudera Indonesia.    Iswahjudi akan didaratkan di Pantai Selatan Jawa dengan titik pedaratan Pantai Blitar Selatan.  Dan singkat cerita di tengah malam gelap gulita, kapal selam sudah berhasil mendekati Pantai Jawa dan muncul di permukaan air.  Sebuah perahu karet kemudian diturunkan, dan meloncatlah Iswahjudi kedalamnya seorang diri.  Dengan hati-hati perahu karet itu didayungnya.  Namun beberapa saat kemudian, ombak besar menghempaskannya dari perahu.  Pantai Selatan Jawa adalah pantai yang berombak ganas saat itu.  Di kegelapan malam, sangat mustahil bagi Iswahjudi untuk mendapatkan kembali perahu karetnya. Akhirnya, dia berenang sekuat tenaga menuju pantai.  Walaupun akhirnya berhasil mencapai pantai, semua kekuatan Iswahjudi telah habis terkuras.  Dia jatuh pingsan, dan terkulai semalaman di pantai.  Keesokan harinya ia tersadar dari pingsannya. Namun disekelilingnya, bala tentara Jepang telah berdiri mengepung.  Iswahjudi pun ditangkap dan dipenjarakan.

Apa yang terjadi setelah ditawan pasukan Jepang, tidak ada informasi yang akurat.  Namun pada akhirnya, Iswahjudi kemudian dibebaskan dan berstatus sebagai tahanan luar.  Walaupun statusnya adalah tahanan luar, Iswahjudi ternyata masih memiliki pesona sebagai patriot muda. Secara kebetulan Iswahjudi berhasil menggaet seorang gadis cantik bernama Suwarti, putri seorang Asisten Wedono di daerah Slawi, Jawa Tengah.   Suwarti adalah adik dari Bapak Iskak, seorang seniman dan musikus yang cukup terkenal dan ayah dari bintang film terkenal Indriati Iskak.   Indriati Iskak nantinya menikah dengan Makki Perdanakusuma (Marsekal Muda TNI pur).

Kisah cinta Iswahjudi dan Suwarti berawal di Surabaya pada tahun 1943.  Suwarti yang ikut kakaknya di Surabaya, bertemu Djoko Basuki dan Iswahjudi, saat bermain tenis.  Dari perkenalan ini, hubungan keduanya bertambah dekat.  Tidak lama-lama berpacaran, mereka kemudian menikah pada tanggal 27 Maret 1944.

Setelah kemerdekaan Indonesia, BKR Udara mengadakan reorganisasi dan rekruitmen prajurit termasuk pembukaan sekolah penerbang di Maguwo, Yogyakarta.  Iswahjudi pun bergabung kembali dengan dunia kedirgataraan yang lama hilang dari hidupnya.  Ia berangkat ke Yogyakarta dan bergabung dengan teman-temannya yang lain di Pangkalan Udara Maguwo sebagai siswa sekolah penerbang.    Di sana, Iswahjudi bertemu kembali dengan beberapa temannya di VVC dulu.   Kehidupannya ditengah-tengah dunia penerbangan dimulai lagi.

Iswahjudi telah memiliki dasar ketrampilan terbang yang baik, sehingga dengan cepat mendapat jabatan instruktur penerbang.  Iswahjudi bersama penerbang lainnya kemudian sering melaksanakan penerbangan perintis ke daerah-daerah.  Pada tanggal 23 April 1946, Iswahjudi bersama para penerbang Maguwo melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta – Jakarta – Gorda (Banten) – Teluk Betung – Branti (Lampung), dengan menggunakan pesawat Cukiu.  Kehadiran pesawat-pesawat berbendera Merah Putih tersebut sebagai bagian dari upaya untuk menggugah semangat perjuangan dan cinta dirgantara di seluruh pelosok tanah air.

Pada tanggal 10 Juli 1946, Iswahjudi bersama-sama Agustinus Adisutjipto, Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, Husein Sastranegara, dan Imam Suwongso Wirjosaputro, melakukan terbang formasi dengan pesawat Curen di Tasikmalaya.  Demo udara ini dilakukan dalam rangka memeriahkan pembukaan Pangkalan Udara Tasikmalaya.  Mereka mengadakan joy flight yang diikuti para pemuda setempat dan para pejabat Markas Besar AURI, termasuk KSAU Komodor Udara Suryadarma.

Pada awal tahun 1947, Iswahjudi bersama-sama Adisutjipto mendapat kesempatan untuk belajar menerbangkan pesawat Dakota India VT-CLA yang mendarat di Maguwo.  Mereka hanya memerlukan waktu 3 hari untuk dapat menerbangkan pesawat itu dengan sempurna.  Suatu prestasi yang luar biasa tentunya.  Setelah itu Iswahjudi yang sudah berpangkat Opsir Udara II, diberi tanggung jawab sebagai Komandan Pangkalan Udara Maospati, menggantikan pejabat lama, Opsir Udara I Prof. Dr. Abdulrahman Saleh.

Setelah gugurnya Opsir Udara I Prof. Dr. Abdulrahman Saleh bersama Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto dan Opsir Muda Udara I Adisumarmo, saat pesawat Dakota VTCLA yang ditumpanginya diserang oleh pesawat Kitty Hawk Belanda pada tanggal 29 Juli 1947, jabatannya sebagai Komandan Pangkalan belum ada yang mengganti.   Iswahjudi diperintahkan mengambil alih kendali Pangkalan Udara Maospati setelah itu. Ia bersama perwira-perwira handal lain seperti Nurtanio dan Wiweko Supono, bekerja keras  mengembangkan Pangkalan Udara Maospati.

Sebagai penerbang ataupun sebagai komandan pangkalan, Iswahjudi memiliki pribadi yang karismatik.  Beliau memiliki hobby musik dan menyanyi.  Dan suaranya memang sangat merdu, sehingga dalam setiap pesta, Iswahjudi hampir tak pernah ketinggalan untuk melantunkan lagu kesayangannya, seperti sepasang mata bola, sapu tangan, jembatan merah, don’t fence me in, dan lagu-lagu hit lainnya.

Iswahjudi juga mempunyai profil yang baik dan selaras dengan profesi penerbang tempur. Ia memiliki perawakan sedang dan tinggi 170 cm.  Bibirnya merah dengan senyum yang selalu memberi kesan optimis dan ramah kepada setiap orang.  Iswahjudi juga memiliki sikap periang, humoris dan terbuka dalam pergaulan.  Ayahnya, Bapak Wirjomihardjo, adalah seorang pegawai suiker sindikat Belanda di Surabaya.  Iswahjudi adalah anak kedua dari sembilan bersaudara, dengan silsilah keluarga sebagai berikut    :

Ayah                 :           Bapak Wirjomihardjo (wafat tahun 1946, dimakamkan di Solo)

Ibu                    :           Ibu Wirjomihardjo (wafat tanggal 13 Mei 1970, dimakamkan di Yogyakarta)

Anak                 :           1.   R. Soehardjo

  1. Opsir Udara I Iswahjudi
  2. Ny. Isw ahjudi Tajib
  3. Djoko Basuki   (Brigjen TNI purnawirawan)
  4. Urip Widodo SH  (Brigjen TNI purnawirawan)
  5. Sersan Udara Muh. Punjul (gugur pada Agresi Belanda II tahun 1949, dimakamkan di TMP Madiun)
  6. Ny. Sri Luwih
  7. Ny. Issuharti Sasono
  8. Tranggono SH (Marsekal TNI purnawirawan)

Belum lama menjabat sebagai Komandan Pangkalan Maospati, Iswahjudi dipindahkan ke Bukittinggi untuk merintis pembangunan pangkalan udara serta membina organisasi AURI di sana.  Pada awal bulan Desember 1947, Iswahjudi dan Halim Perdanakusuma, mendapat tugas untuk membawa pulang pesawat Avro Anson VA-BBY (Dakota RI-003), yang baru dibeli pemerintah Indonesia.

Tuhan telah menggariskan setiap takdir manusia.  Pada saat menjalankan tugas mulia, kedua jiwa putra terbaik AURI ini dipanggil pulang ke haribaan-Nya.  Saat penerbangan pulang ke tanah air, kecelakaan menimpa mereka.  Pesawat yang dikemudikan jatuh di pantai dekat Tanjung Hantu, Perak Malaysia, pada tanggal 14 Desember 1947.  Jenasah Iswahjudi tidak berhasil ditemukan, sedangkan jenasah Halim Perdanakusuma ditemukan terdampar di pantai.  Jasad Halim Perdanakusuma dimakamkan di Teluk Murok, Malaysia.

Dua nelayan berkebangsaan Cina yang sempat menyaksikan proses terjadinya kecelakaan, melaporkan kepada polisi tentang kejadian tersebut.  Aparat kepolisian yang dipimpin Mr. Burns dan Inspektor Che Wan segera meluncur ke lokasi kecelakaan setelah itu, namun sudah sangat terlambat.  Cuaca di pantai yang demikian buruk dan jarak pandang yang terbatas, tidak memungkinkan mereka untuk melakukan upaya pencarian.  Pencarian baru dilakukan pada keesokan harinya.

Surat kabar The Strait Times yang diterbitkan Hari Selasa tanggal 16 Desember 1947 memberitakan bahwa pesawat Avro Anson VH-BBY yang jatuh tersebut pada awalnya milik Mr. Keegen dari Brisbane Australia.  Mr. Keegen adalah mantan penerbang RAAF dan sudah kenal baik dengan Iswahjudi dan Halim Perdanakusuma.  Pesawat tersebut kemudian dijual pada saat Mr. Keegen berlibur ke Singora, Siam.

Sebuah tim pemeriksa kecelakaan pesawat dalam laporannya menyatakan bahwa keesokan harinya telah ditemukan sosok mayat yang sudah sangat sulit untuk dikenali identitasnya.  Namun dari data-data yang diperoleh dari tubuh korban, mereka menyimpulkan bahwa tubuh itu adalah mayat Halim Perdanakusuma.  Mereka memperkirakan bahwa kecelakaan terjadi pada jam 13.30 waktu setempat, hari Minggu tanggal 14 Desember 1947.

Beradasarkan keterangan saksi dua nelayan yang ada di pantai, pesawat Avro tersebut melintas rendah di atas lautan dekat Tanjung Hantu menuju selatan. Dari kedua saksi mata tersebut diketahui bahwa cuaca memang sangat buruk saat itu.  Pesawat terlihat dibelokkan ke kiri menuju ke daratan.  Iswahjudi dan Halim Perdanakusuma sepertinya sudah kehilangan penglihatan dan kendali pesawat, selanjutnya memutuskan kembali ke daratan. Kabut yang sangat tebal sepertinya juga menghalangi pandangan mereka untuk melihat daratan.  Pesawat mengarah ke pohon-pohon yang menjulang di tepi pantai.  Kesimpulan yang diambil dari penyelidikan kecelakaan bahwa pesawat mengalami crash landing di pantai karena cuaca buruk.

Kita bisa membayangkan betapa hancur luluh hati Nyonya Iswahjudi yang dengan setia selalu menunggu suaminya, kemanapun Sang Elang Tanah Air pergi bertugas.  Suwarti harus hidup menjanda sebelum memperoleh buah hati dari kekasih tercintanya. Belum hilang kenangan indah saat bersama sang suami.   Suwarti masih terbayang-bayang hari-hari indahnya sebagai istri penerbang AURI, istri penerbang tempur. Iswahjudi yang sering membuatnya gelisah, kangen, dan jengkel, kini telah tiada.   Suwarti selalu mengenang bagaimana ia dengan gelisah menunggu di depan hidangan makan siang yang jarang di santap oleh Iswahjudi, karena sibuknya sang suami tercinta.  Namun Suwarti masih mengingat pesan Iswahjudi kepadanya bahwa istri seorang penerbang tidak boleh cepat gelisah dan khawatir dalam mengahdapi setiap masalah.   Istri seorang penerbang tempur adalah profil yang tabah dalam mengahadapi setiap musibah.   Selamat jalan kekasihku, selamat jalan pujaanku….surga yang terindah telah menantimu……

Seorang sahabat Iswahjudi bernama Dalymonthe mempersembahkan sebuah puisi yang ditulis pada tanggal 20 Desember 1947, untuk menggambarkan kesedihan dan rasa kehilangannya atas seorang sahabat.

Melepas almarhum Opsir Udara R. Iswahjudi

 

            Pecah kiranya rangkaian hati

            Serasa keruh pelabuhan sukma

            Mendengar tewasnya pahlawan sakti

            Setangkai dua gugur mendarma

                        Jika pendapatku kukemukakan

                        Usaha menyinggung kuasanya Tuhan

                        Ratusan yang lain jadi tebusan

                        Timbang melepas kedua pahlawan

            Alangkah ramahmu Raden Iswahjudi

            Penawar risau duka nestapa

            Sekonyong musafir ke barzach abadi

            Dan suaramu masih mengiang di telaga

                        Apa yang tak terlintas di dalam hati

                        Nama yang muskil di rasa kalbu

                        Gundah gulana tuan obati

                        Sanggup mengawal angkasa ibu

            Pesawat udara dibincang orang

            Wajah tuan nampak terbayang

            Angkasa nampak terbayang

            Kenanglah bangsa pahlawan perkasa

                        Kusimak murai berkicau pagi

                        Kudengar lembut membuai nyiur

                        Lesung dan alu serentak bersemedi

                        Mengenang arwahmu mereka tafakur

            Tuan berangkat ke alam baka

            Laporkanlah misi jihadnya bangsa

            Jika penjajahan diijinkan di dunia

            Baiknya Tuhan kiamatkan dewasa ini juga

                        Kami berpegang kan janji Tuhan

                        Insan dijadikan berbangsa-bangsa

                        Indonesia bertarung nuntut keadilan

                        Biar dibakar daripada diperkosa

            Darahmu terhambur tidak percuma

            Takkan lenyap ditelan sang masa

            Laksana melati di sanggul ibunda

            Begitu menilai di sejarah bangsa

                        Walau diatas timbunan mayat

                        Biar melangkahi onggokkan bangkai

                        Kami menyambung bersumpah erat

                        Meneruskan kerjamu yang terbengkalai

                         ……………………

                                                  

                                                Jejakmu kuturut

Kelahiran Pangkalan Maospati

Membayangkan letak Maospati sudah pasti tidak terlalu sulit.   Maospati adalah sebuah desa sekaligus ibukota kecamatan yang berjarak 10 kilometer dari Madiun, salah satu kota kabupaten di Jawa Timur.   Berada  pada garis lintang selatan 07° 36’ 80” dan garis bujur timur 111° 25’ 80”, wilayah ini diapit oleh dua gunung besar yaitu, Gunung Lawu setinggi  10. 712 feet di sebelah barat dan Gunung Wilis setinggi 8.400 feet di sebelah timur.   Di sebelah selatan sampai pantai selatan adalah daerah perbukitan, sedangkan di sebelah utara adalah dataran rendah yang luas.

Pembangunan Pangkalan Udara Maospati terkait dengan persiapan Departemen Van Oorlog Belanda untuk menghadapi serbuan udara Jepang.  Dengan terburu-buru Belanda membangunnya pada tahun 1939, dengan harapan pesawat-pesawat Militeire Luchtvaart dapat segera menempatinya.  Landasan dibangun dengan panjang 4757 feet dan lebar 157 feet.   Landasan berada pada ketinggian 360 feet di atas permukaan laut.

Dengan adanya dua gunung tinggi yang mengapit pangkalan di sebelah timur dan barat ,maka dapat kita pahami bila wilayah tersebut  memiliki arah angin permukaan yang konstan dari utara dan selatan.   Sehingga landasan pun dibangun membujur dari utara ke selatan, sesuai dengan arah angin permukaan dan pesawat bisa mengudara dan mendarat dengan aman.

Namun demikian, keberadaan kedua buah gunung yang menjulang tinggi di sebelah timur dan barat landasan ternyata kurang menguntungkan.  Ruang gerak pesawat di sekitar landasan menjadi sempit dan bisa membahayakan keselamatan pesawat dan penerbang yang akan mengudara dan mendarat.

Pada bulan Nopember sampai April, kondisi cuaca di wilayah Maospati pada umumnya kurang baik bagi kegiatan penerbangan.  Seringnya hujan lebat yang turun sepanjang hari bisa menghentikan operasi penerbangan.   Pada waktu pagi, kondisi penglihatan sangat buruk dengan banyaknya kabut yang menyapu dari puncak gunung.

Pangkalan Udara Maospati saat itu menjadi pusat pertahanan udara Sekutu di Jawa.  Belanda menempatkan 3 skadron udara di Maospati. Skadron Valcon (pemburu), dengan komandan Letnan AJ Leetinga, menempati hanggar Setren. Skadron Brooster (pemburu), dengan komandan Kapten H Aneemaat, menempati hanggar Kleco. Lalu skadron pendidikan, dengan komandan JT Bedeet menempati hanggar Ngujung.

Selain ketiga hanggar tersebut, pangkalan juga sudah dilengkapi dengan berbagai macam bangunan penting lainnya yaitu gedung  workshop  (sekarang hanggar Skadron Tehnik 042), gedung untuk montage di dekat workshop, 4 gudang di Papak dan perumahan yang saat itu disebut dengan campement, yang sudah dilengkapi dengan dapur umum, rumah sakit, gedung pertemuan, dan lain-lain.

Walaupun dibangun oleh penjajah, pembangunan pangkalan ini merupakan hasil pengorbanan rakyat kita juga.  Tanah rakyat diambil alih dan mereka dipaksa ikut bekerja dengan upah murah.  Ada 9 desa yang terpaksa harus dikosongkan dalam rangka pembangunan pangkalan, yaitu Ronowijayan, Pandean, Mranggen, Kincang, Kinandang, Kledokan, Lemahbang, Setren, dan Kleco.  Penduduk harus pindah di daerah lain sekitar pangkalan yang nantinya dinamakan sesuai dengan nama asal desa lama yang telah disita.

Pada tahun 1942, Jepang dengan armada udara yang sangat besar melaksanakan operasi pengusiran besar-besaran terhadap bangsa kulit putih di Asia, termasuk Belanda di Indonesia.  Ekspansi Jepang ini telah mengobarkan Perang Pasifik Raya.   Maospati pun menjadi sasaran utama penyerbuan Jepang dengan keberadaan pangkalan udara Maospati. Pada saat Jepang menyerbu Maospati pada bulan Maret 1942, Kapten HJ Van De Pool yang menjabat sebagai komandan pangkalan, gugur dalam pertempuran udara.  Hanggar skadron pendidikan dihancurkan oleh serangan udara Jepang.   Setelah perang kemerdekaan, hanya hanggar Kleco yang tersisa (dikemudian hari dipakai untuk hanggar pesawat T-33), karena hanggar Setren dihancurkan Belanda pada Agresi Belanda II.

Jepang ternyata telah merencanakan dengan matang serbuan udaranya.   Sebelumnya mereka telah mengirim intel-intelnya untuk menyelidiki dan menentukan posisi pangkalan Belanda.  Banyak diantara mereka menyamar menjadi petani dan memperbedayakan tanaman kol yang berwarna putih.   Tak seorang pun tahu bahwa pertanian kol yang mudah dilihat dari udara itu telah membentuk anak panah yang akan mengarahkan pesawat-pesawat Jepang menuju pangkalan-pangkalan yang akan dibombardir.

Saat Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Pangkalan Udara Maospati berada dibawah Kaigun Kokusho (Angkatan laut Jepang).   Di sekitar pangkalan ditempatkan pasukan pertahanan pangkalan dari Rikugun (batalyon AD).  Dalam masa penjajahan Jepang, pangkalan tidak mengalami perubahan sama sekali.   Masa pendudukan yang singkat dan kesibukan yang luar biasa dalam Perang Pasifik telah membuat Jepang tidak memiliki kesempatan untuk membangun pangkalan udara Maospati. Pangkalan ini hanya digunakan untuk menyimpan suku cadang motor pesawat.   Sehingga kerusakan fasilitas yang diakibatkan oleh bom-bom pesawat Jepang saat mengusir Belanda dari pangkalan, juga belum sempat diperbaiki sampai Jepang meninggalkan Indonesia pada tahun 1945.

Bagi Angkatan Udara, Jepang memang sama sekali tidak meningggalkan ilmu terbang sedikitpun kepada kita.  Sehingga saat AURI berdiri, para penerbang lulusan ML yang diberi tugas untuk menerbangkan pesawat-pesawat peninggalan Jepang.   Satu-satunya rakyat Indonesia yang masih hidup dengan sertifikat penerbang adalah Agustinus Adisutjipto.   Sehingga pahlawan inilah yang melahirkan seluruh penerbang tempur di awal lahirnya AURI, dan dinobatkan sebagai Bapak Penerbang Indonesia.

Samingoen, Saksi Kekalahan Jepang Di Maospati

                       Mengarungi samudera

                       Mayat-mayat di air

                       Mengarungi gunung-gunung

                       Mayat-mayat bertumpukan di padang

                       Saya hanya ingin mati demi Kaisar

                       Saya tidak akan pernah menoleh ke belakang

Umi Yukaba

 

Mungkin banyak rakyat yang menjadi saksi sejarah kekalahan pasukan dari negeri matahari saat itu.  Mungkin banyak mata memandang carut marut pasukan Jepang saat harus meninggalkan tanah jajahan yang telah dikangkangi selama 3 ½ tahun.   Kekalahan yang tidak terbayangkan sebelumnya, karena mereka merasa tak akan pernah bisa dikalahkan oleh bangsa lain.  Dan Samingoen adalah salah satu dari saksi sejarah tersebut.

Samingoen masih sangat belia, saat diangkat menjadi keimu (satpam) pada bengkel kokusho pangkalan Maospati. Sehingga Samingoen tahu benar segala seluk beluk dalam pangkalan, karena sudah begitu lama mengabdi di pangkalan.  Pada masa pendudukan Belanda, ia pernah menjadi mandor kecil saat pembangunan pangkalan tersebut pada tahun 1938.

Gema perjuangan pemuda Maospati untuk membebaskan pangkalan semakin kencang mendengar berita jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.  Sehari setelah pengeboman tersebut, Kapten Yamata sebagai pimpinan bengkel menerima instruksi dari Surabaya untuk memberhentikan seluruh pegawai pribumi kecuali beberapa orang yang masih dibutuhkan.  Samingoen yang pandai bahasa Jepang termasuk yang tidak dikeluarkan bersama beberapa keimu lainnya.  Ternyata setelah kekalahan Jepang maka pangkalan Maospati akan diserahkan kepada Komisi Tiga Negara (KTN).  Samingoen ikut mengadakan inventarisasi seluruh barang-barang bengkel, sehingga mengetahui letak penyimpanan bahan peledak,mesiu, dan senjata lainnya.

Kesibukan memang begitu meningkat, sehingga para pekerja tidak diijinkan pulang beberapa hari.  Tentara Jepang juga masih banyak berada di pangkalan dengan bersenjata lengkap untuk siaga.  Samingoen sendiri menggunakan senjata mitralyur 7.7 mm untuk tugas jaga.  Namun, berita kekalahan demi kekalahan membuat tentara Jepang sudah tidak memiliki gairah lagi untuk menjalankan tugas dengan baik.   Kesempatan ini dimanfaatkan untuk mencuri bahan-bahan peledak dari pangkalan.   Samingoen bahkan dapat menyelundupkan truk ke dalam pangkalan beberapa kali untuk membawa bahan peledak. Samingoen dapat menangkap suasana hati para prajurit Jepang yang setiap hari selalu mendengarkan berita-berita kekalahan armada Jepang di seluruh dunia lewat radio.

Suatu hari Kapten Yamata menanyakan kepada Samingoen, “Juro, bagaimana kedaan pangkalan ?”  Lalu Samingoen menjawab bahwa semua tentara Jepang telah menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah Indonesia.  Yang tidak menyerah, telah diserbu oleh BKR.  Kempetai Madiun juga sudah menyerah.  Samingoen menambahkan bahwa seluruh air di pangkalan sudah diberi racun.  Dan di luar pangkalan, BKR sudah bersiap-siap menyerbu pangkalan dengan bambu runcing.  Dalam hati kecil, Samingoen merasa was-was dengan intimidasi palsu tersebut.   Hingga Kapten Yamata bertanya, “Kalau saya menyerahkan Pangkalan Maospati ini, kepada siapa ?”  Samingoen menjawab, “Kalau akan menyerahkan pangkalan ini, sebaiknya ke Gunco (Wedono) Maospati, karena beliau adalah pejabat tertinggi di Maospati.  Tadi saya sudah menerima telpon dari Kempetai Madiun, agar pangkalan segera diserahkan.”  Kapten Yamata yang percaya dengan tipu muslihat tersebut, akhirnya mengirim Samingoen untuk pergi ke rumah Gunco Maospati.    Samingoen mungkin akan kena batunya bila Kapten Yamata mengklarifikasi  berita tersebut ke Madiun, karena perintah lewat telepon itu memang tidak ada.   Karena memang sudah merasa putus harapan dengan kelanjutan perang, Kapten Yamata pun  percaya begitu saja akan ucapan Samingoen.

Pukul 16.00, Samingoen sudah menghadap kepada Gunco dan menyampaikan amanat Kapten Yamata.   Gunco Maospati tertawa mendengar tipu muslihat Samingoen yang berhasil mengelabui perwira Jepang tersebut, “Dik Samingoen iki iso-iso wae”   Samingoen menyarankan dibentuk panitia serah terima pangkalan karena 1 jam lagi Kapten Yamata beserta staf akan segera datang.

Samingoen segera kembali ke pangkalan setelah pembicaraan selesai.   Namun sampai didepan pintu depan pangkalan, barisan BKR sudah berkumpul dan siap menyerbu pangkalan.   Samingoen memberitahukan kepada mereka agar jangan bertindak tanpa koordinasi, karena sudah ada persetujuan dengan Gunco bahwa pangkalan sebentar lagi akan diserahkan.   Barisan BKR pun setuju.  Mereka lalu membubarkan diri.  Samingoen akhirnya masuk pangkalan dan menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Gunco Maospati kepada Kapten Yamata.

Pada pukul 17.00, Kapten Yamata beserta staf diantar Samingoen menuju pendopo Gunco.   Di sana sudah siap menunggu panitia serah terima dari pemerintah, KNI Madiun, pimpinan PETA/Heiho, dan para pejabat lainnya.   Ketika serah terima telah dilaksanakan, Kapten Yamata memerintahkan seluruh prajurit Jepang agar meluncur ke pendopo.   Komandan pasukan (Keibitai) pun segera memimpin 18 truk/bus menuju pendopo Gunco Maospati. Setiap truk/bus diisi oleh 40 prajurit.  Kendaraan yang telah berjejer di jalan raya Maospati tersebut akhirnya meninggalkan Maospati menuju Pujon/Malang, dipimpin Kapten Yamata.

Dari kekalahan armada Jepang dalam PD II ,ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil, seperti apa yang diungkapkan Jendral Douglas Mac Arthur kepada seluruh perwiranya, “Jangan biarkan orang Jepang menyerang anda. Kalau prajurit Jepang mempunyai rencana yang teratur untuk menyerbu, ia akan melangsungkannya dengan lancar. Sebaliknya kalau ia diserang, manakala ia tidak tahu apa yang terjadi, perkaranya akan menjadi lain sama sekali. Dalam setiap pertempuran, orang Jepang adalah sebuah sosok yang paling tidak siap menerima kekalahan, mengapa? Karena keortodokannya yang menganggap bahwa mereka tidak terkalahkan oleh siapapun.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: