Beranda » Sejarah Lanud Iswahjudi » 2. Era Perjuangan Kemerdekaan

2. Era Perjuangan Kemerdekaan

Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum anggur yang ia tidak memerasnya.

Kasihan bangsa yang mengangkat orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajahan sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan……

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru dengan terompet lagi.

Kasihan bangsa yang meremehkan mimpi-mimpinya disaat tidur, sementara menyerah ketika bangun

Kasihan bangsa yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa…….

                                                                                                                                                                         – Kahlil Gibran

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu dan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.   Tak pelak lagi betapa bahagianya seluruh rakyat mendengar bangsa kita telah terbebas dari penjajahan sepanjang 350 tahun.   Maospati pun dengan cepat mendengar berita kemerdekaan tersebut.   Hingga Pangkalan Udara Maospati pun mulai dikuasai oleh para pejuang kita setelah Komandan Dai Nippon di Pangkalan Udara Maospati menyerahkan pangkalan kepada Wedono Maospati pada tanggal 27 Agustus 1945.

Sebenarnya sejumlah pemuda Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan eksponen pejuang lainnya telah bersiap-siap untuk menyerbu pangkalan beberapa hari sebelumnya.   Mereka sudah bersiap-siap di sekeliling pangkalan dengan  senjata di tangan.   Mereka hanya menunggu perintah serbu dari pimpinan masing-masing.  Namun mendengar penyerahan diri Kapten Yamata, maka penyerbuan pun dibatalkan.  Pangkalan Udara Iswahjudi diserahterimakan kepada Wedono Maospati dihadiri perwakilan dari bekas pegawai Kaigun Kokusho di Maospati, kepala BKR Maospati, dan pimpinan pemuda Maospati.  Para pejuang kita cepat-cepat mengambil tindakan pengambil alihan dengan tujuan agar bisa segera memasuki Pangkalan Udara Maospati dan bisa mengambil alih peralatannya sebelum Sekutu masuk dan menghancurkannya.

Kericuhan Menyeruak

Awal bulan September 1945, para bekas pegawai Pangkalan Udara Maospati mulai memasuki pangkalan dan berkonsolidasi dalam satu wadah perjuangan yang diberi nama Gabungan Bekas Pegawai Penerbangan Maospati (GBPPM), yang diketuai oleh Kadmadi.   Namun dipihak lain, Batalyon BKR Maospati pun ternyata sudah memiliki rencana mengenai Pangkalan Udara Maospati.   Disatu pihak GBPPM yang notabene penghuni lama pangkalan masih memiliki hak terhadap kelangsungan roda kegiatan pangkalan, dilain pihak ada BKR  yang merasa dirinya sebagai wadah perjuangan tunggal yang diberi hak untuk mengatur setiap aset peninggalan penjajah.   Batalyon BKR Maospati yang dipimpin Kapten Inf Soekotjo ternyata telah mendahului menguasai Pangkalan Udara Maospati dan menyatakan bahwa seluruh aset yang dimiliki pangkalan berada dibawah pengelolaan BKR.

Saat Pangkalan Udara Maospati berada dikuasai Jepang, Kaigun Kokusho (Angkatan Laut Jepang) merupakan satuan induk pangkalan.  Sehingga sebagian pejuang yang berasal dari bekas pegawai pangkalan menganggap bergabung Angkatan Laut adalah pilihan yang terbaik.   Sehingga mereka mengirim utusan ke Surabaya untuk bertemu para pemimpin Angkatan Laut.  Sayangnya, pada tanggal 10 Nopember 1945 telah pecah pertempuran di Surabaya sehingga utusan dari Maospati kehilangan kontak dan tidak berhasil menemui para pemimpin Angkatan Laut di Surabaya.  Bila utusan tersebut bisa bertemu dengan orang yang dimaksud mungkin sejarah pangkalan udara iswahjudi tidak akan seperti sekarang.   Karena sudah pasti Angkatan Laut akan mengambil alih kendali di Maospati. Dan ditengah suasana yang tidak menentu tersebut, maka diambillah keputusan untuk menyerahkan masalah ini kepada Komite Nasional Indonesia Daerah Madiun.

Dari hasil perundingan yang diadakan KNI, Pangkalan Udara Maospati diserahkan kepada BKR yang telah berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat  (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945.   Sehingga Pangkalan Udara Maospati dinamakan Bengkel Oedara TKR. Mengapa dinamakan Bengkel Oedara  ?  Ini dikarenakan aktivitas yang dilaksanakan di pangkalan masih terbatas pada perbaikan.  Pada masa pendudukan Jepang, pangkalan Maospati memang tidak sekalipun dihuni pesawat terbang.  Pangkalan hanya dijadikan tempat menyimpan mesin-mesin pesawat dan bengkel pemeliharaannya.

Menanggapi keputusan KNI, dikalangan GBPPM sendiri timbul perpecahan pendapat.   Segolongan pegawai menyetujui keputusan KNI Daerah Madiun, dan sebagian yang lain menolak.   Kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah.   Suasana yang demikian ricuh ini tidak mampu terselesaikan sampai akhir kepemimpinan Soekotjo yang kemudian diganti oleh Kapten Inf Soendoro pada akhir tahun 1945.

Dalam GBPPM terbelah menjadi dua kelompok yang berseberangan yaitu, kelompok pro Kadmadi  dan kelompok pro Soeratmin.   Kelompok pro Kadmadi menyetujui keputusan KNI dan menghendaki militerisasi anggota sedangkan kelompok pro Soeratmin menghendaki seluruh anggota GBPPM masuk Barisan Buruh Indonesia (BBI) dan menolak usulan militerisasi pangkalan.   Kelompok pro Soeratmin menghendaki agar Pangkalan Udara Maospati dijadikan pangkalan sipil.   Kelompok pro Kadmadi mendapatkan dukungan dari TKR, hingga membuat kelompok pro Soeratmin naik pitam.   Kelompok pro Soeratmin mengadakan aksi mogok dan aksi intimidasi terhadap kelompok pro Kadmadi.

Anggota Kadmadi berjumlah kurang lebih 201 orang dengan sebutan yang unik yaitu 150 orang disebut laskar, 11 orang disebut kakak, dan 40 orang tokoh pendukung.  Saat gangguan dan perselisihan telah didamaikan, pimpinan pasukan pangkalan diserahkan kepada Kadmadi dan komandan pangkalan masih dijabat oleh Kapten Inf Soendoro dari TKR Maospati. Kelompok 11 kakak dan 150 laskar akhirnya menjadi inti dari pasukan keamanan pangkalan, yang diberi nama Pasukan BKO (Bengkel Kapal Oedara) TKR Maospati, yang selanjutnya diganti dengan nama Tentara Tehnik Penerbangan (TTP) BKO TKR Maospati. Ditunjuk sebagai Komandan TTP Maospati adalah B. Soeprapto, dengan komandan kompi, Soekarno.  Sedangkan yang disebut sebagai kelompok 11 adalah  B. Soeprapto,  Tarimo, Sulasmo, Sandi, Sungkono,     Djoko, Bedjowijono, Sujono, Sukarno, Soponjono dan Kustur.

Kelompok 11 yang membentuk pasukan pertahanan pangkalan ini telah memiliki  senjata  LE peninggalan Jepang.   Sedangkan kelompok 150 menggunakan senjata bambu runcing.  Tugas mereka praktis hanya melaksanakan pengamanan di  wilayah pangkalan.

Pada tanggal 9 April 1946, Angkatan Udara berdiri dan semua  TKR Jawatan Penerbangan yang ada di daerah mulai bergabung. BKO TKR Maospati sendiri segera melaksanakan persiapan penggabungan dengan Markas Besar (MB) AURI, setelah berhasil mengadakan hubungan dengan Yogyakarta.  Pada tanggal 5 Mei 1946, BKO TKR Maospati diserahterimakan dari Komandan Resimen TKR Madiun kepada MB AURI.   Dengan demikian sejak tanggal tersebut, secara resmi BKO TKR Maospati menjadi milik AURI dan disebut sebagai Pangkalan Udara Nasional.  Ditunjuk sebagai komandan pangkalan adalah Opsir Udara I Prof. Dr. Abdulrahman Saleh yang merangkap jabatan sebagai Komandan Pangkalan Udara Bugis, Malang.  Sebagai wakil komandan adalah H. Soejono yang juga berasal dari Lanud Bugis, Malang.

Pada pertengahan tahun 1946, MB AURI mengirim anggota Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) untuk memperkuat Pangkalan Udara Maospati.   Sehingga tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh kelompok 11 dan 150 selesai sudah.   Setelah itu mereka disalurkan ke kesatuan-kesatuan sesuai dengan bakat dan keahliannya masing-masing.

Perjuangan Kemerdekaan I

“Indonesia adalah bangsa yang paling halus di bumi, Het Zachtste volk op aarde,”   kata P. Heijboer dalam bukunya berjudul “Agresi Militer Belanda”.   ”……Negeri ini dihuni oleh suatu kaum yang sangat pemaaf, suatu kaum yang menerima siapapun dengan hati lapang.   Sehingga bangsa asing yang tinggal di Indonesia akan merasa seperti di negaranya  sendiri, termasuk para penjajah Belanda……” lanjutnya.

Mungkin dengan pemahaman seperti diungkapkan oleh P. Heijboer, Belanda pun datang lagi ke Indonesia tanpa malu-malu pasca kemerdekaan, dengan alasan telah ikut membebaskan Indonesia dari penjajahan Jepang.   Di luar dugaan Belanda, ternyata aksi perlawanan berkobar di mana-mana.    Dan dengan terpaksa Belanda harus menandatangani Persetujuan Linggar Jati pada tanggal 25 Maret 1947.  Pertempuran untuk sementara waktu berhenti.

Seperti apa yang terjadi saat ini di Aceh, ternyata jeda pertempuran atau gencatan senjata, hanya dimanfaatkan pihak musuh untuk mengkonsolidasikan kekuatannya.   Tak lama setelah persetujuan gencatan senjata tersebut, Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya baik di darat maupun di udara untuk melancarkan serangan balik terhadap posisi pertahanan TNI.   Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan operasi militer yang disebutnya dengan Aksi Polisionil.   Mengapa Aksi Polisionil  ?  Belanda ternyata masih mengasumsikan dirinya sebagai Polisi, sebagai penguasa sah, sebagai bangsa yang berhak atas wilayah Indonesia, sedangkan para pejuang dianggap kelompok pemberontak yang mencoba melawan pemerintahan sah kolonial Belanda.   Para pejuang kita sendiri menyebut tindakan ini sebagai Agresi Militer, ada juga yang menggunakan istilah Clash.  Sedangkan oleh para generasi saat ini, perjuangan para pahlawan tersebut dinamakan Perang Kemerdekaan I.

Dalam Agresi Militer I, Belanda ternyata sudah memperhitungkan kekuatan udara AURI.   Sehingga pangkalan-pangkalan udara AURI ikut menjadi sasaran pengeboman.   Hampir semua pangkalan udara besar di Jawa seperti Gorda, Cibeureum, Kalijati, Jatiwangi, Panasan, Pandanwangi, Bugis, dan Maospati, mendapat jatah serangan dari pesawat-pesawat tempur Belanda.   MB AURI dan Pangkalan Udara Maguwo terhindar dari serangan udara karena tertolong cuaca buruk dan kabut tebal yang menyelimuti kota Yogyakarta, sehingga pesawat-pesawat tempur Belanda tidak dapat masuk.

Serangan terhadap Pangkalan Udara Maospati dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 1947 sekitar jam 06.00 pagi.         Pagi itu, Maospati dikejutkan oleh suara pesawat yang meraung-raung di atas pangkalan.  Setelah itu suara ledakan pun menggelegar, buummmm buummm ddiieeerr !  Bangunan-bangunan di dalam pangkalan banyak yang hancur karena serangan udara tersebut.

Workshop dan tempat montage pesawat menjadi sasaran serangan, hingga keduanya rusak berat.      Para prajurit AURI di Maospati pun ternyata sudah mengetahui rencana serbuan tersebut.  Sehingga pesawat-pesawat (termasuk hasil rancangan Nurtanio), mesin-mesin, dan peralatan lainnya sudah disingkirkan keluar pangkalan.  Pangkalan hanya bisa bertahan/menghindar dari serangan tersebut, mengingat minimnya persenjataan, dipimpin oleh wakil komandan pangkalan, H. Soejono.

Berita sedih menyelimuti seluruh pejuang Maospati mendengar gugurnya komandan pangkalan, Opsir Udara I Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, akibat serangan pesawat Kitty Hawk Belanda di atas Maguwo.   Jabatan komandan diserahkan kepada Opsir Udara II Iswahjudi.

Mati satu tumbuh seribu, demikian semboyan para pejuang.   Para prajurit udara Maospati melakukan taktik gerilya dan mundur didaerah hutan-hutan di dekat Magetan, lereng Gunung Lawu saat pasukan Belanda masuk ke Maospati.  Mereka bergabung dengan pasukan dari Angkatan Darat dan Brimob.

Aksi Polisionil berlangsung pada tanggal 21 Juli  s/d 5 Agustus 1947.  Perjanjian Renville kemudian ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, untuk mengakhiri konflik antara Belanda dan Indonesia.   Saat Belanda meninggalkan Pangkalan Udara Maospati, maka prajurit yang bertugas melaksanakan serah terima adalah Hardjono, komandan gerilya sektor utara Maospati.

Pemberontakan PKI Madiun

Pergolakan kedua yang harus dihadapi oleh Pangkalan Udara Maospati pasca kemerdekaan adalah saat Muso Djokosujono memimpin pemberontakan PKI Madiun.  Pemberontakan dimulai pukul 03.00 dini hari, tanggal 18 September 1948, saat   Muso memproklamirkan negara PKI Madiun Merdeka di salah satu bangunan milik pabrik gula (PG) Rejo Agung, yang terletak di tengah kota Madiun.  Ditandai dengan rentetan tembakan panjang dari pusat kota Madiun,  mereka berusaha merebut obyek-obyek vital, termasuk Pangkalan Udara Maospati.

Beberapa bulan menjelang meletusnya pemberontakan PKI, sebenarnya sudah terlihat gejala-gejala semakin meningkatnya aksi-aksi gangguan keamanan di Madiun termasuk desa-desa sekitar pangkalan.   Perampokan, pemcurian, dan penyerangan instansi pemerintahan terjadi di banyak tempat.   Di kalangan masyarakat menyebar hasutan-hasutan yang isinya mendeskreditkan pemerintah dan mengajak para warga agar ikut mendukung program-program PKI.   Aktivitas PKI meningkat pesat sejak kedatangan tokoh lama PKI, Muso, yang telah belajar taktik dan strategi komunis selama 20 tahun di Uni Soviet.

Dalam waktu setelah pemberontakan dimulai, PKI mulai menguasai kota Madiun.   Pangkalan Udara Maospati tak luput dari sasaran penyerbuan.   Beberapa tindakan yang dilakukan para simpatisan PKI terhadap Pangkalan Udara Maospati adalah  mengepung pangkalan dan merampas senjata-senjata inventaris.  Mereka juga memerintahkan penghancuran landasan tetapi tidak dilaksanakan oleh anggota-anggota pangkalan.   Maksud dari penghancuran landasan adalah agar landasan tidak bisa digunakan untuk pendaratan pesawat bantuan dan pesawat-pesawat yang sudah ada di pangkalan tidak bisa mengudara.Namun perintah ini tidak dilaksanakan oleh para prajurit.  Melarang semua pesawat-pesawat yang ada untuk mengudara.   Namun dengan diam-diam, dua penerbang kita bisa meloloskan sebuah pesawat yang diawaki oleh Suhanda dan Santoso.   Mereka berhasil mengudara dan terbang ke Maguwo, Yogyakarta.

Stasiun radio pangkalan juga dirampas oleh orang-orang PKI sehingga hubungan antara pangkalan dan Markas Besar AURI di Yogyakarta terputus.   Kebetulan sebelum peralatan tersebut dirampas, pimpinan pangkalan sudah menerima instruksi dari  Yogya bahwa AURI tidak mendukung pemberontakan tersebut dan mendukung pemerintah yang sah.

Komandan pangkalan Maospati Opsir Udara I dr. Kornel Singawinata tidak bisa berbuat lebih banyak lagi menghadapi PKI yang menamakan dirinya sebagai Front Demokrasi Rakyat (FDR).   Kekuatan pangkalan hanya satu kompi pasukan tanpa senjata.   Kegiatan mereka hanya mengamankan pesawat terbang peninggalan Jepang, bengkel, dan gudang..

Peristiwa yang sangat mendebarkan adalah saat seluruh pimpinan pangkalan dan 150 anggota dikumpulkan oleh orang-orang PKI yang dipimpin Letkol Djoko Sujono dalam salah satu bangunan di PG Rejo Agung.  Pada awalnya, mereka dipaksa berkumpul disana dengan alasan untuk mendengarkan penjelasan dari Muso.  Namun demikian, pembantaian terhadap orang-orang pemerintah sudah terjadi dimana-mana saat itu.  Rupanya, PKI sudah menyiapkan rencana busuknya.   Mereka akan membantai para pimpinan pangkalan bila dalam pertemuan di PG Rejo Agung itu tidak ada kesepakatan.   Ternyata Tuhan masih melindungi mereka.   Berkat usaha gigih dari komandan POL AU Maospati, Opsir Muda Udara III Istihardi dibantu pejabat lainnya, seluruh pimpinan pangkalan yang disekap berhasil dibebaskan.

Bagi pimpinan pangkalan sendiri, memang mengahadapi sebuah situasi yang serba sulit.   Untuk menentang secara terang-terangan terhadap kaum pemberontak rasanya tidak mungkin dan bisa berarti bunuh diri.   Mungkin tidak ada masalah dengan jiwa para prajurit bila bertempur dengan para pemberontak.   Namun aksi pembantaian terhadap para penentang PKI berlaku terhadap sanak keluarga dan orang di sekitarnya.   Kekuatan PKI Madiun sedemikian besar, sehingga kekuatan militer yang ada di Madiun sendiri sudah tidak ada artinya saat itu.    Sehingga pimpinan pangkalan memutuskan untuk bertindak persuasif.

PKI juga sudah menjadi gerakan klandeistein dan berhasil menyusup kemana-mana.   Di dalam pangkalan sendiri disinyalir telah tersusupi dengan simpatisan PKI, setelah tertangkapnya Darmo Sukiman.   Di tempat lain, batalyon Sukowati AD yang berkedudukan di Maospati telah terlebih dahulu menyingkir secara tiba-tiba ke daerah Wali Kukun, Ngawi.   Sedangkan prajurit AURI tidak mungkin meninggalkan pangkalan dengan berbagai macam aset yang sangat sulit dipindahkan.   Para prajurit udara yang bertahan di pangkalan bertindak sangat hati-hati, sambil berkoordinasi dengan satuan yang lain.

Pada akhir September, pasukan dari Divisi Siliwangi sudah berdatangan di sekitar Madiun.  Opsir Muda Udara III R. Suprantiyo diam-diam menghubungi pasukan Siliwangi yang sudah berada di Magetan.   Setelah diadakan pembicaraan tentang segala taktik penyerbuan pangkalan, pada tanggal 30 September jam 21.00, pasukan Siliwangi menyusup ke dalam pangkalan atas bantuan prajurit udara.   Dengan cepat mereka menyebar ke seluruh  pangkalan, sehingga pada tanggal 1 Oktober  jam 06.00, seluruh pangkalan berhasil dikuasai.

Operasi militer yang dilaksanakan oleh divisi Siliwangi ini disebut Gerakan Operasi Militer (GOM) I dan memakan waktu dua setengah bulan.   Dimulai dua hari setelah pemberontakan meletus dan berakhir bulan Desember 1948.   Banyak pimpinan PKI Madiun yang terpaksa ditembak mati, termasuk Muso sendiri.   Namun sebagian yang lain termasuk Nyoto dan Aidit berhasil melarikan diri ke luar negeri.

 

Perjuangan Kemerdekaan II

Setelah kekacauan nasional akibat agresi militer Belanda dan pemberontakan PKI, pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda dengan terang-terangan melanggar persetujuan gencatan senjata yang tertuang dalam perjanjian Renville.   Belanda melancarkan serangan besar-besaran terhadap pemerintah sah RI.   Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota negara, dikepung dan diserang habis-habisan.   Harapannya, Belanda bisa menangkap para pemimpin kita pada saat itu.   Dengan menangkap semua pemimpin negara, maka perlawanan yang ada di daerah-daerah diperkirakan menjadi lumpuh.  Belanda memang berhasil menangkap para pemimpin RI.   Namun bagi para pejuang, perlawanan ternyata tidak pernah padam.

Selain Yogyakarta, Belanda juga mulai menyisir menuju Solo.   Setelah Solo jatuh, mereka mulai bergerak menuju Madiun.   Pada awalnya pasukan Belanda akan melewati  jalan besar Sragen – Ngawi – Maospati.   Namun rakyat ternyata sudah menutup jalan tersebut dengan menumbangkan pohon di sisi jalan dan menjebol jembatan.   Sehingga Belanda mengubah rutenya melewati lereng Gunung Lawu yaitu, Tawangmangu – Cemorosewu – Sarangan – Plaosan – Magetan – Maospati.   Gerakan ini ternyata mengejutkan para pejuang yang sebagian berada di lereng Gunung Lawu.   Sehingga terjadi kontak senjata yang menewaskan beberapa prajurit Pangkalan Udara Maospati, yaitu  Kopral Dimun,Opsir Muda Udara I Sutanandika, Sumo dan Sujono

Karena mendapatkan tekanan kekuatan Belanda, para pejuang mulai bergerak ke timur menuruni lereng Gunung Lawu.   Para pejuang AURI bergerak menuju Caruban dan menjauh lagi menuju Jombang dan Kertosono.   Dalam suatu serangan kejutan, beberapa prajurit pangkalan gugur lagi, yaitu  Prajurit Udara Suwadji, Kopral Udara Ponidin dan Kopral Udara Suhab.

Setelah terpecah-pecah dalam kelompok-kelompok kecil, komandan pangkalan Maospati, Opsir Udara II RI Mantiri, memerintahkan seluruh pasukan agar bergabung dan kembali ke Maospati.   Hal ini dilakukan karena adanya pengunduran posisi pasukan Belanda menuju Solo.   Setelah pasukan bisa bergabung, mereka bergerak kembali ke Maospati melewati Campur Darat dipimpin oleh Opsir Muda Udara III R. Suprantiyo.  Saat sampai di Lembeyan,  pasukan tersebut bertemu dengan pasukan Angkatan Darat.  Mereka bergabung dan menuju Maospati bersama-sama.  Di Maospati, mereka membagi diri menjadi 3 sektor gerilya yang berposisi di Jajar, Pingkuk, dan Belotan.

Agresi Militer Belanda II akhirnya bisa diselesaikan melalui Konperensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan tanggal 23 Agustus s/d  2 Nopember 1949.   Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI.   Daerah pertama di Jawa Timur yang dikosongkan pasukan Belanda adalah Madiun, termasuk Maospati didalamnya.

Nurtanio Dalam Era Andong, Di mana Kamu Sekarang ?

Pada periode pasca kemerdekaan merupakan saat berat bagi bangsa Indonesia.  Konsolidasi hanya bisa dilakukan dengan modal yang sangat terbatas.  Apalagi dalam era 1947 s/d 1948, Maospati menjadi palagan pertempuran yaitu, Agresi Militer I, Pemberontakan PKI, dan Agresi Militer II.  Dalam era ini, perjuangan berat telah dilakukan oleh para prajurit pangkalan Maospati.   Sebelum bergabung dengan MB AURI, para prajurit tidak pernah digaji.   Para prajurit yang tidak memiliki sarana transportasi yang memadai.   Mereka menggunakan andong yang digunakan bersama-sama.   Komandan pangkalan pun berkendaraan dinas sebuah andong.   Salah satu kusir andong komandan pangkalan, tercatat nama Prajurit Dua Sakimin.  Era ini banyak dikenang para sesepuh sebagai “era andong”.

Sebenarnya pasca kemerdekaan, para pejuang udara Maospati sudah menunjukkan hasil kerja yang baik.   Mereka merehabilitasi pesawat latih seperti Curen, Cukiu, dan Guntai. Rehabilitasi yang lain dilakukan pada pesawat tempur peninggalan Jepang seperti, Hayabusha, Nisikoren, dan Belnheim-Sakai.    Salah satu pesawat yang digunakan untuk pengeboman di tiga kota (Semarang, Ambarawa, dan Salatiga) pada tanggal 29 Juli 1947 adalah hasil rehabilitasi di Maospati.

Pangkalan Udara Maospati adalah pangkalan utama bidang tehnik saat itu, dan tidak memiliki kekuatan pesawat satupun. Walaupun tidak memiliki kekuatan pesawat, jawatan bidang tehnik AURI dipusatkan di Maospati.

Usaha yang dilakukan oleh para prajurit udara di Pangkalan Udara Maospati pada era 1945 s/d 1960 adalah dengan mengadakan konsolidasi kegiatan, sebagai berikut  :

1.   Pembentukan Sekolah Tehnik Oedara (STO) pada tanggal 30 September 1946 dengan jumlah siswa 40 orang, dengan perincian 20 siswa berasal dari pangkalan-pangkalan di Jawa seperti, Tasikmalaya 9 orang, Yogyakarta 4 orang, Panasan 2 orang, Kalijati 1 orang, dan Maospati sendiri sebanyak 2 orang.   Siswa umum lulusan SMP dan sederajat sebanyak 20 orang.  Pendidikan di STO dilaksanakan selama 2 tahun.   Beberapa staf pengajar yaitu, Ibrahim Bekti, Wiweko Supono, Sapari, Sidik, Edi dan Suwarna.

2.         Pembentukan bagian tehnik yang dipimpin oleh Opsir Muda Udara I Suratman.  Bagian ini bertugas menyelenggarakan perawatan dan assembling pesawat-pesawat peninggalan Jepang yang ada di Maguwo, Bugis, dan Maospati sendiri.

3.         Pembentukan bagian perhubungan yang dipimpin oleh Opsir Muda Udara II Jan Lakuhay, yang bertugas di bidang radio telegrafi.  Bagian inilah yang menghubungkan pangkalan udara Maospati dengan pangkalan lain di Jawa dan Sumatera.  Bagian ini juga memelihara burung merpati pos.  Merpati pos pernah berjasa saat disertakan dalam operasi penumpasan pemberontakan PKI Madiun.   Komunikasi dari pasukan Siliwangi yang sedang mengejar pemberontak di pelosok desa-desa terpencil ke pangkalan memakai jasa merpati pos ini.

4.         Pembentukan biro rencana dan konstruksi yang dipelopori oleh Opsir Udara II Wiweko Supono dan Opsir Muda Udara II Nurtanio Pringgo Adisuryo, dengan hasil karyanya sebagai berikut   :

  1. Pembuatan glider (pesawat luncur) sebanyak 6 buah.   Bahan-bahan pesawat ini berasal dari sisa-sisa pesawat Jepang.  Pesawat-pesawat tersebut diberi huruf regristasi NWG, Nurtanio Wiweko Glider.  Pesawat glider ini nantinya dipakai oleh calon kadet penerbang kita yang akan berangkat ke sekolah penerbang di India.
  2. Pembuatan pesawat olah raga ²piper cup² yang mesinnya diambil motor Harley Davidson 2 silinder, dengan kekuatan 15 PK.  Pesawat ini dinamakan pesawat NURWEKO.  Pesawat ini selanjutnya bernomor registrasi RI X, dan dikenal  dengan nama WEL I.

3.         Pembuatan pesawat Blenheim yang dibuat dari airframe pesawat Bristol Blenheim MK IV dan mesin Nakajima Sakai dibawah pengawasan Opsir Muda Udara II Sadjad.  Pada tanggal 13 Nopember 1946 diadakan uji terbang oleh Suhanda dan dihadiri Panglima Besar TNI Jendral Sudirman.  Pesawat ini mampu terbang selama 15 menit, namun mengalami kecelakaan karena daya dorong mesin pesawat masih kurang stabil.  Pesawat rusak total, namun       penumpangnya yang berjumlah 6 orang dapat diselamatkan.  Mesin pesawat ini memiliki kemampuan 850 HP dan 7 buah silinder.  Sedangkan pesawatnya sendiri mampu terbang dengan kecepatan 350-480 km/jam. Suhanda adalah penerbang Jepang yang kemudian menjadi warga negara Indonesia.

4.         Usaha merakit helikopter eksperimen juga dilaksanakan oleh Opsir Muda Udara Joem Soemarsono dibantu Sersan Mayor Udara Sunanto.   Kedua orang itu telah menciptakan helikopter pertama di Indonesia dengan registrasi RI – H.   Sayangnya helikopter eksperimen ini rusak total akibat Agresi Militer Belanda II.

Pada saat itu, tidak satupun pesawat peninggalan Jepang di Maospati yang bisa diterbangkan.  Selama masa pendudukan Jepang sendiri, Pangkalan Udara Maospati tidak digunakan sebagai pusat pertahanan.  Pangkalan ini hanya jarang disinggahi armada Jepang, kecuali pada saat Jepang akan menyerbu armada Douglas Mac Arthur di Australia.  Fungsi Pangkalan udara Maospati sendiri hanya menjadi bengkel-bengkel mesin pesawat Jepang, bukan sebagai pangkalan tempur.

Nurtanio memang memiliki peran yang besar dalam pengembangan riset pesawat terbang dalam negeri.  Pada masa selanjutnya, Nurtanio memimpin jawatan tehnik udara dan menghasilkan berbagai macam prestasi, seperti pembuatan pesawat RADAR, penelitian bom napalm dan bahan-bahan roket, pembuatan roket launcher, dan pembuatan pesawat intai ringan NU-200, Si-Kumbang.  Eksperimen ini nantinya berkembang dengan pembuatan NU-225, Si-Kumbang II pada tahun 1957.  Pada tahun 1958, diciptakan lagi pesawat eksperimen NU-25, Si-Kunang, dan NU-85, Si-Belalang.

Tidak berlebihan kiranya bila Nurtanio dan kawan-kawan telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi industri pesawat terbang nasional.  Pada saat itu beliau memprakarsai pendirian Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP).  Kelak, lembaga ini bernama lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR), yang berada di Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung.

Perjuangan yang telah dilakukan oleh Nurtanio pada masa awal kelahiran riset pesawat terbang di dalam negeri, tidak bisa dibandingkan dengan pahlawan baru model apapun. IPTN memang telah menjadi besar sekarang.  Tapi yang tidak bisa dilupakan, seorang Nurtanio lah yang melahirkannya.   Nama mungkin boleh berubah, tapi keharuman Nurtanio sudah pasti semerbak hingga hari ini.   Kalau datang ke IPTN, disana anda akan membaca kata-kata, ”IPTN, 23 August 1976, Prof. Dr. Ing Habibie….” .    Lho, Nurtanio, dimana kamu berada ?

Mungkin inilah sudah menjadi cirikhas bangsa kita yang sering lupa untuk menghargai jasa para pendahulu bangsa. Generasi saat ini sepertinya hanya pandai menghujat dan mencari kekurangan tanpa mau berterima kasih dengan apa yang sudah dikorbankan para pahlawan. Saat sebuah generasi bangsa kita merasa menjadi sebuah sosok yang hebat, betapa  sombongnya bila hasil yang diperolehnya itu seakan-akan melebihi dari apa yang telah dilakukan oleh para pejuang sebelumnya.  Sebuah generasi yang hanya bisa sombong di atas nisan para pahlawan, namun tidak pernah berhasil membawa bangsa ini menuju sebuah masa yang lebih baik.   Bila kita ingin mencari perbandingan, lihatlah   bangsa RRC yang dengan bangganya selalu memajang foto Sun Yat Sen dalam setiap Upacara Kemerdekaan, terlepas segala kekurangan dan kelebihan. Tengoklah bangsa kita yang telah melewati tiga presiden, namun semuanya pensiun dengan cara dihujat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: