Beranda » Pertahanan dan Keamanan » TERORISME TRADISIONAL, BARU DAN HYBRID

TERORISME TRADISIONAL, BARU DAN HYBRID

 

             Fenomena terorisme yang masih terus berlanjut di tanah air memang sangat menyedihkan, walaupun pada sisi lain kita melihat bahwa banyak makna positif muncul dimana kita menjadi lebih sadar akan bahaya terorisme.   Bahkan seluruh kalangan masyarakat dari desa hingga kota, pemeluk biasa dan pemuka agama, kini semuanya meneriakkan yel-yel anti terorisme.    Namun timbul pernyataan besar dalam diri kita pastinya.  Bila semua orang ramai-ramai menolak terorisme, mengapa aksi-aksi terorisme masih terjadi dan siapa dalangnya?   Karena mereka yang melakukan aksi terorisme belakangan ini adalah sosok-sosok yang hanya tahu sedikit dari pergolakan politik dunia,  jangankan ke Palestina atau Afganistan, bahkan pergi ke negara tetangga atau menjalankan umroh pun mungkin belum pernah.  Pasti ada satu atau beberapa orang di luar sana tentunya yang membuat para pemuda polos itu menjadi begitu dingin menjalankan aksinya.

Masyarakat awam pasti masih menerka-nerka tentang trend terorisme yang sedang terjadi, apalagi semua pihak ramai-ramai cuci tangan.  Namun bagi mereka yang sudah lama mengamati perilaku terorisme, pasti dengan cepat menemukan satu simpul dari semua kejadian itu.  Saya bisa katakan bahwa trend terorisme di Indonesia tidak jauh panggang dari api dan masih “copy and paste” dari trend terorisme sebelumnya.  Maka pada kesempatan ini, saya akan mengulas tiga pola yang pernah dan sedang diadopsi oleh organisasi terorisme di Indonesia dalam tiga gelombang perubahan, yaitu pola tradisional, baru dan hybrid.

Terorisme tradisional secara umum ditandai dengan adanya kelompok dengan personel dan komando yang jelas, organisasi sistem piramid-hirarkial, aktor terlibat secara penuh mulai perencanaan sampai ploting target, pemilihan target sangat selektif, operasi serangan dengan cara konservatif dan organisasi yang melaksanakan mengklaim atau mengakui perbuatannya.  Terorisme model ini terjadi pada masa sebelum gencar-gencarnya operasi terorisme pasca 9/11, dimana kita mengenal nama AL-Qaeda dan Jamaah Islamiyah (JI).   Ketika masa jayanya Osama Bin Laden, banyak organisasi teroris termasuk JI berupaya merangsek ke Afganistan untuk mendapat restu, berafiliasi atau mendapatkan dukungan dengan Al-Qaeda. Pada model ini, keuntungan yang didapat adalah kemudahan dalam menggalang dana dan kemudahan mengorganisir serangan berskala besar.   Sebagaimana 9/11, Bom Bali I dan II, serta Bom J.W. Marriot I dan II, adalah produksi dari pola terorisme tradisional.  Karena serangan direncanakan dengan pengorganisasian, pendanaan dan perencanaan yang baik maka hasil serangan pun sangat dahsyat sebagaimana 9/11.  Namun demikian kekurangannya adalah ketika satu per satu sel-sel terorisme tertangkap atau terbongkar maka seluruh organisasi akan kolaps dan semua aktor lapangan hingga pimpinan global akan terendus.   Dan betul adanya,  jaringan Al Qaeda dan JI memang menderita karena tekanan aparat pasca 9/11.  

            Perubahan dari pola tradisional ke pola baru terjadi beberapa tahun pasca 9/11 atau untuk di Indonesia terjadi pada masa pasca Bom Bali I da II.  Ketika sel-sel dan beberapa nama aktor-aktor teroris dan jaringan terorisme global mulai terkuak,  maka koordinasi dan dukungan aktor lokal mulai tersendat, maka para teroris mulai mengeksplorasi pola baru yang ditandai dengan aksi-aksi terorisme yang mandiri, struktur organisasi yang terpisah (lokal dan linier), struktur yang tidak jelas, komando pengendalian yang tidak bersifat atas-bawah namun mendatar, antar kelompok sengaja bergerak terpisah dan memiliki nama-nama sendiri, sistem pendanaan atas usaha kelompok masing-masing atau bekerja-sama bila memungkinkan, target tidak harus ditentukan secara spesifik oleh sang pemimpin spiritual, dan tidak ada pengakuan publik atas aksi-aksi yang telah dijalankan.     

Kelemahan pola modern sampai sejauh ini adalah organisasi teroris lebih sulit untuk melancarkan serangan-serangan dalam skala besar karena setiap kelompok memiliki anggota, jaringan dan dana yang minim.  Sehingga secara umum terorism modern menghasilkan kuantitatif serangan yang lebih intens, sporadik karena setiap kelompok bergerak terpisah dan target terpisah, namun daya rusak menjadi menurun.    Dalam pola modern, hubungan antar organisasi bisa terjadi bila memang situasinya memungkinkan, namun secara umum organisasi teroris telah berubah menjadi grup-grup kecil yang beroperasi secara parsial.   Ketika pada masa jaya Al-Qaeda, Osama Bin Laden menjadi centre of gravity,
tempat mohon restu dan dukungan dana, maka pada pola modern ia hanyalah simbol perjuangan dan ideologi.   Hal ini bertambah nyata ketika Osama juga mulai menghilang di perbatasan Pakistan-Afganistan dan kehilangan kontak global.  Para teroris senior di masing-masing wilayah termasuk Indonesia, yang dulunya betul-betul memegang kendali organisasi, berikutnya hanya menjadi motivator atau simbol perjuangan sebagaimana Osama Bin Laden.  

Pola terorisme modern memunculkan fenomena baru bernama phantom cell network (jaringan sel hantu), leaderless resistance (tanpa pemimpin) dan lone wolver (serigala tunggal).  Konsepsi jaringan sel hantu terorisme adalah hubungan antar grup dilaksanakan dengan jalan sangat rahasia, tidak ada ikatan kelompok, struktur yang tidak jelas, namun tujuan ideologinya sama.   Konsepsi terorisme “tanpa pemimpin” bisa dikatakan sebagai teori motivasi, dimana sang pemimpin spiritual hanya memotivasi sosok-sosok yang dinilai sudah ikhlas untuk menjadi martir untuk menentukan dan menyerang targetnya sendiri.   Sosok-sosok tersebut akan digarap dalam pola hubungan yang dikesankan begitu religius, lalu diperlancar untuk mendapatkan dukungan logistik untuk menjalankan aksi-aksinya.  Sedangkan “serigala tunggal” adalah aktor-aktor yang telah termotivasi dan sanggup merencanakan dan mengeksekusi aksi terorisme secara mandiri. Dalam hal ini, status si aktor atau organisasi tidak terlalu penting, yang terpenting adalah terorisme terus berjalan, semakin banyak mendapatkan banyak kader dan serangan tetap berlangsung walaupun dalam skala kecil.  Tidak mengherankan bila menanggapi aksi-aksi para “serigala tunggal” belakangan ini, akan begitu mudah bagi sang aktor layar belakang untuk mengatakan tidak terlibat. 

Setelah pola terorisme baru, berikutnya dikenal pola terorism hybrid.  Sebagian ahli menjadikan pola terorism hybrid sebagai bagian pola baru dan sebagian lain menempatkannya dalam trend yang terpisah.   Dalam kamus Merriam-Wesbter, hybrid berarti “keturunan, varietas, spesies atau gere dari dua ragam budaya, asal atau komposit yang heterogen”.   Terminologi terorism hybrid yang paling banyak disepakati adalah versi Boaz Ganor yaitu “organisasi teroris yang menjalankan aksinya melalui kontes politik dan kekerasan”.    Pada konteks ini teroris akan menggunakan konsep operasional dalam multi-kharakter berupa instrumen organisasi politik yang sah, namun bisa memotivasi kekerasan lewat “phantom cell network”, berpura-pura membangun media pendidikan dan kesejahteraan, membeli simpati dan merekrut dengan paham appocalypstic (cepat atau lambat kiamat pasti datang) dan menyalurkan aspirasi perlawanan politik dan indoktrinasi lewat media.   Model operasinya pun dinamakan dengan operasi hybrid, yang saya istilahkan sebagai pernikahan silang dari pola lama dan baru, untuk menghasilkan hasil yang paling optimal untuk mencapai tujuan.  

Dalam berbagai studi, hasil pernikahan hybrid yang paling berhasil dari organisasi teroris adalah IRA (Irish Republican Army).  Ia meninggalkan aksi kekerasan, lalu berjuang total melalui ranah politik.   Sedangkan hasil yang gagal adalah yang memilih dua-duanya, satu tangan menggambarkan keinginan untuk memperjuangkan ideologi dengan pesan damai dan religius lewat partai, pada tangan yang lain mengesahkan cara-cara kotor yang diintepretasikan sepihak sebagai fa’i (pampasan perang) seperti penjualan narkotika, perampokan, pengeboman atau kejahatan internet (Arabinda Charya, 2009).   Sifat bermuka banyak (multi-faceted character) ini bisa terjadi pada siapapun yang sudah memeluk ideologi teroris, apapun agamanya dan statusnya dalam agama tersebut, bahwa para teroris saat ini memang sudah tidak lagi berideologi pada sebuah ideologi agama murni, namun telah memilih ideologi takfiry (David Kilcullen, 2009).  

Contoh dari terorisme hybrid yang gagal adalah pemerintahan Taliban, dimana setelah keberhasilannya memegang tampuk pemerintahan di Afganistan, masa itu adalah masa dimana organisasi tersebut memegang kekuasaan politik dan paling tepat untuk memperjuangkan kebesaran agama sesuai cita-cita mereka sebelumnya, namun kenyataannya pajak atas pertanian opium masih terus berlangsung dan produksi opium Afganistan justru berada pada titik paling tinggi (Moraya Ruehsen, 2007).

            Dari fenomena terorisme lama, baru dan hybrid di atas, kita bisa melihat bahwa semangat perlawanan para teroris untuk merendahkan ideologi demokrasi atau mempolitisasi isu-isu di negara lain melalui jalan-jalan kekerasan, tidak lagi berhulu pada fundametalisme agama melainkan pada ideologi mereka sendiri untuk menghalalkan hancurnya siapapun yang menghalangi.   Terorisme tradisional yang walaupun buruk tapi berwajah ksatria, kini telah berhati Sengkuni dan bermuka Rahwana.  Mereka mengubah sesuatu yang tidak masuk akal dengan berpura-pura religius merekrut para pemuda polos untuk memenuhi syahwat teror yang sudah menahun dalam dirinya.   

Kita semua tahu bahwa demokrasi Indonesia adalah bentukan yang baru tumbuh dan perlu waktu serta peran kita semua untuk menyempurnakannya.  Namun bukan berarti ideologi yang diusung para teroris itu bisa menjadi nilai yang lebih baik dan lebih menjanjikan dari yang sudah ada.   Sahwat teror adalah wujud kegagalan mereka dalam mengelola cita-cita.  Semoga masyarakat tidak tertipu dengan modus-modus terorisme, baik yang tradisional, baru maupun hybrid.  Mereka sama-sekali bukan perwujudan Islam yang sesungguhnya. 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: